BAB II: DUNIA YANG ASING
Laboratorium dan Rindu
SMK Kesehatan Tirta Medika bukan sekolah elit. Gedungnya sederhana, laboratoriumnya terbatas, dan guru-gurunya sering terlihat lelah. Tapi bagi Arunika, ini adalah jalan menuju mimpi keluarganya.
Di kelas, ia selalu duduk di barisan depan. Ia rajin mencatat, menghafal rumus kimia, memahami struktur obat, dan mengikuti praktikum dengan tekun.
Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa salah.
Ia tak pernah merasa “hidup” saat memegang alat laboratorium. Ia tak merasa bersemangat saat belajar tentang dosis obat. Ia merasa seperti aktor yang sedang memainkan peran yang bukan miliknya.
“Aku kok kayak nggak cocok ya, di sini?” gumamnya suatu malam, sambil menatap buku farmakologi yang terbuka di meja kecil kamarnya.
Tapi setiap kali ia mulai meragukan, wajah ayah dan ibu muncul di benaknya. Suara ibu yang berkata, “Kamu anak pintar, pasti bisa.” Suara ayah yang bilang, “Nanti kamu bisa bantu adik-adik sepupu dan keponakanmu kuliah.”
Maka, Arunika terus berjalan. Ia terus belajar. Ia terus meraih prestasi. Juara kelas. Juara lomba karya tulis ilmiah. Bahkan, ia dipilih menjadi perwakilan sekolah dalam lomba kesehatan tingkat provinsi.
Tapi di tengah semua itu, hatinya perlahan-lahan mengering.
Hanya di pantai, saat malam tiba, ia merasa hidup. Saat angin laut menyapu wajahnya, saat ombak memanggil namanya, saat bulan purnama memantul di air seperti janji yang tak pernah pudar.
Di sana, ia merasa laut tidak menuntut apa-apa. Laut hanya menerima. Seperti ibu yang tak pernah bicara, tapi selalu tahu kapan anaknya sedang menangis.
Mimpi yang Tidak Pernah Diucapkan
Dalam jurnal rahasia yang disembunyikannya di bawah kasur, Arunika menulis:
“Aku ingin jadi penulis. Aku ingin menulis tentang laut. Tentang orang-orang di desa. Tentang perempuan yang melawan arus. Tapi siapa yang akan membaca tulisan anak desa?”
Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun. Tapi laut tahu. Karena setiap malam, ia membacakan kalimat-kalimat itu pada ombak.
Dan ombak selalu mendengarkan.
SMK Kesehatan Tirta Medika bukan sekolah elit. Gedungnya sederhana, laboratoriumnya terbatas, dan guru-gurunya sering terlihat lelah. Tapi bagi Arunika, ini adalah jalan menuju mimpi keluarganya.
Di kelas, ia selalu duduk di barisan depan. Ia rajin mencatat, menghafal rumus kimia, memahami struktur obat, dan mengikuti praktikum dengan tekun.
Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang terasa salah.
Ia tak pernah merasa “hidup” saat memegang alat laboratorium. Ia tak merasa bersemangat saat belajar tentang dosis obat. Ia merasa seperti aktor yang sedang memainkan peran yang bukan miliknya.
“Aku kok kayak nggak cocok ya, di sini?” gumamnya suatu malam, sambil menatap buku farmakologi yang terbuka di meja kecil kamarnya.
Tapi setiap kali ia mulai meragukan, wajah ayah dan ibu muncul di benaknya. Suara ibu yang berkata, “Kamu anak pintar, pasti bisa.” Suara ayah yang bilang, “Nanti kamu bisa bantu adik-adik sepupu dan keponakanmu kuliah.”
Maka, Arunika terus berjalan. Ia terus belajar. Ia terus meraih prestasi. Juara kelas. Juara lomba karya tulis ilmiah. Bahkan, ia dipilih menjadi perwakilan sekolah dalam lomba kesehatan tingkat provinsi.
Tapi di tengah semua itu, hatinya perlahan-lahan mengering.
Hanya di pantai, saat malam tiba, ia merasa hidup. Saat angin laut menyapu wajahnya, saat ombak memanggil namanya, saat bulan purnama memantul di air seperti janji yang tak pernah pudar.
Di sana, ia merasa laut tidak menuntut apa-apa. Laut hanya menerima. Seperti ibu yang tak pernah bicara, tapi selalu tahu kapan anaknya sedang menangis.
Mimpi yang Tidak Pernah Diucapkan
Dalam jurnal rahasia yang disembunyikannya di bawah kasur, Arunika menulis:
“Aku ingin jadi penulis. Aku ingin menulis tentang laut. Tentang orang-orang di desa. Tentang perempuan yang melawan arus. Tapi siapa yang akan membaca tulisan anak desa?”
Ia tidak pernah memberi tahu siapa pun. Tapi laut tahu. Karena setiap malam, ia membacakan kalimat-kalimat itu pada ombak.
Dan ombak selalu mendengarkan.
Other Stories
Cowok Hujan
Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Percobaan
percobaan ...