Harapan Pulang
Tujuh purnama telah berlalu sejak peristiwa di alun-alun yang hampir merenggut nyawa Pangeran Narayana. Bagi Kerajaan Kalingga, kehidupan telah kembali pada ritme yang damai. Bagi Bramantyo, waktu terasa seperti sungai yang mengalir lambat. Membawanya semakin jauh dari daratan abad ke-21 yang ia kenal.
Kini Bram tidak lagi tinggal di gedung yang terpencil. Ratu Shima memberinya sebuah kediaman kecil tetapi terhormat di sayap timur istana, dekat dengan perpustakaan lontar. Ia diangkat menjadi Waskita Utama—sebuah gelar kehormatan baru yang berarti ‘Sang Pengamat Agung’. Tugasnya bukan lagi mencatat sejarah dari balik kaca museum, melainkan menjadi saksi hidup bagi setiap keputusan besar kerajaan.
Bram duduk di beranda rumahnya mengenakan kain sutra halus berwarna cokelat tua pemberian Senopati Wira. Di atas meja kayu jati di depannya tergeletak kamera Chronos. Benda itu kini tak lebih dari sebuah relik. Hitam, bisu, dan dingin. Namun, gambar-gambar yang tersimpan di dalamnya masih utuh, menjadi bukti abadi atas apa yang telah terjadi di istana ini.
Bram sering memeganginya, sekadar merasakan tekstur logamnya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Jakarta dan Museum Nasional bukanlah sekadar mimpi akibat demam hutan. Sampai pada hari ini, saat jemarinya mengusap bagian sensor yang retak, sebuah getaran halus terasa. Bukan getaran mesin, melainkan getaran statis yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Layar kecil di bagian atas kamera berkedip. Bukan menampilkan menu pratinjau, melainkan sebuah baris teks yang muncul perlahan. Seolah ditulis oleh tangan yang gemetar.
[Pesan Terenkripsi: Pemilik Toko Antik]
Jantung Bram mencelos. Wajah pria tua misterius yang ditemuinya malam itu terbayang kembali. Pria dengan mata yang tampak telah melihat ribuan tahun berlalu. Sebuah suara serak mulai terdengar dari lubang sisi kamera. Bram terkejut, tidak menyangka bahwa benda ini bisa mengeluarkan suara.
\"Bramantyo ... jika suara ini sampai padamu, berarti kau telah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan,\" suara itu terdengar pelan, diselingi derit statis. \"Kau pasti sedang menunggu kabar tentang jalan pulang, bukan?\"
Bram mendekatkan telinganya ke kamera, napasnya tertahan.
\"Maafkan aku, Anak Muda. Sejak awal, tidak pernah ada jalan kembali. Chronos bukanlah mesin transportasi dua arah. Ia adalah jangkar. Kau tidak dikirim ke sana untuk sekadar melihat, kau dikirim untuk menetap. Kau adalah bagian yang hilang dari teka-teki Kalingga yang tidak pernah bisa kami pecahkan di masa depan.\"
Dunia di sekitar Bram seolah runtuh. Tadinya dia sempat berharap akan ada jalan pulang. Namun, nyatanya dia tidak ditakdirkan untuk kembali.
\"Sejarah mencatat Ratu Shima sebagai penguasa yang adil, tapi sejarah tidak pernah mencatat siapa yang memberinya keberanian untuk melihat kebenaran di tengah konspirasi. Sekarang aku tahu: orang itu adalah kau. Jika kau kembali, simpul waktu yang kau ikat akan terurai, dan Kalingga akan runtuh dalam kegelapan yang seharusnya tidak terjadi. Kau adalah pahlawan bagi kebenaran, Bram. Kau adalah kurator yang akhirnya menjadi artefak itu sendiri.\"
Suara itu mulai menjauh, memudar bersama cahaya layar yang semakin meredup.
\"Hiduplah dengan baik di sana. Cintailah tanah itu sebagaimana kau mencintai buku-bukumu. Jangan mencari kami lagi, karena bagimu, masa depan sudah menjadi prasejarah. Selamat tinggal, Waskita Utama.\"
Klik.
Layar itu mati. Kali ini benar-benar mati. Tidak ada lagi getaran maupun cahaya biru. Kamera Chronos kini hanyalah sebongkah logam tak berguna di tengah peradaban yang belum mengenal baja tahan karat.
Bram terduduk lemas di lantai tanah yang dilapisi tikar pandan. Air mata jatuh di pipinya, membasahi kain sutra abad ketujuh yang ia kenakan. Bayangan ibunya, aroma kopi di kantin museum, dan suara bising knalpot di Jalan Medan Merdeka melintas seperti film pendek yang diputar cepat, lalu menghilang menjadi abu.
Bram terisak pelan. Meskipun akhir-akhir ini dia sudah mulai menerima nasibnya untuk tinggal di sini, tapi tidak dipungkiri pesan yang baru saja diterimanya sempat memantik harapan di hatinya. Rasanya seperti sempat ada bunga api yang memercik, tapi kini hanya meninggalkan perih. Ia seperti ditampar ulang oleh kenyataan bahwa ia tidak akan pernah lagi melihat langit Jakarta yang berpolusi. Ia akan menua di bawah kekuasaan Ratu Shima, di tengah orang-orang yang menganggapnya setengah dewa.
\"Paman Bram?\"
Pangeran Narayana berdiri di ambang pintu. Ia tidak lagi memakai tongkat; meskipun kakinya tidak utuh, ia berjalan dengan tegak dan penuh wibawa. Ia melihat wajah Bram yang basah.
\"Apakah kau merindukan negerimu yang jauh itu lagi?\" tanya Narayana lembut, duduk di samping Bram.
Bram menyeka air matanya. Ia menatap kamera tua di tangannya, lalu menatap Narayana—pria yang seharusnya mati jika ia tidak berada di sini. Ia melihat masa depan Kalingga yang cerah di mata pangeran ini.
\"Negeriku … \" Bram berhenti sejenak, menelan kepahitan yang tersisa di kerongkongannya. \"Negeriku sudah sangat jauh, Gusti. Begitu jauh hingga ia belum lahir.\"
Narayana tersenyum, lalu meletakkan tangannya di bahu Bram. \"Mungkin kau tidak bisa kembali ke sana. Tapi di sini, kau punya rumah. Ibu Ratu sedang menunggumu di gedung utama untuk membahas tata cara pencatatan pajak yang baru. Beliau bilang, hanya kau yang bisa membuat angka-angka itu bicara jujur.\"
Bram menarik napas panjang. Ia bangkit, meletakkan kamera Chronos ke dalam sebuah kotak kayu jati yang kokoh. Ia akan menguburnya di bawah lantai rumah ini—sebuah kapsul waktu yang mungkin akan ditemukan oleh arkeolog seribu tahun lagi, atau mungkin akan hancur dimakan usia.
\"Mari, Gusti,\" ucap Bram, suaranya kini stabil. \"Ada banyak sejarah yang harus kita tulis hari ini.\"
Bram berjalan keluar menuju istana. Matahari pagi Kalingga menyinari wajahnya. Ia tidak lagi berjalan sebagai seorang kurator yang mencatat masa lalu, melainkan sebagai seorang pionir yang sedang membangun masa depan.
Namanya mungkin tidak akan pernah tercantum dalam buku teks sejarah sekolah yang ia baca dulu. Namanya mungkin tidak akan dikenal oleh para profesor di universitas tempat ia belajar. Namun, di setiap keputusan adil yang diambil Ratu Shima, di setiap kebijakan bijak Pangeran Narayana, dan di setiap helai ketenangan rakyat Kalingga, ada jejak langkah kaki seorang pria dari masa depan yang memilih untuk setia pada kebenaran. Ia mungkin telah kehilangan dunianya, tapi ia telah mendapatkan sebuah tempat di dalam kekekalan.
Di suatu tempat, di sebuah sudut sunyi Museum Nasional pada tahun 2005 kelak, seorang kurator muda mungkin akan menemukan sebuah prasasti tua yang aneh dari masa Kalingga. Prasasti itu akan membingungkan semua ahli sejarah. Karena di pojok bawahnya terukir sebuah simbol kecil yang menyerupai lensa kamera modern—sebuah pesan rahasia, sebuah tanda tangan dari seseorang yang telah menaklukkan waktu. Rahasia abadi yang hanya akan dimengerti oleh sang waktu itu sendiri. Dan di masa itu, Bramantyo akan tersenyum dari kedalaman tanah sejarah yang ia jaga.
Other Stories
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...