La Falsedad

Reads
0
Votes
0
Parts
2
Vote
Report
la falsedad
La Falsedad
Penulis Atpress2014

Chapter 2

Selama beberapa hari, Daunte mengantar Elena dan Eulia bekerja di hotel yang terletak di Baiona. Eulia yang tidak tenang akibat utang mengambil pekerjaan tambahan di kebun anggur tempat Daunte bekerja. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil cepat karena uang yang dibayarkan hanya sedikit. Elena sudah meminta pinjaman ke teman-temannya, tetapi hanya segelintir yang meminjamkan.

Setelah lebih dari seminggu, Eulia sudah melepaskan perban di kening. Elena juga melepaskan balutan perban dan hanya menempelkan perban di bagian yang masih terluka. Mereka juga mulai melakukan rutinitas seperti biasa.

Eulia berlari kecil, terengah-engah, sambil mengelap wajah yang berkeringat dengan handuk kecil. Rambut putih kecokelatan yang diikat belakang bergerak tertiup angin. Lari pagi menjadi rutinitas yang menyehatkan sekaligus salah satu cara untuk menikmati keindahan Castro Caldelas yang bernuansa bangunan kuno. Namun, Eulia sedang merasa tidak senang. Dia masih memikirkan uang ganti rugi yang belum terkumpul

Meski kembar, mereka memiliki penampilan yang bertolak belakang. Eulia memakai pakaian lari yang lebih tertutup hanya memperlihatkan bahu hingga tangan, sedangkan Elena lebih terbuka memperlihatkan perut yang kencang karena seringnya berolahraga. Di Galicia, mayoritas penduduk memiliki kulit kecokelatan karena terik matahari berlangsung lebih lama selama musim panas dan merupakan wilayah dekat dengan pantai.

Ketika kembali berlari ke arah rumah, mereka melihat laki-laki yang memakai kaus tipis dibalut kemeja lengan pendek dan celana jins pendek di bawah lutut berlari-lari kecil menghampiri.

Buenos días[1], Sayangku, Eulia,” sapa Daunte. Dia memiliki tubuh atletis karena sering pergi gim bersama Elena. Dagunya ditumbuhi rambut-rambut kasar yang membuatnya tampak dewasa. Laki-laki itu segera merangkul bahu Elena dari belakang.

Buenos días.” Elena balas merangkul pinggang Daunte. “Kau tidak langsung ke rumah?”

“Aku melihatmu dan Eulia berlari. Karena tahu kalian belum kembali, aku keluar jalan-jalan sebentar sambil menunggumu.” Daunte mulai melangkah bersama kekasihnya. Dia berjalan pelan untuk menyamakan langkah. “Elena, kau memesan sesuatu? Tadi kurir datang membawa satu kotak barang. Aku menerimanya dan menaruh di depan pintu.”

Elena mengernyit. “Aku tidak memesan apa-apa.” Perempuan itu mengalihkan pandangan ke adiknya yang sudah berjalan di depan. “Eulia, apa kau yang memesan sesuatu?”

Eulia menggeleng tanpa berbalik. “Tidak.”

“Daunte, kau sudah mengecek benar itu paket untuk kami?”

“Ya. Tertulis nama kalian di sana. Elena Vicente Daniela dan Eulia Vicente Daniela. Kau bisa mengeceknya langsung setelah di rumah.”

“Paket apa, ya? Aneh. Padahal kami tidak memesan apa pun.” Elena tampak penasaran.

Mereka berjalan ke arah salah satu rumah yang dibangun dengan batu selaras dengan warna pasir putih. Eulia yang lebih dahulu sampai langsung membuka kunci pintu meski melihat boks yang dimaksud Daunte tergeletak di dekat pintu. Setelah terbuka, dirinya masuk begitu saja. Tidak lama kemudian, dia mendengar suara Elena dan Daunte yang sepertinya sudah mengambil kotak tersebut dan masuk rumah.

“Paket ini benar untuk kami. Tapi tidak ada nama pengirimnya?” suara Elena sangat nyaring.

“Kau buka saja. Mungkin nama pengirimnya ada di dalam.”

“Nanti saja setelah sarapan. Aku mau mandi dulu. Kau tunggu di sini.”

Eulia yang baru saja mengambil minum di kulkas segera menuju kamar untuk mandi. Mereka memiliki kamar mandi di kamar masing-masing. Tidak membutuhkan waktu lama, Eulia telah selesai dan berganti pakaian dengan kaus tipis sedikit longgar dan celana panjang. Dia bergegas ke dapur, lalu mengiris setebal satu ruas jari roti tortilla menjadi beberapa bagian. Dia kemudian menata roti yang telah dipotong ke nampan alumunium lalu memasukkannya ke microwave. Eulia lanjut dengan memotong dua buah tomat menjadi potongan kecil-kecil, mencincang bawang putih, lalu menumis keduanya menggunakan minyak zaitun. Setelah memberi sedikit taburan garam dan matang merata, dia menaruhnya di wadah bersih.

Ketika roti di dalam microwave sudah mulai kelihatan kuning kecokelatan, Eulia mengangkat roti yang sudah menjadi tostadas. Selanjutnya, dia memindahkan tostadas—roti kering—ke dua piring lalu mengoleskannya dengan tomat yang sudah dimasak. Dia juga menambahkan irisan daun ketumbar sebagai taburan. Setelah menaruh dua piring berisi tostadas con tomate ke meja makan, Eulia membuat tiga gelas kopi pahit dan menyediakan tambahan seperti gula, krimer, atau susu cair secara terpisah.

Aroma tomat bercampur zaitun dan manisnya roti panggang sudah menggugah selera makan, ditambah aroma kopi yang menguar memberikan semangat di pagi hari.

Eulia melihat boks di tangan Daunte. “Siapa pengirimnya?”

Daunte mengangkat bahu. “Tidak tahu. Kita akan membukanya di sini.” Laki-laki itu duduk lalu menaruh boks di meja.

Tidak lama, Elena datang, menyebarkan aroma parfum floral yang menyegarkan. Dia memakai kaus tanpa lengan sedikit tebal lalu rok model Falda Muxia sambil membawa outer tipis berlengan panjang yang kemudian disampirkan ke kursi.

“Kau sudah siap berkencan hari ini?” goda Daunte sambil mendekatkan wajah ke dekat leher Elena, menghirup parfum yang memikat.

Eulia pun bergabung ke meja makan lalu menambahkan kopi dengan sedikit susu cair.

“Aku dan Eulia mau bekerja, Sayang.” Elena mendorong kepala Daunte agar menjauh. “Kau sudah membuka boksnya?”

“Aku baru akan membukanya.” Daunte memandang Elena yang berambut sedikit basah, terus pandangannya menurun ke bawah.

Eulia yang memperhatikan sepasang kekasih itu hanya menggeleng lalu memakan tostadas.

Daunte yang masih harus menahan diri segera mencari gunting dan membuka boks yang tertutup lakban. Setelah berhasil terbuka, dia mengeluarkan selembar kertas berlipat berwarna hitam dan emas. Laki-laki itu juga mengeluarkan dua buah ponsel dengan model terbaru.

Elena segera merebut surat tersebut. “Teruntuk Eulia Vicente Daniela dan Elena Vicente Daniela. Selamat! Kalian terpilih sebagai peserta cinco juegos[2] yang akan diadakan di Monte Pindo. Berhadiah 10.000 Euro. Informasi selanjutnya akan dihubungi melalui ponsel yang tersedia.”

“Sepuluh ribu Euro?” Daunte sampai menggebrak meja karena begitu terkejutnya.

Eulia sampai kesulitan menelan kopi yang sudah masuk ke mulut. Kebetulan macam apa ini? Dia memandangi Elena yang sama terkejutnya. Sepuluh ribu Euro? Ini lebih dari cukup untuk melunasi ganti rugi dan memperbaiki mobil.

Elena memperhatikan undangan dengan saksama. “Dari Galicia Interesante.” Dirinya membuka mata yang sudah lebar.

“Itu kan ... perusahaan pariwisata terkenal di Galicia?” Eulia sampai kesulitan berbicara.

Mereka pun sama-sama memandangi ponsel yang tidak pernah mereka lihat di iklan mana pun sebelumnya.

Daunte mengambil undangan dan melihat-melihat kembali tulisan-tulisannya. Dia kemudian memandang peta Monte Pindo yang tergambar dan terdapat lima titik hitam bundar. “Permainan macam apa ini?”



[1] Selamat pagi

[2] 5 permainan


Other Stories
The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Desa Ria

Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...

Dua Tanda Baca

Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...

Download Titik & Koma