Chapter 4
Beberapa jam kemudian, Eulia melihat boks sedikit terbuka di meja, bersebelahan dengan gelas kosong, padahal terakhir dia ingat boks tersebut berada di sofa. Ketika mendekat, dia melihat Daunte terlelap di sofa panjang. Dia mengambil boks lalu membukanya lebih lebar. Dua ponsel kembali terpampang jelas. Sepertinya Daunte telah melihat-lihat ponsel-ponsel ini. Apakah ponsel ini berfungsi?
Eulia membawa boks beserta isinya ke dapur, melihat-lihat di meja makan, tidak ingin membangunkan Daunte yang begitu pulas. Ponsel yang terdapat sticker dengan nama Eulia Vicente Daniela sudah dalam keadaan menyala setelah dirinya menekan tombol on. Namun, layar masih terkunci. Pilihan membuka layar hanya menggunakan video pengenalan wajah. Dia membiarkan kamera ponsel merekam wajahnya yang tidak begitu ekspresif. Setelah tersenyum kaku, layar terbuka dengan sendirinya. Bagaimana bisa ponsel ini mengenali wajahku? Kecemasan yang sebelumnya menguar mulai berkumpul kembali.
Di layar, hanya ada satu aplikasi. Eulia menekan ikon lingkaran dengan gambar gunung batu. Ada beberapa menu dari aplikasi tersebut. Terdapat peta yang dirinya ketahui merupakan rute Monte Pindo. Ada forum diskusi yang berisi anggota, tetapi hanya terdapat angka-angka sebagai identitas. Apa mereka juga peserta? Kenapa tidak ada nama dan profil lainnya? Dalam forum, sudah ada yang berdiskusi membahas keikutsertaan permainan di Monte Pindo, terdapat juga foto-foto yang memperlihatkan keindahan pemandangan dari gunung tersebut. Eulia mengabaikan forum lalu melihat menu selanjutnya. Sepertinya, menu tersebut yang memang dibutuhkannya. Menu layanan. Eulia menuliskan keluhannya.
Saya tidak bersedia ikut permainan yang ditawarkan. Apakah bisa digantikan dengan peserta lain di luar undangan?
Eulia menunggu balasan sambil membuat perasan lemon. Dia membuat lebih dari satu agar bisa diminum Elena dan Daunte setelah mereka terbangun. Setelah menyesap sedikit air lemon dari gelas, dia merasakan getaran di meja. Dia segera mengambil ponsel dan melihat pesan masuk di menu layanan.
Perempuan itu melebarkan mata sambil menutup mulut dengan satu tangan, tercengang pada tampilan dari pesan.
Tidak ikut permainan berarti Anda telah gagal. Anda tinggal menunggu eksekusi yang akan datang pada Anda.
Selain teks, terdapat juga foto laki-laki yang berlumuran darah pada kaus dan celananya di sudut ruangan dengan posisi duduk dan kepala menunduk serta foto yang memperlihatkan wajah memar laki-laki itu dengan mulut berdarah.
Silakan logout jika ingin menolak undangan cinco juegos.
Eulia tidak sanggup melihat foto tersebut. Dia menutup mulut sambil menahan teriakan. Dia menggeleng cepat karena tidak menyangka melihat gambar mengerikan itu. Aku takut. Permainan ini berbahaya. Aku akan bilang Elena agar tidak ikut.
Keesokan paginya, Eulia ingin memberi tahu Elena sesuatu yang sudah dilihatnya dalam ponsel, tetapi dirinya tidak ingin langsung mengganggu Elena yang berpelukan dengan Daunte sambil tertidur di sofa. Elena tampak segar dan rapi, tetapi Daunte terlihat baru saja bangun karena menguap. Eulia pun berbalik dan melihat salah satu ponsel masih tergeletak di meja dan ponsel satunya masih berada dalam boks. Aku tidak percaya pesan itu. Pasti itu hanya cara untuk mengancam. Dirinya mengabaikan ponsel tersebut.
Eulia pun memilih membuat sarapan yang lebih mudah karena pikiran yang sedang tidak karuan. Roti panggang dengan krim yogurt dan irisan anggur Mencía berwarna hitam di atasnya menjadi pilihan menu sarapan pagi ini. Perempuan itu memiliki stok anggur Mencía, anggur hitam yang tumbuh subur di Galicia, yang dibeli langsung dari perkebunan di wilayah Ribeira Sacra. Tidak lupa, Eulia juga menyiapkan minuman pendamping untuk sarapan.
“Sepertinya kemarin ada yang mencari kalian. Saat aku sedang melintas, ada seseorang yang berdiri di dekat pintu rumah. Saat aku mau menghampiri, dia buru-buru pergi. Kalian menunggu seseorang datang berkunjung?” kata Daunte yang sudah sepenuhnya sadar.
Eulia mematung. Tidak mungkin. Tidak mungkin orang itu ada hubungannya dengan pesan layanan. Dirinya menggeleng. “Aku tidak ada janji dengan orang lain. Mungkin saja dia ingin bertemu denganmu, Elena. Kau punya janji?”
Elena mendongak, memandang wajah Daunte. “Aku juga tidak ada janji dengan seseorang. Bisa saja orang itu hanya ingin menanyakan alamat.”
“Kalian betul tidak mengenal orang itu? Aku bukan hanya sekali melihatnya di sekitar rumah kalian.”
Eulia yang sedang menyiapkan makanan di meja sambil berpikir dikejutkan dengan getaran ponsel di meja. Ponsel yang membuat ketakutan-ketakutan terasa merayap di kulitnya.
Pesan yang membuat darah terpompa lebih cepat.
Masih ada waktu untuk keluar dari permainan. Jika tidak logout, Anda akan tetap menjadi peserta undangan. Silakan hadir pada waktu yang sudah ditentukan.
Foto bergambar rumah khas Castro Caldelas, bangunan dari batu berwarna pasir putih terlampir pada pesan.
Eulia jelas mengenal tampilan depan dari bangunan tersebut. Rumah yang sudah dia tempati bertahun-tahun dengan kakaknya. Rumah yang merupakan peninggalan dari orang tuanya. Bagaimana bisa foto rumahnya dikirim ke pesan layanan ponsel dari Galicia Interesante? Siapa yang melakukannya?
Eulia menduduki kursi dengan lemas. Tangan yang memegang ponsel terasa gemetar. Dia menaruh benda pipih tersebut ke meja. Apakah orang yang dilihat Daunte juga orang yang sama dengan pengirim pesan ini? Siapa dia sebenarnya?
“Daunte, kau bilang melihat seseorang yang mengamati rumah ini? Bisakah kau memberitahuku ciri-cirinya?” tanya Eulia dengan nada sedikit bergetar.
Elena yang mendengar pertanyaan adiknya itu lekas bangun untuk duduk. Setengah badannya terlihat oleh Eulia yang berada di dapur. “Kau penasaran, Eulia?”
Daunte juga segera duduk. “Dia tinggi, memakai kemeja cokelat hitam lengan panjang dan topi yang sedikit menutupi wajahnya.”
Warna yang disebutkan Daunte mengingatkan Eulia pada seseorang. Tidak mungkin dia masih hidup. Wajah Eulia memucat. “Dia pasti berniat macam-macam karena kau melihatnya tidak hanya sekali.” Eulia mengembuskan napas perlahan yang terasa berat. Apa dia ingin membunuhku?
“Kau tidak perlu tegang begitu, aku akan langsung menanyakan kepentingannya jika bertemu lagi.” Daunte meregangkan badan yang terasa pegal karena tertidur di sofa.
Elena berdiri lalu menghadap Eulia. Dia menangkap sikap adiknya sedikit aneh karena tertunduk lesu. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Aku takut orang itu datang untuk mencelakaiku.”
“Kenapa kau bisa sampai berpikiran begitu? Berhentilah berpikir yang tidak-tidak, Eulia. Bisa saja orang itu hanya kebetulan lewat.”
“Sangat mencurigakan orang berada di sekitar rumah kita, tapi tidak bertamu atau memperkenalkan diri. Bisa saja memang orang itu memiliki maksud tertentu. Atau dia seseorang yang disuruh untuk mengawasi kita agar tidak kabur dari membayar uang ganti rugi?”
“Kau tidak perlu khawatir, Eulia.”
Bagaimana aku tidak khawatir? Bagaimana bisa orang itu berpakaian persis seperti dia? Tidak mungkin dia bisa hidup kembali. Apakah orang itu sengaja? Jangan-jangan orang itu kenal dengannya? Jangan-jangan orang itu benar-benar ingin membahayakanku?
Bulu kuduk Eulia meremang. Saat sarapan berlangsung, perempuan berdarah Galicia itu tidak terlalu berselera makan. Dia hanya makan sepotong roti dan segera menghabiskan kopi susunya yang mendadak terasa hambar.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
Cuti Untuk Pikiran
Kamu mungkin tidak kekurangan tempat untuk dituju, tapi sering kekurangan ruang untuk bena ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...