Rana Takdir

Reads
116
Votes
4
Parts
20
Vote
Report
rana takdir
Rana Takdir
Penulis Atpress2014

Masa Depan

Jakarta, 26 Maret 2005

Sirine pemadam kebakaran masih meraung di kejauhan. Api yang melahap ruko tua terbengkalai di sudut Jakarta Barat itu sudah mulai padam, menyisakan kerangka bangunan yang hitam dan berasap. Garis polisi kuning membentang, membelah kerumunan orang yang menonton dengan wajah tegang.

Di pinggir jalan, seorang pemuda bernama Andi—teman satu kost Bramantyo—berdiri dengan lutut gemetar. Wajahnya pucat pasi. Bram tidak pulang sejak semalam, sehingga ia memutuskan untuk mencarinya. Namun, sebelum mencapai museum, Andi justru menemui keramaian ini.

Andi merasa jantungnya berhenti berdetak saat melihat seorang petugas polisi keluar dari puing-puing bangunan yang masih mengepulkan asap. Di tangan petugas itu, tergantung sebuah tas kanvas berwarna cokelat tua. Meski permukaannya tertutup jelaga hitam dan noda abu, bentuknya sangat familiar. Itu adalah tas yang selalu disampirkan Bram di bahunya setiap kali ia pergi ke perpustakaan atau museum.

\"Pak! Pak, tunggu!\" Andi menerobos garis polisi, mengabaikan teriakan peringatan dari petugas lain.

\"Mas, dilarang masuk ke area sterilisasi!\" cegat seorang polisi bertubuh tegap.

\"Itu tas teman saya, Pak! Saya kenal tas itu!\" Andi menunjuk dengan jari gemetar ke arah objek yang dipegang petugas di depan ruko. \"Namanya Bramantyo. Dia tidak pulang sejak semalam!\"

Melihat kepanikan yang murni di wajah Andi, petugas tegap itu memberikan kode kepada rekannya untuk mendekat. Petugas yang membawa tas itu berhenti dan memandang Andi dengan tatap selidik. \"Kamu yakin ini milik temanmu?\"

\"Sangat yakin, Pak. Tolong, biarkan saya periksa,\" ucap Andi, memohon.

Polisi itu meletakkan tas tersebut di atas kap mobil patroli. Tas itu terasa hangat. Anehnya, kainnya sama sekali tidak terbakar, hanya kotor oleh sisa pembakaran bangunan. Polisi itu menggunakan sarung tangan lateks untuk membuka ritsleting utama.

\"Kami sudah menyisir seluruh sudut ruko ini setelah api padam,\" ucap petugas itu datar. \"Hasilnya nihil. Tidak ada korban jiwa, tidak ada luka-luka. Ruko ini kosong, tapi tas ini ditemukan di bagian belakang, di titik yang seharusnya paling panas terkena api.\"

Andi tidak mendengarkan penjelasan itu sepenuhnya. Matanya terpaku pada isi tas. Di bagian paling depan, terselip sebuah dompet kulit. Polisi itu membukanya dan mengeluarkan sebuah kartu identitas.

\"Bramantyo?\" tanya polisi itu memastikan.

Andi mengangguk cepat. Air mata mulai menggenangi kelopak matanya. \"Iya, itu dia. Tapi kalau dia tidak ada di dalam ... ke mana dia, Pak?\"

Polisi itu terdiam sejenak, tampak bingung dengan kejadian ini. Namun, rasa penasaran Andi beralih pada sebuah benda yang menyembul dari kompartemen utama tas. Di sana terdapat sebuah album foto yang sama sekali tidak tersentuh api. Kulitnya mulus, tidak ada bekas jelaga, bahkan suhunya terasa dingin di tengah hawa panas bekas kebakaran.

\"Boleh saya lihat itu?\" bisik Andi. Polisi itu mengangguk.

Andi membuka halaman pertama. Matanya membelalak.

Itu bukan foto-foto liburan. Itu adalah foto-foto digital dengan kualitas yang sangat tajam—jauh melampaui standar kamera tahun 2005. Di sana, terekam wajah-wajah manusia dengan pakaian dari abad ketujuh. Foto seorang wanita cantik yang tampak licik sedang berbisik pada seorang wanita misterius di sebuah gubuk. Foto sebuah undakan batu dengan kantong emas di atasnya. Dan di foto lain ada seorang pria perkasa dengan keris di tangan, sedang berbicara dengan sosok serba hitam dengan tato bulan sabit.

Andi sampai ke halaman terakhir, di mana tertulis catatan panjang yang sama yang dibaca oleh Bram sebelumnya. Hanya saja, kali ini catatan itu sudah lengkap.

\"Hukum harus tetap tegak meski langit runtuh. Sang Pangeran telah menyentuh apa yang bukan miliknya. Ratu Shima, dalam kepedihan yang paling dalam, bersiap menjatuhkan vonis mati. Namun, sejarah bergeser di detik terakhir. Ratu tidak jadi membunuh anaknya sendiri, melainkan menggantinya dengan hukum potong kaki karena muncul kesaksian dari seorang pengembara tak bernama yang membawa cahaya kebenaran dari langit. Sang pengembara membuktikan bahwa pengkhianatan ada di dalam lingkaran dalam istana, bukan pada kaki sang pangeran. \"

\"Kosong, Komandan,\" ucap seorang polisi yang muncul dari reruntuhan ruko. “Tidak ada tanda-tanda korban jiwa sama sekali. Mungkin Saudara Bram ini sudah keluar sebelum api membesar.”

Andi menatap ruko yang menghitam itu dengan tatapan kosong. Logikanya berontak. Jika Bram sudah keluar sebelum api membesar, mengapa tasnya—benda yang paling ia sayangi dan selalu ia bawa ke mana-mana—justru tertinggal di titik pusat api?

\"Tapi ini tidak masuk akal, Pak!\" Suara Andi bergetar, jemarinya masih membelai album foto yang terasa dingin di tangannya. \"Bram itu orangnya sangat teliti. Dia tidak akan meninggalkan tas ini, apalagi dompetnya, jika dia keluar dalam keadaan sadar.\"

Komandan polisi itu menghela napas. Ia melepas topinya sejenak dan menyeka keringat di dahi. \"Begini, Mas. Dalam situasi panik seperti kebakaran, orang bisa melakukan hal-hal yang tidak rasional. Bisa saja dia lari lewat pintu belakang atau melompat dari lantai bawah dan tasnya tertinggal karena panik. Yang jelas, tim kami sudah menyisir setiap inci reruntuhan. Tidak ada tulang, tidak ada aroma tubuh terbakar.\"

\"Lalu, ke mana dia?\" tanya Andi putus asa.

\"Itu yang belum bisa kami jawab,\" sahut polisi itu sambil memasukkan kartu identitas Bram kembali ke dalam tas. \"Saran saya, Mas pulang dulu. Tunggu di kost. Mungkin dia sedang di rumah teman yang lain atau sedang menenangkan diri di suatu tempat. Secara prosedur, kami belum bisa membuat Laporan Orang Hilang. Belum lewat 24 jam. Ini baru hitungan jam sejak kebakaran terjadi.\"

Andi ingin memprotes, ingin meneriakkan bahwa Bram tidak punya siapa-siapa di kota rantauan ini selain dirinya dan buku-bukunya. Namun, ia tahu berdebat dengan polisi di tengah kekacauan pasca-kebakaran tidak akan membuahkan hasil.

\"Bawa saja tas ini,\" ucap sang komandan, menyerahkan tas kanvas cokelat itu kepada Andi. \"Jika sampai besok pagi dia tidak muncul, silakan datang ke Polsek terdekat untuk membuat laporan resmi.\"

Andi menerima tas itu dengan tangan gemetar. Berat tas itu terasa begitu nyata, kontras dengan keberadaan pemiliknya yang kini terasa seperti hantu. Ia berjalan menjauhi kerumunan, menjauhi bau hangus yang menusuk hidung sambil mendekap tas Bram erat-erat.

Udara di Jakarta tidak berubah, cahaya yang menyinari pun tetap sama seperti biasanya. Hanya saja, tidak ada satu orang pun yang mengetahui keadaan Bram yang sebenarnya. Bram tidak mati. Bram hanya berhenti menjadi penonton dan memilih menjadi bagian dari keajaiban yang ia cintai. Di suatu tempat di masa lalu, di bawah langit Kalingga yang murni, sang pengembara tak bernama itu sedang tersenyum, melihat sejarah yang ia jaga mekar dengan sempurna.


Other Stories
Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Hompimpa Alaium Gambreng!

Dalam liburan singkat di sebuah vila pegunungan, Jibon dan teman-temannya berniat menghidu ...

Download Titik & Koma