Susan Ngesot

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

Selisih Paham

Suasana malam begitu mencekam. Langit hitam bertambah gelap. Terang saja, sudah larut malam, Reni pun tak jua memejamkan mata lelahnya. Lagi dan lagi ia pun meraih laptopnya yang tergeletak tepat di samping kirinya.
“Gaya tarik dunia maya, emang nggak bisa ditolak,” katanya sembari tersenyum. Meski ngantuk mendera, lelah menjamah, kesibukan esok hari menanti kesiapan batin dan jasmaninya. Namun ia pun tetap menyempatkan diri berkunjung dan bertandang ke dunia maya. Karena dari sanalah, persahabatan baru mereka terbentuk.
Reni membuat sebuah status di akun facebooknya. Tak lupa pula men-tag keempat sahabat barunya yang baru saja dijumpainya beberapa menit yang lalu.
Seneng banget deh rasanya ...Akhirnya ketemu sahabat baru jua. Tadi juga seru banget. Ngumpul-ngumpul bareng Rere, Rahma, Natasya dan Rangga. Jadi pengen ketemuan lagi deeehh…
Miss you, my best friend.
Isi status pemilik akun Renita Chantika Anara baru saja ter-update. Ia sibuk meng-klik isi pesan pemberitahuan statusnya saja, dibanding pemberitahuan-pemberitahuan facebook lainnya. Mereka berempat saling melayangkan balas-membalas isi komentar.
Rangga Alexande - Wah. Iyah, nggak nyangka. Akhirnya kita bisa bertemu dan ngumpul bareng jua.
Natasya Indah - Hehe. Akhirnya bisa lihat Susan secara langsung deeh. Meskipun suaranya aja yang mirip Susan. Haha...
Rere Sahila - Uuugh, seneng banget deh bisa ngumpul ama sahabat-sahabat seperti kalian. Apalagi sekarang sahabat kita udah nambah satu, Susan senior. Haha...”
Rere Sahila ikut berkomentar. Dan disusul dengan komentar manja ala Rahma Imut. Rahma hanya menanyakan kenapa kami belum tidur. Reni hanya mengetik balasan singkat di statusnya. Karena rasa kantuk mulai menyerang. Tanpa sadar, Rahma Imut menjadi komentator terakhir karena ditinggal Reni, Rangga, Rere dan Natasya tertidur.
***
Entah apa yang terjadi? Perasaan Reni begitu tak enak. Bulu kuduknya merinding di kesunyian pagi. Jantungnya yang tadinya bekerja dengan lembutnya, kini berdegup kencang tak karuan. Hatinya cemas dan gelisah. Roti yang dipegangnya pun ikut bergetar dengan sendirinya. Tangannya tak kuasa meraih gelas tuk meminum jus alpukat buatan Dewi, sang mama. Muka pucat memelas. Menggigil walau sebentar.
“Reni sayang ... kamu kenapa, Nak?” Tanya sang mama keheranan. Dewi pun dengan sigapnya memegang dahi anaknya.
“Astaagaaa ... badanmu panas, Nak.”
“Apakah ini gara-gara semalam aku begadang berat, yah?” tanyanya dalam hati.
“Nggak kok, Ma. Reni nggak kenapa-kenapa, kok.” jawab Reni mencoba menenangkan sang mama.
“Nggak kenapa gimana! Kamu pucat gini...” Dewi membenarkan dengan penuh
kecemasan.
“Oke. Ntar Reni istirahat dan minum obat deeh...”
“Mama nggak mau kamu kenapa-kenapa, Sayang. Cuma kamu satu-satunya harta dalam hidup mama yang paling berharga.”
“Reni sayang Mama,” Reni memeluk Dewi dengan penuh kehangatan.
“Ada di samping mama, di dalam pelukan mama aja ... Reni udah seneng, tenang dan merasa sehat selalu. Maafin Reni yah, Ma ... karena sudah banyak nyusahin Mama,” jelasnya bermanja.
Sang mama masih saja khawatir memikirkan nasib putrinya. Perasaan seorang ibu terhadap anaknya tidak dapat di-elak adanya. Karena keterikatan batin yang cukup kuat, Dewi pun merasakan sesuatu hal yang buruk seolah sedang mendekati putrinya.
Ia lalu pergi menuju kantor untuk kembali melanjutkan mencari nafkah, bekerja dan bermain-main dengan sederet rutinitas kerja yang menyibukkannya. Walaupun perasaannya masih dan terus saja dibaluti keresahan yang mendalam. Namun ia mencoba berpikir relaks saja, demi kelancaran pekerjaannya dan tak lupa mengecup hangat kening putrinya. Anehnya, ciuman kasih sayang itu seakan tak bisa terlepas. Seolah ingin terus berpijak. Batin Dewi semakin resah dan cemas sembari beranjak pergi.
“Hati-hati ya, Ma ... dadaaaaaa. Sampai jumpa lagi.” Reni berteriak dengan girangnya sambil melambai-lambaikan tangan perpisahan.
“Uuggh, sepi lagi deeh. Hmm, jadi bete deeh kalau nggak ada temen di rumah,” celetuknya. Reni pun kembali ke kamarnya. Menyegerakan meminum obat. Alhasil, badannya terasa agak lebih kuat dari sebelumnya. Reni mengambil laptopnya. Akun Facebook kembali dibukanya.
Abis minum obat.
Status Renita Chantika Anara ter-update. Menunggu beberapa menit, belum jua ada yang berkomentar. Reni lalu mencoba memejamkan mata sembari beritirahat. Yah, ngantuk pun kini dirasakannya, akibat malam yang kekurangan tidur. Pukul dua siang ia terbangun. Lalu kembali membuka akunnya. Terlihat di pemberitahuannya dua orang yang berkomentar di status yang sebelum tidur ia up-date.
Rangga Alexander - Lu sakitkah? tanya Rangga Alexander dalam komentarnya.
“Sakit hati! Hihii,” Natasya Indah ikut menyambung.
“Huft!” komentar singkat Renita Chantika Anara membalas keduanya. Yah, karena komentar Natasya Indah mengingatkan ia pada mantan dan saudara kembarnya yang telah membuat hatinya luka dan sakit. Bahkan hidupnya pun hampir diakhiri karena ulah penghianatan yang mereka lakukan padanya.
Suasana hati Reni kian terpuruk. Sesaat ia pun terkenang dengan masa-masa pertemuan dan perpisahan hati yang menyakitkan baginya. Akhirnya, Reni memutuskan untuk keluar menemui Rangga. Didapatinya, Rangga sedang asyik bercengkrama bersama ketiga sahabatnya, Rere, Rahma dan Natasya. Langkahnya terhenti menyaksikan perkumpulan hangat yang mereka bentuk. Tubuhnya mematung memandangi dengan ratapan sendu penuh perasaan rindu yang menyentuh kalbunya yang kian bergemuruh.
“Dulu ... di Cafe ini, aku dan Adit pernah ngumpul bareng ama Rena. Kami bertiga juga berbincang hangat, sama seperti yang mereka lakonkan itu. Makan bareng, tersenyum bareng, bercandaan bareng ... hmm,” batinnya memelas.
“Rangga ... Emm, sepertinya Rangga itu ada kesamaan dengan Adit. Tapi...” belum sempat Reni melanjutkan kata-katanya sang waiter yang menabraknya membuyarkan lamunan nakalnya.
“Maaf, Mbak. Maaf, Mbak. Nggak sengaja!” waiter menumpahkan minuman di baju merah imut seperti boneka yang dikenakannya, pemberian Dewi, sang mama ketika pulang dari luar kota.
“Iiiichhh ... kalau jalan, lihat-lihat dong, Mas!” kekesalannya membuncah.
“Salah Mbak sendiri! Kenapa berdiri kayak patung di sini!” waiter membela diri.
“Uuughh ... bete deh!” keempat sahabat yang melihatnya dari arah dekat yang hanya berkisar beberapa hitungan susunan meja-meja makan saja, mereka mencoba mendekati Reni, sahabat baru mereka.
“Eehh, Ren ... Kok bisa di sini ?” tanya Rangga kaget.
“Yaa ampun, Ren ... baju lu basah.” Rere meraba.
“Yaa udah, ayo duduk di sana dulu.” Rahma mengajak Reni duduk di meja tempat yang biasa mereka pijaki di cafe favoritenya itu. Sembari menenangkan diri.
“Tahu tuh! waiter-nya nyebelin banget!” Reni cemberut menumpahkan kekesalan sambil meminum orange juice yang ada di depannya. Orange juice yang baru saja tanpa sadar Reni minum itu, adalah jus buatan Natasya yang ingin diberikannya kepada Rangga, sahabat sekaligus cowok yang Natasya idam-idamkan selama ini.
Ia sengaja menyembunyikan rasa itu di dalam relung hatinya yang terdalam, karena masih mencari waktu tuk menyatakan perasaan suka dan sayangnya pada Rangga yang telah lama bersahabat dengannya.
Natasya mulai merasa ill feel dengan Reni. Sejak awal bersahabat, Natasya memang sering menyuguhkan kalimat-kalimat candaan yang terkadang menyinggung perasaan Reni. Namun, suasana hangat jika mengingat persahabatan yang telah mereka rajut dapat mengalahkan kelemahan pikiran yang terus menggoda rasa.
“Katanya tadi, sakit...” tanya Natasya sedikit sinis.
“Iya. Tadi pagi memang lagi sakit. Abis istirahat sejenak, badan kembali agak sehat. Walaupun belum seberapa sembuh. Mama aja nggak tahu, kalau aku keluyuran. Beliau tahunya, aku rutin istirahat. Hmm, oiyah kalian berempat kok bisa ada di sini? Padahal baru aja loh, aku mau nelponin kalian kalau udah nyampe\' di sini. Eeh, rupanya kalian udah pada stay duluan di sini. Lengkap pula. Hehee...”
“Yaa ampunnn, Susannnnn ... cafe ini tuh udah kayak rumah kedua kita,” sahut Rere.
“Kalau nggak ada kerjaan, kita selalu nyempatin buat ngumpul bareng di café ini. Jangan aneh yah, kalau selalu hanya aku, cowok sendiri.” sambung Rangga dengan paras lembut dan senyum yang muncul dari raut wajah tampannya.
“Iihhh kalian curang! Kok nggak ngajakin gue?” protes Reni manja.
“Natasya, kok lu diam?” tanyanya heran.
“Tapi mukamu agak kelihatan pucat deh, San,” jawab Rahma.
“Iyah, pucat banget malah.” Rere menambahkan.
“Masa sih? Hmm .. iya nih, rasanya gue mulai nggak enak badan lagi deeh.” Rangga pun menempelkan telapak tangan lembutnya di dahi Reni.
Perhatiannya tertuju dan terpaku untuk Reni yang mereka panggil dengan sebutan Susan. Alhasil, kecemburuan Natasya kian mendalam. Natasya mulai menggerutu. Rasa persahabatan yang dulu tertanam di hatinya, kini buyar oleh ketidaknyamanan dengan kehadiran sosok Reni di antara empat sahabat yang setia bersamanya sedari dulu. Namun di sisi lain, Reni kini mulai merasakan debaran cinta yang seketikadatang menerpa di dada. Ia pun menatap Rangga terpaku dan mematung. Ia membayangkan sosok Adit yang tengah bersamanya.
“Halahh ... sok cari perhatian!” ucapan penuh sinis yang dilontarkan Natasya pada Reni sambil menghentakkan tangan kekesalannya di meja, lalu berdiri acuh. Suasana makin kacau balau. Rere, Rahma dan Rangga ikut tercengang.
“Eehh, Susan! Semenjak Lo bergabung di antara sahabat-sahabat Gue, Gue mulai merasa nggak nyaman dengan kehadiran Lu! Gue kira Lu itu gadis baik-baik yang patut kami jadikan sahabat dan ikut bergabung di jalinan persahabatan ini, eeh ... rupanya Lu sama saja dengan boneka-boneka sok imut, sok cari perhatian!” judes Natasya membentak Reni di hadapan banyak pasang mata pengunjung café tersebut. Sontak, Reni pun kaget. Benar-benar tak menyangka. Dengan kondisi fisiknya yang seakan semakin melemah, ia pun mempertanyakan maksud tuduhan Natasya padanya.
“Ha ... ada apa dengan gue, Nat? Hingga Lo tega nuduh aku yang bukan-bukan kayak gitu! Gue salah apa? Gue juga tak habis pikir, gue kira lu itu layak tuk Gue jadikan sahabat! tapi rupanya, lu tidak ikhlas kalau aku gabung dan menjadi sahabat kalian di sini!
“Sudah! Sudah!” Rangga melerai.
“Nggak usah sok cari perhatian ama sahabat-sahabat gue deeh! Lu tuh nggak pantas bergabung dengan kami! Gabung aja sana, ama boneka-boneka sok imut lain!” Muka Reni kian memucat. Dengan sikapnya yang mudah mengambil keputusan pendek, Reni pun sontak membela diri. Dengan genggaman jus yang masih menempel di tangannya, tak tanggung-tanggung ia pun menumpahkan kekesalannya dengan melemparkan isi gelas ke tubuh Natasya yang tak berhenti menjelek-jelekkan kehadirannya,
Byurrrrrrr
“Hhaaaaa...!” mata sipit Natasya membulat penuh amarah.
“San ... San,” sahut Rara, Rangga dan Rahma menahan Susan pergi. Reni pun pergi tanpa berpamit. Menangis dengan menjerit. Berlari-lari lirih tak tahu arah yang dituju.
“Iiiiikkhhh...” Natasya mendapati dirinya yang basah kuyup. Ia tak ingin mengejar, namun diam di tempat sembari menumpahkan rasa kemarahan yang luar biasa dengan mengucapkan doa buruk agar menimpa Reni segera.
“Kurang ajar, yah!!! Gue sumpahin, lu bakal mati sekarang, San! Kalau perlu, jadi boneka Susan Ngesot!” dengan mata sinisnya meluapkan doa buruk yang diucapkan dengan lantangnya, lalu kembali pulang dengan raut kekesalan.
“Maaamaaaa...” Reni berlari dan mengusap airmata, tidak menyangka kejadian amarah Natasha yang tengah ditimpakan pada dirinya. Yah, baru saja ia mulai merasa bahagia mendapatkan sahabat-sahabat baik yang hangat jika bersamanya, dapat melupakan kenangan-kenangan buruk yang pernah dideritanya. Namun semua itu sama saja baginya, hanya singgah sebentar membahagiakannya lalu dengan mudahnya menghancurkan hati bahkan hidupnya. Sungguh amat tragis, baginya.
“Kenapa semua orang jahat sama Reni ... kenapaaaaaaaa?” ia berteriak sekencang mungkin.
“Rena ... kamu jahat, Ren ... kamu jahat...”
“Adit, kamu jahat, Dit ... kamu jahattttt ... hiks.”
“Natasya ... kamu jahattttttttttttttttt...!”
Teeeettttt ... teeeettttttt ... teeeettttt... suara klakson truk pembawa pasir yang terdengar dari arah dua meter dan…..
“Aaaaaaaaaaaaa...” Reni berteriak histeris. Truk pengangkut pasir pun menyambar Reni dengan kilatnya dan melindas tuntas tubuhnya. Tubuh mungil pun terlempar dan terdampar jauh di pelipir jalan raya. Tak berapa lama Reni berdiri lagi.
“Alhamdulillah, yah. Aku masih diselamatkan Tuhan,” ucap Reni tersenyum.
“Reeeeeeeniiiiii...” teriak Rangga.
Reni bingung, mengapa Rangga teriak? Padahal dirinya tidak apa-apa. Ia menoleh ke samping, dan ternyata ia melihat tubuhnya tergeletak di aspal.
“Berarti aku sudah meninggal? Lebih parah lagi arwahku gentayangan?” tanya Reni. Tiba-tiba ia merasa tubuhnya jadi kecil seperti boneka Susan. Reni melihat Rangga, Rere dan Rahma menghampiri tubuhnya.
Mereka hanya mendapati Reni yang tidak bernapas lagi. Dewi, mamanya Reni yang kebetulan lewat pun singgah di tengah kemacetan lalu-lintas. Tangisnya pun pecah di tengah bisingnya keramaian yang ada. Ia benar-benar tak menyangka dengan kejadian buruk yang menerpanya. Mamanya mendapati anak tercinta yang sudah tidak bernyawa lagi dengan bercak-bercak darah yang berceceran si sekujur tubuh.
“Tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkk!!!” teriaknya tak menerima.
“Bangun, Sayang! Banguuuunnnn…” sambil menggoyang-goyangkan badan Reni yang tak berdaya tanpa napas.
“Mama, jangan sedih dong! Reni masih ada di samping Mama,” ucap Reni. Namun nihil mamanya tak dapat mendengar apa yang ia ucapkan.
“Kenapa semua ini terjadi ?” sesal Rangga penuh tanya. Semua orang yang menyaksikan, ikut membantu menggotong mayat Reni ke rumahnya.
Dunia medis sudah tidak dapat membantu seseorang yang sudah tidak bernyawa lagi. Dengan penuh sesal, Dewi pun ikhlas merelakan kepergian sang anak. Ia lalu menelpon sanak keluarganya, tak lupa mengabarkan Rena serta ayahnya.
Tapi sayang Rena dan ayahnya sedang berada di luar negeri, sehingga tak bisa menghadiri acara pemakaman. Pertemuan sebagai perpisahan terakhir untuk selama-lamanya. Dengan meninggalkan sejuta kenangan serta cita-cita yang belum tersampaikan, Reni akhirnya pergi meninggalkan dunia fana serta sang mama dan juga semua orang-orang yang menyayanginya untuk selama-lamanya. Reni mati dengan penasaran. Baju merah bagaikan seragam boneka, pemberian sang mama kini menjadi busana terakhir yang dikenakannya sebelum pergi untuk selama-lamanya.
“Reeeeeeeeeeniiiiii…” jerit Rere, sahabatnya yang penuh penyesalan. Nampak pula sosok Adit, Rangga, Rere, dan Rahma. Hanya Natasya yang tak turut melayat. Ia masih tak menyangka dengan kejadian yang benar-benar kini menjadi kenyataan. Reni tewas seketika, sesaat setelah ia meluapkan sumpah yang tak sengaja ia ucapkan akibat kekesalannya pada saat itu.
“Maafkan aku, Ren. Tenanglah di alam sana. Aku tak akan pernah melupakan semua kenangan indah saat bersamamu.” Batin Adit.
“Tenanglah, Reni Sayang.” Doa sang mama mengalir dari ucapan lirihnya.
“Tenanglah di sana, Sahabat.” Rangga, Rere dan Rahma pun turut berdoa untuk sang sahabat yang baru saja mereka kenal. Namun, sang Takdir kini memihak kepada mereka semua yang bernyawa.

Other Stories
Dari Luka Menjadi Cahaya

Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Download Titik & Koma