Chapter 9 : Putusnya Hubungan
Apa yang telah dilakukan Kanjeng Ibu dengan menyuruh orang untuk menghabisi Tuti menunjukkan bahwa perempuan itu juga manusia biasa. Ia punya rasa kecewa, marah, sakit hati, dan dendam. Ia bisa terluka bila disakiti. Di balik kehebatan dan kekuatannya sebagai perempuan ningrat, ia ternyata menyimpan jiwa yang rapuh. Ia dikuasai oleh ambisi mempertahankan kedudukan anaknya sebagai pewaris trah Haryokusuma. Kekuasaan dan kehormatan telah membutakan matanya dari nilai-nilai moral dan kemanusiaan!
“Sekarang kamu boleh tangkap saya, tapi saya minta kamu jangan ceritakan perihal ini kepada Danang. Dia tidak boleh tahu soal penyelewengan ayahnya. Saya sudah mengatur ini sebagai kasus pencurian. Tuti terbukti membawa kabur perhiasan saya dan kedua preman yang saya tugaskan menangkapnya tak sengaja telah membunuhnya,” kata Kanjeng Ibu kemudian berwasiat kepada Yanti.
Gadis itu hanya diam, tak mengangguk atau menggeleng.
***
Kabar penangkapan BRAy. Setyorini seketika menjadi headline di beberapa surat kabar ibu kota. Ada perasaan tak enak dalam hati Yanti karena dirinya menjadi bagian dari petugas yang menangani kasus ini. Bagi Yanti bukan reaksi dari keluarga dan kerabat yang ditakutkannya, tetapi reaksi dari Danang. Ia tak memberitahukan hal ini sebelumnya pada sang kekasih. Kontan, begitu mengetahui ibunya ditangkap polisi, Danang langsung menelepon Yanti.
“Kenapa kamu tidak memberitahu aku soal ini, Yan?!” Terdengar suara Danang dengan nada tinggi di seberang sana.
“Maaf, Mas… aku…” Belum selesai Yanti bicara, Danang sudah keburu memotong.
“Aku kecewa sama kamu! Aku kecewa! Kecewaaa… tut-tut-tut…!”
“Halo? Halooo…?” Yanti menggigit bibirnya, perih dan putus asa.
Danang sepertinya marah besar. Yanti menghela napas. Berat. Sesak. Bingung. Kacau. Bayangan buruk terpampang di pelupuk mata. Sesal pun menggumpal dalam dada. Andai saja ia menuruti saran komandannya untuk mundur dari kasus ini? Andai saja ia bicara dulu dengan Danang? Andai saja… ah, tak ada guna menengok ke belakang. Semua sudah terjadi.
Hari-hari kemudian langit semakin tampak kelabu buat Yanti. Berulangkali ia mencoba menemui Danang, mengetuk pintu hatinya, tapi pemuda itu tak mau lagi menerimanya. Hubungan kasih mereka terancam kandas di tengah jalan. Rencana pernikahan, bulan madu ke Lombok, impian membangun mahligai rumah tangga nan indah, memiliki anak-anak yang lucu, semua sirna begitu saja. Menguap bersama embun pagi disiram panas matahari.
“Kenapa wajahmu muram, Nak? Apa ada masalah?” teguran ayahnya di senja temaram itu mengagetkan Yanti yang sedang melamun di halaman belakang.
“Ah, Bapak! Ngagetin saja!” Yanti pura-pura tak mendengar pertanyaan ayahnya.
“Bapak tahu, kamu pasti sedang memendam masalah. Bapak sudah hapal dengan perangaimu. Coba ceritakan, mungkin bapak bisa membantu? Apakah ini ada hubungan dengan ditahannya ibu Danang?”
Sejenak Yanti menarik napas. Dalam. Dia lalu mengangguk pelan.
“Danang marah?”
“Ya! Dia tidak mau lagi bicara dengan saya. Dia sudah membenci saya. Sepertinya hubungan kami terancam bubar!” Yanti mengucapkan kalimatnya ini sambil menelan ludah. Getir!
“Jangan sedih, anakku. Ini adalah bagian dari romantika kehidupan. Saat ini Danang mungkin masih marah sama kamu. Tapi percayalah, kalau hatinya sudah tenang dan pikirannya sudah jernih, dia akan bisa memahaminya. Dia tidak punya alasan untuk membencimu. Apa yang kamu lakukan adalah bagian dari tugasmu sebagai aparat penegak hukum. Justru kamu telah menunjukkan dedikasi yang tinggi terhadap profesimu. Kamu tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum dan keadilan. Kamu memang sosok Srikandi sejati!” tutur Pak Harun.
“Tapi apalah artinya pujian itu bila harus ditebus dengan pengorbanan yang teramat besar. Saya harus kehilangan cinta!” tukas Yanti kelu.
“Kamu tidak kehilangan cinta, Nak! Kamu justru telah menemukan cinta yang berlimpah. Ketahuilah, perjuanganmu menegakkan kebenaran merupakan madu kehidupan yang mampu melahirkan rasa cinta dari semua orang. Di tengah kehidupan yang penuh tipu muslihat dan pengikisan nilai-nilai moral, hadirnya orang yang berhati suci dan tulus untuk memperjuangkan kebenaran laksana oase di tengah padang gersang. Jangan abaikan harapan dan cita-cita luhur itu. Hanya orang bodoh yang tak menaruh rasa cinta kepada putriku yang cantik dan berkepribadian baik ini!” ujar Pak Harun dengan nada bercanda.
Yanti hanya menyeringai. Kecil. Kata-kata ayahnya mampu menghibur sekaligus membangkitkan semangatnya.
Other Stories
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...