Bidadari Turun Tangan
Dari balik kepulan debu yang ditinggalkan derap kaki itu, muncul sekelompok prajurit. Mereka mengenakan zirah dada dari kulit kerbau yang diperkeras dan memegang tombak dengan mata besi yang berkilau tajam di bawah sinar matahari. Di barisan paling depan, tampak seorang pria menunggangi seekor kuda hitam perkasa yang kehadirannya langsung membekukan atmosfer di sana.
Pria itu bertubuh tegap dengan pundak lebar yang menunjukkan kekuatan fisiknya. Di antara semua itu, yang paling mencolok adalah wajahnya. Sebuah luka parut yang lebar dan dalam melintang dari pelipis kanan hingga ke rahangnya, membuat wajahnya tampak seperti topeng perang yang mengerikan. Matanya tajam seperti mata elang, dingin, dan sama sekali tidak memiliki belas kasihan.
\"Siapa yang berani mengacau di tanah Kalingga?\" Suara pria itu berat dan berwibawa, menggelegar di persimpangan jalan.
Bram terpaku. Ia mengenali ciri-ciri itu dari catatan sejarah yang sering ia pelajari. Namun, melihatnya secara langsung adalah hal yang berbeda. Aura haus darah yang terpancar dari pria itu membuat kaki Bram lemas.
Pria itu turun dari kudanya dengan gerakan yang sangat tangkas. Ia berjalan mendekati Bram. Setiap langkah sepatunya di atas tanah terdengar seperti vonis hukuman mati. Ia berhenti tepat satu meter di depan Bram, menatap kemeja Bram, lalu turun ke kamera yang dipegang erat oleh tangan Bram yang bergetar.
\"Pakaian yang aneh. Benda yang aneh,\" ucap pria itu sambil menarik keris yang terselip di pinggangnya. Bilah keris itu berwarna hitam legam, memantulkan sinar matahari dengan tajam. \"Kau bukan dari kerajaan tetangga. Kau tidak berbau seperti manusia biasa. Kau ... mata-mata atau penyihir?\"
Bram menelan ludah, tenggorokannya terasa tersumbat batu. \"Nama saya Bram. Saya tidak bermaksud jahat. Saya ... saya hanya tersesat.\"
Pria berwajah parut itu menyeringai, sebuah ekspresi yang lebih mirip seringai serigala daripada manusia. Ia mengarahkan ujung kerisnya tepat ke tenggorokan Bram.
\"Aku adalah Senopati Wira, penjaga keadilan Kalingga di bawah perintah Sang Ratu,\" ucapnya dingin. \"Di tanah ini, setiap hal yang asing adalah ancaman. Dan setiap ancaman harus dimusnahkan sebelum ia sempat meracuni kedamaian kami.\"
Bram memejamkan mata, merasakan dinginnya ujung keris yang menyentuh kulit lehernya. Ia baru saja tiba dan sudah berada di ambang maut. Di dalam tasnya, ponsel Nokia-nya berbunyi tanda low battery, sebuah suara digital yang terdengar sangat ganjil di tengah keheningan zaman kuno itu.
Wira mengernyitkan dahi mendengar suara itu. \"Benda itu ... ia bicara!\"
Prajurit di belakangnya langsung menghunjamkan pangkal tombak mereka ke tanah secara serentak. Bram tahu, jika ia tidak melakukan sesuatu sekarang, kepalanya akan menggelinding di atas tanah Kalingga yang suci ini bahkan sebelum ia sempat melihat wajah Sang Ratu.
Ujung keris Senopati Wira terasa sedingin es di kulit leher Bram, sebuah kontras yang menyakitkan dengan udara Kalingga yang membara. Bram bisa merasakan setitik darah mulai mengalir, hangat dan anyir, membasahi kerah kemeja kremnya. Di sekelilingnya, para prajurit Kalingga mulai merapat, menciptakan lingkaran tombak yang seolah menjepit ruang napasnya.
Wira menatap Bram dengan mata yang tidak menunjukkan emosi manusia. Baginya, Bram hanyalah sebuah hama yang harus dibasmi agar ketertiban kerajaan tidak terganggu.
\"Sebutkan mantra terakhirmu, Penyihir,\" desis Wira. \"Sebelum keris ini memisahkan kepalamu dari tubuh anehmu itu.\"
Bram menutup mata, tangannya semakin erat mendekap kamera Chronos. Dalam keputusasaannya, ia berpikir. Apakah ini akhirnya? Mati di zaman yang bahkan belum mengenal listrik, hanya karena sebuah rasa penasaran?
\"Hentikan, Senopati!\"
Sebuah suara membelah ketegangan itu. Suaranya tidak tinggi, tapi memiliki aura yang cukup kuat untuk membuat Senopati Wira menghentikan gerakan tangannya. Bram membuka mata perlahan. Dari arah gerbang istana yang tak jauh dari sana, muncul seorang wanita yang berjalan dengan langkah yang begitu tenang, seolah ia tidak sedang melintasi kerumunan massa yang haus darah, melainkan sedang berjalan di atas hamparan kelopak bunga.
Dia adalah Dyah Gupita.
Bram terpaku. Jika ada definisi bidadari yang pernah ia baca dalam serat-serat kuno di museum, wanita ini adalah wujud nyatanya. Gupita mengenakan kain kemben dari sutra halus berwarna kuning gading yang membalut tubuhnya dengan anggun. Rambut hitamnya yang panjang disanggul rapi, dihiasi dengan cunduk mentul emas yang bergoyang halus mengikuti irama langkahnya. Wajahnya berbentuk oval sempurna dengan kulit kuning langsat yang tampak bersinar di bawah terik matahari.
Matanya … sangat memikat. Sepasang mata yang bening sekaligus menyimpan kedalaman samudera. Ada kelembutan yang luar biasa di sana. Meskipun demikian, saat ia menatap Wira, ada ketegasan yang tak tergoyahkan.
\"Dyah Gupita.\" Wira menarik sedikit kerisnya, tapi tidak menyarungkannya. \"Ini bukan urusan dayang istana. Orang ini adalah ancaman. Dia muncul dari cahaya, membawa benda-benda sihir yang mengeluarkan suara iblis.\"
Gupita berdiri di samping Bram. Bau harum bunga kantil dan cendana yang lembut seketika mengusir bau amis darah dan debu yang tadi menyergap indra penciuman Bram. Gupita tidak menatap Bram terlebih dahulu. Ia menatap langsung ke mata sang Senopati.
\"Keadilan Kalingga tidak dibangun di atas ketakutan terhadap hal yang tidak kita mengerti, Senopati,\" ucap Gupita tenang sekaligus penuh penekanan. \"Sang Ratu selalu mengajarkan bahwa setiap tamu, betapa pun anehnya, berhak atas penjelasan sebelum ia menerima hukuman. Apakah kau ingin aku melaporkan pada Gusti Ratu bahwa panglima perangnya telah mengeksekusi seorang pria yang bahkan tidak membawa senjata, hanya karena ia mengenakan kain yang berbeda?\"
Wira mendengus, parut di wajahnya berdenyut. \"Lihat benda di tangannya, Gupita. Itu bukan benda buatan manusia.\"
Gupita menoleh ke arah Bram. Untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu. Bram merasa seolah waktu kembali berhenti. Kelembutan wajah Gupita membuatnya lupa sejenak bahwa ia sedang berada di ambang maut. Wanita itu memberikan senyum tipis. Sebuah senyuman yang seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
\"Siapa namamu, Pengembara?\" tanya Gupita lembut. Suaranya terdengar seperti denting kecapi di telinga Bram.
\"Bram ... Bramantyo,\" jawab Bram terbata.
Gupita beralih kembali ke Wira. \"Dia punya nama. Dia bicara dengan bahasa yang bisa kita mengerti meski logatnya aneh. Dia ketakutan, Senopati. Penyihir tidak akan gemetar seperti ini jika ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan kita.\"
\"Dia bisa saja bersandiwara!\" bentak Wira.
\"Maka biarkan dia membuktikan sandiwaranya di hadapan Gusti Ratu,\" balas Gupita tegas. Ia melangkah maju satu langkah, menempatkan dirinya tepat di depan Bram, menjadikannya tameng hidup. \"Aku yang akan membawanya ke istana. Aku yang akan bertanggung jawab penuh atas keselamatannya hingga ia berdiri di hadapan singgasana. Jika dia terbukti jahat, biarkan aku yang menerima hukuman karena telah membelanya.\"
Suasana menjadi hening. Para prajurit saling pandang. Di Kalingga, Dyah Gupita bukan sekadar dayang biasa. Ia adalah orang kepercayaan Ratu Shima, wanita yang sering dianggap sebagai suara nurani sang Ratu. Melawan Gupita hampir sama dengan menantang keputusan istana.
Wira menyarungkan kerisnya dengan kasar. \"Baik. Bawa dia. Tapi ingat, Gupita. Jika pengembara ini melakukan satu saja gerakan yang mencurigakan, aku tidak akan menunggu perintah Ratu untuk menebas lehernya. Aku akan mengawasi kalian dari belakang.\"Other Stories
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Lust
Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...