Sundel Bolong Cantik
Mario memindahkan pakaiannya ke dalam lemari. Dia mengalungkan handuk di leher dan membawa perlengkapan mandi serta celana panjang ke ruangan di dekat dapur. Pemuda tinggi itu kaget saat ke luar kamar mandi karena melihat seorang gadis bergaun biru berbaring di ranjangnya dengan rambut panjang tergerai hingga ke pinggang.
“Siapa kau?” tanya Mario.
“Penunggu kamar ini,” wanita itu memiringkan badan ke arahnya. Menampakkan wajahnya yang cantik. Bermata sipit seperti artis drama Korea. Pipinya tembem menggemaskan dengan dua lesung pipit.
“Sekarang kamar ini milikku. Cepat kau pergi,” usir Mario seraya berusaha meraih tangan gadis yang perutnya bolong itu.
Gadis itu menghilang sebelum Mario menyentuh tangannya. Dia tertawa cekikikan.
“Kau mau main-main denganku rupanya. Pergi dari sini atau kumasukkan dalam cincin Tongghost ini!” Mario mengepalkan tangan kiri di udara. Menampakkan cincin batu safir dengan bintik-bintik merah.
Gadis bergaun biru itu berhenti tertawa dan duduk menjuntai di atas lemari.
“Rupanya lo putra keluarga Tongghost,” gadis itu tersenyum.
“Iya, aku Mario Tongghost, penangkap hantu terkenal.”
“Gue Lena Protu, nggak takut dengan penangkap hantu manapun, termasuk lo. Lagipula, cincin itu cuma bisa menampung satu hantu lagi atau dia akan meledak karena kelebihan kuota dan sembilan ratus sembilan puluh sembilan hantu yang sudah lo tangkap akan mengejar lo,” tawa Lena melengking.
“Protu? Hmm, rupanya kau putri Profesor Hendri Protu. Kau benar, tapi cincin ini masih bisa untuk menangkap kau,” Mario menyeringai menatap Lena yang masih duduk di atas lemari pakaiannya.
Lena menghilang. Mario membuka lemari. Dia mendadak melompat ke belakang karena Lena ada di dalam lemari pakaiannya. Jantung pemuda keriting itu serasa mau melompat keluar menembus dadanya. Sundel bolong cantik itu tertawa sebelum benar-benar menghilang.
Mario memakai baju kaos lengan pendek. Dia mengambil kotak kecil di laci. Memasang benda mirip USB di cincin Tongghost untuk menghubungkannya dengan android. Membuka aplikasi Kampoeng Hantoo dan menekan send. Dalam sekejap, cincin Tongghostnya menunjukkan angka nol. Pemuda keriting itu tidak ingin mengambil risiko seperti saudarinya, karena bisa jadi Lena bukan satu-satunya penghuni museum itu.
“Kenapa aku bisa lupa? Lena kan hantu yang aku cari,” gumam Mario sambil menepuk jidat, “Sudahlah, nanti dia pasti kembali. saat itu aku bakal menyerahkan benda titipan Amangnya.”
***
Other Stories
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Chromatic Goodbye
"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...