Ada Apa Dengan Rasi

Reads
571
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Idha Febriana

Perceraian

 Berbulan-bulan sejak hari ulang tahunnya yang kedua belas, Rasi semakin
sering mendengar ayah dan mamanya bertengkar. Semakin hari semakin
parah. Rasi tak pernah ambil pusing, hingga ketika ayahnya tak lagi kembali
pulang ke rumah mereka.
“Ayah ke mana sih, Ma?” Sudah cukup lama Rasi menyimpan pertanyaan
itu, mama selalu menghindar tiap kali Rasi mulai membahas ayah. Kali
ini, mama tak bisa menghindar lagi, Rasi mengunci pandangan mamanya
hingga hanya menatap tepat di matanya.
Mamanya hanya mendesah, lagi-lagi menolak menjawab pertanyaan Rasi.
Sebenarnya Rasi lebih suka dihardik atau ditegur karena mencampuri
urusan orang tua, alih-alih didiamkan begini. Pertanyaannya tak terjawab
dan lambat laun justru menjadi semakin besar.
“Ma, Rasi cuma pengin tahu Ayah pergi ke mana? Kenapa nggak pernah
pulang? Apa Ayah ada kerjaan di luar kota? Rasi cuma pengin Mama
jawab.”
“Terus, kalau kamu udah tahu, kamu mau apa?” hardik mamanya.
Nyali Rasi sedikit menciut, tapi dia melapangkan dada, setidaknya
mama mau menjawab, kan? “Rasi cuma pengin tahu aja, kok,” jawabnya
kemudian.
“Rasi, ada hal-hal yang sebaiknya nggak diketahui oleh anak-anak.”
“Contohnya?”
Mama mendengus. Kadang-kadang, sifat kritis Rasi yang menurun dari
ayahnya itu sangat menyebalkan. Wanita itu memijit-mijit keningnya,
berusaha mencari jawaban yang bisa diterima oleh Rasi tanpa membuat
gadis kecil itu bertanya lagi.
“Contohnya apa, Ma?” Rasi bertanya lagi, tak sabar menunggu mama
yang masih kelimpungan menentukan jawaban.
Yang Rasi tak tahu, mamanya bimbang akan mengatakan hal yang
sebenarnya atau tidak. Mama memikirkan Rasi, akankah anaknya itu
bisa menerima yang sebenarnya jika dia mengatakan dengan jujur apa
yang terjadi dengan ayahnya? Bagaimana kalau Rasi tidak bisa menerima
penjelasannya?
“Maaa....” Rasi mengguncang-guncangkan lengan mama, menuntut
penjelasan yang bisa memuaskannya.
“Kalau Mama cerita, kamu janji akan dengerin apa kata Mama?”
Rasi mengangguk sekali.
“Janji nggak akan mbantah[1] Mama?”
Untuk kedua kalinya Rasi mengangguk.
“Oke, kalau gitu Mama akan cerita.” Mama mengambil napas panjang,
memenuhi diafragmanya dengan udara. Kemudian, meluncurlah cerita
itu dari mulut mama.
Tentang rencana perceraian mama dan juga ayah. Rasi bertanya, kenapa
mereka harus bercerai? Mama hanya menjawab dengan seulas senyum.
Lalu mengatakan bahwa Rasi belum cukup umur untuk mengetahui
masalah seperti itu.
Kali ini Rasi menurut.
Sejak cerita tentang perceraian itu didengar oleh Rasi, mama semakin
menjauh. Sibuk bekerja, menjadi satu-satunya alasan yang sangat dibenci
oleh Rasi. Padahal gadis kecil itu juga ingin seperti kawan-kawannya yang
lain; dibantu mengerjakan tugas oleh ibu mereka, diantar ke sekolah,
dijemput, diajak jalan-jalan, belanja bersama, dan hal-hal lain yang biasa
dilakukan dua orang perempuan.
Rasi sudah kelas enam, belajar dengan giat untuk menyongsong ujian akhir
tentu merupakan alasan tepat untuk mengurung diri di dalam rumah. Dia
tak pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar yang bising.
Rasi memotong rambut sepunggungnya hingga tinggal sebahu karena
mama tak lagi mau menguncir rambutnya seperti dulu. Dia terpaksa
naik sepeda ke sekolah karena mama selalu berangkat kerja lebih pagi.
Seringkali dia terlambat masuk sekolah dan terpaksa harus memanjat
dinding pagar belakang sekolahnya.
Rasi mulai menirukan gaya bicara ayahnya yang kasar dan keras, bahkan
ketika berada di sekolah. Gadis kecil itu juga jadi suka berargumen seperti
mama, setiap omongan guru yang bisa didebat pasti langsung didebatnya.
Para guru mulai membicarakan perubahan dalam diri Rasi, mencoba
mencari penyebab kenapa anak-muridnya itu menjadi liar dan sulit
dikendalikan. Padahal, Rasi yang dulu sangatlah manis, meski sedikit
cerewet tapi masih di ambang batas anak-anak perempuan. Rasi yang
dulu sangatlah penurut, lembut dan sangat berhati-hati.
Bu Nindi, guru kelas Rasi, memutuskan untuk mencari tahu apa yang
sebenarnya terjadi pada gadis kecil itu. Untuk menggali informasi yang
akurat, Bu Nindi memutuskan untuk memanggil mama Rasi ke sekolah

Other Stories
Pintu Dunia Lain

Wira berdiri di samping kursi yang sedari tadi didudukinya. Dengan pandangan tajam yang ...

Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai

Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...

Desa Seribu Sesajen

"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Download Titik & Koma