Chapter 6
“Aria, gue harap lo jelasin semua ini sama kita!” ucap Sarah dengan nada marah.
Aria hanya terdiam karena dia bingung apa yang harus dia katakan di situasi yang seperti ini.
“Ar, lo tahu sesuatu, ‘kan?” tanya Rehan pelan.
Aria mengacak rambutnya frustrasi, lalu dia bangkit dari duduknya dan menghampiri layar LCD dan mengeraskan volume suaranya. Terdengar dari LCD yang menampakan kegelapan itu suara yang bercampur antara suara berat laki-laki, suara perempuan dan suara anak kecil.
“Apa maksudnya semua ini, Ar? Gue minta penjelasan dari lo!” Sarah bertambah marah melihat apa yang dilakukan oleh Aria yang menurutnya tidak menjawab pertanyaannya yang tadi.
“Gue yang salah di sini ... maaf,” ucap Aria lemah.
“Ar! Lo kenapa sih? Gue geli lihat lo kek gini. Kalau lo yang merasa bersalah di sini, harusnya kita nyari jalan keluar! Bukan malah pasrah!” kata Sarah emosi.
“Lantas? Gue harus gimana? Gue udah berusaha dengan kemampuan yang gue bisa. Tapi hasilnya nihil. Mereka tetep bakalan ganggu kita.” Aria kembali duduk di sofa.
“Jadi, lo nunggu ada di antara kita yang jadi korban lagi? Lo lihat kan gimana nasib Deni, Devi dan juga bayi yang dikandungnya?“
“Udah! Sekarang kalian diem dulu. Tenangin pikiran kalian. Kita cari jalan keluarnya bareng-bereng,” potong Rehan mencoba melerai pertengkaran Sarah dan Aria.
“Kalian inget Dokter Ardan yang waktu itu ngebantu pemakaman Deni dan Devi, gak?”
“Emangnya kenapa, Han?”
“Gimana kalau kita tanya ke dia mengenai masalah kita ini? Siapa tahu dia tahu juga, seperti dia tahu kalau tubuh Deni dikendaliin sama makhluk lain.”
Mereka semua mengangguk paham, kecuali Aria.
Sarah semakin kesal dengan tingkah Aria. Namun, dia berpikir lebih baik untuk mengabaikannya dan berusaha fokus pada masalah ini.
Rehan memang selalu merasa ada yang tidak beres di rumahnya ini. Namun, dia tidak pernah melihat makhluk apapun di rumah ini seperti apa yang dilihatnya di rumah sakit.
Dania, Sarah dan Aria terdiam. Mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing membuat ruangan ini sepi setelah vidio itu berakhir.
***
Keesokan harinya, seperti yang dikatakan Rehan. Mereka berempat berjanji berkumpul di taman kota. Dimana taman ini dekat dengan rumah sakit tepat Deni dan Devi kemarin dirawat.
Rehan dan Aria sudah berada di taman kota ini sejak lima belas menit yang lalu dan kini tengah menunggu Sarah dan Dania yang katanya masih ada kelas.
Tidak berapa lama kemudian Sarah dan Dania datang menghampiri mereka berdua. “Sorry, guys! Baru selesai soalnya.”
“Oke, gak papa.”
“Jadi, gimana? Kita mau datengin dokter itu sekarang?” tanya Dania pada Rehan “kenapa gak kedukun aja?” lanjutnya.
“Hush! Sembarangan aja. Udah pokoknya kita tanya dulu sama dokter itu. Gue lihat kayaknya dia punya kemampuan kayak si Aria.”
Aria menengok ke arah Rehan meski dia tidak membalas ucapan Rehan, lalu dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Tapi, kata orang hantu datangnya malem, kan? Gak mungkin siang?” tanya Dania.
“Persepsi dari mana itu?” tanya Aria yang mulai bersuara.
“Mau siang ataupun malam, makhluk kayak gitu emang ada. Mereka hanya membutuhkan energi yang besar untuk menampakan diri di hadapan manusia. Tapi, ada juga yang terkena sial. Itu sih dari yang gue baca,” tutur Sarah menjelaskan.
“Sial? Maksudnya?”
“Iya, jadi gini. Makhluk halus atau biasa kita sebut hantu itu jika tanpa sengaja menampakan dirinya kepada manusia atau manusia melihat sosoknya, bisa jadi makhluk itu terkena sial atau manusianya yang terkena sial, Begitu.”
“Dan sepertinya kita terkena sial karena melakukan ritual itu,” ucap Aria.
Semua padangan melihat ke arah Aria. Kemudian Dania berkta, “Kok lo tahu banyak mengenai hal kek gituan lo kan biasanya bilang, ’gue gak percaya hal-hal yang menurut gue gak logis.’ Gitu kan? Terus kenapa sekarang tau banyak sama yang kek gituan, Sar?”
“Ya ... setelah beberapa hari kemaren gue digangguin mulu sama tuh makhluk sampai-sampai mereka ngebuat gue gak bisa mandi, ya terpaksa gue harus percaya dan langsung nyari buku mengenai hal ini.”
“Hidup lo buku semua. Gak paham gue,” ucap Dania.
“Jadi, mau kapan nih kita datengin si Dokter?” tanya Sarah.
“Sekarang. Lo berdua bawa kendaraan gak?”
Sarah dan Dania menganggukan kepalanya bebarengan. Lalu mereka berempat bergegas menuju rumah sakit itu.
Perjalanan dari taman kota ke rumah sakit tidak begitu jauh, sehingga hany memerlukan waktu kurang dari 5 menit. Bahkan, dengan jalan kaki pun bisa ditempuh dengan cepat.
Mereka berempat kini sudah ada di parkiran rumah sakit. Lalu mereka berjalan menuju pintu utama rumah sakit.
“Maaf, Bu. Mau tanya, Dokter Ardannya ada di ruang mana ya?” tanya Rehan pada petugas resepsionis.
“Apakah Anda sudah ada janji?”
“Belum, Bu. Tapi saya dan temen-teman saya ada keperluan dengan Dokter Ardan.”
“Sepertinya Anda harus membuat janji dulu dengan beliau, soalnya beliau tidak hanya menjadi dokter di sini tapi dia juga membuka praktik di jalan mekar sari.”
“Apakah kita bisa bertemu beliau hari ini?”
“Maaf, saya tidak tahu dan tidak bisa memastikannya,” ucap resepsionis utu tersenyum.
“Terima kasih.”
Mereka berempat kemudian berjalan menuju pintu ruma sakit dan hendak keluar. Namun, seperti sudah takdir mereka. Dokter Ardan yang mereka cari ternyata ada di parkiran. Sepertinya dia baru datang. Rehan, orang pertama yang menyadari kedatangan dokter Ardan.
“Dokter!” sapa Rehan seraya berjalan cepat menghampiri Ardan.
“Ya, ada perlu apa?”
“Saya Rehan, Dok.”
Rehan menyodorkan tanganya untuk bersalaman dan disambut baik oleh Ardan. “Saya dan mereka adalah teman dari pasien yang bernama Deni yang kemarin meninggal di rumah sakit ini.”
Ardan mengangguk dan berkata,”Lalu, ada perlu apa kalian mendatangi saya?”
“Waktu itu kan Dokter bilang kalau dokter adalah orang yang percaya akan hal ghaib. Jadi kami mau minta bantuan sama Dokter,” ucap Dania.
Sekilas Ardan melihat sekeliling dan ternyata ada beberapa makhluk yang memang mengikuti keempat remaja ini.
“Sebaiknya kalian temui saya malam nanti setelah saya selesai bertugas. Namun, saya tidak tahu apakah bisa membantu kalian atau tidak,” ucap Ardan.
“Kalau begitu, apa boleh saya meminta kontak Dokter?”
“Silakan.”
Setelah memberikan kontaknya pada Rehan, Dokter yang bertubuh tinggi besar itu pamit untuk kembali bertugas dan menginggalkan mereka berempat.
***
Sarah, Dania, Rehan dan Aria kini sudah sampai di rumahnya Sarah. Mereka memilih Rumah Sarah karena lebih dekat ke rumah sakit dari pada rumah lainnya.
“Sar, lo tinggal sendirian di sini?” tanya Dania.
“Kalau sekarang sih iya, soalnya kan Mama sama Bapak di Jakarta. Karena gue kuliah di sini, ya terpaksa gue tinggal sendiri.”
“Kita bener gak sih minta bantuan ke Dokter itu?” tanya Sarah. “Secara kan biasanya seorang dokter itu selalu berpikir logis.”
“Kalau menurut gue sih, kita harus yakin aja.”
Sarah dan Dania membawakan minuman dan makanan kecil untuk Aria dan Rehan di ruang tamu.
***
Lama mereka semua menunggu, terdengar suara air yang mengalir dan seperti ada orang yang sedang mandi di kamar mandi yang tidak jauh dari ruang tamu. Aria menengok ke sana ke mari tapi yang dia lihat rumah ini sepi dan hanya ada mereka di ruangan ini berkumpul.
“Sar, di rumah ini beneran lo doang?”
Sarah menganggukkan kepalanya sambil memainkan ponselnya dengan posisi tiduran diatas sofa panjang dan merasa tidak mendengar atau melihat apa-apa.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berlari ke atas tangga.
“Terus? Itu suara siapa?” tanya Dania yang mulai sadar.
Sarah berhenti memainkan ponsel dan bangun dari posisi tidurnya. Sarah mencoba manajamkan perdengaran tapi tetap tidak ada apapun yang didengarnya.
“Kalian denger apaan, sih? Gue gak denger apa-apa, beneran dah!”
“Masa sih gak denger?” tanya Dania.
“Han, lo denger sesuatu gak?”
“Gak, denger apaan emang?”
Dania berjalan ke arah tangga dan memastikan kalau dia melihat ada sesuatu di sana. Sarah mengekorinya dari belakang. Namun, tidak ada apapun yang di temuinya sampai di lantai atas juga.
“Emangnya lo denger apaan, sih?”
“Gue denger ada yang lari di tangga sini. Suaranya itu jelas banget, Sar ... masa lo gak denger?”
Sarah menggeleng pelan tiba-tiba muncul sosok yang sangat menyeramkan dengan wajah yang seperti meleleh di belakang Dania membuat Sarah kaget dan tersandung kakinya sendiri.
“AAA ....”
“Sarah! Lo kenapa?”
Sarah terguling sampai tangga yang paling dasar. Rehan serta Aria menghampiri Sarah yang tidak sadarkan diri dan berdarah di bagian kepalanya.
“Sarah kenapa, Dan?” tanya Rehan heran.
“Gue gak tahu, dia menjerit dan terjatuh. Gue ada di atas. Kejadiannya cepet banget, gue gak bisa nolongin dia ....” ucap Dania menangis.
“Udah, sekarang kita bawa dia ke rumah sakit. Ar, lo yang bawa motor dan Dania, lo pegangin Sarah di belakang. Gue yang bantu naikin dia ke motor.”
Rehan memangku Sarah. Lalu seperti yang disebutkannya tadi, Aria yang membawa motor. Lalu Rehan membawa motor sendiri.
“Kalau aja gue bawa mobil,” gumam Rehan.
***
Sesampainya di rumah sakit. Rehan kembali memangku Sarah dan membawanya ke dalam kemudian dibantu oleh beberapa petugas medis dan dibawa ke ruangan UGD.
Dania menangis terus menerus. Merasa ini semua adalah salahnya karena mengajak Sarah mencari asal suara yang dia dengar.
“Udah, Dan ... jangan nyalahin diri lo sendiri. Kita berdoa aja semoga si Sarah gak kenapa-kenapa,” ucap Aria mencoba menenangkan Dania.
Aria juga merasa bodoh dan kemampuan ‘melihat’nya terasa tidak berguna. Aria yang biasanya bisa berkomunikasi dengan makhluk lain. Namun, entah kenapa kini dia merasa kemampuannya hilang begitu saja.
“Sekarang? Apa yang harus kita lakukan? Apa gue harus pamit sama Emak Bapak gue?” tanya Dania yang merengek seperti anak kecil.
“Ssst! Udah lo diem dulu,” ucap Aria.
Rehan seperti biasa dia sedang mengurus bagian administrasi di resepsionis. Rehan datang menghampiri Aria dan Dania setelah mengurus seemuanya. Kemudian dia menghubungi dokter Ardan.
“Maaf, Dok. Saya menghubungi dokter. Salah satu teman saya sekarang masuk UGD. Kalau boleh, saya mau dokter yang menangani teman saya.”
***
Terlihat dari kaca besar pembatas, beberapa petugas medis sedang melakukan pemeriksaan terhadap Sarah.
Aria, Rehan dan Dania hanya bisa berdoa untuk keselamatan Sarah.
“Dan, lo tahu kontak orang tuanya si Sarah gak?”
Dania menggeleng pelan dan berkata, “Gak, gimana dong?”
Dokter Ardan datang menghampiri mereka bersamaan dengan keluarnya seorang dokter yang menangani Sarah di ruang UGD.
“Dok, bagaimana keadaan Sarah?” tanya Dania panik.
“Teman kalian masih hidup, tapi kami tidak tahu kapan dia akan terbangun. Maaf, kami tidak bisa memastikannya,” ucap Dokter yang menangani Sarah.
“Biarkan saya yang mengambil alih penanganan terhadap pasien Sarah,” ucap Ardan tegas.
“Kalau begitu, urus berkasnya di ruangan saya,” kata Dokter yang bertubuh gempal itu.
Ardan mengangguk paham. Lalu dokter tadi berlalu meninggalkan mereka.
Ardan kemudian menugaskan kepada para perawat untuk memindahkan Sarah ke ruang rawat. Kemudian dia berkata kepada Rehan, Aria dan Dania untuk tenang.
“Teman kalian disukai oleh makhluk ini. Kemungkinan besar dia masih bisa di selamatkan. Saya perlu tahu masalah apa yang kalian perbuat hingga mereka datang mengganggu kalian,” ucap Ardan.
“Kami melakukan semacam ritual, Dok.” Aria menjawab dengan lemah.
Mendengar hal itu, Ardan merasa kaget tapi dia bisa mengontrol ekspresinya agar tetap terlihat biasa saja.
“Kita semua perlu bicara. Saya rasa tidak akan ada hal yang akan terjadi pada teman kalian,” ucap Ardan.
Mereka bertiga kemudian mengangguk dan mengikuti ke mana Ardan pergi.
***
Ardan mengajak mereka ke rumahnya menggunakan mobil miliknya. Rumah Ardan memang besar bergaya modern bertingkat. Di lantai bawah dia alokasikan untuk praktek dokternya. Ardan membuka praktek sebagai dokter umum.
Ardan mengajak mereka bertiga ke lantai atas rumahnya. Di salah satu ruangan yang luas bercat putih dan ruangan ini kosong tanpa apapun. Bahkan tanpa kursi, meja ataupun sofa, hanya ada karpet bulu yang tergelar di sana.
“Kalian duduk saja di sana,” ucap Ardan kemudian dia keluar dari ruangan itu.
“Kalian merasa aneh gak sih sama dokter ini?” tanya Rehan.
Dania mengangguk tapi berbeda dengan Aria. Dia terus saja melihat ke arah pojok ruangan.
“Ar, lo kenapa?” tanya Dania menepuk pelan pundah Aria.
Aria menunjuk pojok ruangan yang terus dia tatap. Dania terkejut dan menutup mulutnya agar tidak berteriak, sosok hitam seperti kabut dengan wajah yang seperti meleleh.
“Dia tidak akan mendekati kalian.” Suara Ardan terdengar.
Mereka bertiga melihat ke arah pintu yang ternyata Ardan sudah berdiri dengan nampan berisi gelas dan teko di tangannya.
“Dokter gak takut sama yang gituan?” tanya Dania polos.
“Ketakutan malah akan membuat energi mereka bertambah besar. Kita manusia, kita lebih unggul dibanding makhluk seperti mereka. Namun, mereka juga tidak ingin kalah dari kita, untuk itu kita yang harusnya tetap menang.”
Ketiga sahabat itu menganggukan kepalanya bersamaan.
“Saya masih heran, kenapa dokter bisa percaya sama hal kayak gini?” tanya Rehan.
“Sebenarnya saya memiliki masa lalu yang kelam pada hidup saya. Ketika dulu saya ditinggalkan oleh semua keluarga saya karena ulah saya sendiri.”
***
20 tahun yang lalu
Saat itu saya berusia 10 tahun. Seperti biasa saya bermain dengan teman-teman sebaya. Memainkan semua permainan anak-anak zaman dulu. Kalian pasti tahu jika zaman dahulu setiap permainan anak-anak pasti ada nyanyiannya baik itu sepdur, ayang-ayanggung, dan yang lainnya.
Kegembiraan kami pada waktu itu sangatlah terasa, tidak ada beban sama sekali. Hingga pada saat itu jugalah untuk pertama kalinya saya bisa ‘melihat mereka’. Memang mungkin kami yang anak kecil yang hanya memikirkan kesenangan bermain saja dan tidak mau mendengar apa kata orang tua. Kata mereka, “Ulah ameng burit-burit, sareupna.[1]”
Namun, kami asik bermain sampai waktu menjelang magrib. Permainan yang kami lakukan terakhir adalah ucing-ucingan, gatrik dan gobag. Awalnya kami tidak tahu apa yang terjadi di kampung kami. Udara terasa panas dan banyak kabut asap yang tebal di mana-mana.
Waktu itu kami yang hanya anak kecil panik dan menangis. Aku hanya bisa melihat banyak orang berlari ke sana kamari dalam kebingungan. Tiba-tiba banyak rumah-rumah yang kulihat terbakar. Kampung kami seperti kampung mati yang terbakar.
Saya berlari ke rumah. Namun, nahasnya rumah sudah habis terbakar juga, saya tidak tahu kemana orang tua saya. Saya berlari kesana dan kemari di tengah-tengah perkampungan yang terbakar itu. Saya terjatuh dan melihat ada orang yang seluruh tubuhnya terbakar. Saya tidak tahu siapa orang itu. Dia berlari ke sana ke mari dan kemudian terjatuh dan berguling di tanah. Saya melihat sedikit demi sedikit api itu padam dan seluruh badannya melepuh, matanya keluar dan pecah, beberapa menit kemudian dan yang selepuh itu seperti meleleh bagaikan lilin yang habis oleh api menjadi cairan. Kejadian itu sangat membekas di kepala saya.
Dari sana saya tidak ingat apa-apa lagi dan ketika saya terbangun saya merasa ada di suatu tempat yang aneh. Saya malah berada di sebuah hutan yang begitu lebat tapi banyak mayat yang berserakan di sana. Di tempat itu saya mendengar lagu-lagu tradisional anak-anak dinyanyikan. Terutama lagu ayang-ayanggung.
Namun, entah kenapa semakin saya mendengarkan lagu itu semakin membuat saya merasa tercekik dan kehilangan napas. Saya yang saat itu masih sangat kecil untuk mengerti apa yang terjadi hanya bisa mengangis memanggil-manggil orang tua saya.
Setelah itu saya terbangun lagi tapi bukan di tempat tadi, melainkan berada di rumah sakit. Dengan kondisi tubuh saya yang menyakitkan dan di bagian kaki ada luka bakar yang tidak pernah hilang sampai sekarang. Seperti ini. Tanda di kaki ini bukanlah tanda lahir meskipun bentuknya agak aneh, membentuk spirall seperti cap yang disengaja.
Untungnya, orang tua saya masih hidup. Mereka juga selamat dari kejadian itu. Teman-teman sepermainan saya tidak ada yang selamat satupun.
Dari sana saya sering merasa ketakutan karena terlalu banyak apa yang saya lihat. Bahkan yang lebih parahnya saya waktu itu kadang tidak bisa membedakan mana makhluk halus dan mana makhluk yang nyata.
***
“Jadi, coba kalian ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sampai kalian diganggu oleh makhluk seperti mereka?”
“Kami melakukan ritual pemanggilan.”
“Ritual pemanggilan apa yang kalian maksud? Semacam jailangkung atau oija?”
Aria mengangguk. Dania dan Rehan hanya bisa terdiam, karena mereka benar-benar lupa akan kejadian ritual yang Aria maksud.
“Di mana kalian melakukannya?” tanya Ardan.
“Di rumah milik Rehan.”
Rehan terkejut meski dia sudah tahu waktu pemutaran video itu. Dania dan Rehan hanya bisa saling tatap dan terdiam.
“Kalian harus melakukan ritual itu kembali atau kalian akan diganggu sampai kalian meninggalkan dunia ini atau kalian bisa mengendalikan mereka, bukan mereka yang nantinya akan mengendalikan kalian.”
Aria terkejut mendengarnya. Dia tidak mau melakukan ritual itu lagi.
“Kenapa? Kamu tidak mau?” tanya Ardan, “bukankah kamu yang mengajak teman-temanmu ke dalam gangguan mereka?”
Aria terdiam dan tidak mau menjawabnya. Rehan dan Dania bertambah bingung dangan apa yang Ardan dan Aria bicarakan.
“Kalau begitu, kalian hilangkan dulu rasa takut kalian. Jika kalian masih merasa takut, maka mereka malah akan sangat senang karena bisa menyerap energi ketakutan kalian dan menambah rasa takut pada diri kalian.”
“Kalau gitu, kita siap melakukan ritual itu lagi.” Dania berucap tegas dan optimis.
“Apakah harus di rumah saya lagi atau di mana saja?” tanya Rehan ragu.
“Ritual tidak harus dilakukan ditempat yang sama, soalnya makhluk yang kalian panggil bukan makhluk yang mendiami suatu tempat. Tapi, makhluk-makhluk ini mengikuti satu persatu di antara kalian atas dasar rasa takut kalian,” jalas Ardan.
“Bagaimana kalau kita lakukan di sini saja?” tanya Aria langsung.
“Apa kamu bawa peralatan yang kamu butuhkan?”
“Tidak, tapi alat-alatnya tidak susah untuk dicari. Hanya membutuhkan beberapa utas pita atau tali, dan juga spidol.” Aria menjelaskan apa saja yang dia butuhkan dan bagaimana cara melakukan ritualnya.
“Sebenarnya saya iseng melakukan ritual ini. Namun, entah kenapa saya yakin dengan ritual ini pada awalnya tidak akan berakibat apa-apa karena yang saya pikir adalah, ‘Dulu kami sering menyanyikan lagu itu waktu kecil dan tidak ada yang salah dengan semua lagu-lagu tradisional itu.’ Kesalahan saya adalah saya tidak mengantisipasi hal yang tidak diinginkan akan terjadi,” tutur Aria.
“Lantas? Kenapa kamu memilih lagu anak-anak zaman dulu untuk ritual ini? Padahal jika kamu mungkin ingat, orang tua dahulu sering berkata, ‘Ulah ulin burit teuing atawa peuting teuing, pamali.’ Yang salah di sini bukanlah karena lagunya tapi kalian tidak melihat waktu yang kalian gunakan ” tanya Ardan.
“Saya merasa lagu itu sangat menjiwai dan tepat untuk dijadikan lagu untuk pemanggilan roh. Karena yang saya tahu arti dari lagu itu adalah pemberontakan melawan penjajah jaman dahulu, itulah yang saya baca di situs-situs internet.”
“Sebenarnya, makhluk-makhluk itu akan terus mengganggu kalian karena kalian yang mengganggu mereka terlebih dahulu. Jadi, kalian harus bertanggung jawab apa yang sudah kalian perbuat. Sekali lagi saya ingatkan hilangkan rasa takut kalian dan perkuat iman kalian.”
“Berarti? Apakah kita bisa melakukan ritual itu sekali lagi?” tanya Dania.
Semuanya diam dan suasana kembali hening. Lalu suara dering telepon memecahkan keheningan itu, yang ternyata handphone milik Ardan yang berbunyi.
“Ya, saya akan segera ke sana,” ucap Ardan pada si penelpon.
“Ada apa, Dok?”
“Teman kalian, Sarah. Kondisinya sekarang memburuk. Sepertinya itu adalah kelakuan dari makhluk-makhluk itu. Roh Sarah nantinya tidak akan tenang. Saya sarankan kalian cepat mengambil keputusan. Apakah kalian ingin menyelamatkan Sarah atau kalian menunggu Sarah meninggalkan dunia ini dan mereka akan terus memburu kalian satu persatu,” tutur panjang Ardan.
“Saya tidak bisa menemani kalian lama-lama.”
***
Badan yang terbujur kaku dan sedikit-sedikit berubah menjadi biru itu membuat para perawat yang ada di sana kewalahan dengan reaksi yang terjadi. Mereka berpendapat jika pasiennya mengalami alergi. Namun mereka salah, tiba-tiba pasien yang di ranjangnya tertulis nama Sarah itu membuka matanya lebar.
“Pasiennya sadar,” ujar perawat bertubuh tinggi.
“Tidak, dia belum sadar sepenuhnya.” Suara Ardan membuat semua perawat yang ada di sana menengok ke arahnya.
“Ambilkan saya obat penenang dan Air putih,” ucap Ardan kembali.
Seorang perawat keluar dari ruangan ini lalu kembali lagi dengan apa yang diminta oleh Ardan.
Benar saja firasat yang dirasakan oleh Ardan. Tubuh Sarah kini bergetar hebat dan tetiba ranjang pasien yang ditidurinya terangkat melayang. Membuat semua perawat yang ada di sana berteriak.
“Saya harap kalian tenang, ini bukan apa-apa. Kalian harus yakin pada diri kalian dan iman kalian!” triak Ardan mencoba menenangkan semuanya.
Entah dari mana angin kencang berhembus di ruangan itu, membuat semua barang yang ada di sana beterbangan kemana-mana. Semua orang kecuali Ardan keluar dari kamr itu. Kemudian Ardan melakukan hal yang sama dengan apa yang dulu dia lakukan kepadan Deni. Dia meniup air putih yang dibawanya dan menyiramkannya ke arah Sarah.
Namun, reaksi Sarah tidak sama dengan reaksi Deni waktu itu. Sarah masih tetap ada di atas ranjang pasiennya dan melayang ke sana ke mari di langit-langit ruangan ini. Ardan sempat bingung harus melakukan apa. Namun, dia berusaha fokus dengan apa yang akan dilakukanya.
“Jangan ikut campur!” ucap suara yang keluar dari mulut Sarah. Namun, suara itu bukan suara Sarah, melainkan suara berat laki-laki yang terdengar sangat serak.
“Alammu bukan di sini! Kembalilah kau ke alam asli mu!” teriak Ardan.
Dengan bantingan yang sangat keras, ranjang pasien itu jauh ke bawah dan terlihat Sarah dengan tubuh yang membiru dengen posisi duduk bersila di atas ranjang pasien.
“Kamu bukan Sarah! Kamu keluar dari tubuhnya!” teriak Ardan.
Sarah malah tertawa seperti anak kecil lalu kemudian dia menangis seperti menahan sakit.
“To-tolong saya, Do-ok-ter ....” rintih Sarah di sela tangisannya.
Ardan mencoba untuk fokus mendengar mana suara yang benar-benar Sarah. Karena, jika suara Sarah masih bisa didengar, maka dia masih bisa menyelatkan Sarah. Pikirnya.
Atmosfer yang ada di ruangan itu terasa semakin mencekam. Para perawat yang ada di sana beberapa memilih untuk keluar dari ruangan itu karena mereka merasa tidak bisa bernapas.
Tubuh Sarah lalu turun dari ranjang itu dan menerjang Ardan yang ada di hadapanya. Karena belum siap, Ardan terjengkang ke belakang. Mata Sarah yang melotot sampai seperti akan membuatnya keluar dari matanya.
“Kenapa banyak yang menganggu kami?” ucap suara berat laki-laki dari mulut Sarah.
“Apa yang mau kamu lakukan?” Ardan bertanya.
“Biar aku membawanya, akan aku jadikan dia mainanku.” Suaranya berubah menjadi anak kecil.
“Aku mohon, pergi dari tubuh perempuan itu!”
“Aku mengingatmu! Ha ha ha.” Kini suara Sarah terdengar cempreng dengan tawa yang melengking. Membuat telinga Ardan sakit.
Sarah menjauhi Ardan dan berjalan ke menja nakas yang ada di dekat ranjang pasien. Entah tahu dari mana. Di dalam laci yang ada pada nakas itu terdapat sebuah gunting, gunting yang lumayan besar itu diambilnya dan ditimang-timang seraya tertawa keras.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Ardan terkejut.
Sarah mengangkat tinggi-tinggi gunting itu, lalu tanpa aba-aba dia tusukan berkali-kali ke perutnya, darah merembes keluar dari perutnya dan berceceran ke mana-mana. Seperti tidak merasa sakit sedikit pun Sarah menusuk perutnya berkali-kali.
Sontak Ardan yang terkejut tidak bisa berkutik, badannya tidak bisa dia gerakan seperti ada yang menahanya. Lama kelamaan terlihat tubuh Sarah yang melemah. Sepertinya Sarah sudah kembali kepada kesadarannya. Namun, beberapa saat kemudian Sarah jatuh tersungkur ke lantai dengan gunting yang masih ada di tangannya dan perut yang sudah berlubang.
Ardan merasa ini adalah kegagalannya yang kesekian kali dalam menyelamatkan hidup pasiennya.
[1] “Jangan main sore-sore, sareupna.”
Other Stories
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap
Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Pasti Ada Jalan
Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...