Balada Cinta Kamilah

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Putri N. Akhla

7. Penyesalan Seorang Putri Raja

Sultan Athmar Alamsyah sudah hampir sepekan di Negeri Indera. Dia tinggal bersama saudaranya di pusat kota. Berdua dengan Ahmad, dia mencari tahu siapa yang telah mengadu-dombakannya dengan gadis yang dia sukai. Namun, selama dia di Negeri Indera belum juga ia ketahui siapa dalangnya. Irham pun ikut serta membantu menyelesaikan masalah ini. Cuma Kamaliah yang tidak mau tahu-menahu lebih memilih di asrama dengan anak didiknya. Sesekali ia pulang ke istana Kerajaan Indera.
Athmar masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kenapa takdir untuk bertemu gadis yang selalu ia ingat dalam benaknya tersebut harus seperti ini? Padahal, ada niat untuk bertemu dan mencoba untuk berkenalan karena memang selama ini ia ingin sekali bisa menjalin hubungan dengan baik bersama Kamaliah, gadis yang pernah menolongnya di Bukit Kincir.
“Athmar, kenapa bisa benda kecil itu ada yang palsu?” Wanita penjaga toko barang langka tersebut bertanya pada Athmar.
“Entahlah, Kak. Nggak tahu juga Athmar, Kak.”
“Setahu Akak, nggak ada yang tahu tentang benda itu. Memangnya kamu kasih nampak sama siapa saja?”
Athmar mengingat-ingat kejadian saat Teungku Daud memberikan benda itu padanya. Di bawah pohon jambu, saat dia dan ....
“Ahmad, kau tidak menusukku dari belakang, ‘kan?” pertanyaan Athmar membuat Ahmad ketawa keras.
“Kau menuduhku?” dia kembali bertanya.
“Bukan begitu. Waktu Teungku kasih benda itu, kan kamu bersamaku, Mad.”
“Oe lah, tapi kan ada si Ibal juga di sana. Masa’ kau lupa, Athmar,” ungkap Ahmad. “Saya memang pingin juga miliki benda berbentuk bukit itu, Athmar. Tapi, bukan Ahmad Rayyan namanya kalau main tusuk belakang kawan sendiri.”
“Me’ah lah, Ngon15. Itu aja, pun marah.” Athmar mencoba baikan dengan sahabatnya. Senyuman Athmar dan memainkan alis serta dengan tangan yang hendak menyentuh perut Ahmad akhirnya kawannya pun ketawa. Akak penjaga toko ikut tersenyum melihat tingkah dua pemuda itu.
“Eh, ya, ada si Ibal juga. Tapi, apa mungkin dia? Terus kalau iya dia, pada siapa iya membocorkan tentang benda ini?” Athmar memegang benda emas tersebut.
“Coba kita tanyakan pada Irham. Mungkin dia tahu siapa mereka yang telah menyerbu asrama silat di Bukit Kincir.” Athmar menyetujui usulan dari Ahmad.
***
Dua pemuda asal Kutaradja kini telah tiba di asrama milik Kamaliah di Bukit Kincir. Mereka ingin bertemu dengan Raiq Irham Hasanudin. Dan seorang dari mereka pun masuk ke halaman asrama yang dipadati oleh anak-anak yang sedang melatih bela diri. Seorang gadis berkerudung kuning dengan corak bunga menghampiri pemuda tersebut.
"Ada apa gerangan Tuan Ahmad, datang ke mari?" Gadis bertubuh kecil melihat ke arah luar pagar. Ada seorang pemuda yang ingin sekali ia tanyakan.
"Maaf Cik Lela, apa ada Irham di sini?"
"Oh, Tuan Irham tak ada di sini. Dia sedang di istana, Tuan."
"Terima kamasih, Cik Lela." Ahmad pun kembali ke tempat di mana ada Athmar yang sedang menunggu. Athmar sedari tadi memandangi Kamaliah yang sedang mengajari anak-anak tidak sadar akan kehadiran Ahmad dan Lela.
"Kenapa tak sapa saja, Tuan? Sepertinya, Tuan Athmar ingin sekali menyapa Alia." Lela membuat Athmar diam bagaikan patung. Benar apa yang dikatakan Lela, Athmar memang sangat ingin menyapa Kamaliah. Namun, Athmar pergi begitu saja. Hanya senyum diberikan untuk Lela.
"Siapa itu, Lela?" Kamaliah bertanya ketika Lela telah berada di halaman asrama.
"Tuan Athmar dan Tuan Ahmad."
"Buat apa ke mari?"
"Mencari Tuan Irham." Lela tahu kalau Kamaliah sangat ingin bicara dengan Athmar. Namun, dia sendiru tidak bisa berbuat apa-apa. Kini dua pemuda itu hilang dari pandangan mereka, dan Kamaliah hanya dapat melihat punggung Athmar saja.
Kini Sultan Athmar dan Ahmad Rayyan telah sampai di istana. Mereka tidak ingin masuk ke istana karena tujuan mereka hanya ingin mencari Irham saja. Di depan pintu kerajaan, seorang pengawal menghampiri Athmar dan menanyakan ada keperluan apa. Setelah Ahmad memberi tahu maksud tujuan mereka, pengawal itu pun masuk istana dan memanggil Irham.
Sepuluh menit berlalu. Beberapa orang laki-laki keluar istana dan Irham ada bersama orang-orang tersebut. Athmar yang melihat Irham mencoba untuk menghampirinya. Namun, begitu kagetnya ia saat melihat orang yang dikenalinya selain Irham.
"Kenapa kau ada di sini, Ibal?" Semua pandangan tertuju pada Athmar. Ibal pun kaget. Rasa takut menghampirinya.
"Hei, Athmar. Ada keperluan apa?"
"Aku mencarimu Irham. Mereka siapa? Dan kenapa Ibal ada di sini?"
Namun, tidak perlu jawaban dari Irham. Kini Athmar tahu siapa mereka setelah melihat Alfonso tersenyum sinis padanya.
"Aku jadi tahu siapa dalang yang sebenarnya, Irham," lanjut Athmar sembari berdiri di depan Ibal temannya. Ibal sama halnya dengan Ahmad bagi Athmar. Ibal adalah kawan dari semasa kecil, mereka sama-sama bersekolah di sekolah yang sama di Kutaradja. Sebenarnya mereka bertiga selalu bersama, tetapi sekitar satu tahun yang lalu Ibal jarang ikut berkumpul dengan Athmar dan Ahmad. Hanya sesekali saja mereka mengabiskan waktu bertiga. Dan sekarang Athmar maupun Ahmad tidak menyangka akan kelakuan Ibal, teman mereka.
"Sungguh? Siapa orang tersebut, Kawanku?"
"Mereka," Athmar menunjuk ke arah Alfonso.
"Jangan mencari gara-gara kau Athmar."
"Kau yang mencari gara-gara denganku, Alfonso!"
"Yang benar saja, Kawan?" tanya Irham.
"Jangan bilang sekarang kau pun telah menjadi bagian dari mereka, Irham?"
"Bukan begitu, Kawan," ucap Irham. "Aku harap kejadian di Bukit Kincir tidak ada hubungannya dengan kalian wahai Tuan." Kata-kata itu ditujukan pada Alfonso. Ibal yang hanya diam saja kini ditarik tangannya oleh Athmar. Dan pemimpin Mafia Tagus tidak terima anak buahnya diperlakukan seperti itu. Tanpa dipercaya, kini anak buah Alfonso telah siap untuk melawan Athmar.
"Sepertinya kau butuh diberi pelajaran, Sultan Athmar Alamsyah!" Setelah perkataan ini, Athmar pun diserang oleh dua orang dari Mafia Tagus. Gerak cepat dari Athmar mampu menghindarnya.
Ahmad yang melihat kawannya diserang, pun ikut membantu. Irham tidak tahu harus bagaimana. Dan tanpa di sadari Mila sudah berada di antara mereka. Athmar sendiri masih berkelahi dengan mereka. Ia menghajar satu per satu yang menghampirinya. Tak ketinggalan Ibal pun menjadi sasaran. Athmar sangat kecewa melihat kawannya sendiri tega seperti itu. Alfonso yang melihat anak buahnya dihajar babak-belur, tidak terima.
"Biadab kau Athmar!" Athmar mendengar perkataan kasar itu menjadi berang.
Perkelahian antara Alfonso dan Athmar pun terjadi. Mereka yang ada di depan pintu istana hanya bisa menjadi penonton saja. Mila yang baru datang tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Dan ia pun menuju ke arah Irham.
"Ada apa ini?"
"Kenapa kau ada di sini Mila?” Irham kaget melihat Mila sudah berdiri di sampingnya. “Lebih baik kau balik ke Bukit Kincir,” lanjutnya.
Mila menuruti perkataan Irham untuk balik ke asrama dan Irham yang melihat keadaan semakin memburuk akhirnya memerintahkan pengawal kerajaan untuk turun tangan. Akhirnya mereka berhenti. Tidak hanya itu saja, Irham membawa Ibal bersamanya. Alfonso tidak terima, tetapi sikap Athmar membuat dia harus mundur.
***
Ibal di bawa untuk menghadap Kamaliah di Bukit Kincir. Athmar yang telah menemukan dalang sebenarnya masih susah hati. Pasalnya, sebentar lagi dia akan melihat gadis yang sangat ingin di sapanya dengan wajah sedikit memar. Namun, rasa kecewa akan sikap Kamaliah enggan untuk pemuda ini menyapa.
“Guru, ada beberapa pengawal kerajaan ke mari.” Anisa memberitahukan Gurunya, Kamaliah.
“Hah? Buat apa pengawal istana ke mari?”
“Saya tidak tahu, Guru. Tetapi ada Tuan Athmar dan temannya juga. Sepertinya mereka telah mengetahui dalang yang sebenarnya.”
Jadi, benar kalau itu bukan dirimu Athmar, batin Kamaliah. Ada rasa bahagia karena mengetahui kalau yang memfitnahnya mencuri benda pusaka bukanlah Athmar. Namun, rasa sedih pun menyelimuti hatinya hanya karena kecewa seorang Athmar tidak mampu untuk dihilangkan.
“Mana Cik Shazana?!” suara Athmar yang lantang terdengar sampai dalam asrama. “Wahai Cik Shazana Syafara Kamaliah, aku telah membawa bukti nyata kalau aku tidak ada sangkut-pautnya dengan permasalahanmu. Sekarang keluarlah kau Shazana! Aku tahu kau ada di dalam.” Bukan seperti ini sapa yang diinginkan Athmar. Sungguh! Bukan seperti ini.
Orang-orang yang berada di halaman asrama hanya bisa diam melihat keadaan ini, pun Irham yang dia sendiri tidak tahu mau berbuat apa. Irham sangat tahu semenjak kurang lebih empat tahun lalu Kamaliah selalu menanyakan laki-laki yang telah ia tolongi. Cuma Irham tidak pernah memberitahukannya kalau laki-laki itu adalah Sultan Athmar Alamsyah. Irham pun tahu kalau selama itu pula Kamaliah memendam perasaannya pada Athmar. Sekarang, pastilah hati gadis itu tidak karuan; antara kecewa dan menyesal. Namun, sepertinya lebih rasa menyesal yang dominan untuk saat ini. Malu pun ada. Ya, siapa yang tidak malu untuk berhadapan dengan orang yang telah ia tuduh sebagai dalang dan sekaligus orang yang sangat ia cintai.
Kamaliah akhirnya ke luar. “Kenapa Tuan, berteriak seperti itu? Apa kau ingin berkelahi denganku?” cakap apa pula ini Alia, batinnya.
“Hah? Kau menantangku?” Athmar tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
“Ya.” Ada getar di ujung bibir ranum itu.
“Aku tidak terbiasa baku hantam dengan perempuan. Apalagi, dengan gadis anggun sepertimu.”
“Bilang saja kalau kau takut, Tuan.”
“Hei, dara. Bukan Sultan Athmar Alamsyah namanya kalau takut. Apalagi dengan gadis sepertimu.”
Lela, Mila, Irham, dan lainnya hanya bisa geleng-geleng tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Alia, apa kau sedang syuting saat ini?” pertanyaan Irham membuat Lela ketawa, begitu juga dengan Athmar yang menahan tawa. Gadis yang Athmar cintai itu ternyata lucu juga. Soalnya kedatangan Athmar bukanlah untuk batu hantam. Melainkan, memberi tahu kalau dia sudah menemukan dalang yang sebenarnya. Namun, kenapa pula Kamaliah malah mengajaknya untuk berkelahi. Yang benar saja.
Namun, karena sudah kepalang-tanggung Kamaliah maju beberapa langkah menuju hadapan Athmar. “Aku ingin sekali memukulmu, Tuan,” bisiknya.
Athmar akhirnya ketawa melihat ekspresi wajah gadis yang menantangnya, tapi ada getar di diri Kamaliah. Itulah yang membuat Athmar ketawa.
“Tak ada yang lucu, lah!” Kamaliah telah siap dengan kuda-kudanya. Kepalan tangan di depan dada siap untuk memukul. Melihat itu Athmar akhirnya mundur selangkah.
“Kau akan kalah, Tuan. Asal kau ingat, aku adalah gadis yang telah menolongmu beberapa tahun lalu dari para Mafia Tagus.”
Ternyata tidak cuma aku yang mengingat kejadian tersebut, batin Athmar.
Sebuah tendangan dengan badan berputar ke kiri sebelumnya mengenai Athmar akhirnya membuat pemuda itu jatuh. Entah kenapa laki-laki ini tidak bisa menghindar dari Kamaliah. Padahal, sewaktu berhadapan dengan anak buah Alfonso dia sangat gesit menangkisnya.
“Ternyata, Cik Shazana ini kuat juga,” katanya sembari berdiri dan merapikan baju kemejanya. Irham ingin meleraikan mereka berdua, tetapi Athmar menyanggahnya.
Sang Putri ini tidak menanggapi perkataan Athmar. Hanya gerakan cepat bagaikan embusan angin kembali membuat Athmar jatuh.
“Kenapa kau tidak melawan, Tuan?”
“Sudah aku katakan, kalau aku tidak sampai hati memukulmu. Kalau memelukmu mungkin aku mau,” ucap Atmar diiringi senyum manis yang sangat dirindukan Kamaliah.
Kamaliah malu sendiri mendengar perkataan Athmar. Pipinya merah. Dan tanpa disadari itu kesempatan bagi Athmar untuk melawan kembali. Dengan cepat ia meraih tangan Kamaliah dan membalikkan tubuh gadis ini membelakangi tubuhnya. Athmar berhasil memiting Kamaliah. Namun, debar serta napas yang tidak beraturan dari keduanya menjadi hening.
“Ini adegan paling keren dari drama laga yang dimainkan, Tungku,” bisik Lela pada Mila. Mila pun meng-iya-kan dengan senyumnya.
“Kau kenapa, Cantik? Aku ke sini hanya ingin memberitahukanmu siapa dalang yang sebenarnya. Tetapi kenapa kau ingin sekali memukulku? Sangat benci kah kamu padaku, Alia?” bisikan Athmar tepat di daun telinga Kamaliah yang ditutupi kain warna hitam membuat gadis ini tidak berdaya.
Huh, jangan panggil aku cantik! Dan ... apa? Alia? Dia memanggilku dengan nama Alia? Oh, Athmar, bukan seperti itu. Aku tidak membencimu, batinnya. Kamaliah sebenarnya ingin mengatakan kalimat itu. Namun, bukan perkataan tersebut yang ia katakan, “Lepasin aku!”
“Kau harus meminta maaf dulu padaku, Cik Shazana. Baru akan kulepaskan tanganku ini.” Namun, tidak disangka ternyata Kamaliah kuat juga. Ia mampu terlepas dari jepitan tangan Athmar di lehernya dengan membanting tubuh Athmar ke depan dan jatuh ke tanah.
Irham sudah tidak sanggup melihatnya lagi. “Alia, mengapa tega seperti itu? Kan, kasihan Tuan Athmar sampai dibanting seperti itu.”
“Salah dia sendiri mengapa saya.”
“Hei, bukankah kau sendiri yang menantangku?”
“Ya. Kenapa? Kau tak terima kekalahan dari gadis anggun sepertiku ini kah?”
“Alia, cukup!” Irham benar-benar tidak tahan melihat semua ini. “Lebih baik minta maaf sekarang pada Tuan Athmar.”
“Iya, Alia. Lebih baik minta maaf karena Tuan Athmar bukanlah orang yang telah memfitnah kita. Malahan Tuan Athmar yang telah menolong kita mencari dalang sebenarnya. Dan kau tahu siapa? Mereka ada para Mafia Tagus. Mereka telah mengadu-dombakanmu dengan Tuan Athmar.” Mila menjelaskannya pada Kamaliah.
“Ya, sudah, tidak masalah Cik Mila,” ucap Athmar. “Dan untuk Cik Shazana semoga kamu tidak menyesal telah berkelahi denganku. Ilmu bela dirimu boleh juga. Aku mengakui itu, karena kamu adalah gadis yang pernah menolongku.”
Terlambat sudah. Kini kamaliah telah menyesal dengan apa yang telah ia lakukan pada laki-laki pujaannya. Athmar dan Ahmad pun akhirnya pamit. Kamaliah tidak kuasa melihat kepergian Athmar, ia membalikkan tubuhnya dengan wajah penuh akan sedih nan pilu. Matanya berbinar-binar dan akhirnya membasahi pipinya.

Other Stories
Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Download Titik & Koma