Chapter 7
Kini Aria sudah selesai dengan gambarnya, lalu dia mencoba untuk mengambil pita yang tadi diberikan oleh Ardan.karena kini yang melakukan ritual hanya tiga orang. Maka, Aria memodif tali pita itu menjadi tiga ujung yang sama panjang dan menandai ujung pita yang dipegangnya.
“Oke, seperti kata Dokter Ardan. Waktu kita tidak banyak, kita membuka portal untuk para makhluk ini agar bisa kembali ke alamnya dan kita harus berjanji untuk tidak menganggu mereka.”
Rehan dan Dania mengangguk paham. Dalam hati mereka berharap semoga Sarah ada dalam kedaan baik-baik saja.
Lalu mereka memejamkan mata mereka dan membukanya kembali, sambil memindah tangankan ujung pita itu mereka bernyanyi.
Ayang-ayanggung
gung goongna ramé
ménak Ki Mas Tanu
nu jadi wadana
naha manéh kitu
tukang olo-olo
loba anu giruk
ruket jeung Kumpeni
niat jadi pangkat
katon kagoréngan
ngantos Kangjeng Dalem
lempa lempi lempong
jalan ka Batawi ngemplong
ngadu pipi jeung nu ompong
Pas di bagian akhir, Aria melihat kalau ujung tali yang beda dipegang oleh Rehan lalu dia berteriak menyebut nama Rehan. Membuat Rehan langsung memegang erat pita itu dan memejamkan matanya.
“Jangan lepaskan tali pitanya agar kita tidak berpencar,” ucap Aria.
Dania langsung merekatkan pegangannya pada tali pita yang dia pegang.
Kini mereka merasakan berbagai bau di penciumannya, berbagai suara di pendengaran mereka, juga mereka merasakan berputar-putar meski dalam posisi duduk. Tidak lama kemudian mereka semua berada di sebuah hutan bambu yang gelap dan tepat di depan rumah yang dindingnya terbuat dari bambu.
“Gue pernah ke sini,” ucap Rehan.
Aria dan Dania memandang ke arah Rehan,
“Kapan lo ke sini?”
“Dalam mimpi sebelum gue nemuin kamera lo ada di depan kamar gue.”
Dania merasa bingung, karena dalam mimpinya dia berada di tempat gelap bersama Sarah waktu itu, tapi dia tidak mengingat apa-apa lagi setelah itu.
KRASAK!
Terdengar suara ranting yang terinjak, mereka bertiga kaget dan berusaha mencari asal suara itu.
“Ka-kalian denger suara tadi?”
Aria dan Rehan mengangguk setu dengan pertanyaan Dania. Mereka lalu berjalan ke arah rumah bambu itu. Tiba-tiba ada benda yang berbentuk bulat menggelinding ke arah kaki Rehan. Saat Rehan berniat untuk mengambil benda itu, Aria melarangnya, “Jangan diambil! Itu bukan bola!”
Rehan lalu mundur selangkah dan dia berusaha untuk berpikir positif. Namun, tiba-tiba benda yang berbentuk bola itu menghilang begitu saja.
Pintu bambu yang menjulang tinggi di depan mereka mengeluarkan hawa ketakutan yang sangat pekat. Membuat Dania yang memang dasarnya penakut semakin merasa takut.
“Lo jangan takut, Dan! Inget kata-kata gue, mereka bisa mengeluarkan energi yang bisa memancing ketakutan lo. Semakin lo takut, maka mereka akan semakin kuat karena mereka juga mendapatkan energi dari ketakutan lo,” tutur Aria.
Dania mencoba berpikir tenang tapi, sedetik kemudian tercium bau anyir yang sangat menyengat membuat Dania mual dan pusing.
“Hoeek ... Hoeek ....”
Dania muntah karena tidak bisa menahan bau yang dia cium, namun anehnya Aria dan Rehan sama sekali tidak mencium bau apa-apa.
“Kalian gak cium bau anyir ini? Sumpah, gue gak kuat!”
“Lo harus kuat, Dan. Mereka berusaha ngeganggu lo karena lo yang lebih ketakutan daripada kita berdua,” ucap Aria.
Mereka mencoba melangkah mendekati pintu dan membuka pintu itu dengan cara mendorongnya. Entah kenapa, pintu itu terasa berat, padahal tidak ada apapun yang mengganjal pintu itu.
Atmosfer yang keluar dari dalam pintu itu terasa sangat berbeda. Begitu dingin dan mencekam. Setelah pintu itu terbuka lebar, terlihat ada sosok laki-laki bertubuh tinggi berdiri membelakangi tidak jauh dari mereka.
“Bu-bukannya i-itu Deni?” tanya Dania tergagap.
“Jangan percaya, mereka hanya memanipulasi otak kita. Di sini misi kita adalah menemukan roh Sarah. Karena hanya Sarah yang masih hidup,” ucap Aria kemudian.
Dania malah mendekati sosok lelaki yang menurutnya Deni. Seperti terhipnotis, Dania tidak menggubris panggilan dan larangan Aria.
Ketika Dania semakin dekat dengan sosok itu, Aria menarik paksa tangan Dania untuk menjauhi sosok itu yang kini berbalik dengan wajah yang sudah berantakan dan seperti meleleh. Sosok itu menggapai kearah Dania tapi untungnya Aria menjauhkan Dania dari sosok itu.
“To-loong ... Tolong ....” ucap suara dari tubuh lelaki itu yang lama kelamaan meleleh perlahan seperti lilin dari mulai kepala saampai kekakinya dan menghilang begitu saja. Dania menangis memanggil-manggil nama Deni, karena dia masih berpikir kalau yang ada di hadapannya adalah Deni.
“Dan ... Dania. Gue harap lo tenang. Jangan kayak gini, oke? Lo tenang,” ucap Rehan yang menghampiri mereka berdua berusaha menenangkan Dania.
Kini Dania sudah mulai tenang. Mereka mencoba melangkahkan kaki perlahan menuju lorong yang ada di depan mereka. Ternyata rumah bambu ini begitu luas dan terdapat banyak ruangan dan lorong di dalamnya. Banyak suara-suara aneh yang terdengar. Namun, Aria tetap mengingatkan jika semua ini hanya manipulasi yang dilakukan oleh mereka.
“Kita harus mencari Sarah. Kalau Sarah kita temukan dan kita selamatkan. Maka teror ini akan berakhir,” ujar Aria.
Dania dan Rehan mengangguk paham. Kini Dania membulatkan dalam hatinya kalau dia tidak akan merasa takut atau apapun lagi.
“Waktu kita tinggal sedikit lagi, kalau kita kehabisan waktu di sini, maka kita akan terkurung selamanya di sini dan menjadi makanan mereka dan di dunia nyata, kita akan seeperti orang yang koma, karena mati tidak hidup pun tidak,” jelas Aria.
“Lantas? Apakah misi kita hanya menyelamatkan Sarah? Itu saja?”
Aria mengangguk. Mereka bertiga terus melangkahkan kaki menyusuri lorong yang begitu panjang. Ada beberapa sosok yang berdiri di samping lorong, tapi Aria mengatakan kalau sosok-sosok itu tidak akan mengganggu mereka.
“Ar! Itu! Lihat di sana!” teriak Rehan menunjuk sebuah kurungan besar yang ada di ujung lorong yang mereka telusuri. Kurungan itu nampak seperti kurungan ayam dari bambu tapi ukurannya yang sangat besar bisa mengurungi seorang manusia yang ternyata itu adalah Sarah.
“Sarah!” panggil Dania.
Sarah yang ada di kurungan itu bergerak melihat ke arah teman-temannya. Sarah menangis saat Dania sudah berada di depan benda yang mengurungnya.
“Tolong aku ... tolong ....” ucap Sarah di sela tangisannya.
“Ya, kita akan menolong kamu, tapi kita harus keluar dari ruangan bahkan rumah ini dulu,” ucap Rehan.
“Ya, Rehan benar. Kita gak punya banyak waktu. Kita harus kembali ke tubuh kita di dunia nyata.”
Aria dan Rehan mencoba mengangkat kurungan itu. Namun, ternyata sangat berat melebihi kurungan yang terbuat dari besi. Tiba-tiba badan Rehan terangkat melayang-layang di atas langit-langit ruangan itu.
“To-tolong gue, gue kenapa ini?” tanya Rehan sambil berontak dalam posisi melayangnya.
“Han, lo ngapain di atas sana? Cepet turun!” seru Dania panik.
“Tenang, Han. Lo harus tenang. Lo bener-bener harus tenang,” ucap Aria.
Rehan mencoba tenang tapi pikiran negatifnya tidak bisa dihilangkan dari pikirannya. Banyak kemungkinan negatif dalam otaknya.
Banyak suara yang terdengar oleh Rehan. Dia bingung harus mendengarkan yang mana. Ketakutan menjalari tubuhnya. Namun, Rehan berusaha bersikap tenang dan berpikir tenang.
“Semua akan baik-baik saja,” kata Rehan berulang kali.
Lalu dengan perlahan tubuh Rehan turun dengan sendirinya. Aria kembali fokus bagaimana cara membuka kurungan yang mengurung Sarah.
Suara langkah kaki terdengar, tidak hanya satu suara. Namun, banyak. Entah siapa yang akan datang menghampiri mereka. Mereka bertiga berkumpul di depan benda yang mengurung Sarah.
“Bagaimana ini?” tanya Dania.
“Sepertinya mereka datang. Kita harus cepat mengeluarkan Sarah dari kurungan ini, maka setelah itu kita bisa kembali dengan sendirinya ke tubuh kita masing-masing,” ucap Aria.
Tiba-tiba ada yang melesat menabrak Aria membuat Aria jatuh terjengkang. Dania berlari menghampiri Aria yang terpental jauh. Rehan mencoba mengakali kurungan agar bisa terbuka.
Di pojok ruangan itu, kepulan asap yang sangat tebal membentuk tubuh manusia, membuat Sarah benar-benar ketakutan.
“Kita berpegangan tangan!” teriak Aria di posisi duduknya dan langsung menggenggam tangan Dania dan Rehan segera merentangkan tangannya menjangkau tangan Dania.
“Kalau kita mau menyelamatkan Sarah, maka kita harus kuat. Kini Sarah benar-benar sudah terkuasai rasa takutnya yang membuat energi makhluk-makhluk yang ada di sini semakin kuat,” ucap Aria.
“Kalau begitu, kita harus mencari cara secepat mungkin untuk membuka kurungan Ayam itu!”
Bicara mengenai ayam, tiba-tiba sekor ayam cemani terbang kearah meraka, lalu Rehan menangkapnya dengan mudah dan dilihat pada kakinya terikat sebuah bambu yang kecil.
“Suling?”
“Sepertinya ini kunci untuk membuka kurungan itu,” ucap Rehan.
“Jangan percaya! Bisa saja itu tipuan mereka.”
Rehan kemudian melepaskan bambu kecil itu dari kaki ayam dan mencoba mendekati lagi kurungan yang mengurung Sarah. Ternyata benar, setelah dia mengitari kurungan itu, ada sebuah lubang kecil yang pas dengan bambu itu. Secara tiba-tiba kurungan itu menghilang dan Sarah bebas dari sana.
“Sarah!”
Dania menghampiri Sarah dengan tergesa dan berusaha membantu Sarah untuk berdiri. Rehan membantu Aria yang masih tertatih karea sesuatu yang menabraknya tadi.
“Ar, kenapa Sarah diam saja?” tanya Dania khawatir.
“Sar, lo bangun Sar! Keburu mereka dateng.”
Aria menghampiri Dania dengan tertatih dibantu oleh Rehan. Tiba tiba tubuh Sarah mengeluarkan asap. Kulit Sarah terlihat melepuh dan entah kenapa wajah Sarah membiru dan meleleh seperti lilin membuat Dania mundur dan menjerit histeris melihat kondisi Sarah yang amat sangat mengenaskan.
Dania jatuh terduduk karena lututnya terasa sudah tidak bisa menopang tubuhnya lagi.
“Apa i-ini sudah ber-akhir?” tanya Dania tak percaya.
“Apakah kita sudah kalah?”
“Apakah satu persatu dari kita akan mati?”
Aria memeluk Dania dan berusaha menenangkannya. “Tidak, ini belum selesai. Tenanglah.”
Terdengar suara tawa yang keras semakin membuat Dania takut.
“Ar, lalu kita harus bagaimana sekarang?”
“Pegang tangan gue sebelum mereka mendekati kita.”
Aria melihat kearah lorong yang tadi dia dan kedua temannya lewati. Sesosok makhluk datang terseok-seok menggusur kakinya.
“KALIAN TELAH MENGGANGGU KAMI!” ucap suara yang menggelegar dan membuat telinga semua orang yang ada di sana terkejut.
Aria menjawab dengan lantang, ”Maafkan kami! Kami tidak akan mengganggu kalian. Kami harap kalian juga tidak akan menganggu kami!”
“Ar, lo kira dia olshop, bisa ditawar?” tanya Rehan kesal.
“Lo diem dulu, geblek!”
Benar saja pikiran Rehan kalau makhluk itu memang tidak bisa diajak bernegosiasi. Karena terlihat sosok itu kini semakin mendekat meski dengan jalan yang terseok dan wajah yang meleleh.
Tiba-tiba cahaya putih datang di hadapan mereka, Aria tahu jika ini adalah portal teleportasi agar mereka bisa pulang.
“Semuanya, pegangan erat!” teriak Aria memerintah.
Semakin dekat makhluk itu, namun tidak sampai membuat mereka tertangkap. Namun, sayangnya, mereka tidak bisa menyelamatkan Sarah. Semua ini pun belum berakhir karena mereka bertiga masih akan dihantui oleh makhluk-makhluk itu
***
Ruangan yang sudah berantakan dengan semua barang sudah berserakan di lantai bahkan tidak ada yang tersisa dalam keadaan baik-baik saja termasuk dua orang manusia yang berada di ruangan itu. Dengan tubuh berlumuran darah, salah satu di antara mereka terbaring di sana.
“Lagi-lagi aku gagal.”
“Kenapa selalu begini akhirnya? Apakah aku tidak akan menang dari mereka?”
Ardan terbangun dari posisi duduknya tadi yang sepet tidak bisa gerak sama sekali. Dia kemudian menghampiri tubuh Sarah yang sudah tak berbentuk lagi wujudnya.
Sebagai seorang tenaga ahli medis seharusmya Ardan bisa menjaga emosinya. Namun, melihat apa yang sekarang ada di hadapannya.
“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Ardan mengingat tiga anak muda yang ada di rumahnya dan mereka adalah teman dari pasien ini.
“Sepertinya aku harus segera kembali.”
Setelah Ardan mengurus semua hal yang bersangkutan dengan jenazah Sarah di rumah sakit itu dia kemudian bergegas menuju mobil yang ada di parkiran. Pikirannya berpusat agar dia harus cepat-cepat kembali ke rumahnya.
***
Deru napas yang memburu mendominasi suara yang ada di ruangan putih ini.
“Apa kalian tidak apa-apa?” tanya Aria dengan nada yang masih capek.
“Apakah semuanya sudah selesai?” tanya Dania seraya terisak.
Aria mengangguk dan Rehan mencoba mengatur napasnya.
Dania tidak bisa menahan tangisnya dan berkata, “Kenapa semua ini terjadi?”
Aria terdiam karena dia tidak tahu harus berkata apa. Rehan juga terdiam.
“Apakah sekarang giliran kita menyusul mereka?” gumam Rehan dengan nada tanya.
Tiba-tiba Rehan merasa sakit di bagian dadanya. Entah apa yang dia rasa tapi sakit itu begitu membuatnya tersiksa.
“Han, Han. Lo kenapa?” pekik Dania tak bisa menahan isak tangisnya.
“Arrght! Sa-kit. Dada gu-e sakit!” erang Rehan menahan sakitnya.
Tiba-tiba muncul kabut asap yang tebal diruangan itu. Kabut itu perlahan membentuk tubuh manusia. Tiga jenis yang terbentuk.
Kabut yang pertama membentuk tubuh laki-laki dewasa yang tingginya hampir setinggi ruangan ini. Yang kedua bentuk tubuh wanita yang tingginya di bawah kabut yang tadi sedangkan yang ketiga berbentuk anak kecil. Sedikit-sedikit tampak jelas wujud mereka yang sangat menakutkan.
“Kalian yang membuat kami sial. Kemarilah dan jadilah bagian dari kami,” ucap ketiga makhluk itu berbarengan namun dengan suara yang berbeda.
Rehan semakin merasa kesakitan. Entah apa yang kini harus mereka lakukan. Dokter Ardan tidak kunjung kembali.
Tubuh Aria kemudian melayang dan terbanting ke sudut dinding ruangan. Dania yang tidak bisa berhenti menangis tiba-tiba tubuhnya terasa sangat kaku.
“A=apa yang sebe-narnya ka-lian mau?” tanya Dania memberanikan diri.
Ketiga makhluk itu tertawa lepas membuat telinga ketiga anak muda itu terasa berdenging sakit.
“Kalian tidak apa-apa?” Suara Ardan terdengar jelas.
Namun, setelah Ardan berkata demikian tubuh Rehan tiba tiba menjadi amat besar seperti balon dan ‘BOOM!’ tubuhnya meledak dengan darah yang memancar ke segala arah.
“REHAN!” teriak Dania yang masih tidak bisa menggerakan badannya. Tubuhnya benar-benar terasa terikat.
“Aku mohon. Maafkan kami!” ucap Dania pada makhluk-makhluk itu.
Ardan yang baru saja sampai sangat terkejut melihat apa yang dia saksikan barusan.
“Kami hanya ingin ketenangan.”
“Kenapa kalian menganggu kami?”
“Kami berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi. Kami bersumpah!”
“Berikan kami jaminan atas sumpah kalian!”
Mendengar itu, Aria malah kesal dan emosi seraya berkata, “Sialan! Kalian makhluk sialan! kalian sudah mengambil empat nyawa teman kami dan kalian masih berkata kita harus kasih jaminan? Yang benar saja!”
“Jika kalian tidak mau, maka nyawa kalian yang akan menjadi jaminanya!”
Tiba-tiba sosok itu menghilang begitu saja. Namun, Aria kini menjadi diam. Dania yang sudah bisa menggerakan kembali tubuhnya kini menangis menghampiri jasad Rehan yang tadi meledak.
Ruangan yang tadinya bercat putih pun kini berubah menjadi ruangan yang penuh darah.
“Maafkan saya, saya tidak bisa menolong teman kalian atau pun menolong kalian. Dan ini belum selesai untuk kalian.”
Kalimat terakhir Dokter Ardan membuat Aria dan Dania bertanya-tanya. Namun, mereka tidak mau menanyakannya.
“Kenapa Anda bilang seperti itu, Dok?”
“Karena kalian sudah membuka mata batin kalian sendiri. Apa yang sudah dibuka, tidak akan bisa tertutup lagi.”
“Kenapa bisa begitu, Dok?”
“Jadi, menurut dokter, saya dan Dania yang mereka sisakan untuk jaminan itu?”
“Tidak, kalian jangan mengganggu mereka saja, dan untuk jaminan itu kalian harus menyebarkan ritual kalian agar banyak yang meniru kalian atau kalian harus membantu para roh yang tidak tenang untuk tenang ke alamnya kembali. Itu kesempatan kalian memperbaiki semuanya,” tegas Dokter Ardan.
“Apa maksud dokter sebenarnya? Kenapa kami harus menyebarkannya? Bukannya ini sangat membahayakan?”
Ardan terdiam dan tak mampu menjawab apa-apa.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...