Bab 9
“Kedetektifanku ternodai ketika menjamah dunia pelacuran.”
—Chan Chiracha—
Seumur-umur, Chan Chiracha tidak pernah mengenal dunia ‘semalam’ ini. Paling-paling dia hanya mabuk-mabukan setelah rekannya berhasil memecahkan sebuah kasus. Sekarang, detektif yang tidak pernah berhasil menyelesaikan kasus, memiliki kasusnya sendiri. Chan Chiracha yakin tidak ada detektif yang bernasib sepertinya, sekali pegang kasus adalah kasus yang berhubungan dengan pelacuran di Thisam. Thisam, tempat yang sering wara-wiri dalam pendengarannya. Konon, banyak pejabat yang ‘jajan’ di sini. Tempat yang selalu dibicarakan oleh teman-temannya, untuk menolak setiap kasus yang berhubungan dengan Thisam. Siapa sangka, nasibnya yang buruk, ternyata bisa makin buruk lagi.
Julukan Chan Chiracha Tidak hanya detektif debu saja. Ada julukan lain yang kurang terkenal, tetapi lebih relevan, yakni raja nepotisme. Jadi, kadang-kadang ada sindiran muncul setiap dia datang ke lokasi kejadian perkara. “Ya karena dia jadi detektif jalur nepotisme, makanya dimaklumi meski gak ahli-ahli sekali.” Atau, “Dia kan spesialisnya jadi \'detektif jalur silsilah\'. Jadi wajar aja kalo hasil kerjanya cuma setengah-setengah.”
Sebenarnya, dia tidak masalah dengan ejekan itu. Toh, yang mereka ucapkan memang fakta. Sedari kecil, Chan Chiracha tidak pernah berniat jadi detektif. Namun, keluarga mempersiapkannya jadi detektif. Akhirnya, Chan Chiracha tumbuh menjadi anak yang tidak patuh dan sesuka hati. Kadang-kadang, dia bertaubat dan bertingkah benar. Seringnya, buat orang lain melakukan pertaubatan karena tingkahnya tidak ada benar-benarnya.
Sekarang, sejak bertemu dengan May, dia merasa harus segera ke kuil dan memohon maaf kepada dewa. Kalau perlu, dia harus mencium kaki ibunya sambil membacakan fakta pengakuan dan penyesalan. Bagaimana tidak? Tanpa sadar dia benar-benar terlibat dengan pencarian kakak May. Siapa namanya? Thanakorn? Ya. Itu.
Awal-awal, Chan Chiracha tertarik dengan uang 68.960 baht. Sebagai anak yang dibesarkan oleh uang keluarga kaya, seharusnya dia tidak tertarik dengan uang. Namun, makin dia dewasa, uang sakunya makin menipis dan dibatasi. Katanya biar belajar mandiri dan bertanggung jawab. Akhirnya, nasib detektif jalur nepotisme itu juga bernasib seperti detektif jalur mandiri: sama-sama miskin. Makanya, sangatlah wajar dia jadi ngiler melihat uang sebanyak itu.
“Aku hampir mati,” ungkap Chan Chiracha ke May.
“Kenapa?” tanya May dengan nada heran.
“Ah, aku sudah mati.”
May menaboknya dengan nampan. “Nah, sekarang sudah hidup?”
“Klien gila!” umpat Chan Chiracha. “Sebentar, biarkan aku bernapas. Aku habis dikejar-kejar anjing peliharaan tetanggamu!”
May tidak menanggapi. Dia lebih tertarik mengeluarkan roti yang baru saja dia panggang dalam loyang. Sudah lama sekali dia tidak memasak hidangan manis. Roti yang sudah keluar dari loyang itu dia bagi menjadi beberapa potong, lalu menyodorkannya kepada Chan Chiracha. “Makanlah dan nikmati dengan cha yen[1] ini.”
Chan Chiracha tak sungkan melahap hidangan dari May.
Setelah memastikan Chan Chiracha lebih santai, May pun bertanya, “Di mana Phii?”
“Oh, iya.” Chan Chiracha mengeluarkan sebuah amplop dari tas dan meletakkannya ke meja. “Aku tidak bertemu dengannya, tetapi aku rasa, aku telah menemukannya. Dugaanku benar. Kakakmu jadi pelacur dan sudah melakukan operasi kelamin. Aku benar-benar kesulitan mencarinya dengan informasimu yang terbatas itu.”
May membuka amplop berisi alat perekam suara. Dia mendengarkan berbagai jenis suara dan salah satu pembicaraan yang menarik minatnya adalah pembicaraan Chan Chiracha dengan seorang laki-laki.
“Aku tidak pernah bertemu dengan lelaki yang ada di foto itu. Tapi tunggu dulu…,” katanya, “aku pernah bertemu seseorang yang hampir mirip seperti dia.”
Chan Chiracha bertanya, “Perempuan?”
“Ya. Mungkin adik atau kakaknya. Aku tidak tau. Tapi kalau kupikir-pikir, mereka sangat mirip.” Laki-laki terdengar bahagia. “Aku jadi terikat goyangan. Dia benar-benar top. Siapa sangka aku bisa memiliki kenangan seks seenak itu di lantai satu.”
“Y-ya?” Chan Charicha bingung. “Maksudmu?”
“Aku bertemu dengannya di Thisam.”
“Lelaki di foto ini?”
“Bukan. Saudara lelaki ini.”
“Adik perempuannya?”
“Mana aku tau dia adik atau kakak perempuannya. Yang kuyakini dia saudara lelaki ini!” Laki-laki itu sedikit marah.
Chan Charicha menjawab, “Iya. Dia punya adik perempuan. Kupikir namanya May Thaelyn.”
“Oh, bukan. Mungkin lelaki itu punya kakak perempuan juga, soalnya namanya bukan May Thaelyn, tapi Natcha Siriwat.”
Other Stories
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Rana Takdir
"Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang hanya melihat. Sejarah ditulis oleh mereka ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Hibur Libur
Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...