Chapter 13
Eulia duduk sambil memeluk lutut. Dia mengarahkan tubuh ke kerumunan, tetapi kepala bersembunyi di antara kedua lengan. Perempuan itu mengingat dirinya yang sedang berdiri memandangi area batu-batu ke bawah. Saat itu malam hari, tidak begitu terlihat area sekitarnya. Gelap. Di situ, dia ketakutan, tetapi tubuhnya sulit bergerak seakan pergerakan merupakan suatu kesalahan. Dia hanya melihat ke bawah. Jauh ke bawah. Namun, dalam pandangannya yang samar hanya terlihat batu-batu. Dia mengamati sekeliling, berharap ada yang menyelamatkannya dari kegelapan. Seseorang tiba-tiba memeluknya. Seketika, dia bisa bisa bergerak dan langsung membalas pelukan. Elena. Orang yang memeluknya Elena. Dia bisa merasakannya. Dia merasa terhubung. Ketakutan yang menjeratnya sedikit demi sedikit menguar.
Saat ini, saat semuanya sedang berduka atas kehilangan Hector, Eulia merasakan kembali pelukan itu. Dia menyadari Elena sedang memeluknya. Kali ini, Eulia tidak balas memeluk kakaknya, tetapi dirinya mengangkat kepala lalu memandang dalam mata perempuan di depannya.
“Kau baik-baik saja, Eulia?” tanya Elena yang tiba-tiba menangkup wajah adiknya.
Eulia menggeleng. Dia tidak pernah menutupi perasaan hanya untuk membuat kakaknya tidak khawatir. Dia sering bercerita apabila mengalami mimpi buruk, tetapi saat ini, lidahnya seakan kelu.
Juan yang sudah memisahkan diri dari kerumunan, mengambil tas milik Eulia lalu menghampiri kakak-adik itu. “Apa yang terjadi?” tanyanya kepada Elena.
“Sepertinya dia kembali mengingat sesuatu. Kau bisa berikan air? Atau ambil saja di tasku.” Elena mengguncangkan punggung agar Juan mendekati tasnya.
Juan hendak membuka tas Eulia, tetapi baru teringat apabila botol minum sudah diberikan pada Eulia. Dia memandang botol di posisi tiang bendera Eulia sebelumnya yang sudah berguling dengan sebagian air membasahi sekelilingnya. Kemudian, dia segera mengambil botol miliknya untuk diberikan kepada Elena.
Elena menuangkan sedikit air ke telapak tangan lalu mencipratkan ke wajah Eulia. Perempuan itu ingin sekali mengguyur kepala Eulia, tetapi mengingat perjalanan masih panjang, dia harus menghemat air minum.
Eulia mengerjap-ngerjap karena merasakan sensasi dingin di wajah. Dia melepaskan dekapan lutut seakan tali yang mengikatnya telah terputus. Tiba-tiba, dirinya memegang salah satu lengan Elena yang kencang karena merasa akan terhuyung.
“Sebaiknya kau minum dulu, Eulia.” Elena memberikan botol minum milik Juan dan bantu menuangkan ke mulut Eulia.
Eulia menelan air yang masuk sampai dirinya terpaksa berhenti karena mendadak batuk-batuk. Saat mengelap bibir dengan punggung tangan, dia baru tersadar sedang menjadi pusat perhatian. Elena paling dekat dengannya. Juan ternyata di sampingnya. Javiar memperhatikannya dari jauh. Teo di sebelah Javiar. Lucia memandangnya heran sambil bersama Jade yang bersandar.
Setelah Eulia merasa lebih baik, Elena dan Juan membantu perempuan itu berdiri. Elena menggenggam tangan Eulia lalu mengajaknya berkumpul ke peserta lain. Juan mengikuti mereka di samping Eulia.
Javiar sejak tadi mencoba menghubungi layanan, tetapi tidak bisa. Tidak ada nomor yang tertera. Dia pun bertanya melalui pesan mengenai tim penyelamat untuk menemukan Hector dan siapa yang akan bertanggung jawab. Laki-laki itu mendapat balasan bahwa sudah ada yang bertugas. Meski mendapat jawaban, Javiar tetap kesal dengan keputusan yang tidak terduga ini.
Tidak akan ada yang bisa memastikan siapa yang akan selamat dan tidak. Bisa saja dirinya yang akan terjebak menjadi korban selanjutnya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Teo yang sudah mengurangi emosinya.
“Kita tunggu saja informasi berikutnya.” Javiar berusaha menjawab setenang mungkin. Dia juga merasakan ketidaknyamanan setelah melihat Jade dan Eulia terpuruk. Meski kedua perempuan tersebut sudah lebih tenang, suasana tidak bisa kembali ke kebahagiaan.
“Bagaimana dengan nasib Hector?” tanya Lucia yang cemas, mewakili kegelisahan Jade.
“Sudah ada yang akan bertugas menanganinya. Sepertinya mereka sudah menyiapkan semua terkait permainan ini.” Javiar berbicara pelan, sedikit lesu. Sebelumnya, dirinya begitu bersemangat karena mengincar hadiah yang menguntungkan. Dia berusaha bersama Elena agar lebih mudah mencapai tujuan. Namun, dia sama sekali tidak mengetahui jika harus melalui permainan yang mengancam nyawa seperti ini.
“Terus kita harus melanjutkan permainan ini? Bagaimana kalau kita kembali saja? Tidak butuh waktu lama untuk kembali, kan?” Lucia mulai merasa takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
“Kau tidak ingat berapa banyak pengawal yang tadi disediakan? Bahkan salah satunya sudah menunjukkan tindakan yang akan diambil kepada Eulia jika mundur.” Juan menambahkan.
Lucia terdiam dan Eulia tercengang.
Jadi, tidak ada cara untuk kembali?
Beberapa menit kemudian, saat semuanya sedang merenungkan nasib masing-masing, mereka mendapat pesan dengan bunyi dering bersamaan.
Lanjutkan perjalanan ke arah O Fiero.
Akan ada petunjuk untuk memulai permainan berikutnya.
“Bagaimana? Apakah kita harus berangkat?” tanya Teo yang mulai tidak yakin dengan permainan ini.
“Kau mau terus diam di sini?” Javiar mulai merapikan tas bawaannya. “Jika yang datang tim penyelamat, tapi kalau sebaliknya? Habislah kita tanpa berbuat apa-apa.”
“Kau akan tetap ikut permainan ini meski berbahaya?” Teo tampak kesal.
“Ikut atau tidak tetap saja berbahaya. Tapi lebih baik aku melakukan sesuatu daripada berdiam diri dan tetap waspada. Yang lain bagaimana? Mau tetap tinggal atau lanjut?”
“Aku akan melanjutkan perjalanan.” Juan bersiap-siap. Dia masih tetap membawa tas Eulia.
“Aku tidak akan diam saja di sini. Kau mau tetap ikut kan Eulia?” Elena juga mulai tidak menyukai permainan ini, apalagi telah mengabaikan peringatan Eulia sejak undangan datang. Akan tetapi, dia sudah terlanjur masuk dalam area berbahaya. Dia tidak akan menyerah sebelum bisa menyelesaikan rute Monte Pindo ini.
“Baiklah. Aku tidak akan tinggal kalau kalian pergi.” Teo merasa tidak akan aman jika sendirian berada di A Moa.
“Jade, ayo kita tinggalkan tempat ini. Kau harus bertahan.” Lucia membujuk Jade. Dirinya tidak mau tetap di A Moa tanpa mereka.
“Lalu bagaimana dengan Hector?” tanya Jade lemah. Dia masih berharap bisa melihat sosok Hector. Hidup atau mati.
“Kau sudah dengar sendiri akan ada tim penyelamat yang mengurusnya,” jelas Lucia.
Jade mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi.
Eulia memandangi semuanya. Apakah kami semua bisa selamat?
Other Stories
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Midnight Confessions: Whispers Of Forbidden Desire
Setiap malam pukul 01.00 dini hari, suara Rina Amara yang lembut dan menggoda memenuhi uda ...