Reuni

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Nie

Chapter 4

Hari ini terasa panjang. Entah kenapa Sarah merasa begitu lelah, kini dia sudah ada di rumahnya yang sepi, karena kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah. Sarah masuk ke kamar dan berniat untuk mandi, karena dirasa badannya begitu lengket dan sangat lelah. Setelah menanggalkan semua bajunya dan menggantinya dengan basahan dan handuk, Sarah melangkah ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Selain memakai handuk, Sarah selalu memakai basahan berupa kain sarung setiap kali mandi. Dia mengambil pasta gigi dan sikatnya. Namun, ketika dia memutar keran air, alangkah kagetnya dia karena yang keluar dari keran itu bukalah air seperti biasanya melainkan lumpur hitam lengkap dengan cacing-cacingnya. Sarah kemudian menutup keran itu dan kembali ke kamarnya.
Dengan degup jantung yang tidak beraturan Sarah langsung mengambil baju yang bersih untuk dia pakai. Belum kekagetannya mereda handphone yang dia simpan di nakas berbunyi kencang membuat dirinya tambah kaget.
Diambilnya handphone itu, di sana terlihat logname bertuliskan Rehan
“Ya? Ha-hallo? A-ada ap-pa, Han?” tanya Sarah tergagap karena takut.
“Lo kenapa, Sar? Suara lo kok gitu?” Aria malah balik bertanya.
“Gak papa, gue gak papa.”
“Gue cuma mau ngasih tahu aja, kalau gue sama Aria ada di RS.”
“Siapa yang sakit? Lo sakit?”
“Enggak, bukan gue tapi si Deni. Temen SD kita dulu. Lo inget, ‘kan? Dia sama istrinya dirawat di sini. Lo dateng lah sebagai sahabat yang dulu paling dekat dengan dia.”
Mendengar itu, Sarah kembali terkejut. Baru saja kemarin mereka bertemu di acara reuni. Padahal waktu itu dia dan istrinya sehat-sehat aja.
“Lo beneran?”
“Lha? Ngapain gue bohong? Ini gue lagi ada di RS kalau lo gak percaya dateng aja. Gue tungguin.”
“Oke. Gue ke sana sekarang, tapi gue musti ngabarin dulu si Dania.”
Setelah sambungan terputus, Sarah langsung menghubungi Dania. Namun, tiba-tiba terdengar suara bising dari arah luar. Sarah langsung berlari ke luar rumahnya. Sudah banyak orang yang berkerubung di depan rumahnya, lebih tepatnya mengerubungi sesuatu di pinggir jalan. Sarah heran melihatnya, apa yang terjadi?
“Permisi, maaf Pak. Ada apa ya? Kok pada berkumpul di sini?” tanya Sarah kepada seorang Pria paruh baya yang berada di dekat pagar rumahnya.
“Eh, Neng Sarah. Itu Neng ... barusan aya nu kecelakaan. Kepalanya teh bocor tapi kayaknya masih hidup,” ucap Bapak itu yang dikenal Sarah sebagai Pak Agli.
“Kok bisa gitu, Pak? Apa sudah memanggil ambulance?” tanya Sarah.
“Sudah, Neng. Katanya mereka akan datang sebentar lagi.”
Saat Sarah mengalihkan pandangannya kearah kerumunan itu, dilihatnya ada seseorang yang berdiri di samping korban kecelakaan itu. Seseorang itu terus saja menatap korban. Ketika orang itu menengok ke arah Sarah, buru-buru Sarah menutup matanya karena terlihat begitu hancur wajah yang dilihatnya itu.
“Bukan manusia ... bukan manusia ...,” gumam Sarah pelan.
“Neng? Neng gak papa? Neng?” panggil Pak Agli berulang kali karena aneh melihat Sarah yang tiba-tiba seperti itu.
“Tidak, Pak. Saya tidak apa-apa. Maaf Pak, saya ada urusan dulu.”
“Oh, iya. Mangga atuh, Neng.”
Sarah masuk kembali ke rumahnya dan mengambil tas kecil lalu dia mengambil kunci motor yang ada di nakas. Selang beberapa lama, Sarah tahu kalau di pojok pintu sana ada makhluk yang menurutnya tidak mungkin manusia, karena rumahnya kini sedang sepi. Sarah mencoba tidak merasa takut dan berusaha untuk beranikan diri untuk berlari kembali ke luar rumahnya.
“Ah, udah sore aja. Mana gue lupa gak nelpon si Dania lagi,” ucap Sarah ketika melihat angka pada benda yang melingkar di tangannya menunjukan pukul 15.00.
Sarah mengendarai motornya menuju Rumah Sakit. Karena jarak rumah Sarah dan Rumah Sakit tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja, Sarah tiba di depan Rumah Sakit. Setelah memarkirkan motornya, Sarah segera menuju resepsionis untuk menanyakan tempat Deni dirawat.
Setelah menanyakannya Sarah segera menuju ruangan itu.
“Sarah!” panggil seseorang dari arah depannya ternyata itu Rehan yang tengah melambaikan tangan padanya. Sarah berlari kecil menghampiri Rehan.
“Dari mana, lo?” tanya Sarah melihat Rehan dari arah yang bukan merupakan lorong dimana ruangan Deni berada.
“UGD.”
“Lah? Bukannya si Deni dirawat doang? Berarti masuknya di ruang rawat dong?”
“Yaiya itu si Deni di sana. Istrinya ada di UGD, kata susternya dari mulai masuk Rumah Sakit si Devi gejalanya terus parah tapi bayi yang di kandungnya masih sehat.”Rehan menunjukan lorong yang lain.
“Bentar, gue ngirim whatsApp dulu ke si Dania. Biar dia langsung ke sini.”
Setelah Sarah mengetik beberapa kata kepada kontak bertuliskan Dania lalu dia kembali bertanya kepada Rehan, ”Emangnya kenapa dengan Devi? kenapa?”
“Gak tau, denger dari perawat yang ngomong sih kayak kena kutukan gitu,” bisik Rehan.
“What? Kutukan? Yang bener aja lo!” teriakan Sarah membuat semua mata yang ada di sana melihat ke arah mereka, hingga Rehan menutup mulut Sarah dengan tangannya dan meminta maaf kepada semua yang ada di sana.
“Lo jangan teriak. Ini rumah sakit,” kesal rehan dengan nada dipertegas.
Sarah mengangguk-anggukan kepalanya tertanda dia paham, Rehan melepaskan bekapannya. “Sorry,” ucap Sarah kemudian.
Sarah dan Rehan berjalan menuju ruangan tempat Deni dirawat. Baru saja mendekati pintu, tiba-tiba Aria keluar sambil berteriak memanggil Dokter. Terlihat beberapa perawat mendatangi kamar itu. Rehan dan Sarah pun bergegas menghampiri Aria yang memasang wajah putus asanya.
“Lo kenapa, Ar?” tanya Sarah yang malah ikutan panik.
Rehan mencoba menenangkan Aria yang panik dan putus asa, Rehan membawa Aria duduk di bangku tunggu depan kamar rawat Deni.
“Lo coba tenangin diri lo dulu, baru setelah itu lo cerita sama kita,” ucap Rehan kemudian.
Terdengar suara teriakan dan kegaduhan dari ruang rawat Deni yang membuat Rehan penasaran. Namun, Aria menahan agar Rehan tidak melihat apa yang terjadi di sana.
Tidak hanya itu, keributan lain terdengar dari lorong koridor lain Rumah Sakit ini. Beberapa paramedis berlarian menuju koridor itu. Ketika ada perawat yang berlari melewati mereka, Rehan menghentikannya dan bertanya, “Ada apa, Sus?”
“Pasien UGD yang tadi pagi masuk mengamuk seperti orang kesurupan, Pak. Petugas di sana kewalahan dan meminta bantuan.” Setelah berkata seperti itu Perawat itu pun berlari kembali menuju ruangan UGD yang ada di koridor lain.
“Apakah itu Devi?” tanya Sarah bingung.
“Oh, ayolah ... Apa yang terjadi saat ini?”
“Aku akan melihat ke sana,” kata Rehan. Lalu dia berlari mengikuti perawat lain yang menuju ke sana.
***
Ruang rawat yang begitu berantakan. Dengan besi dan gorden yang berserakan di lantai. Ranjang-ranjang pasien yang sudah tidak pada tempatnya dan botol-infusan yang berceceran isinya. Hawa dingin menyeruak di sana. Padahal tidak ada pendingin ruangan ataupun kipas angin di ruangan ini. Bahkan jendela yang ada di ruangan ini pun tertutup.
“Tuan, saya mohon Anda turun dari sana,” ucap salah seorang perawat yang ada di sana kepada orang yang berada di atas, tepatnya di langit-langit ruangan ini.
Hanya geraman yang terdengar dari mulut terbuka orang itu. Dengan wajah yang membiru, mata yang melotot berwarna merah dan darah yang keluar dari matanya. Membuat beberapa orang yang ada di sana merasa ketakutan.
Deni, orang yang kini sudah seperti laba-laba yang merayap di langit-langit ruangan itu sepertinya sudah bukan dirinya. Dokter Ardan, seorang dokter yang tadi pagi berbicara dengan Deni pun masuk.
“Sepertinya orang ini berada di bawah kendali jin atau setan dan bukan lagi penyakit yang bisa kita deteksi dengan alat medis,” ucap Ardan. “Tolong kamu bawakan saya air mineral satu gelas saja, cepat!” lanjutnya memerintahkan salah satu perawat yang ada di sana.
Entah apa yang akan di lakukannya kemudian Ardan melemparkan sesuatu yang dia ambil dari saku jas dokternya ke arah Deni. Membuat Deni menggeram semakin keras seperti hewan buas. Kemudian Deni turun merayap dari langit-langit itu dan menyerang Ardan.
“Berikan air itu kepada saya,” ucap Ardan. Diambilnya air yang dibawakan perawat tadi, lalu Ardan meniup dan menyiramkan air itu kearah Deni. Reaksi Deni seperti orang kepanasan dan berguling-guling di lantai.
“Setelah dia tenang, suntikan obat penenang kepadanya. Meski itu tidak akan mempan untuk sesuatu yang mengendalikannya.” Ardan keluar dari ruangan Deni. Kemudian dia menghampiri Sarah dan Aria yang ada di kursi tunggu.
“Apakah kalian tahu mengenai kondisi teman kalian?” tanya Ardan.
“Tidak, Pak. Kami benar-benar tidak tahu. Memangnya kenapa dengan Deni, Dok?” tanya Sarah.
“Saudara Deni bukan hanya depresi biasa seperti yang saya kira sebelumnya. Ternyata di balik itu semua ada gangguan dari makhluk lain yang mengendalikan tubuh beliau,” jelas Ardan.
Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya seperti betu kerikil kecil berwarna hijau. “Jika dilihat dari segi medis saja saudara Deni ini mungkin bisa dikatakan mendekati gila dan kerusakan pada mentalnya, tapi saya mungkin adalah salah satu orang yang mempercayai hal ghaib, jadi yang saya lihat reaksinya tadi menunjukan adanya gangguan dari makhluk halus di tubuh Deni.”
Aria mendengar penuturan panjang yang disampaikan oleh Ardan. Namun, dia masih bingung jika harus berkata yang sejujurnya kepada semua orang. Jika dialah penyebab dari teror yang diterima oleh teman-temannya.
“Maaf, Dok. Anda ini seorang dokter. Kenapa bisa menyimpulkan demikian? Bukannya biasanya para dokter itu berpikir logis?” tanya Sarah heran.
Ardan tersenyum miris mendengar semua yang dituturkan oleh Sarah. “Saya kan sudah bilang, mungkin di sini hanya saya yang mempercayai hal ghaib. Saya mempunyai kenangan buruk dengan semua hal itu.”
Ardan terdiam, lalu datang seorang menghampirinya dan berkata, “Dokter, pasien bernama Devi yang masih berada di UGD meninggal dunia, Dok.” Perawat perempuan dengan tubuh tinggi itu melaporkan perihal kematian Devi, membuat Aria berdiri dari duduknya dan Sarah menangis sejadi-jadinya.
“Apa maksud Anda, Suster?” tanya Aria tidak percaya.
“Permisi, saya harus segera ke sana,” ucap Ardan dan berjalan menjauhi mereka.
***
Rehan sampai di depan UGD. Namun, dia tidak bisa ikut. Hanya tim medis saja yang diperbolehkan masuk. Rehan hanya bisa melihat tubuh yang menjadi biru itu dari kaca pembatas. Terlihat olehnya tubuh Devi kejang-kejang dan beberapa tim medis di sana melakukan pengecekan kepadanya.
Rehan berdoa semoga Devi bisa selamat, meskipun jika ajal menjemput tidak akan bisa dipungkiri oleh apapun lagi. Namun, Rehan tetap berharap untuk keselamatan Devi.
Rehan melihat di ruangan itu sungguh sangat mengerikan. Bukan hanya beberapa orang tim medis yang dilihatnya tapi ada beberapa makhluk yang sepertinya mengganggu Devi. Ingin sekali Rehan membantu, tapi bantuan apapun tidak akan bisa berguna untuk Devi saat ini. Rehan pun merasakan takut melihat sosok makhluk-makhluk itu.
“Gu-Gue ... sebaiknya tetap berdoa untuk keselamatan Devi dan Deni. Kenapa makhluk-makhluk itu ada di sekeliling Devi? Ayolah ... yang benar saja. Semoga mereka tidak tahu jika aku dapat melihat mereka.” Rehan berkata seperti itu dengan pelan. Ketika dia berpikir untuk balik ke tempat dimana Aria dan Sarah berada tiba-tiba terdengar suara ledakan yang sangat besar dari ruangan UGD itu.
Dilihatnya darah bermuncratan di mana-mana, bahkan keca pembatas pun terkena cipratan darah yang sangat banyak. Beberapa perawat perempuan keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang berlumurkan darah. Membuat semua orang yang ada di sana berteriak histeris.
Ada seorang perawat yang menangis ketakutan. Beberapa petugas medis yang tadi berada di luar mencoba membantu apa yang terjadi di ruang UGD sana.
Rehan seperti tidak memiliki tenaga. Lututnya terasa begitu lemas, saat dia melihat sosok makhluk-makhluk tak kasat mata tadi membawa Devi entah ke mana dan menembus tembok.
“Pasien UGD bernama Devi meledak dibagian perutnya.” Terdengar ucapan salah satu tim medis yang tadi ada di dalam ruang UGD.
“Ini hal yang sangat tidak masuk akal, kenapa bisa terjadi seperti itu?” tanya perawat yang datang membantu.
Rehan tidak mau lagi mendengar penuturan mereka yang mengobrolkan Devi. Dengan langkah kaki yang gontai, dia berjalan menuju koridor di mana Aria dan Sarah berada.
***
Dania baru saja tiba di Rumah Sakit. Melihat pemandangan yang begitu mengerikan, Dania rasanya ingin muntah. Dia tidak bisa membedakan mana yang manusia mana yang bukan manusia. Apalagi dilihatnya ada beberapa orang yang berlumuran darah, beberapa ada yang menangis hiteris juga.
“Ada apa ini? Kenapa bisa seperti ini?” ucapnya melihat-lihat kesibukan yang kini terjadi di Rumah Sakit. Dilihatnya Rehan yang berjalan gontai di salah satu koridor Rumah Sakit mengarah ke sini. ada yang aneh dengan Rehan, pikir Dania.
“Rehan!” panggil Dania. Namun, panggilannya tidak dihiraukan oleh Rehan sama-sekali.
Dania menghampiri Rehan dan menepuk pundaknya, hingga Rehan sedikit tersadar dan menangis kepada Dania. Entah kenapa tingkah Rehan seperti anak kecil kali ini.
“Han, lo kenapa? Please deh, jangan kek gini ... gue gak paham.” Sarah menepuk-nepuk bahu Rehan.
“De-Devi meninggal ... dia meledak,” ucap Rehan asal disela tangisannya. Baru kali ini Dania melihat seorang lelaki menangis seperti ini.
“Maksud lo? Lo gak lagi becanda, ‘kan?” tanya Dania tidak percaya.
“Se-sepertinya ada kejanggalan yang terjadi. Tapi gue gak tahu,” ucap Rehan yang tidak menjawab pertanyaan Dania, karena dirasanya pertanyaan Dania itu tidak perlu dijawab.
Dania terkejut melihat sosok lain selain manusia yang ada di belakang Rehan. Sosok itu terlihat seperti transparan dengan kabut hitam di sekitarnya, dia memiliki mata besar yang bersinar merah, juga senyum lebar yang seperti akan merobekan mulutnya. Dania mencoba mengalihkan pandangannya kearah lain. Lalu tidak berapa lama kemudian dia melihat lagi kearah belakang Rehan. Namun, sosok itu kini telah lenyap.
Hanya halusinasi ... hanya halusinasi ..., ucap Dania dalam hati.
“Di mana Sarah dan Aria? Gue tahu mereka juga ada di Rumah Sakit ini. Karena tadi Sarah yang ngirim WA gue,” kata sarah kepada Rehan lalu dengan suara yang lemah dia berkata, “Mereka ada di depan kamar rawat Deni, karena tadi Deni juga entah mengapa kejang-kejang dan menimbulkan keributan. Gue harap dia gak kenapa-napa.”
Rehan dan Dania berjalan menuju lorong koridor dimana Aria dan Sarah berada, tepatnya di depan ruangan Deni dirawat. Dania berlari kecil menghampiri Sarah, ketika melihat sahabatnya yang satu ini menangis dengan histeris. Dania mencoba menenangkan Sarah.
“Tenang, Sar. Ada gue sekarang di sini.”
Sarah masih tetap menangis dalam dekap pelukan Dania. Meskipun dirinya ingin juga menangis, Dania mencoba tegar. Karena dia tahu teman-temannya terpuruk. Maka dia harus kuat untuk menguatkan yang lain.
***
Setelah kondisi di rumah sakit kembali normal, dan mereka berempat juga sudah tenang. Aria mencoba menelpon keluarga Deni dan mengabarkan bahwa Deni dan istrinya sudah meninggal. Terdengar suara isak tangis dan permintaan maaf dari sebrang sana. Dilihatnya Dokter Ardan kembali menghampiri mereka berdua.
“Selagi menunggu keluarganya Deni datang ke mari, kami mohon pihak rumah sakit untuk tidak membeberkan kejadian ini,” ucap Aria pada Ardan.
“Apakah kedua jenazah akan dimakamkan malam ini atau besok? Menunggu keluarganya datang?” tanya Ardan.
Aria tidak mau kalau Deni dan Devi harus dimakamkan besok. Karena jika mereka dimakamkan besok, otomatis makhluk-makhluk yang mendiami mereka seperti diberi makanan.
“Malam ini saja, Dok. Biar saya yang menanggung semua biayanya,” tegas Rehan kepada Dokter Ardan.
“Baik, saya dan pihak rumah sakit akan membantu.”
Rehan langsung menuju resepsionis untuk membayar semua tagihan Deni dan istrinya. Karena banyak kerusakan. Tagihannya sangat membengkak. Namun, karena mengatas namakan persahabatan. Rehan tidak keberatan untuk membayar semuanya.
Setelah membayar semuanya, Rehan kembali ke teman-temannya.

Other Stories
Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Download Titik & Koma