A Little Hope Part 1
Zola duduk sendirian dengan kaki tertekuk. Kedua tangannya bertopang di atas lutut. Dia terpekur menatap lantai. Dalam kegelapan malam yang sunyi, Zola memandang langit penuh bintang. Dia merasakan kebingungan dan kecemasan yang mendalam. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Sementara itu, dia masih bisa mendengar lagu ninabobo yang disenandungkan Namdi untuk bayi yang tidur di atas velbed dari dalam tenda.
Tiba-tiba, Nora, Maldra, dan Alex muncul di depan tenda, membawa beberapa makanan dan air untuk berbagi. Tanpa dikomando ketiganya ikut duduk bersama Zola.
Nora bertanya dengan penuh perhatian, “Zola, kami melihatmu duduk sendirian. Apa yang sedang terjadi?”
Zola mengangkat kepalanya, wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang mendalam. “Tidak ada. Aku hanya bersyukur semua akhirnya bisa dilalui dengan baik.”
“Jangan bohong!” Maldra membuka sebuah kaleng minuman bersoda dan menyerahkannya ke Zola. “Ekspresi orang yang bersyukur bukan sepertimu. Penuh kekalutan.”
Zola hanya langsung menenggak minuman kaleng di tangannya. Dia menghabiskannya dalam tiga kali tegukan, lalu meremas kaleng itu dan menyimpannya di atas tanah di sebelahnya duduk.
“Kau memikirkan keluargamu?”
“Tentu saja dia memikirkan keluarganya. Itulah alasan dia ada di sini dan harus mengalami bencana.” Namdi berdiri di depan pintu tenda.
“Mana bayiku?” tanya Nora dengan mata berbinar. Dia berdiri dan hendak membuka tirai pintu.
Namdi hanya menggelengkan kepala sambil berujar, “Jangan ganggu. Malaikat itu baru saja tertidur lelap.”
Nora mendesah karena tidak bisa menggendong manusia mungil yang lahir dengan bantuannya. Dia kembali mendaratkan bokongnya di sebelah Zola.
“Kenapa kau tidak membiarkan tim medis merawat bayi itu?” tanya Nora penasaran.
Zola mengambil roti yang bungkusnya sudah dibuka dari tangan Alex. Laki-laki itu tidak sempat protes ketika melihat raut wajah Zola.
“Aku hanya merasa perlu bertanggung jawab terhadapnya. Rasanya aku seperti meninggalkan dia sendirian, seandainya dia dirawat di tangan tim medis.”
“Hei ….” Nora menegur Zola.
Zola mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka ke depan. “Bukan maksudku menyepelekan tanggung jawab dari tim medis. Aku yakin peralatan yang lebih baik yang disediakan oleh paramedis akan lebih baik untuk bayi itu. Jauh lebih baik daripada di sini. Tapi …“ Zola menggantung kalimatnya.
Tidak ada satu pun yang berbicara. Semuanya diam tak bersuara.
“Setidaknya berikan bayi itu nama,” pinta Alex dengan suara lirih. “Aku kesulitan menyebutnya. Eh, memanggilnya. Eh… terserahlah. Yang jelas kita tidak mungkin terus menerus bilang ‘bayi itu’. Benar, kan?”
Semua mata memandang Alex. Pria itu balik memandang keempat orang di sekelilingnya. Dia mengangkat kedua tangan di sampingnya dengan kedua telapak tangan menghadap ke atas, memberikan gestur orang yang memberikan pendapat. Secara serempak keempat mereka tertawa bersama-sama.
“Dia benar,” seru Maldra.
“Oh, tidak. Aku tidak keberatan memanggilnya my angel,” kata Namdi di sela tawanya.
Zola menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia tidak mau tertawa dengan suara kencang yang bisa membangunkan pria kecil yang baru saja ditidurkan oleh Namdi.
“Jadi, Zola, kira-kira nama apa yang akan kau berikan pada bayi tampan kita?”
Zola mendongak dan memandangi langit yang kini terang dan berhiaskan bintang. “Eze. Aku akan memanggilnya Eze.”
“Nama yang cantik,” puji Namdi.
***
“Kita harus mencoba mencari cara untuk menemukan keluargamu. Keluargamu penting, Zola. Kita akan membantumu.”
Zola tidak menjawab. Matanya menatap Maldra. “Terima kasih, Maldra. Tetapi rasanya aku tidak ….”
“Karena Eze?”
Zola tidak menjawab. Dia tahu tidak seharusnya dia mengabaikan tujuan utamanya. Apalagi hanya karena seorang bayi mungil tak berdaya. Namun, tidak dipungkiri Zola kadung jatuh cinta kepada bayi itu. Terutama sejak pesan sang ibu dicerna oleh benaknya.
“Zola,” panggil Namdi dari dalam tenda. Suaranya terdengar panik membuat Zola bergegas meninggalkan Maldra.
“Ada apa, Namdi?”
Namdi tidak menjawab. Di tangannya Eze terlihat menggeliat tak nyaman. Tampak bayi itu berusaha menangis, tetapi suara yang keluar hanya berupa rengekan yang lemah.
Zola segera meraih Eze dari gendongan Namdi. “Aku akan membawanya ke penampungan.”
Namdi tidak memberi komentar apapun. Perempuan itu hanya mengangguk pasrah. Wajahnya memancarkan kekhawatiran yang sama dengan Zola.
Di luar tenda, Maldra segera mengikuti Zola yang setengah berlari ke arah penampungan. Dia bahkan tidak balas menyapa orang-orang yang bertemu di jalan.
“Tolong!” seru Zola begitu sampai di penampungan.
Paramedis yang sedang senggang segera menghampiri Zola.
“Tolong dia!”
***
“Eze baik-baik saja.,” kata Nora. Sejak kedatangan tim first respondent, dia jarang ada di tenda penampungan. Lebih sering menghabiskan waktu di tenda medis.
Zola tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menyilangkan kedua tangannya di dada dan bersandar di salah satu dinding.
“Eerr… aku mau menyampaikan pesan dari Maldra. Kalau kau memang mau mencari keluargamu. Kau bisa mencarinya di tenda informasi.”
Zola akhirnya bereaksi dan menatap Nora. “Apa yang kau maksud dengan tenda informasi?”
Nora melihat sekelilingnya. Semua orang di sekitar mereka sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Gadis itu menarik tangan Zola dan membawanya keluar dari tenda medis.
“Itu tenda informasi. Di sana kau bisa mencari informasi tentang korban yang selamat.” Nora menunjuk satu tenda yang berwarna jingga terang.
Zola masih bergeming di tempatnya. Dia sadar itu salah satu kesempatannya bisa menemukan keluarga kandungnya. Apa pun hasil yang nanti akan dia temukan.
Nora yang melihat Zola tidak juga beranjak akhirnya memutuskan untuk menarik tangan gadis itu. Dia membawanya ke tenda yang ditunjuknya.
Di dalam tenda itu ada beberapa meja dan kursi yang berserakan. Beragam kertas tampak tidak beraturan di atas meja-meja itu. Petugas yang mengenakan rompi berwarna jingga juga tampak sibuk dengan catatan di tangan mereka. Selain itu juga ada beberapa papan yang mencantumkan banyak nama.
“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang perempuan bertanya kepada Nora dan Zola.
Berdiri di depan petugas, Zola merasa jantungnya berdebar kencang. Dia menatap daftar korban yang selamat, mencari nama yang sangat dia kenal. \"Maaf,\" Zola memulai, suaranya hampir tidak terdengar, \"Apakah Anda bisa membantu saya mencari seseorang?\"
Petugas itu menatap Zola, lalu menatap daftar yang ada di tangannya. Dia mengangguk, mulai membaca daftar itu satu per satu. Setiap nama yang dibacakan membuat jantung Zola berdebar semakin kencang. Tapi nama yang dicarinya tidak ada.
\"Maaf,\" kata petugas itu sambil menggeleng, \"Nama yang Anda cari tidak ada di daftar ini.”
Zola mengangguk, memberi isyarat ucapan terima kasih.
“Mungkin di daftar lainnya.\" Petugas itu menambahkan.
Zola merasa dunia berputar. Dia merasa seolah-olah tanah di bawahnya runtuh. Dia merasa seolah-olah udara di paru-parunya habis. \"Tidak,\" bisik Zola, \"Itu tidak mungkin.\"
Other Stories
Aku Ingin Kau Menjadi Ibu Dari Anak-anakku
Cerita ini mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Maya, seorang desainer muda, dan Ra ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
Nina Bobo ( Halusinada )
JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Cahaya Dari Menara Camlica
Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...