After Meet You

Reads
1.3K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ld.lustikasari

Kemustahilan Itu Kemungkinan

 Alena terbangun dengan napas yang terengah dan peluh yang mengucur indah. Mimpi buruk untuk yang kesekian kali. Karena terlalu banyak memikirkan almarhum papa. Terlalu terbebani dengan pertanyaan serupa; anak macam apa yang enggan hadir ke upacara pemakaman orang tua kandungnya.
Di dalam tidurnya, Alena bermimpi bertemu papa. Tapi sosok papa di mimpinya tidak sayang pada Alena. Justru yang menjadi kesayangan merupakan saudara Alena yang lain. Saudara laki-laki yang jarak umurnya seperti tidak jauh darinya. Saudaranya itu amat dimanja oleh papa. Sedangkan Alena justru diusir dari rumah. Tidak diakui anak.
Bersamaan dengan itu layar televisi datar di ruang kamarnya sedang dalam keadaan menyala. Gadis itu lagi-lagi lupa mematikan sebelum pergi tidur. Sebuah acara berita terpampang nyata di sana. Lagi-lagi menayangkan berita investigasi tentang kematian mafia narkoba.
Polisi kali ini benar-benar yakin bahwa si mafia dan pasangannya dibunuh oleh pesaing bisnis haramnya yang masih belum saja diketahui siapa oknumya serta di mana keberadaannya. Sementara kematian disebabkan oleh zat cair yang disuntikkan langsung pada tubuh dua manusia yang seketika meregang nyawa itu.
Dimatikan oleh Alena layar televisi yang terdengar amat berisik. Gadis itu butuh ketenangan, kasih sayang, dan belaian hangat tangan berotot kuat dan tulang besi. Gadis itu merindukan Niel. Rasa rindu amat kuat mempengaruhinya. Alena ingin sekali menelepon Niel. Pria yang tidak banyak bicara, namun memberikan aksi nyata. Dingin namun belaiannya amat nyaman dan menghangatkan.
Diraihnya telepon pintar yang teronggok tak berdaya di sisi tempat tidur. Gadis itu sedang memikirkan cara untuk menghubungi Niel. Ia takut mengganggu pria itu. Cemas kalau seandainya Niel enggan mengangkat telepon darinya. Atau lelaki itu belum bangun dari tidur. Tapi perasaan rindu yang sulit didefinisikan itu amat menggebu.
Ia harus bagaimana?
Setelah lama bergulat dengan kecemasan, akhirnya gadis itu mengambil langkah nekat. Meghubungi nomor Niel sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sebagai bentuk pengalihan rasa gugup.
***
Tidak sesuai dengan perkiraan Alena, Niel ternyata sudah bangun. Lebih tepatnya tidak tidur semalaman. Empat gelas kopi kosong bersanding dengan laptopnya. Matanya merah dengan lingkar hitam mengelilingi. Bisnis jual-beli saham amat mempengaruhi kualitas tidurnya. Ia amat bersemangat menggeluti bisnis lamanya yang terhenti karena kepindahan beberapa pekan lalu. Perlahan-lahan kehidupannya berangsur normal.
Kini hidup Niel juga lebih mudah dibanding saat pertama kali menginjakkan kaki di kota keci ini. Sesuai dengan perjanjian, si rekan bisnis gelap menjamin kehidupan Niel sepenuhnya. Niel benar-benar mendapatkan kembali kehidupan mewahnya. Apartemen mewah di tengah kota, dengan pemandangan kerlip lampu kota kecil yang kini ia tinggali. Memulai kembali bisnis jual-beli saham dan sesekali berjudi online. Tidak heran jika saban hari kerjaan Niel di depan laptop dan kurang tidur pernah tidur. Selain menembak, berjual-beli saham adalah gairah hidupnya. Ia bisa lupa waktu, lupa daratan dan lupa diri sendiri jika sudah begitu.
Tapi, semenggairahkan apapun bisnis dan judi online yang digelutinya, Niel tetaplah manusia biasa. Makhluk sosoial yang gampang merasa kesepian jika terus menerus-sendirian. Meski tahta kemewahan dan dendam pribadi yang mejerat nadi sudah terbalaskan, hati kecilnya tetap saja merasa sepi. Kalau sudah begitu, satu nama dan satu sosok tubuh sintal tidak bisa dielak dari bayang-bayang pikirannya. Seorang gadis cantik yang akhir-akhir ini amat mempengaruhi pikirannya.
***
Tidak banyak hal yang dapat Alena lakukan hari ini di kantor. Kerjaannya sedang tidak banyak. Sepanjang hari ia hanya memeriksa beberapa laporan dari divisi yang ia bawahi, namun lebih banyak melamun. Tokoh utaman dalam lamunannya tentu saja Niel. Tidak ada figuran lain. Pria yang entah bagaimana mampu menghangatkan sisi dingin hatinya. Pria yang dengan cara uniknya mampu mengerti dirinya. Ia senang Niel ada di sekitar dunianya. Menjadi muara curahan hatinya
Alena mendapatkan paket lengkap dari Niel. Sosok kakak yang mampu menjadi tameng pelindung. Sosok penasihat yang bersahaja. Sosok orang tua yang bijaksana. Sosok kekasih yang mengasup nutrisi kasih sayang padanya. Hingga sosok penghibur serupa badut ulang tahun berwujud putri Elsa versi KW.
Seharusnya Alena bersyukur hari ini tidak banyak pekerjaan. Sebab hati dan pikirannya sedang musuhan, tidak mau sejalan. Jadwal bertemu klien esok hari yang seharusnya ia rencanakan tapi malah wajah Niel yang memenuhi pikirannya. Bahkan saat ia menatap layar monitor untuk mengecek email pekerjaan, yang melintas malah senyum lebar dari wajah Niel.
***
Pagi ini, Niel mulai beraktifitas seperti biasa. Hidupnya yang bergelimang fasilitas mewah benar-benar kembali lagi. Ia tidak perlu menginap di hostel kelas kambing, atau menjadi badut demi mengais rejeki. Ia sudah mendapatkan macbook baru untuk menunjang karirnya dengan tenang. Berteman segelas cokelat panas yang asapnya masih mengepul tipis, ia duduk tenang di kursi santai yang terletak di balkon apartemennya sembari memperhatikan pergerakan harga saham.
Pemandangan sibuknya teluk kota kecil pengimpor ikan teri menjadi pemandangan indah tersendiri baginya. Sedang dari tengah lautan tampak cicit gunung berapi yang mengeluarkan asap wedhus gembel. Suguhan nilai alam yang setiap saat bisa ia lihat melalui jendela kamar apartemen mewahnya.
Ia baru saja ingin tahu kabar terkini tau kabar Alena ketika ada email rahasia masuk ke laptopnya. Lelaki itu mengurungkan niat untuk mencari tahu kabar Alena. Lebih memilih membaca surat elektronik rahasia yang dikirim langsung dari ibukota oleh rekan bisnis gelapnya.
Ketika lampiran surat elektronik itu terpampang nyata pada layar komputer portabel Niel, seketika gelas cokelat hangat yang bersisa setengah meluncur bebas dari genggaman tangannya. Terjatuh ke lantai hingga menumpahkan seluruh isinya. Cokelat harum yang terbawa kepulan asap tipis langsung mengotori lantai marmernya, berserakan dengan pecahan gelas porselein. Lelaki itu tidak peduli. jakunnya naik turun demi membasahi. Tenggorokannya terasa kering.
Pesan rahasia berwaktu itu rusak dalam beberapa menit. Tapi isinya masih terngiang di kepala Niel. Terekam sempurna olehlensa matanya. “Tidak mungkin!” Desisinya nyaris tanpa suara. Kini ia sempurna lupa dengan niat untuk menghubungi Alena.
Ia segera beringsut dari tempatnya. Meninggalkan transaksi saham. Meninggalkan noda cokelat di lantai yang mulai dikerubungi semut. Persetan!

Other Stories
Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Bayangan Malam

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Download Titik & Koma