0. Prolog
Angkasa menarik tangan Muthia yang hendak beranjak menjauhinya. Dengan masih mengenggam erat jemari Muthia, Angkasa berdiri dari duduknya. Ditunggunya hingga Muthia berpaling kembali menghadapnya.
“Aku memang sangat menginginkan tubuhmu,” ujar Angkasa tersenyum dan menampilkan deretan giginya. “Tapi lebih dari itu, aku menginginkan cintamu.”
Muthia berusaha untuk melepaskan jemarinya dari genggaman Angkasa. Matanya menatap lurus ke wajah Angkasa. Ekspresinya begitu datar. Bibirnya terkatup rapat. Tidak berminat menanggapi perkataan Angkasa.
“Lihat saja, aku akan memilikimu secepatnya!” Angkasa melepaskan genggamannya. Membuat Muthia mundur satu langkah.
Dengan menarik napas pelan, Muthia mengayunkan langkahnya. Berjalan dengan langkah biasa. Sepatu high heels 5 cm yang dikenakannya berirama pelan mengetuk-ngetuk lantai yang dipijaknya.
Angkasa mengantarkan kepergian Muthia dengan terus mengamati belakangnya. Bibirnya yang memiliki bentuk melengkung ke atas tetap tersenyum dengan optimis. Hoh, dadanya sebenarnya bergemuruh melihat setiap tingkah Muthia yang berjalan santai. Terkadang kepala itu tertunduk, tegak kembali, tertunduk dan terangkat menatap jalan di depannya. Saat tubuh Muthia menghilang di balik pintu, Angkasa masih dapat melihatnya bersedekap. Melingkarkan kedua tangan di atas perutnya.
Angkasa kembali duduk di kursinya. Telapak tangannya menepuk-nepuk dadanya pelan. Dia menarik napas kuat dan diembuskan cepat dari mulutnya yang membentuk huruf O. Dadanya menderu hebat. Jantungnya berdetak cepat. Wanita itu benar-benar membuatnya terpesona.
Brengsek dengan sikap acuhnya. Dia menginginkan Muthia semenjak pertama kali melihatnya.
Senyuman kembali membingkai di bibir Angkasa. Diusapnya wajahnya beberapa kali lalu meneruskan ke rambutnya hingga ke bagian belakang. Kemudian jemarinya kembali berbalik menyusuri wajahnya dan berakhir dengan menopangkan jemari ke dagunya. Matanya kembali melirik ke arah tempat Muthia tadi menghilang. Tersenyum dan terkekeh.
“Houhh…” suara itu pelan terdengar dari mulut Angkasa. Dia mencoba mengatur kembali debarannya.
Hanya masalah waktu, Muthia. Aku akan mendapatkanmu
Other Stories
Keeper Of Destiny
Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Hujan Dan Lagu-lagu Tentang Rindu
Randy sekarat, dan seorang malaikat maut memberinya pilihan untuk meminta maaf pada para p ...
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Awas, Ada Bakpao!
Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...