Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan

Reads
1.4K
Votes
9
Parts
12
Vote
Report
Arungi waktu; ombak bergulung, waktu berderai—namun jangkar tak pernah ia turunkan
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Penulis Ivoryfloome

BAB IX: PULANG— BUKAN SEBAGAI PEMENANG, TAPI SEBAGAI MANUSIA UTUH

Kapal Kecil yang Kembali

Dua tahun setelah pertama kali pergi, Arunika kembali ke Tirtamulya.

Ia tidak datang dengan mobil mewah. Tidak dengan koper kulit. Ia datang dengan bus umum, membawa satu koper kecil, jurnalnya yang sudah penuh coretan, dan kalung kerang yang tak pernah lepas dari lehernya.

Ketika turun di dermaga, angin laut langsung menyambutnya — bau garam, suara ombak, deburan yang akrab. Ia menutup mata. Napasnya perlahan.

Aku pulang.

Di ujung dermaga, ayahnya berdiri, memperbaiki jaring. Ia menoleh. Matanya berkaca-kaca. Tidak langsung memeluk. Hanya mengangguk.

“Sudah lama, Nak.”

Arunika tersenyum. “Iya, Yah. Sudah lama.”

Mereka berjalan berdampingan menuju rumah. Tidak banyak bicara. Tapi setiap langkah terasa penuh makna.

Rumah kecil berdinding kayu itu tidak berubah. Atapnya masih bocor saat hujan. Lantainya masih dari semen. Tapi kali ini, Arunika melihatnya dengan mata yang berbeda.

Ia bukan lagi anak yang merasa terjebak.
Ia bukan lagi anak yang merasa desa ini sempit.
Ia melihat rumah ini sebagai tempat pulang yang sebenarnya.

Ibunya menyambut dengan pelukan erat. “Kamu gemuk, Nak. Di Jogja makan enak ya?”

Arunika tertawa. “Iya, Bu. Tapi yang paling enak tetap jamu Bu.”

Malam itu, setelah makan malam, ia duduk di teras. Menatap laut. Ombak datang, memecah, lalu surut — seperti dulu. Seperti selalu.

Ia membuka jurnal:

Aku kembali. Bukan karena aku gagal di kota. Tapi karena aku ingin memulai sesuatu di sini.
Aku bukan pemenang. Aku bukan selebritas. Aku bukan orang penting.
Aku hanya ingin membuat tempat ini sedikit lebih baik.
Aku ingin anak-anak di sini tahu: mereka bisa bermimpi. Bahkan jika mimpinya sebesar laut.”

Mimpi yang Dibawa Pulang

Esok harinya, Arunika memanggil warga desa. Ia berdiri di balai desa kecil, dengan poster sederhana:

RUMAH BACA ARUNIKA – Tempat Belajar, Bermimpi, dan Menjadi Diri Sendiri

“Saya ingin membuka ruang baca di sini,” katanya pelan. “Untuk anak-anak. Untuk siapa saja yang ingin belajar. Tidak perlu bayar. Cukup niat.”

Beberapa orang mengangguk. Beberapa menatap ragu.
“Buat apa baca-baca? Nanti juga jadi nelayan kayak bapaknya,” kata seorang lelaki paruh baya.

Arunika tidak marah. Ia tersenyum. “Iya, mungkin. Tapi kalau anak kita bisa baca, ia bisa tahu cara memperbaiki jaring yang lebih kuat. Ia bisa baca cuaca. Ia bisa menulis surat untuk pemerintah kalau laut rusak.”

Ia menatap anak-anak. “Dan mungkin, suatu hari, ada yang jadi guru. Atau penulis. Atau dokter. Tapi semua itu dimulai dari satu hal: bisa membaca.”

Luna, yang kini sudah kelas 6 SD, langsung angkat tangan. “Aku mau jadi relawan, Kak!”
Anak-anak lain ikut tertawa dan mengangkat tangannya antusias “Aku juga! Aku juga!”

Warga mulai tersenyum. Lama-lama, dukungan mengalir.

Namun, tidak semua mendukung.

Suatu malam, ayahnya berkata pelan:
“Kamu tahu, Nak, aku bangga kamu bisa bicara di panggung besar. Tapi… aku takut.

Arunika menatap ayahnya. “Takut apa, Yah?”

“Takut kamu terlalu banyak bicara. Di desa ini, orang yang terlalu banyak bicara… kadang dianggap mengacaukan.”

Arunika mengerti. Ia tahu ayahnya takut ia akan dihakimi, dikucilkan, atau bahkan disalahpahami.

“Yah,” kata Arunika lembut. “Aku bukan mau melawan siapa-siapa. Aku hanya ingin membantu. Aku bukan mau jadi pemimpin. Aku hanya mau jadi teman belajar.”

Pak Darmo diam. Lama. Lalu berkata:
“Jangan sampai kamu terluka lagi, Nak. Aku nggak tahan lihat kamu menangis.”

Arunika memeluk ayahnya. “Aku nggak akan menyerah. Tapi aku juga nggak akan melupakan dari mana aku berasal. Aku tetap anak laut. Dan laut mengajarku: tenang di tengah badai.”

Pak Darmo mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kamu yakin… aku dukung.


Laut sebagai Saksi Pembangunan

Mereka membangun “Rumah Baca Arunika” di bekas gudang ikan yang tidak terpakai, dekat pantai.
Warga membantu. Ada yang menyumbang kayu. Ada yang mengecat. Ada yang membuat rak dari bambu. Anak-anak datang membawa buku bekas dari rumah.

Di dinding, Arunika menulis dengan kapur:
Di sini, setiap mimpi punya tempat.”

Di depan rumah baca, ia tanam pohon kelapa kecil. “Supaya kelak, bayi yang lahir di sini bisa membaca di bawah naungannya,” katanya sambil tertawa.

Setiap malam, setelah semua selesai, Arunika duduk di batu karang. Memandang laut.

“Terima kasih,” bisiknya.

“Karena kamu tidak pernah berhenti mengajariku.
Karena kamu selalu tahu kapan aku harus pergi…
dan kapan aku harus pulang.”

Ombak datang, membasahi kakinya. Memberinya kembali kasih yang hangat.


Hari Pertama Rumah Baca Dibuka

Hari pertama dibuka, 27 anak datang. Ada yang membawa sepatu. Ada yang bertelanjang kaki. Tapi semua punya senyum yang sama.

Arunika membuka dengan cerita:
“Dulu, aku pernah merasa tidak punya masa depan. Tapi aku belajar dari laut: selama masih ada pasang, masih ada harapan.”

Ia membacakan cerita tentang nelayan perempuan yang melawan badai. Tentang anak yang belajar membaca di bawah pohon. Tentang mimpi yang tumbuh perlahan.
Anak-anak tertawa. Bertanya. Mencoret-coret buku.

Di sudut, Pak Darmo berdiri diam. Memandang putrinya yang kini berdiri di depan anak-anak, seperti guru sejati.

Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Arunika sebagai “harapan keluarga”
Ia melihatnya sebagai dirinya sendiri


Beberapa minggu kemudian, Arunika menerima surat dari Kanaya.

Aku dengar kamu pulang dan buka rumah baca. Aku senang. Kamu membawa laut ke darat.
Aku ingin datang suatu hari. Mungkin aku bisa ajarkan bahasa isyarat ke anak-anakmu. Agar mereka tahu: diam bukan berarti tidak bisa bicara.
Teruslah menjadi jangkar bagi yang hanyut.

Dengan cinta,
Kanaya.

Arunika menatap surat itu lama. Ia tahu:

persahabatannya dengan Kanaya adalah benih dari sesuatu yang lebih besar.

Other Stories
Air Susu Dibalas Madu

Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Nala

Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...

Download Titik & Koma