Teka-teki Surat Merah

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Aiyu A Gaara

Pemain Panggung

“Kau baik-baik saja?”
Pertanyaan dan wajah cemas Kanza menyambut Arsha. Gadis itu menggeleng pelan seraya membuka pintu flatnya lebih lebar, menyuruh Kanza masuk. Pagi tadi, setelah ia tak bisa terpejam sedetik pun sejak mendapati surat beramplop merah di atas ranjang, Arsha menghubungi Kanza.
“Kau sudah memeriksa setiap sudut flatmu?”
Kanza berjalan memasuki flat Arsha. Flat itu terdiri dari satu ruang tamu kecil yang diberi karpet bulu warna pink, ada rak susun dua berisikan buku-buku dan majalah yang di atasnya tertata rapi berbagai action figure. Di dinding yang polos, sebuah TV LED yang di sekelilingnya diberi penutup dengan karakter hello kitty. Sebuah dapur dengan meja bar dan kamar tidur cukup besar. Di sisi lainnya sebelah toilet, terdapat ruang kecil yang dibiarkan kosong.
“Sudah, dan tidak ada apa pun selain surat itu.”
Kanza mengangguk, kemudian melangkah pelan, menyusuri setiap sisi flat Arsha dengan mata tajam. Untuk pertama kalinya gadis itu tidak merasa risih ketika orang asing memasuki area pribadinya.
Sesampainya mereka di depan meja kecil di samping jendela kamar Arsha, senyumnya mengembang. Kanza mengambil sesuatu dari bawah meja, sebuah bangkai kupu-kupu hitam dengan alat penyadap kini berada di tangannya. Ia menunjukkannya pada Arsha.
“Menarik, bukan?” ucapnya, seraya meremas alat penyadap berbentuk seperti kancing baju dan meletakkan bangkai kupu-kupu di atas meja. “Sekarang sudah tidak apa-apa. Kurasa hanya satu yang dipasangnya.”
“Kauyakin?”
Kanza mengangguk, menarik bibirnya ke samping hingga membentuk senyum tipis. “Oh, aku belum membaca surat itu, berikan. Apa isinya sama dengan milik Sania?”
Arsha menggeleng, lalu memberikan surat beramplop merah yang ia kantongi sejak semalam. Kanza membacanya pelan dengan ekspresi wajah tak biasa.
Teruntuk, Kekasih dalam angan
Pada purnama tengah malam lalu, kita bertemu. Kau berjalan biasa menatap sekitar. Aku melihatmu dari kejauhan, menyaksikan lirikan mata yang menggoda. Aku jatuh cinta. Di kemudian hari kita bertemu, berjabat tangan menyebut nama masing-masing.
Kelak, di kemudian hari sebelum purnama. Aku akan menjemputmu. Kita makan malam bersama dan melupakan hari di mana pertama kali kita berjumpa.
Kanza menyudahi bacaannya dan menatap Arsha. “Cap bibir yang sama, benar?”
Arsha mengangguk. “Jadi, ini memang dari si pembunuh, ‘kan? Tetapi kenapa?”
“Sudah pasti, si pembunuh adalah orang yang mungkin kaukenal dan mengetahui apa yang kita lakukan. Mungkin saja dia merasa cemas karena mengira identitasnya akan terbongkar. Tetapi, apa maksud isi surat itu? Aneh sekali. Bukan seperti ancaman, lebih seperti ingin mengingatkan sesuatu. Apa kaupernah melihat sesuatu yang tidak kausadari bahwa kau melihatnya?”
“Aku rasa tidak.” Arsha menjawab ragu.
“Hmm, baiklah, akan kita bahas nanti, aku akan menyimpannya.” Kanza memasukkan surat beramplop merah itu ke balik jasnya. “satu keanehan lagi, bagaimana bisa pintu kamarmu tidak rusak, apa ada kunci cadangan yang mungkin saja dicuri orang lain?”
“Tidak. Hanya ada satu kunci untuk flatku.”
“Hmm, kurasa dia tipe yang sangat ahli dalam mekanisme kunci. Ya, jika itu memang dia, adalah sangat mungkin.”
“Kau masih mencurigai Sadewa?”
“Memangnya kau tidak? Bukankah aku sudah menyuruhmu membaca catatan yang kuberikan?” Arsha mengangguk. “Lalu, apa fakta-fakta yang kutulis tidak cukup untukmu percaya bahwa dia si pembunuh? Oh, ayolah, Sha. Sudah kubilang, jangan terlalu percaya pada orang yang baru kaukenal. Kecuali aku. Bahkan orang yang kaukenal baik pun bisa melakukan hal-hal tak terduga.
“Sania misalnya. Katakanlah kau hanya mengenalnya sebagai tetangga yang baik hati, tetapi kau tak pernah tahu selain menjadi primadona di klub malam, dia adalah seorang pemain akting yang bagus, dan kau adalah kelinci percobaan yang disarankan seseorang. Kau mungkin lupa menceritakan buku tabungan milik Sania waktu itu, tetapi aku ingat, kedua gadis sebelumnya memiliki uang tabungan dalam jumlah besar. Cukup aneh mengingat pekerjaan mereka. Kautahu dari mana uang-uang itu?”
Arsha menggeleng. Ia tak tahu harus membalas apa karena ia sendiri tak cukup mengerti dengan situasi aneh sekarang. Dirinya yang dijadikan sasaran berikutnya, dan Kanza yang mencurigai Sadewa sebagai pelaku. Jelas baginya pelaku adalah orang yang sama, tetapi mencurigai Sadewa dengan fakta yang tampak tidak akurat? Ia merasa itu adalah kekeliruan. Namun, Arsha tak cukup memungkiri bahwa ia cukup percaya pada Kanza, mengingat ia menghubungi laki-laki yang mengatakan dirinya rekan, dan mengabaikan Sadewa yang akan melindunginya.
“Aku sudah memeriksa semua kenalan ketiga gadis itu, dan menyodorkan foto Sadewa. Kautahu bagaimana reaksi mereka? Ya, mereka terkejut! Bukan seperti saat mereka melihat hantu atau semacamnya, tetapi lebih kepada keterkejutan yang menggembirakan. Ah, entahlah, aku tak cukup mengerti apa yang mereka pikirkan, yang pasti mereka mengenal Sadewa dan sudah pasti gadis-gadis itu juga mengenalnya. Aku juga mencari tahu tentang laki-laki yang belakangan dekat dengan ketiganya, tetapi tak satu pun dari mereka yang tahu.”
“Jadi, maksudmu Dewa Penolong yang dimaksud dalam diari Sania adalah Sadewa?”
“Benar. Ternyata kau cepat tanggap.”
“Tetapi kenapa? Apa yang dilakukan Sadewa hingga Sania menyebutnya seperti itu?”
“Begini, misalkan kau berada dalam keadaaan terpuruk, di mana teman-temanmu tiba-tiba menjauh dengan alasan yang kau tak tahu, lalu kekasihmu memutuskan hubungan denganmu dengan alasan bosan. Kau tak tahu harus bercerita pada siapa. Pekerjaanmu menjadi kacau, kau dimarahi bos lantaran tidak becus bekerja atau yang lebih parahnya kau diberi surat peringatan pemecatan jika kau mengulang kesalahanmu lagi. Kau terpuruk, tidak ingin melakukan apa pun, dan pada saat itu seorang laki-laki tampan berdiri di depanmu, mengulurkan tangannya. Apa yang kaulakukan?”
“Menerima uluran tangan itu?”
“Benar. Kemudian, kau mengobrol hingga akhirnya bertukar nomor telepon. Setelahnya kalian sering bertemu, membicarakan apa saja, hingga tanpa sadar kaujatuh cinta padanya. Hubungan kalian menjadi lebih akrab, dan berakhir di kamar hotel atau indekos. Awalnya kau menyesali, tetapi dengan kalimat romantisnya, bagai terhipnotis perlahan tetapi pasti kau menikmatinya. Pada saat itulah, dia memulai peran lainnya. Dia memberimu uang cukup banyak dan mengatakan; ‘jika kauingin yang lebih banyak, ikutlah bermain denganku.’. Jika sudah begitu, apa kaubisa menolaknya?”
Arsha terpaku. Kalimat Kanza justru seolah menghipnotisnya. Ia membenarkan meski seandainya itu adalah dirinya, tentu ia akan menolak.
“Jadi ketiga gadis yang dibunuh itu memiliki hubungan khusus dengan Sadewa. Apa mereka juga saling mengenal, ya?”
“Bagaimana menurutmu?”
Arsha mengendikkan bahu. Ia tidak bisa berpikir banyak, terlalu terkejut dengan kejadian-kejadian yang menimpa hidupnya yang tenang. Semua ini terjadi tiba-tiba saja, dan jika diingat ini kesalahnnya juga. Mengapa ia mau sok-sokan menemukan pelaku pembunuhan Sania, dan tidak menyerahkan kasus itu pada polisi. Dengan begitu, hidupnya akan tetap normal dan baik-baik saja.
“Kau belum tidur seharian kemarin?” tanya Kanza, melupakan sejenak bahwa mereka tadi tengah mengobrol serius.
“Belum, dan sekarang aku merasa lelah sekali.”
“Baiklah, kau tidur saja dengan tenang, jangan lupa kunci kamarmu. Aku akan melakukan penyelidikkan sekali lagi.”
“Baiklah. Terima kasih.”
“Bukan masalah. Kalau begitu aku pergi dulu. Matikan gawaimu dan istirahat. Izinlah bekerja hari ini, kita akan bertemu lagi nanti malam jam tujuh.”
Arsha mengangguk. Kanza menepuk pundaknya pelan, lalu berjalan ke luar flatnya. Untuk sesaat ia merasa tenang. Setelah mengunci pintu, dan mematikan gawai seperti yang disarankan Kanza, Arsha merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun, bukan berarti ia bisa memejamkan mata meski dirinya sangat mengantuk. Memori di kepalanya berputar dengan sendirinya. Tentang hal apa saja yang ia lakukan, atau obrolan panjang yang tidak pernah terjadi sebelum ia mengenal Kanza. Semua itu terasa aneh, tetapi menyenangkan. Ia menyukai dirinya yang sekarang, seolah melakukan akting dalam kehidupannya yang datar.
Arsha tersenyum sendiri, memeluk guling dan membenamkan wajahnya di sana. Tak lama, sampai sebuah memori mengingatkannya pada suatu kejadian yang tak sengaja ia lihat malam itu. Malam di mana diperkirakan Sania dibunuh.
“Astaga!”
***
Sadewa berlari cepat menuju bangunan tinggi berlantai tiga di daerah Anggut Atas. Tepat di samping rumah pengasingan Bung Karno yang sekarang menjadi salah satu wisata terkenal dari Bengkulu. Bangunan baru berwarna oranye pudar yang tampak tua itu menjulang dengan banyak jendela di setiap sisinya. Catnya telah banyak terkelupas dimakan hujan dan cuaca terik. Juga plafon-plafonnya yang beberapa terlihat menjuntai.
Laki-laki 27 tahun itu menaiki anak tangga sekaligus dua untuk mencapai lantai teratas. Di mana kemarin malam ia melihat orang yang diselidikinya memasuki salah satu kamar di lantai itu. Sesampainya di lantai tiga, Sadewa mengatur napasnya sejenak sebelum akhirnya berjalan melewati kamar-kamar yang di setiap pintunya tertulis angka berbeda dan tidak berurutan layaknya flat lainnya. Juga tanpa CCTV. Flat Jingga, seperti yang tertulis di papan di depan bangunan, cukup aman bagi pencuri. Ia pernah mendengar bahwa di sini sering terjadi pencurian. Namun, entah kenapa pemilik bangunan tetap tidak memasang kamera pengawas. Bahkan pos satpam pun tak ada.
Keadaan lantai tiga sangat sepi. Berbeda dengan lantai sebelumnya di mana para penghuni kamar mengobrol satu sama lain. Ia berjalan menyusuri lorong, mengingat-ingat kamar mana yang dimasuki kemarin malam. Sadewa berdiri di tengah-tengah lorong. Memejamkan matanya untuk mengumpulkan ingatan. Beruntung ia memiliki ingatan baik. Tak lama, ia membuka matanya dan berjalan cepat ke arah kamar 107 yang berada tak jauh darinya. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar yang di bagian bawah nomor kamar diberi hiasan yang terbuat dari kain flannel. Tertulis sebuah nama di sana, Vivi.
Tak mendapati jawaban, Sadewa pun beralih menggedor-gedor kamar layaknya seorang penagih hutang yang menagih pada peminjam yang lebih suka mengunci pintu dan menutup mulutnya agar tak bersuara seolah dirinya sedang tak ada di rumah.
“Hei, apa yang kaulakukan?”
Sebuah teriakan disertai munculnya seorang wanita paruh baya mengenakan daster dari depan kamar Vivi. Wajah bulat dengan mata belo-nya tampak garang saat ia melotot. Hidungnya yang lebar kembang kempis menahan amarah. Di tangan kirinya, ia memegang spatula yang sekarang diacung-acungkannya pada Sadewa.
“Apa yang kaulakukan pagi-pagi begini? Gedor-gedor pintu rumah orang seperti penagih hutang saja, he!”
“Maaf, Bu. Apa ibu kenal gadis yang tinggal di sini?”
“Tentu saja, dia pemilik salon di seberang jalan sana. Kenapa? Kau pacarnya?”
“Bukan. Saya seorang kenalannya. Ibu tahu dia ke mana? Dari kemarin nomornya tidak bisa saya hubungi. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya.”
Seperti biasa, Sadewa memainkan perannya demi mendapatkan informasi yang diinginkan. Tentu saja, hampir semua akting yang dilakukannya berhasil. Seperti ibu-ibu di depannya yang tiba-tiba menyuruhnya mengambil kunci cadangan di ventilasi di atas pintu kamar.
Tanpa ragu, Sadewa memasukkan kunci ke dalam lubang kunci. Setelah terdengar bunyi ‘klik’, ia langsung membuka pintu kamar. Tercium bau alkohol yang sangat tajam dari dalam kamar. Sadewa mengipas-ngipas tangannya ke bagian depan wajah. Ia berjalan masuk, matanya menyapu sekitar kamar yang berantakkan. Seolah kemarin malam telah terjadi keributan di sini. Baju-baju berserakan, seperti sengaja dikeluarkan dari dalam lemari. Barang-barang sudah tidak pada tempatnya lagi. Tampak pula pecahan kaca di bagian dapur kecil. Sadewa masuk lebih jauh diikuti ibu-ibu yang rupanya penasaran dengan apa yang terjadi.
Ia membuka pintu dengan tulisan ‘kamar mandi’ yang juga dibuat dari kain flanel. Tepat pada saat itu, ibu-ibu tadi menjerit ketika melihat gadis tanpa busana yang dikenalnya itu tergeletak di lantai kamar mandi dengan darah yang menggenang di sekitar.
“Sial, terlambat!”
Sadewa mengambil gawai, dan menghubungi rekannya. Ia menutup pintu dan menyuruh ibu tadi untuk keluar. Sementara menunggu rekannya datang, ia memeriksa seisi kamar dengan teliti. Sebuah buku catatan yang di depannya tertulis ‘Black List’ terselip di atas tempat tidur di antara baju-baju yang berserak. Ia membuka buku catatan itu, dan membacanya. Sebuah nama julukan tertera di sana. Dewa Penolong.
***
Sabtu, Makam Inggris, 18.49 WIB.
“Menyerahlah. Kau tidak akan pernah bisa menang dariku, Ya.”
Laki-laki berwajah tampan yang memegang buku catatan dengan sampul ‘Black List’ itu tersenyum. Ia bersandar pada salah satu makam berbentuk bangunan kecil yang di bagian depannya tertulis nama dan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris, seraya mengacung-acungkan catatan itu ke depan wajah laki-laki yang tak kalah tampan darinya.
“Sial. Kau?!”
“Aku tidak akan menyakiti gadis yang diam-diam kausukai itu atau satu-satunya keluargamu, dengan syarat kauharus melakukan apa yang kuperintahkan. Seperti dulu, kauingat?”
Laki-laki lainnya terdiam. Kenangan yang enggan ia ingat itu kembali menyeruak. Dimana masih tergambar jelas gadis berlesung pipit dengan poni selamat datang yang ia relakan untuk bersama temannya itu tergeletak penuh darah. Isi tasnya berhamburan keluar. Sebuah buku catatan kecil berwarna hijau menarik perhatiannya kala itu, yang di dalamnya tersimpan cerita tentang dirinya. Ya, gadis itu ternyata menyukainya pula.
Namun, bukan kecelakaan seketika yang masih diingatnya. Melainkan seorang laki-laki yang amat ia kenal berdiri tak jauh dari lokasi kejadian yang meletakkan jari telunjuk di bibir seraya tersenyum misterius.
“Kau licik. Berengsek!”
“Ya, karena itulah sekarang aku berada di depanmu.”
Ia tersenyum manis yang terkesan misterius, sambil berjalan meninggalkan kompleks pemakaman seluas 4,5 hektar di jalan Veteran. Di mana dulu sekali, ia dan laki-laki di depannya itu sering bertemu di sana untuk membahas hal apa saja.
“Tunggu!”
Suara lantang itu menghentikan langkah laki-laki bertubuh atletis. Ia berbalik, menatap teman lamanya dengan pandangan bertanya.
“Aku penasaran, permainan apa yang sebenarnya kaulakukan?”
Ia tersenyum lebih misterius dari sebelumnya, lalu menjawab, “Kau ingin tahu? Pecahkanlah sendiri.”
“Sial!”
Laki-laki lainnya mengepal erat tangan seraya mengentak-entak kaki. Mata tajamnya memandang ke sekitar kompleks makam terbesar di Asia Tenggara, mengingat dulu terdapat sekitar 1000 batu nisan berbentuk artistik monumental dalam berbagai ukuran. Meski sekarang jumlah itu telah menyusut menjadi 53 makam. Sama seperti hubungannya dengan laki-laki berwajah tampan yang jika dilihat sekali lewat tampak cantik. Ikatan pertemanan dan rekan satu tim yang terjalin akrab dulu, telah menghilang sejak tiga tahun lalu. Setelah jalan yang ditempuh sangat jauh berbeda dibandingkan ketika mereka masih dalam naungan atap yang sama.
Dulu sekali.
***

Other Stories
Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

The Ridle

Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...

Download Titik & Koma