Buket Berdarah
Jam 12.00
Dion ke luar dari kantornya. Seperti biasa dia istirahat dan makan siang di resto dekat kantor bersama dua orang temannya. Cowok itu terpana dengan buket bunga yang diselikan di wiper mobilnya. Tangannya tak jadi menyentuh buket itu karena ada warna darah di kertas yang membungkus bunga kamboja putih itu. Di antara bunganya ada terselip kertas putih yang bertuliskan, “bunga terakhir dariku sebelum ajal menjemputmu, by mantan.”
Dion terpaku. Ditariknya buket itu dari wiper yang menjempitnya. Lalu dia buang dan kakinya menginjak-injak buket itu penuh kesal.
Shiit! Siapa orang iseng yang mencoba menerorku?
Hatinya mulai menerka siapa orang yang mengirim buket itu untuknya. Pikirannya melayang pada mantan-mantan yang pernah datang di kehidupannya. Nggak mungkin Sita, dia sudah menikah dan punya anak. Dea? Ahh...mana mungkin. Dia sekarang jauh di negeri orang dan sudah hampir lima tahun nggak ada kabarnya. Gina? Apa mungkin Gina? Ahh…mana mungkin dia menerorku. Cewek itu teramat mencintaiku…nggak mungkin dia, tapi siapa?
Dion masih saja penasaran dengan buket berdarah itu. Kenapa harus bunga kamboja? Bukankah bunga itu adalah bunga kematian? Lalu apa tujuannya menerorku? Dia menulis mantan, berarti dia seorang cewek yang pernah dekat denganku. Apa pula maksud percikan darah di kertas itu? Dia mau membunuhku? Dengan maksud apa?
Tiiiiiiiinnn!!
Dion menginjak rem mendadak. Untung saja dia cepat banting stir menghindari mobil didepannya. Napasnya memburu. Jantungnya berdegup kencang. Buket itu sudah membuat konsentrasinya hilang. Ditinjunya stir mobil dengan kesal. Satu kecelakaan hampir saja terjadi dan itu bisa mencelakai dirinya.
Dua orang teman Dion yang beriringan jalan di mobil yang lain segera menghampirinya. Dilihatnya cowok itu menelungkupkan wajah di depan kemudi.
“Bro, ada apa?” Tanya si jangkung, temannya Dion sambil mengetuk kaca mobil yang masih tertutup.
Dion membuka kaca mobil dengan lesu. Dilihatnya dua orang temannya sudah ada di samping mobilnya.
“Nggak pa-pa. Gue tadi nggak konsent aja,” jawabnya dengan wajah pucat.
“Tapi wajah lo pucat gitu, Bro. Lo sakit?”
Dion hanya menggeleng. Pikirannya ragu untuk memberitahukan buket berdarah itu pada dua orang temannya. Tapi dia perlu teman untuk bicara. Pikirannya akan semakin kacau kalau dia pendam sendirian.
“Gimana bro, mau balik ke kantor aja atau lanjut makan siang?”
“Lanjut aja. Sorry, pikiran gue kacau gara-gara ada orang iseng yang naro buket berdarah di wiper mobil.”
“Apa? Buket berdarah? Serius lo?”
Dion ke luar mobil. Dia berdiri di samping mobinya yang di parkir dipinggir jalan.
“Tadi di parkiran kantor gue lihat buket itu. Buket bunga kamboja dengan tulisan yang di percikin darah segar. Ada tulisannya yang mengancam gue,” jelas Dion.
“Ada pengirimnya?”
“Nggak ada namanya tapi ada tulisan by mantan,” jawabnya.
“Hehehe…lo kebanyakan sih mantannya, mungkin ada yang sakit hati dengar lo mau married. Eh tapi kira-kira siapa, yah?” Cowok kemeja putih itu ikut penasaran.
Dion hanya bengong. Dia sendiri sudah sejak tadi mengira-ngira siapa mantan yang mengirimkan buket itu.
“Udah lupain aja, paling itu kerjaan orang iseng yang mau bikin konsentrasi lo buyar mikirin pernikahan.”
Dion menarik napas dalam. Mungkin juga yang dikatakan temannya itu benar. Pikirannya bisa terpecah karena orang iseng yang mengirim buket itu. Padahal dia harus fokus pada pernikahannya dengan Dila 2 minggu lagi.
Dion kembali masuk ke dalam mobilnya. Dua orang temannya juga masuk ke mobil mereka. Buket berdarah itu tak boleh memecah pikirannya. Dua minggu lagi akan di gelar pernikahan mewah untuk dia dan Dila. Dua minggu lagi dia akan jadi putra mahkota dari keluarga konglomerat terkenal di negeri ini.
Sementara Di dalam mobil lainnya, sepasang mata menguntitnya sejak tadi. Memerhatikan gerak-gerik cowok itu sejak di parkiran hingga hampir terjadinya kecelakaan. Sepasang mata yang terus mengintainya beberapa hari ini. Dan Dion tak sedikitpun merasa diikuti.
****
Dila mematut diri di cermin, Dua minggu lagi dia akan menjadi nyonya Dion. Seorang lelaki yang tak pernah dia bayangkan akan jadi pendamping hidupnya. Kalau bukan karena peristiwa biadab itu, mungkin dia masih menikmati hari-hari indahnya di kampus.
Peristiwa biadab yang telah merenggut kesuciannya dengan cara yang sadis. Entah setan mana yang malam itu telah menyekapnya saat dia di parkiran kampus dan memperkosanya di sana. Wajahnya di tutup dengan topeng hitam. Waktu itu Dila di bius saat membuka pintu mobilnya. Dan dia tersadar ketika tengah malam di parkiran yang sepi itu.
Kondisinya amat mengenaskan. Dia nyaris tanpa busana tergeletak di samping mobilnya. Di tempat itu sepi. Lampunya remang-remang hanya ada beberapa mobil yang masih terparkir. Harusnya dia tak selarut itu keluar dari perpustakaan kampus hanya untuk mencari bahan untuk skripsinya. Harusnya dia mengajak teman untuk mendampinginya. Dan masih banyak harusnya yang lain yang dia sesali penyebab kejadian itu.
Sejak itu Dila seperti orang gila yang menangis dan berteriak ketakutan. Dia diungsikan keluarganya ke Villa agar peristiwa itu tak ada yang mengetahuinya. Mencari pelakunya bagai mencari jarum dalam jerami. Tak ada bukti dan ciri-ciri si pelaku yang bisa dicurigai. Semua keluarga gadis itu tutup mulut. Shock yang dialaminya bertambah saat dia tahu bahwa peristiwa itu meninggalkan janin di rahimnya.
Pendapat keluarga pro dan kontra untuk menggugurkan janin yang dikandung Dila. Akhirnya disepakati untuk mencari seorang laki-laki yang akan menikahi Dila untuk menutupi semua aib itu. Pilihan jatuh pada Dion, anak sahabat Papanya. Keluarga Dila memohon pada Papa Dion agar anak lelakinya bersedia dinikahkan dengan anak mereka.
Lantaran hutang budi selama ini, akhirnya keluarga Dion bersedia. Papanya Dion meminta cowok itu untuk menikahi Dila dan memutuskan hubungannya dengan semua pacarnya. Mengingat betapa besar jasa keluarga Dila di saat keluarga itu dalam situasi yang berat. Papa Dila muncul sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan keluarga Dion. Segala kehidupan keluarga Dion ada dalam tanggung jawabnya. Sementara Papa Dion berada di balik jeruji dengan tuduhan kasus penggelapan uang kantor.
Cowok itu tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Papanya. Walau awalnya Dion bimbang untuk memilih Gina atau menikahi Dila. Pada akhirnya cowok itu tak bisa berbuat apa-apa. Dia harus mengikuti kemauan keluarganya demi sebuah balas jasa dan hutang budi.
Kondisi Dila membaik dengan kehadiran Dion. Emosinya mulai stabil dengan adanya cowok itu disampingnya. Gadis bermata sayu itu mulai mau tersenyum. Pernikahan segera akan dilangsungkan mengingat Dila yang sudah hamil. Segala persiapan sudah diatur keluarga Dila. Dion pun tak bimbang lagi karena dengan menikahi Dila, maka secara langsung dia akan mewarisi harta keluarga Dila yang konglomerat itu. Apalagi gadis itu anak semata wayang.
“Non, ada paket.” Suara pelayan rumah tangga di rumah Dila membuyarkan lamunannya. Gadis itu hanya menengok sebentar lalu dia mematut di cermin lagi. Si mbok menaruh paket amplop coklat itu di meja rias Dila.
“Mau Mbok buatkan teh hangat, Non?” Dila hanya menggeleng. Wajahnya sendu beberapa hari ini, mungkin karena masa kehamilannya yang memasuki minggu kedua.
Pelayan itu keluar kamar Dila dan menutup pintunya. Gadis itu mengambil dan membolak-balik amplop coklat yang dibawa si Mbok. Herannya tak ada nama si pengirim atau cap pos di amplopnya. Dila membukanya hati-hati. Dikeluarkannya sebuah surat dari dalam amplop itu. Selembar kertas yang delaminating yang bertuliskan beberapa kalimat.
Tangan Dila gemetar hingga selembar kertas itu jatuh ke lantai. Wajahnya langsung pucat setelah membaca kalau kertas itu ternyata akta kematian. Dan di sana tertera nama Dion. Itu akta kematian calon suaminya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi sedang Dion masih hidup? Pikirannya langsung berkecamuk kacau.
Dila berteriak histeris sambil menutup wajahnya. Mamanya berlarian masuk ke dalam kamar putrinya untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Ada apa, Dila?”
Gadis itu terduduk lemas di sisi tempat tidur sembari matanya terus memandang kertas di lantai itu. Mama Dila memungut kertas itu dan membacanya.
“Ya Tuhan! Apa-apaan ini? Kamu dapat darimana, sayang?”
Dila menggeleng ketakutan. Wajahnya semakin pucat dan tubuhnya gemetar.
“Siapa yang bawa ini?” Gadis itu hanya menggeleng. “Mbok! Mbok … cepat sini!”
Pembantu tua itu terengah-engah masuk kamar Dila. “Ada apa, Nyah?”
“Ini … ini siapa yang bawa?” Tanya Nyonyanya sambil mengacungkan kertas itu.
“Tadi ada kurir yang bawa itu, Nyah. Tapi saya nggak tahu siapa. Dia cuma bilang ini paket buat Non Dila,” jelasnya.
“Mbok tahu ini apa?” Si Mbok hanya menggeleng lugu. “Ini akta kematian Dion. Bagaimana mungkin ada akta kematian sedang orangnya masih hidup? Ini pasti ada orang iseng. Coba Mbok panggil satpam sekarang. Bagaimana bisa sembarangan orang masuk tanpa diperiksa?!”
Si Mbok tergopoh-gopoh keluar kamar. Kalau sudah begitu pasti Nyonyanya marah besar dan semua kena imbasnya. Semua satpam dikumpulkan. Semua pelayan pun berbaris di interogasi majikannya. Satu-satu mereka ditanya tentang siapa saja yang datang dan pergi dari rumah mewah itu. Mereka semua bingung karena tak ada satu pun yang datang kecuali kurir yang membawa paket untuk Dila.
Cerobohnya satpam tak meminta tanda pengenal kurir itu. Sementara Dila di kamarnya masih dalam kecemasan. Dia buru-buru menghubungi Dion khawatir terjadi sesuatu pada calon suaminya itu. Mereka janjian untuk ketemu di sebuah café membicarakan masalah ini. Dion tak menyangka kalau Dila juga menerima terror seperti dirinya, hanya saja terror untuk Dila berupa surat kematian dirinya.
***
“Bagaimana bisa orang masuk rumahmu tanpa pemeriksaan?” Tanya Dion pada Dila saat mereka bertemu di café. Gadis itu hanya menggeleng lemah. Wajahnya tertunduk dalam. Lalu dia mengawasi sekeliling café seolah ada seseorang yang tengah mengawasi mereka.
“Aku takut, Dion,” katanya lirih.
“Takut apa?” Tanya Dion bingung.
“Takut kalau teror itu jadi kenyataan. Apa kamu punya musuh?”
Dion menggeleng yakin. Seingatnya, tak ada orang yang ia curangi atau sakit hati padanya. Semua teman-temannya baik dan perhatian.
“Aku nggak pernah punya musuh, Di.”
“Lalu di buket bunga itu tertulis by mantan. Apa maksudnya?” Tanya Dila.
Dion diam sejenak. Itu juga yang jadi pikirannya sejak kemarin. Mantan yang mana yang mengirim buket bunga seperti itu? Sedang selama ini dia tak pernah ada masalah dengan semua mantannya.
“Dion?” Dila memanggil cowok itu. “Dion! Hey, kenapa kamu jadi bengong gitu?”
“Eh … sorry, aku lagi berpikir siapa kira-kira orang iseng ini,” jawabnya gugup.
“Ini bukan iseng Dion tapi sudah terror. Kalau hanya sekadar iseng nggak mungkin sampai dia buat akta kematianmu. Maksudnya apa?” Dila terlihat cemas.
“Tenang, Dila. Ini pasti kerjaan orang yang ingin mengacaukan pernikahan kita. Aku yakin ini orang hanya ingin kita terlihat cemas dan ngga fokus pada pernikahan kita.”
“Iya, tapi siapa? Apakah orang seiseng itu sampai berani buat akta kematian segala? Untungnya apa?”
“Aku juga nggak tahu, Dila. Tapi aku yakin hanya candaan dari temanku aja.”
“Lalu akta kematian itu juga sekadar candaan? Ini perbuatan orang gila. Ini perbuatan orang yang sakit hati, Dion!” Dila sedikit berteriak.
Dion mencoba menenangkan gadis itu. Dia tahu kalau Dila mulai panik dengan keadaan ini. Walaupun dirinya sendiri juga sebenarnya lebih dari panik apalagi dia melihat akta kematian atas namanya.
Mereka berdua panik dengan keadaan ini. Jelas terlihat garis ketakutan yang terpancar dari sikap mereka. Dila menggigit bibir mungilnya. Dia yakin betul kalau ini bukan candaan orang iseng melainkan teror dari seseorang yang menginginkan kematian calon suaminya. Walau beribu alasan coba ia telusuri tapi gadis itu tak menemukan jawabannya.
Sementara di sudut lain café itu ada dua pasang mata yang memerhatikan mereka. Gadis itu tersenyum sinis melihat kepanikan di wajah-wajah itu. Di balik selembar koran, ia dapat melihat jelas bagaimana gelisahnya si cewek yang duduk disamping orang yang amat dicintainya. Disamping cewek itu, sosok tinggi besar mengintai dari balik kacamata hitamnya. Senyumnya mengembang seolah puas melihat raut wajah penuh kepanikan.
“Dion, apa kamu yakin nggak punya musuh selama ini?” Tanya Dila lagi.
Cowok itu mengernyitkan keningnya, lalu dia menggeleng yakin.
“Atau kamu Di, pernah menyakiti orang lain?” Gadis itu juga menggeleng. “lalu bagaimana dengan kejadian malam itu di parkiran? Bukan nggak mungkin orang yang sama yang melakukan semua ini?” Tanya Dion menyelidik.
Dila menggeleng keras. Dia tak ingin mengingat kejadian malam biadab itu. Seseorang yang menjelma menjadi setan atau sebaliknya telah memperlakukannya dengan buruk pada malam itu. Orang bertopeng yang telah merenggut kesuciannya dengan paksa. Dan tanpa dia bisa membela diri.
“Stop, Dion! Jangan kamu teruskan lagi. Aku nggak mau mengingat semua itu. Aku bisa gila!” jawab Dila seraya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
“Oke ... oke, maafkan aku.” Dion membelai lembut rambut Dila.
Tapi sepasang mata di sudut sana begitu benci melihat adegan itu. Dia berdiri dan ingin menghampiri mereka. Tapi tangan kekar itu menghalanginya. Mencoba meredam amarah gadis itu.
“Aku nggak suka melihat adegan itu,” ucapnya dengan napas memburu.
“Kau sudah gila? Mereka akan mengenalimu dan langsung menuduh kalau kamulah yang melakukan semua ini. Apa kamu mau menghancurkan rencana yang sudah kita susun serapi ini?”
Gadis itu duduk kembali di kursinya. Matanya memandang tajam pada mereka. Kecemburuannya terus berkobar.
“Kendalikan emosimu atau kita akan hancur saat ini juga,” sambung lelaki bertubuh besar itu.
Gadis itu menahan segala rasanya. Di balik kacamata hitamnya ada kubangan di manik matanya. Dia tak rela orang yang dicintainya bermesraan di hadapannya. Apalagi perempuan itu sudah menghancurkan mimpi indahnya.
Other Stories
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...