Reuni

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Nie

Chapter 5

Sarah, Dania, Aria dan Rehan kembali berkumpul di rumah Rehan. Mereka janji untuk berkumpul sepagi ini setelah pemakaman Devi dan Aria.
“Tunggu, perasaan gue belom pernah ke rumah lo deh, Han. Tapi kok gue tau rumah lo, ya? Gak nyasar lagi.” Sarah memperlihatkan ekspresi bingung ketika mereka sudah duduk di sofa ruang tengah rumah Rehan.
“Iya, gue juga merasa baru kali ini. Tapi, kok gue ngerasa de ja vu?”
Sarah dan Dania merasa bingung. Beda dengan Aria yang memasang raut wajah yang enggan membicarakan hal itu, sedangkan Rehan tidak mengerti apa yang mereka maksud. Namun, kemudian Rehan ingat kamera Aria yang kemarin dia kembalikan.
“Oh iya, gue masih bingung juga, Ar. Kenapa bisa lo ketinggalan kamera sama tripod lo di Rumah gue? Bukannya lo juga baru kali ini ya, ke rumah gue?” tanya Rehan.
Aria menengok ke arah Rehan yang ada di sampingnya. Dia keget melihat sosok lain yang ada tepat di belakang Rehan, lalu Aria memalingkan wajahnya dan bersikap biasa saja karena dia yakin teman-temannya tidak melihat sosok itu.
“Gu-gue gak tahu, mungkin lo yang pernah pinjem ke gue,” ucap Aria tergagap.
Sorry guys, gue gak bisa ngomong yang sebenernya ke kalian, pikir Aria.
“Enggak ... gue gak pernah minjem kamera lo, kok.Tapi gak tahu juga sih, Gue lupa,” ucap Rehan.
“Iya, mungkin lo lupa.”
Sarah merasa kebelet ingin buang air kecil lalu dia menanyakan letak kamar mandi dan meminta Dania untuk mengantarnya. Rehan menunjukannya jika kamar mandi ada di sebelah dapur.
Rumah Rehan begitu luas dan banyak sekali ruangan yang terdapat di sana. Padahal menurut Rehan, di rumah ini hanya ditinggali oleh dia dan kedua orang tuanya. Tanpa ada pembantu ataupun penjaga rumah.
Klotrek ... klotrek ... klotrek_
Tak ... Tak ... Tak_
Sarah dan Dania mendengar suara gaduh saat mereka mendekati dapur.
“Tunggu, lo denger suara aneh, gak?” tanya Dania dan menghentikan Sarah.
“Iya. gue juga denger, kok! Tapi jangan dulu berpikir aneh. Gue beneran kebelet pengen pipis, nih.”
Sarah segera berlari masuk ke kamar mandi yang memang ada di sebelah dapur. Dania masih mematung di tempatnya berdiri dan melihat ke sekitar rumah ini. Dania melangkahkan kakinya pelan ke asal suara yang dia dengar semakin kencang. Arahnya masuk ke dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi yang dimasuki Sarah.
Dania melihat ada seseorang yang sepertinya sedang memasak tapi Dania tidak melihat wajahnya hanya bagian belakang saja yang dia lihat. Ketika dia ingin menyapa dari dekat, tiba-tiba terdengar suara Sarah yang memanggilnya beberapakali.
“Dan ... Dania ... Dania, lo di mana sih?”
“Ah,” Dania memutar badannya kembali menghampiri Sarah.
“Ya! Gue di sini,” jawab Dania dengan suara keras.
Dania menghampiri Sarah. “Lo dari mana, sih?” tanya Sarah.
“Enggak, tadi gue penasaran sama suara yang tadi kita denger. Eh, ternyata suaranya dari dapur. Gue lihat kayaknya ada yang lagi masak,” ucap Dania.
“Siapa? Mamahnya Rehan? Kita bantuin, yuk!” ajak Sarah.
Sarah dan Dania kembali berjalan ke dapur. Namun, saat mereka sampai di dapur ternyata tidak ada siapa-siapa sama sekali. Bahkan tidak ada bekas masakan atau apa. Bahkan tidak ada piring atau benda lainnya yang kotor. Dapurnya terlihat rapi dan tertata.
“Lah? Mana yang lagi masak?” tanya Sarah.
“Eh? Kok gak ada? Tapi tadi seriusan ada loh ... gue gak bohong.”
“Ah lo ngigo kali, gegara lo lapar. Lo belum sarapan, kan?”
“Enggak, tadi gue beneran lihat ada orang lagi bediri di sini. kayak lagi motong-motong gitu.”
Dania bersikeras menjelaskan kalau dia melihat seseorang di dapur, tapi Sarah tetap tidak percaya. “Oke, dari pada kita berdua ribut di sini. gimana kalau kita tanya si Rehan?”
Dania mengangguk, lalu mereka berdua berjalan ke ruangan tengah dimana Aria dan Rehan berada.
***
“Ar, lo merasa ada kejanggalan gak sih dari kematian Deni sama istrinya?” tanya Rehan penasaran.
Aria langsung menengokan kepalanya kearah Rehan dan berkata, “Menurut lo?” Dengan wajah sok kagetnya, membuat Rehan jengkel sendiri.
“Yaelah! Asem lo!” ucap Rehan melempar bantal sofa kearah Aria, “Gue serius nanya. Malah lo balik nanya, dasar Odeng!”
“Ya iyalah, gue juga ngerasa gitu. Bahkan gue rasa hidup gue ini penuh kejanggalan. Haha ....” Aria tertawa menanggapi kekesalan Rehan.
Dania dan Sarah datang dan langsung duduk di sofa.
“Han, gue mau nanya,” ucap Dania tiba-tiba.
“Nanya apaan? Nanya aja gak bayar ini, kok!”
“Mamah lo lagi masak ‘kan tadi di dapur?” tanya Dania ragu.
“Mamah?” tanya Rehan heran, “Mamah yang mana? Maksud lo Emak gue? Dia lagi gak ada di rumah. Belum balik, masih di luar kota sama Bapak. Jadi, gue sendirian di rumah ini,” lanjut Rehan menjelaskan.
Mendengar itu semua Dania merasa kaget. “Emangnya kenapa?” tanya Rehan lagi. Sarah tersenyum miris dan berkata, “Tadi si Dania katanya lihat seseorang yang kayaknya lagi masak, tapi dia gak lihat muka orangnya cuma bagian punggung doang dan tapinya lagi pas gue sama Dania balik lagi ke dapur dengan niat mau bantuin masak, ya dikiranya itu mamah lo. Tapi kagak ada.”
Rehan tercengang tidak bisa berkata-kata. Seketika semua pandangan melihat kearah Aria. Aria merasa risih dengan pandangan teman-temannya.
“Kalian pada kenapa, heh? Ngapain mandangin gue kek gitu dah?”
“Ar, bukannya lo bisa lihat makhluk kek gitu ya?” tanya Dania.
“Kata siapa?” tanya Aria so polos.
“Heleh, lo gak usah mungkir deh. Lo kan seorang vlogger yang lagi terkenal sama paranormal experience yang lo unggah di youtube,” ucap Rehan.
Aria sebenarnya enggan menjawab mengenai hal itu. Namun, terpaksa Aria menganggukan kepala sebagai jawaban.
“Gue emang gak percaya yang yang kayak gituan. Tapi, setelah beberapa hari, ah enggak. Baru dua hari ini gue ngerasa di teror sama makhluk astral dan beberapa kejadian yang gue lihat langsung sama mata kepala gue sendiri. Akhirnya gue kepaksa percaya sama hal yang kayak gituan ... ngomong gue kok berasa belibet ya?” tutur Sarah.
“Iya, gue juga merasa aneh. Awalnya itu gue ngimpi serem banget malem kemaren.Terus pas bangun gue udah ada di kamar gue. Tapi, gue gak inget sama sekali kalau gue pulang jam berapa ke rumah,” cerita Dania heboh,
“yang gue inget cuma gue ketemu kalian di reunian SD pas malem itu. Nih ya, badan gue keringetan banget, terus gue selalu ngerasa ada yang ngawasin gue. Tapi gue gak tau,” lanjutnya.
Rehan merasa aneh mendengar kata ‘reuni’ yang diucapkan oleh Dania. “Bentar, emang kapan kita ngadain reunian SD? Perasaan gue gak ada dateng deh,” ujar Rehan. Dia merasa benar-benar tidak mendatangi reuni yang dimaksud Dania.
“Lo juga dateng, kok. Beneran deh. Gue inget,” kukuh Dania.
Rehan tetap bersikeras menyebutkan jika dia tidak pernah mengikuti reuni SD selama 10 tahun karena memang tidak ada yang memberi tahunya mengenai reuni SD.
“Enak aja lo bilang. Gue selalu ingetin lo! Tapi lo nya aja yang pikun,” sangkal Aria seraya melempar Rehan dengan bantalan sofa. Rehan dengan sigap menangkap bantalan itu. Lalu dia kembali memasang wajah yang bingung.
“Eh, gue mau lihat dong ... kamera lo, pastinya ‘kan seorang vlogger selalu bawa-bawa kamera ke mana-mana,” kata Dania memohon.
“Enggak juga,” ucap Sarah.
“Beneran ih, Sar. Kebanyakan Vlogger itu suka bawa-bawa kamera ke mana-mana tau ... lo nya aja yang kudet!” sergah Dania.
“Kudet apaan dah?”
“Kurang update.” Dania tertawa setelah mengatakan hal itu.
“Gimana kalau kita streaming youtube aja.”
Namun tiba-tiba, dia terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ada sekelebat bayangan yang melintasi ruangan yang ada di seberang sana. Tepatnya dari arah belakang Aria, karena dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Aria.
“Tu-tunggu. Itu apaan?”
Dania tiba-tiba mematung dan menatap kosong arah di depannya. Aria yang pertama menyadari ada hal yang tidak beres langsung menghampiri Dania.
“Hey ... hey ... Dania kenapa?”
Aria dan Sarah mencoba mengguncangkan badan Dania. Namun, Dania tidak merespon apa-apa, badannya tetap kaku dan pandangannya tetap lurus ke depan.
“Aaaa ...!” Dania tetiba berteriak histeris karena melihat sosok yang berlumuran darah di hadapannya dan teriakannya sangat memekakan telinga semuanya. Setelah berteriak Dania lamas dan tidak sadarkan diri.
“Dan ... Dan ... lo kenapa? Ayolah, jangan becanda kek gini ... gue takut,” ucap Sarah panik seraya menepuk-nepuk pipi Dania.
“Oke, gue bener-bener gak paham apa yang sekarang terjadi sama kita.” Rehan berlari ke arah dapur dan membawa segelas air putih ditangannya.
“Pertama, Deni dan Devi yang mengalami kejadian aneh sampai mereka meninggal yang menurut gue dengan cara yang sama sekali enggak wajar,” ucap Rehan kemudian.
Mereka semua memasang wajah paniknya. Aria ingin sekali mengatakan pada semuanya kalau dia mengetahui sesuatu. Tapi, entah kenapa lidahnya terasa kelu dan tidak berani untuk mengatakan apapun.
“Oh, iya. Ar, gue mau lihat kamera yang kemarin gue kasih ke lo. Gue rasa itu kamera adalah kunci buat kita mengetahui segalanya,” ucap Rehan kemudian yang membuat Aria kaget tapi dia bisa mengatasi ekspresi kagetnya, sehingga tidak terlalu kentara.
“Kamera?”
“Berarti bener kata Dania kalau seorang vlogger biasanya selalu membawa kamera. Siapa tahu lo rekam kita waktu reuni waktu itu,” timpal Sarah.
Aria merasa ragu menunjukan isi kameranya. Meski dia sendiri lupa-lupa ingat dengan apa saja isi kamera yang memang sekarang dia bawa. Aria hanya ingat dia memang merekam pas waktu reuni di Gedung itu, tapi untuk yang permainan yang dia ingat adalah usulan darinya dia tidak tahu merekam atau tidak kejadian itu. Namun, karena kamera dan tripodnya tertinggal di rumah Rehan. Sudah pasti dia merekam juga.
“Hey, Dania sadar tuh,” ucap Rehan.
Sarah beringsut membantu Dania untuk duduk. “Lo kenapa, Dan?”
“Kepala gue sakit banget, emang gue kenapa?” Dania malah balik tanya dan memasang wajah bingungnya.
“Udah, lo jangan berpikiran negatif pokonya,” ucap Aria pada Dania.
“Cepet, Ar. Lo keluarin kamera lo dan kita lihat apa aja yang lo rekam waktu reuni. Karena gue yakin apa yang kita alami beberapa hari ini adalah setelah reuni itu,” ucap Sarah yang masih berusaha membangunkan Dania yang masih tidak sadarkan diri.
“Nya engke heula, atuh[1]!” jawab Aria dengan bahasa Sunda.
Aria mengeluarkan kameranya dan mengeluarkan memori yang ada pada kamera itu lalu memasangnya ke card reader. Rehan memasangkan card reader ke televisi LCD yang ada di ruangan itu.
“Kemaren kita waktu reuni tanggal berapa, sih?” tanya Aria.
Terlihat ada beberapa list vidio yang terdapat di sana. Beberapa ada yang tertulis nama ada juga yang hanya tertulis tanggal saja.
“Kalau gak salah 20 September,” ucap Dania mengingat.
“Di sini ada 4 vidio yang tertulis tanggal itu. Kita liat satu-satu.”
Aria membuka vidio yang paling bawah yang bertuliskan tanggal yang disebutkan oleh Dania. Ternyata itu isinya saat dia keliling dan mewawancarai teman-temannya di acara reuni SD itu. Dilanjukan pada video yang ke dua isinya saat dia memperkenalkan mereka semua.
“Kayaknya gak ada hal yang berarti di dua vidio yang udah kita puter,” kata Rehan menyerah.
“Bentar dulu, kita belum lihat video yang satunya. Siapa tahu ada petunjuk di vidio ini,” sergah Dania dengan mata yang tetap fokus pada layar LCD itu.
Lalu Aria membuka video yang ketiga, awal video itu terlihat mereka duduk melingkar.
“Tu-tunggu. Apa yang kita lakuin waktu itu?” tanya Rehan.
“Ssst ... bentar dulu, lihatin aja.”
“Posisinya itu di lantai atas rumah ini, kan? Rumah gue? Kok bisa?” Rehan malah semakin bertanya membuat Dania ingin sekali membekap mulut Rehan.
“Lo diem dulu deh, lihat dulu vidoonya.”
Aria terdiam dan mengingat-ingat kejadian waktu itu. Namun, nihil. Dia tidak mengingat apapun kecuali pada saat di gedung tempat reuni.
“Kok yang dinyanyiin ayang-ayang gung? Ini kita lagi ngapain sih?”
“Pemanggilan roh halus,” celetuk Sarah.
“Lo percaya yang gituan, Sar?” tanya Dania.
“Gak tau kenapa gue sedikit inget kejadian ini. Apa mungkin, kita terkena teror karena kita pernah ngadain semacam ritual?” tutur Sarah meski dengan wajah bingungnya.
“Kenapa jadi gelap?” tanya Rehan melihat Vidionya yang masih berjalan namun semuanya gelap.
“Suara Aria menyebut nama Deni,” gumam Dania.
Semua mata tertuju pada Aria yang dari tadi hanya dia melihat vidio itu terputar.
“Ar, videonya kenapa? Rusak?”
Aria menggelengkan kepalanya pelan dan menunjuk pada layar LCD yang ada di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Semuanya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Aria. Bukan pada LCD-nya tapi pada tembok di belakang LCD itu tiba-tiba mengeluarkan cairan aneh berwarna merah pekat.
“I-itu apaan? Kenapa tembok rumah gue kek gitu?”
[1] “Iya tunggu dulu, atuh!”

Other Stories
Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Devils Bait

Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Download Titik & Koma