Claustrophobia
“Tolong!”
Sebuah suara menghentikan langkah Zola. Dia menengok ke sekelilingnya dan menajamkan pendengaran. Gadis itu yakin dia mendengar permintaan bantuan. Dia baru saja memutuskan kembali ke penampungan. Dia harus segera kembali ke bayi kecil.
“Tolong! Tolong aku!”
“Siapa?” Zola berteriak begitu mendengar suara permintaan tolong untuk kesekian kalinya.
“Ada orang di sana? Kumohon, tolong aku!”
Pandangan Zola menyipit pada salah satu sudut. Dia mendekat sambil terus berteriak, “Siapa di sana?”
Zola berjalan sambil mengambil sebuah pipa panjang. Pipa besi potongan dari baliho yang sudah tidak berbentuk. Saat sudah dekat dengan tempat yang dicurigai sebagai sumber suara, Zola melihat sebuah jendela kecil yang posisinya tepat di sisi trotoar.
“Hei, kau di dalam sana?” tanyanya. Dia melongok ke sebuah celah sempit. Dia bisa melihat siluet dari cahaya matahari.
“Ya.” Jawaban itu disertai oleh gerakan mendekat yang dapat dilihat zola. Seorang perempuan yang diduga berusia pertengahan dua puluh.
Zola melihat sekeliling. Dia tidak menemukan orang yang bisa dimintai tolong. Namun, bukan alasan baginya mengabaikan perempuan itu.
“Aku akan memecahkan kaca agar kau bisa memanjat keluar. Sebaiknya kau berlindung agar tidak ada debu atau pecahan kaca yang akan melukaimu,” perintah Zola. Korban di dalam tidak menjawab, tetapi Zola yakin dia paham perintahnya.
Zola kemudian memukulkan pipa ke kaca jendela. Suara kaca pecah terdengar bagi Zola, tetapi tidak mengundang orang datang untuk membantu. Gadis itu maklum karena situasi yang dihadapi sekarang memang memastikan keadaan diri sendiri aman dan selamat lebih dahulu.
“Bisakah kau meraih bingkai jendela?”
Zola sama sekali tidak butuh jawaban ketika dia melihat dua tangan muncul dari bawah. Dengan sigap, dia berusaha meraih dan mengangkatnya.
“Ayo, kubantu naik. Saat hitungan tiga, oke?”
Zola menarik napas panjang sebelum berhitung. “Satu. Dua. Tiga…!”
Hanya dengan sekali sentak, akhirnya korban itu bisa keluar. Dia langsung memeluk Zola erat.
“Kau selamat. Sebaiknya kau segera pergi ke Mosque Shafee. Di sana kau bisa bisa memperoleh perlindungan dan lainnya.”
“Tapi ….” Perempuan muda itu mengepalkan jarinya. Dia melongok ke dalam dengan kalut.
“Ada apa?”
“Adikku.”
“Adikmu masih di dalam?” Zola berusaha untuk tidak histeris.
“Aku tidak tahu. Aku tidak yakin. Kami sedang di kamar masing-masing … lalu–”
“Oke, tenang.” Zola menghentikan racauan gadis itu. Dalam keadaan panik sulit mendapatkan informasi yang jelas. Zola merasa kewajibannya untuk membantu, meskipun dia menyadari bahwa ini akan menjadi tantangan besar bagi dirinya.
“Aku akan mencoba untuk mencari adikmu. Sekarang kau segera pergi ke Mosque Shafee. Beritahu orang-orang di sana.”
Dengan hati yang berdebar, Zola meluncur masuk ke jendela. Gadis itu memasuki bangunan yang sudah tak berbentuk tersebut. Dia merasakan langit-langit yang rendah dan dinding-dinding yang menekan di sekitarnya. Udara terasa semakin tipis, dan ruangan terasa semakin sempit. Namun, dia tetap melangkah maju, mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongannya.
\"Zola, kamu bisa melakukannya. Kamu bisa membantu orang ini,\" dia mengingatkan dirinya sendiri dengan suara yang gemetar.
“Hei, siapa nama adikmu?”
Zola tidak mendengar jawaban. Sepertinya perempuan muda itu sudah berlari ke arah pusat perlindungan. Satu-satunya yang tebersit dalam benak Zola hanyalah doa agar perempuan muda itu berhasil sampai ke penampungan.
Saat Zola mencoba untuk menelisik ruangan tempat perempuan yang ditolongnya terperangkap, dia merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Dia melihat pintu yang hampir tertutup rapat, dan dia harus merangkak untuk sampai ke pintu tersebut. Setiap langkah yang dia ambil terasa seperti pertarungan dengan rasa takutnya sendiri.
Ketika Zola berhasil membuka pintu, dia merasa seperti dunia berpindah tempat. Dia merasa terjebak, napasnya terasa sesak, dan pikirannya dipenuhi dengan kecemasan yang melumpuhkan. Semua kenangan traumatis dari masa lalu datang membanjiri pikirannya, membuatnya kesulitan untuk tetap tenang.
Dia mencoba mengatur pernapasannya, tetapi udara terasa semakin terbatas. Dia mencoba meraih sesuatu, mencoba mencari pegangan yang nyaman di tengah kekacauan dan kecemasan yang melanda.
\"Ada orang di sini? Saya di sini untuk membantu. Saya tidak akan meninggalkan Anda,\" kata Zola dengan suara yang gemetar sekalipun berusaha untuk tetap lantang.
\"Saya bisa melakukannya. Saya bisa membantu survivor ini,\" kata Zola dengan suara yang penuh tekad.
Sambil berusaha tetap berjalan, Zola merasa pandangannya berubah. Dia seperti melihat titik-titik hitam di hadapannya. Langkahnya perlahan goyang dan dia tidak dapat mendapatkan visi apa pun lagi.
Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...