Bab 7
Prostitusi, kata yang tak pernah dihubungkan dengan keindahan. Tak seceria kafe yang dipenuhi obrolan menyenangkan, tak seanggun pusat perbelanjaan di gedung tinggi yang riuh dengan tawa orang berduit, dan tak seasri taman yang hijau dan menyejukkan mata.
Di balik bayangan gelapnya, prostitusi menjadi jalan pintas bagi mereka yang mengincar harapan dan mimpi sederhana, bahkan yang lebih kompleks. Uang menjadi magnet tak terelakkan. Uang bisa membuat kehidupan tampak mewah. Uang adalah solusi kehidupan. Oleh karena itu, Madam Dao selalu bermurah hati perihal uang untuk orang yang dirasa bisa menguntungkannya. Para pekerja seks yang dimilikinya harus menjadi yang terbaik, dan mereka yang meraih pengakuan Madam Dao dianggap sebagai yang terbaik di antara yang terbaik. Sempurna!
Seperti Thanakorn.
Thanakorn, wajahnya membawa hidung yang bangir, matanya dipenuhi kehangatan warna hitam legam dengan tatapan lembut yang mampu menyelinap ke dalam jiwa siapa pun. Bibirnya membentuk lekuk lebar, dan deretan giginya yang rapi memperindah nilai senyumannya. Gaya man bun dipilih untuk model rambutnya. Dia tidak hanya memancarkan kehadiran fisik yang menarik, tetapi juga aura kehangatan. Dalam pandangan Madam Dao, Thanakorn bukan sekadar wajah dan tubuh, melainkan potret hidup yang tak lekang oleh waktu.
Singkatnya, Madam Dao hanya memandang sebagai barang bagus yang mudah dipengaruhi. Lelaki berhati lembut adalah aib—juga peluang untuk Madam Dao. Sungguh ia adalah wujud nyata dari kesempurnaan yang dicacatkan. Karena itulah, dengan semangat yang membara, Madam Dao memberi izin kepada Thanakorn untuk menjelajahi dunia prostitusinya di Thisam.
Madam Dao selalu totalitas jika berkaitan dengan Thisam. Prostitusi miliknya ini telah mengalami hal-hal sulit. Apalagi, Thailand masih menganggap prostitusi adalah tempat illegal. Sehingga, para polisi-polisi itu sering meminta uang dengan dalih ‘denda’. Padahal belum tentu uang-uang itu masuk ke dalam kas negara. Biasanya, mereka meminta uang sebesar 200 baht per pekerja seks. Murah memang. Namun, Thisam adalah prostitusi besar. Tidak sembarangan. ‘Barangnya’ tidak cuma satu, tetapi ribuan. Maka, setiap bulan, polisi-polisi itu bisa mendapatkan 400.000 baht tanpa perlu melakukan apa-apa.
Jika bukan berbekal ketelatenan Madam Dao, mana mungkin Thisam menjadi tempat prostitusi yang ‘aman’?
Tentu saja tidak!
“Aku sudah meniduri dua ratus tiga puluh empat lelaki, dan melakukannya sampai ribuan kali. Mereka bukan orang berpenyakit miskin. Jika aku tidak terlahir dan dididik Momi, mana mungkin aku bisa menjilat?” kata Madam Dao berbangga diri setiap ditemui polisi.
Saat remaja, banyak teman-teman Madam Dao yang iri dengannya. Kecantikan seperti dewi. Wajahnya bersih dan mulus. Bibirnya berwarna cerah seperti jambu air. Bulu mata dan alisnya tebal menambah kesan tatapan yang bisa membuat siapa saja tergila-gila. Namun, Madam Dao tidak suka penampilannya. Gara-gara dia anak tercantik yang dimiliki Momi, hidupnya jadi diatur-atur. Dia harus berjalan anggun, mampu memuji, mampu menyembunyikan perasaan melalui senyuman, mampu bertutur kata lembut jika di hadapan lelaki, bisa memberikan sentuhan lembut pada tubuh lelaki, dan bisa mendesah dengan merdu.
Seandainya dia tidak cantik, pasti Momi akan memperlakukannya seperti biasa—seperti kakaknya yang bisa melakukan apa saja. Membeli jajanan di pinggir jalan atau bermain dengan orang-orang biasa. Tidak perlu mendapatkan barang mewah, seperti baju-baju merek terkenal, guru terbaik, skincare berkualitas bagus, member VIP di sebuah klinik kecantikan. Toh pada dasarnya, Madam Dao hanya ingin bermain. Bukan belajar melulu. Bukan bertemu dengan para pejabat mata keranjang.
Beruntung, Momi bisa terbunuh di tangannya dan Thisam menjadi miliknya. Gara-gara Thisam, dia jadi lahir dari rahim Momi. Gara-gara Thisam, Momi jadi tidak mengetahui sperma lelaki mana yang bisa membuahi sel telurnya. Kebencian Madam Dao itu, hampir membuat Thisam bangkrut. Namun, Madam Dao mendapat pencerahan. Dia ingin membuat Thisam megah dan populer. Dia ingin namanya lebih gemilang daripada Momi. Dia ingin membuktikan, bahwa tidak ada sperma lelaki yang bisa membuahi sel telurnya. Oleh karena itu, Madam Dao memilih operasi pengangkatan rahim. Dia tidak memiliki anak kandung, tetapi banyak orang yang menganggapnya seorang ibu.
Sama seperti Thanakorn, laki-laki itu cukup gigih ketika datang dengan pakaian rapi untuk melamar pekerjaan. Gayanya tidak cocok jadi seorang bandit. Tidak memiliki keahlian menjadi seorang penjaga. Namun, dia memiliki harga jual yang berbeda—yang tidak bisa disamakan bandit dan penjaga. Jadi, ketika Madam Dao mendapatkan laporan atas kegigihannya, Thanakorn dipersilahkan masuk.
Saat lelaki itu masuk, Madam Dao langsung menyodorkan pertanyaan kemudian menenggak whisky dari botolnya langsung. “Bagaimana pendapatmu tentang Thisam?”
Thanakorn diam sebentar, lalu berkata, “Ramai. Bau mani. Suara desahan di mana-mana. Sesekali terdengar erangan kesakitan. Sedikit menakutkan dan ... menjijikkan.”
Madam Dao tertawa sangat keras. “Betul. Aku juga setuju kalau tempat ini menjijikkan, tapi aku menyukainya. Tapi kau malah datang ke sini. Kau ingin pekerjaan? Pekerjaan apa yang kau harapkan dari tempat ini?”
“Apa saja. Pelayan. Bartender. Tukang beberes. Aku bisa melakukan apa saja. Jika ada pekerjaan yang tidak bisa kulakukan, beri waktu agar aku mempelajarinya. Tidak lama. Aku anak yang cerdas.” Thanakorn menunduk ke bawah sebentar, lalu menatap Madam Dao yang menyengir, meletakkan botol dengan keras, lalu berjalan dan meraba-raba pundaknya dari belakang.
“Kau normal? Bukan gay atau boat atau adam?” tanya Madam Dao tiba-tiba lalu menghirup aroma badan Thanakorn dari leher.
“Ya.”
Madam Dao menjilat belakang telinganya. “Pernah melihat tubuh perempuan telanjang?”
Bisikan Madam Dao membuat Thanakorn merasakan sensasi nyeri di dada, tetapi nikmat. Dia menjawab cukup lirih. “Pernah.”
“Kau pernah bercinta?”
Thanakorn termenung. “Kurasa iya.”
Madam Dao mengernyitkan dahi. “Dengan perempuan?”
“Tidak. Aku disodomi.” Thanakorn membuang muka.
Madam Dao memegang dagu Thanakorn dan mengarahkannya ke cermin. “Miris sekali. Lihat dirimu dan dengarkan! Pertama, aku tidak membutuhkan pelayan dan tukang bebersih. Aku ini mucikari, meski aku tidak menaungi gigolo. Kedua, kau harus mau melawan traumamu itu jika ingin mendapatkan banyak uang. Ketiga, aku hanya membutuhkan para pelacur, tidak masalah jika itu seorang wanita tulen atau buatan dokter.”
“Apa maksudmu?” Thanakorn terkejut.
“6000 baht per bulan adalah uang yang akan kau dapatkan tanpa bekerja, setidaknya sampai kau siap menjadi ‘barang’ jualanku. Aku juga akan membiayai operasimu. Tampan akan diubah menjadi cantik. Penis akan diubah jadi vagina. Anggap itu pinjaman dariku untuk mendapatkan untung lebih banyak,” ucap Madam Dao setelah duduk kembali.
Thanakorn menggigit bibir bawahnya. Dia memang tergiur. Dia pikir dirinya akan menjadi gigolo. Tidak mengubah kelaminnya dan tetap menjadi dirinya sendiri. Namun, berubah menjadi kathoey …?
“Bisakah kau memberikanku waktu?” tanya Thanakorn.
Madam Dao terkekeh-kekeh. “Aku tidak suka membuang-buang waktu. Iya atau tidak. Aku membutuhkan jawabannya sekarang!”
Thanakorn tidak menjawab.
“Bagaimana?” cerca Madam Dao sekali lagi.
“Apa yang terjadi jika aku bisa mengembalikan uang milikmu?” Thanakorn mulai berpikir keras, pasalnya Madam Dao akan memberikan pinjaman bernominal besar.
Madam Dao melirik Thanakorn sebentar. “Mudah saja. Aku akan menjual organmu. Namun, aku tidak pernah salah menilai. Oleh karena itu, kau harus membuktikan penilaianku. Aku benci penilaian yang keliru.”
“Itu mengerikan.” Thanakorn mengembuskan napas besar. “Baiklah, aku akan menerimanya.”
Madam Dao menghentikan makannya. Dia tersenyum dan menjabat tangan Thanakorn. “Aku menyukai kabar ini. Besok kau bisa memulai prosedur operasi.”
“Ya? Besok? Ah, baiklah.” Thanakorn membalas jabatan tangan Madam Dao.
***
Madam Dao mengalami dejavu lagi. Perempuan berusia lanjut itu merasa tak asing dengan wajah perempuan yang kini berada di depannya. Wajah resik dan polos itu pernah dia jumpai pada sosok laki-laki sembilan tahun yang lalu; sosok laki-laki yang sudah menjadi ampas di Kubikel miliknya. Bagaimana mungkin Madam Dao tidak mengenali sosok perempuan yang sering dia dengarkan ceritanya. May Phaelyn, adik perempuan perempuan yang selalu dilindungi oleh Natcha Siriwat—yang dulu dikenal sebagai Thanakorn. Siapa sangka, kini May Phaelyn telah datang ke Thisam dan mengatakan dengan sadar untuk menjadi pelacur.
Berbeda dengan Natcha yang memiliki sorot mata sendu, May sedikit lebih kuat. Madam Dao merasa kepribadian mereka sangat berbeda. Namun, itu bukan masalah besar. Dia tidak peduli tujuan adik Natcha itu datang ke Thisam—yang bisa saja kedatangannya untuk mencari tau Natcha. Bagi Madam Dao, kedatangan May adalah peluang untuk mendapatkan uang. Dia mendapatkan ‘barang’ bagus lagi.
“Kau pernah memiliki pengalaman bercinta?” tanya Madam Dao blak-blakan.
“Tidak.”
“Kau pernah ciuman?”
“Tidak.”
“Ha, Ha, Haaa.” Madam Dao tertawa. Tangan kanannya memukul-mukul meja, sedangkan tangannya yang lain memegang perut. “Aku memiliki pelacur yang tidak memiliki pengalaman bercinta dan ciuman, tetapi sepertinya, kau berbeda. Ah, maafkan aku,” katanya sambil mengusap air mata di ujung mata.
May duduk sopan di sofa sambil memerhatikan Madam Dao yang terpingkal-pingkal. “Ya, tidak apa.”
“Hei, Nak. Kenapa kau pengen jadi pelacurku?”
“Apa itu penting? Soalnya alasannya cukup pribadi,” ujar May.
Madam Dao mengaruk ujung hidungnya, lalu memperbaiki posisi duduknya. “Ya, itu hanya basa-basi. Aku tidak pernah menolak siapa pun untuk menjadi pelacurku. Pendek atau tinggi. Cantik atau jelek. Gendut atau kurus. Aku akan menerima mereka semua dengan senyuman. Sisanya, mereka harus berjuang sendiri. Tetap jadi pelacur di lantai satu atau berusaha sampai jadi pelacur lantai tiga, itu urusan mereka sendiri. Zaman sudah maju. Orang jelek bisa jadi cantik dan tampan karena operasi pun sah-sah saja. Ya, walau kenyataannya, pelacur-pelacur cantiklah yang bisa menarik perhatianku.”
May memberikan anggukan kecil.
“Mungkin aku mulai tertarik kepadamu, Nak. Kau cantik.” Madam Dao memuji sambil tersenyum.
“Terima kasih.” May menatap mata Madam Dao. “Kau juga cantik.”
Hampir saja Madam Dao menyemburkan kopi. “Perawatan, Nak. Wajahku ini sudah menghabiskan banyak uang.”
“Kau telah berusaha keras.” May memuji.
“Ya. Tentu saja,” Madam Dao tersenyum. “Karena segala hal yang ada di sekitarku dan yang jadi milikkku haruslah yang terbaik. Semua barang yang berada di Thisam harus yang terbaik, bahkan sempurna. Perabotannya harus yang kokoh, funiturnya harus indah, model bangunan harus modern, bahkan para pelacurnya harus cantik dan bebas dari HIV. Jadi Nak….”
May terhenyak ketika Madam Dao mendekat dan memegang tangannya.
“Kau harus belajar. Jangan menahan diri dan sok jadi orang suci. Thisam tidak cocok untuk orang seperti itu. Aku selalu menginginkan pelanggan yang ‘jajan’ di Thisam harus dibuat betah dan puas. Jajan dan sewa kamar di lantai satu saja sudah baik. Sewa kamar di lantai dua lebih baik. Apalagi sewa kamar di lantai tiga, pasti terbaik. Semakin ke atas, makin sempurna. Kau paham?”
“Ya. Aku paham.”
Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...