La Falsedad

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Chapter 9

Seluruh peserta terengah-engah. Mereka sudah menjauh dari jalan yang dipenuhi kalajengking.

“Kenapa bisa muncul kalajengking sebanyak itu?” tanya Lucia sambil berusaha meredakan debaran sehabis berlari.

“Kau kira aku bisa menjawab pertanyaan itu?” balas Teo tanpa memandang lawan bicaranya.

“Kalajengking itu seakan ingin membunuh kita semua.” Eulia tampak ketakutan.

“Eulia, tenanglah. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak. Bisa jadi kalajengking-kalajengking itu merasa terganggu dengan kehadiran kita.” Elena tidak ingin memiliki pikiran yang buruk. Dia tidak merasa heran dengan binatang-binatang yang biasa berkeliaran di alam.

“Tapi tidak mungkin bergerombol sebanyak yang kita lihat.” Eulia masih mengelak. Dia tampak gelisah karena ingin kembali, tetapi tidak bisa.

“Aku sependapat denganmu, Eulia. Kita berjalan sangat berhati-hati. Tidak ada yang menyebarkan sesuatu yang menyengat. Tidak ada yang merusak sekitar. Tidak mungkin hanya kebetulan kalajengking-kalajengking itu keluar begitu saja. Sepertinya, pasukan kalajengking itu sudah ada yang menyiapkan untuk menyambut kita semua.” Javiar sudah kembali tenang. Dia tidak gentar sama seperti Elena yang masih tampak antusias.

“Aku juga merasa aneh karena kalajengking serempak muncul bersamaan. Untung saja aku melihatnya.” Hector juga tampak lelah. Meski badannya besar, dirinya tidak memiliki kecepatan dalam berlari.

“Hector, apakah kita tidak bisa kembali?” Jade merasa tidak nyaman setelah melihat tanah, batu, dan kayu dipenuhi kalajengking.

“Kau mau melintasi lagi sekumpulan kalajengking itu, Sayang?”

Jade bergidik ngeri. “Tidak akan.”

“Ayo kita bergerak lagi,” ajak Juan yang sudah terlihat santai. Dia juga tidak begitu ketakutan seperti menganggap memang kalajengking-kalajengking itu bagian dari permainan.

Javiar mulai berhenti setelah sampai di tempat yang agak tinggi. Badannya masih berkeringat. Dia memanggil Elena dan Eulia dan mengarahkan mereka untuk melihat ke lautan yang tampak biru dan luas. Terdapat pulau yang seperti garis lurus. “Kalian lihat itu Faro de Isla Lobeira Grande. Mercusuar yang merupakan struktur penting untuk navigasi.”

“Kau tahu wilayah-wilayah di sini?” tanya Elena antusias. Rambut putih keemasannya telah basah akibat berkeringat.

Eulia mengamati pemandangan itu biasa saja, apalagi perasaannya menjadi tidak karuan karena lagi-lagi merasa hidupnya dalam bahaya.

“Kau belum mengecek peta di ponsel? Informasi tentang Monte Pindo dan Galicia termasuk lengkap. Sepertinya permainan ini sekaligus mengenalkan pariwisata yang ada di Galicia, terutama Monte Pindo.”

“Aku tidak terlalu memperhatikan ponsel. Aku rasa Eulia lebih mengetahuinya.”

“Aku tidak tahu apa-apa.” Eulia berkata dengan malas. Dia melepaskan ritsleting pakaian training atas dan memperlihatkan tank top hitam. Angin menerpa tubuhnya yang memberikan sensasi dingin akibat berkeringat.

“Kau memang harus lebih rileks, Eulia.” Javiar mendekati Eulia lalu merangkul pundak perempuan itu dari belakang sambil memandangi lautan.

“Kau dengar itu, Eulia? Rileks.” Elena menyetujui perkataan Javiar.

Lucia yang tampak kelelahan bertambah masam saat melihat Javiar dekat dengan dua bersaudara. Dia tahu mereka dahulu dekat dan lama-kelamaan menyadari jika seharusnya ada seseorang lagi yang bersama mereka. Sosok laki-laki yang lama terlupakan perlahan samar-samar muncul dalam ingatannya. Seketika, dia merasa tengkuknya meremang.

Teo duduk di salah satu batu hitam. Dia mengibaskan kemeja yang basah. Juan ikut memandangi lautan, tetapi tidak bergabung dengan mereka bertiga. Jade duduk sambil bersandar ke Hector. Dia sangat kelelahan.

Setelah beristirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka melalui jalur menurun dan menanjak dengan jalanan mulai berbatu dan memerlukan tambahan tenaga untuk melintasinya. Terus berjalan, mereka sampai pada jalur tanah yang dikelilingi rerumputan hijau dan batu berwarna pasir putih. Jalan lebih ke atas lagi, mereka bisa melihat O Pedrullo, gunung berbentuk tumpukan balok batu yang aneh. Di balik gunung tersebut terlihat lautan yang menambah keindahan.

Seindah-indahnya pemandangan, Eulia masih belum bisa menikmatinya. Batu-batu berwarna kecokelatan tersebut membuatnya teringat saat mendaki Monte Pindo dahulu. Betapa menyenangkan berkumpul dengan rekan-rekan kampusnya dahulu, termasuk Elena, Javiar, dan dia. Mereka sempat menjelajahi sekitar O Pedrullo. Namun, kenangan indah tersebut berubah menjadi petaka yang sulit dilupakan. Eulia bergerak menjauh. Dia ingin segera melupakan kenangan bersama mereka. Akan tetapi, apakah mungkin jika terus berada di tempat ini?

Eulia yang sibuk dengan berbagai pikiran baru menyadari bahwa dia telah tertinggal oleh Javiar dan Elena yang sudah berjalan sambil bercengkerama riang. Dia hendak membuka mulut untuk berteriak memanggil mereka, tetapi segera dirapatkan kembali.

Kau bisa lihat mereka? Apa mereka sudah benar-benar melupakanmu?

Perempuan itu segera menggeleng cepat. Kenapa dirinya harus bertanya pada seseorang yang sudah tiada? Sambil membenarkan posisi pegangan tas yang mulai terasa tidak nyaman di pundak, dia berjalan pelan menyusul mereka. Dari O Pedrullo, mereka mulai melewati rute menurun lalu kembali memanjat dengan jalur yang sedikit sulit untuk dilalui. Mereka harus melewati jalan berbatu. Pandangan mereka harus berhati-hati untuk menentukan langkah yang tepat. Pijakan harus kuat agar tidak tergelincir.

Eulia sedikit kesal harus melewati jalur seperti ini yang memerlukan tenaga pada kaki. Dia juga kesal pada Elena dan Javiar yang meninggalkannya. Apa-apaan mereka? Bukankah mereka yang sudah membuatnya mengikuti permainan ini?

Javiar membantu Elena dengan menggenggam tangan serta menarik ke atas untuk memudahkan mendaki bebatuan. Begitu juga Teo dan Lucia yang terpaksa saling membantu.

“Kau butuh bantuan?” tanya Juan yang melihat Eulia tampak kesulitan.

“Aku rasa aku bisa sendiri. Gracias[1].” Eulia tetap mencoba meski langkahnya sedikit berat. Dia ingat dahulu begitu lincah melewati lintasan ini. Akan tetapi, kenapa sekarang terasa melelahkan?

“Kau yakin?” Juan melangkah dengan pasti di depan perempuan itu. “Kau tidak ingin segera menyusul mereka?” Dirinya menunjuk Elena dan Javiar yang sudah mulai terlihat kecil.

Mereka cepat sekali? Eulia mengernyit karena tidak menyangka mereka masih tetap semangat setelah sempat hampir diserang kalajengking.

“Sebaiknya kita segera bergerak.” Meski langkahnya cepat, Juan bertahan agar jaraknya dengan Eulia tidak terlalu jauh.

“Kau saja duluan. Aku tidak pernah berhasil mengejar Elena. Biarkan dia bersenang-senang.” Eulia tidak begitu tertarik dengan ajakan Juan, bahkan sepertinya dia tidak mengenali laki-laki itu. Dia justru mengingat kedekatannya dengan Javiar di masa kuliah dahulu. Anehnya, kenapa sekarang justru Elena yang akrab dengan Javiar? Apa benar semuanya sudah berubah? Bagaimana dengan dirinya? Apa ada yang berubah?

Kau belum berubah. Tidak mau berubah. Kau belum bisa melupakannya, kan?

Juan yang melihat Eulia berhenti segera menarik tangan perempuan itu. “Apakah yang bisa kaulakukan hanya melamun? Sudah tidak terhitung lagi beberapa kali kau memandang sesuatu dengan serius. Adakah yang mengganggu pikiranmu di tempat ini?”

“Hanya terkenang masa lalu.” Eulia memperhatikan batu-batu yang harus dirinya pijak.

“Kau pernah datang ke sini? Kapan?” Juan berusaha mencairkan suasana. Saat berjalan di jalur mendaki yang sulit, pendaki memerlukan fokus. Apabila banyak melamun dan berpikir yang tidak-tidak, akan berbahaya bagi pendaki karena kehilangan konsentrasi.

“Beberapa tahun lalu. Aku tidak terlalu ingat pastinya.”

“Aku pernah ke Monte Pindo beberapa tahun lalu. Kau tidak mengenaliku, Eulia?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Eulia memperhatikan wajah Juan dengan seksama. Apakah aku mengenalnya? Kenapa aku tidak mengingatnya?

“Siapa kau sebenarnya?” Eulia tampak bingung.



[1] Terima kasih


Other Stories
Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Di Luar Rencana

Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Download Titik & Koma