Dia Butuh Perhatian
Mama Rasi tergopoh-gopoh menuju ruang guru. Dia terlambat dua
puluh menit dari waktu janjian dengan Bu Nindi kemarin. Apa mau dikata,
pekerjaannya sedang banyak dan tidak mungkin ditinggal, sementara
urusan Rasi juga penting baginya.
Akhir-akhir ini anak itu bertambah nakal. Kejailan demi kejailan terus
saja dilakukan olehnya. Hal yang wajar sebenarnya, mengingat usia Rasi
memang baru dua belas. Tetapi, hal wajar itu menjadi keterlaluan saat
beragam aduan masuk ke telinga mama. Rasi beginilah, Rasi begitulah.
Sudah berulang kali mama membicarakan hal itu dengan Rasi, mencoba
mencari tahu apa sebenarnya yang membuat gadis kecilnya itu berubah.
Tetapi, Rasi menolak mengatakan apa pun. Dia memilih mengurung diri di
loteng tiap kali mama mengajaknya membahas hal itu.
Pernah suatu hari, Rasi tepergok oleh tantenya sedang membolos dan
justru bermain di taman dengan masih mengenakan seragam. Rasi langsung
digiring pulang dan tentu saja, sebuah aduan kembali harus didengar
mama ketika pulang bekerja. Saat sudah merasa kesal, wanita itu memilih
mengabaikan semua aduan tentang Rasi. Percuma saja menanggapi kalau
Rasi sendiri tidak mau menghentikan semua kenakalannya.
Hari ini Bu Nindi, guru kelas Rasi, memanggilnya ke sekolah. Apalagi kalau
bukan mengenai kenakalan yang dilakukan Rasi di sekolah.
“Selamat siang, Bu,” sapa mama setelah mengetuk pintu ruang guru
dua kali. “Maaf saya terlambat, ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal,
soalnya.”
Seorang wanita berjilbab ungu dengan usia kisaran tiga puluhan, satu
satunya orang yang berada dalam ruangan itu, mendongak. Mata
beningnya yang bermanik legam segera mendapati wajah ayu wali murid
yang sudah ditunggu-tunggu itu menyembul di antara pintu yang terbuka
sebagian. Bibirnya yang terpulas lipstik oranye segera menyunggingkan
senyum, lalu menyilakan tamunya masuk.
“Mamanya Rasi?” tanyanya memastikan.
Wanita yang baru saja masuk dan duduk tepat di hadapan guru anaknya
itu segera mengangguk, lalu mengulurkan tangan. “Saya Lusi,” ucapnya
memperkenalkan diri.
Bu Nindi membalas uluran tangan Lusi dengan menjabatnya erat. “Saya
Nindi, guru kelas Rasi. Senang berkenalan dengan Bu Lusi. Selama ini
kita nggak pernah bertemu secara langsung, padahal sudah hampir satu
semester saya menjadi guru kelas Rasi.” Wanita itu lalu melepas jabatan
tangannya terlebih dulu sebelum Lusi sempat menarik miliknya.
Lusi tersenyum tipis menanggapi pernyataan guru Rasi itu. “Mungkin
karena saya sibuk sekali beberapa bulan ini, jadi nggak sempat main ke
sekolah untuk menanyakan perkembangan Rasi.”
“Sepertinya begitu, Bu. Selama ini saya percaya anak-anak mendapat
perhatian dan kehidupan yang baik di rumah. Termasuk Rasi. Tapi yang
terjadi akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan saya, Bu.”
Lusi membetulkan posisi duduknya hingga merasa lebih nyaman.
Pembahasan itu segera menjadi serius saat Bu Nindi mulai mengatakan
perkembangan Rasi akhir-akhir ini.
“Kalau boleh saya tahu, apa di rumah sedang ada masalah?”
Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah gelengan oleh Lusi. Dia memang
merasa tidak ada masalah berarti yang terjadi di rumahnya. Kecuali, ya,
kecuali tentang proses perceraiannya dan keputusan ayah Rasi untuk
berpisah rumah tinggal selama proses itu.
“Rasi berubah menjadi kasar, suka membangkang dan jail. Beberapa kali
dia bahkan tidak masuk sekolah tanpa surat izin. Apa Ibu tahu tentang hal
itu?”
Kali ini Lusi mengangguk. “Adik saya nggak sengaja menemukan dia
berkeliaran di taman, tapi saya nggak tahu itu yang pertama atau yang
kesekian. Hari itu, waktu tantenya mengatakan pada saya, dia berkata
tidak akan mengulanginya lagi.” Bohong. Yang sebenarnya, Lusi tidak
pernah memberi tindakan apa pun terhadap Rasi mengenai hal itu. Dia
terlalu kesal bahkan sekadar untuk bertanya mengapa Rasi melakukan itu.
Bu Nindi mencatat sesuatu di buku yang berada tepat di hadapannya.
“Menurut pengamatan saya, dia butuh perhatian dari Ibu, makanya dia
berusaha berbuat sesuatu yang bisa menarik perhatian.”
Lusi tergelak pelan. Baginya, teori anak nakal adalah anak yang
sedang membutuhkan perhatian hanyalah sebuah teori yang tidak
bisa dibuktikan. Selama ini dia selalu memberikan perhatian, bahkan
cenderung berlebihan, kepada Rasi.
Dia selalu berusaha menjadi ibu yang siaga dan mendengarkan anaknya,
meski dia juga bekerja. Namun, selama yang dia tahu, Rasi bahkan tidak
mau membagi apa pun dengannya. Gadis kecilnya itu lebih suka berlama
lama memandangi bintang di observatorium buatan yang ada di loteng
rumah mereka.
“Bu, maaf kalau saya nggak sopan,” ucap Lusi ketika sudah berhasil
menghentikan tawanya. Wanita itu meminta maaf karena dilihatnya Bu
Nindi mengerutkan kening, tak mengerti mengapa dia tertawa.
“Nggak apa-apa, Bu Lusi. Saya tahu, Bu Lusi pasti nggak percaya dengan
kesimpulan saya, kan?” tebak Bu Nindi.
Lusi mengangguk mengamini tebakan guru itu. “Maaf sekali, tapi saya
tipe yang tidak percaya pada teori itu. Selama ini saya sudah memberikan
perhatian yang dia butuhkan, Bu. Kalau dia menjadi seperti ini pasti
karena pengaruh temannya.”
“Tapi, Bu.” Bu Nindi sengaja memberi jeda sebelum melanjutkan
kalimatnya, “Rasi nggak punya teman di sekolah. Dia selalu sendirian, dan
karena jail, teman-temannya pun menjauhinya.”
Mulut Lusi terbuka sedikit. Dulu, Rasi selalu bercerita pada ayahnya bahwa
dia punya beberapa teman di sekolah yang juga sangat menggemari
astronomi. Di antara mereka ada yang memiliki teleskop bintang, yang
pada akhirnya membuat Rasi merengek minta dibelikan juga.
“Sebentar lagi ujian semester pertama, saya mohon sekali Bu Lusi mau
meluangkan waktu untuk menemani Rasi belajar. Nilai hariannya merosot
drastis sejak beberapa bulan lalu. Dia juga sering nggak ngerjain PR, di
sekolah dia sering nggak konsen saat pelajaran.”
Lusi menelan ludah, lalu mengiyakan semua perkataan Bu Nindi. Kali
ini dia benar-benar harus membuat perhitungan dengan Rasi. Kenapa
anak itu bisa tega membuatnya malu dan tampak tak perhatian sampai
dipanggil guru begini? Apa maunya, sih, anak itu
Other Stories
Percobaan
percobaan ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Kk
jjj ...
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...