Bab 11 Maya, Ibu Ratna Dan Masa Lalu
Maya, ibu Ratna dan Masa Lalu
Dari semua masalah mutan, musuh besar, dan tugas menyelamatkan kota, satu hal yang paling sulit buatku adalah... ngadepin cewek nangis.
Dan sekarang, Maya nangis di atap rumah Pak Handoyo.
Bukan nangis biasa. Nangisnya diem. Muka menunduk. Hidungnya merah. Rambutnya ketempel angin. Dan aroma parfumnya yang biasanya bisa bikin satu kecamatan semangat ujian Matematika, sekarang malah bikin suasana makin mellow.
Aku berdiri di dekat tangga. Gagal memutuskan harus nyamperin atau pura-pura nggak lihat.
"Mau ngomong, nggak?" tanyaku, akhirnya
nyamperin.
Dia nggak jawab. lalu aku duduk di sampingnya. Sefia nggak ada, Fredy lagi patroli, Pak Handoyo lagi ngoprek entah alat apa di basement, dan Dolce lagi ngelive Q&A dari Paris pake baju bulu warna pelangi. Jadi, tinggal aku yang bisa nemenin Maya. Yang jelas... pilihan yang kurang meyakinkan.
Setelah hening lama, dia buka suara. "Tahu nggak, aku ini siapa?"
Aku ngedip. "Maya?"
Dia menoleh, matanya merah. "Aku ini... hasil percobaan."
Aku ngelus tengkuk. "Percobaan biologi kelas 8?"
Dia nyengir miris. "Lebih parah. Ibuku, Profesor Ratna, ngetes efek mutasi ke aku sejak kecil. Aku... aku bahkan nggak tumbuh kayak anak biasa. Aku di-"disimpan" di desa ninja di Jepang karena dia nggak tahu harus gimana. Dan sekarang, dia cuma deketin aku lagi karena pengen data buat penelitian mutasi generasi kedua."
Aku nggak bisa langsung jawab. Otakku ngeluh, hatiku cenut-cenut, dan pantatku masih sakit dari lompatan pagi tadi pas ngalahin mutan salju.
Akhirnya aku berkata, "Maya... kamu itu bukan hasil percobaan. Kamu temenku. Kamu orang yang bikin satu sekolah semangat makan sayur karena aromamu. Kamu orang yang bisa ngelawan tiga mutan dalam satu waktu. Kamu ninja, kamu pahlawan, kamu... bagian dari keluarga kita."
Dia pelan-pelan nyender di pundakku. "Kamu lebay, tahu nggak."
Aku nyengir. "Ya... yang penting kamu nggak sedih lagi."
Beberapa detik kemudian, pintu atap terbuka. Sefia muncul sambil bawa dua kotak susu coklat.
"Drama lagi, ya?" katanya, lalu duduk di sebelah Maya. "Udah, minum dulu. Besok kita tanya ke Pak Handoyo soal masa lalu ibumu. Tapi malam ini... kita nikmati sunset aja."
Kami bertiga duduk diam. Angin sore berhembus. Dan entah kenapa, sore itu, atap rumah Pak Handoyo terasa kayak rumah paling nyaman di dunia. Sampai kucing tetangga lewat dan pipis di dekat tiang antena kedengeran.
Tapi ya... hidup nggak pernah sempurna. Tapi kadang, cukup.
Aku, Maya, dan Ibunya
Ada satu hal yang bikin aku resah akhir-akhir ini. Bukan soal nilai ulangan Matematika yang penuh perdebatan moral (nilai 45 itu lulus kalau hatimu ikhlas), bukan juga soal wajan warung yang hilang (yang ternyata dipakai ibuku sendiri buat nabok tikus). Tapi soal Maya dan ibunya—Bu Ratna.
Sejak aku kenal Maya, aku tahu dia anak yang kuat, tajam instingnya, dan... punya aroma tubuh yang bisa bikin orang ngaku dosa meski cuma kentut di kelas. Tapi di balik senyumnya yang kadang tajam kayak shuriken, Maya itu kesepian. Aku tahu itu.
Dan aku nekat.
Hari itu aku datengin rumah Bu Ratna. Rumahnya besar. Dingin. Minimalis. Lebih dingin dari bungkusan gorengan jam empat sore.
Aku duduk di ruang tamu, berdua dengan Bu Ratna. Maya ngumpet di kamarnya. Aku bisa dengar dia muter musik Jepang dari headphone-nya, tapi kupingku lebih fokus ke degup jantungku yang seperti genderang perang.
Bu Ratna menatapku seperti aku objek penelitian. Bukan manusia. Tapi subjek eksperimen dengan nomor seri CHY-001.
Dan aku salah duduk. Kursi tamunya empuk, tapi bikin selangkanganku kejepit. Sial.
"Jadi kamu... Cahyo?" tanya Bu Ratna.
"Iya, Bu. Saya temennya Maya. Temen... seperjuangan. Satu geng. Bukan geng motor, geng penyelamat kota."
"Aku tahu. Dari semua data yang kuterima, kamu... tak berpotensi."
"Oh." Sesuatu yang keluar dari mulut yang nggak bisa protes.
Tuh kan. Baru lima menit, harga diriku sudah di-nerf.
Tapi aku tahan. Karena aku tahu, ada luka di balik dinginnya suara Bu Ratna.
"Maya... butuh tempat yang aman, Bu," kataku, pelan. "Bukan lab. Bukan ruang riset. Tapi pelukan... eh maksud saya, pelukan emosional, bukan fisik."
Bu Ratna diam. Sejenak. Lalu menatapku.
"Kau tahu siapa ayah Maya?"
Aku gelagapan.
"Eee... Naruto?"
"Bukan. Dan dia tak butuh tahu. Aku ingin Maya jadi kuat, bukan jadi seperti aku."
"Tapi mungkin... dia butuh jadi dirinya sendiri, Bu. Bukan versi yang Ibu mau."
Bu Ratna menatapku. Matanya merah. Tapi bukan karena marah.
Dia berdiri. Menuang teh untukku. Tangannya gemetar sedikit. Aku tahu, ada perasaan yang disembunyikan di balik jas laboratorium itu.
"Kenapa kamu peduli?"
"Karena dia temen saya. Temen yang udah ikut nolongin kota, jagain saya, bantu warung saya, dan... kadang masakin mie rebus waktu saya flu. Saya nggak mau dia terus merasa sendirian, Bu."
Sunyi. Lalu pintu kamar Maya terbuka.
Dia berdiri di ambang pintu.
Dengan hoodie putihnya. Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Ibu, aku mau di sini. Sama mereka. Sama Cahyo. Sama semua orang yang nggak ngelihat aku cuma dari kemampuan mutan... tapi dari perasaan."
Dan aku... mewek.
Tapi aku tahan. Cowok tangguh itu boleh mewek, asal nggak di depan kamera CCTV.
Hari itu... mungkin tidak langsung menyatukan hati mereka. Tapi aku tahu, tembok di antara mereka mulai retak. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Bu Ratna memeluk Maya. Kaku. Kayak robot. Tapi itu pelukan juga.
Dan aku, Cahyo, merasa hari itu... berhasil jadi pahlawan.B ukan buat kota. Tapi buat dua hati yang butuh dipertemukan
Handoyo, Bu Ratna, dan Masa Lalu
Ada hal-hal di dunia ini yang lebih berbahaya dari mutan berkepala lele. Lebih ngeri dari manusia besi. Yaitu... mantan yang belum selesai urusannya.
Dan hari ini, Pak Handoyo dan Bu Ratna akan... bertemu.
Aku duduk di pojokan ruang laboratorium sambil pura-pura baca buku tebal bertuliskan "Mutasi Genetik dan Implikasi Sosial Global". Padahal yang aku baca cuma kata pengantarnya doang. Sisanya aku sibuk merhatiin mereka.
Sefia dan Maya juga ada di situ. Tapi Sefia sibuk ngedit beat rap, dan Maya duduk memeluk lutut, pura-pura nggak peduli. Tapi dari cara dia nunduk, aku tahu dia deg-degan. Aku juga. Bahkan dengkulku udah goyang-goyang kayak penyanyi dangdut kedinginan.
“Ratna…” suara Pak Handoyo akhirnya terdengar. Berat. Serius.
“Jangan pakai nada ilmiah. Aku bukan objek debat jurnal lagi,” jawab Bu Ratna.
Boom. Satu kosong buat Bu Ratna.
“Aku minta maaf karena dulu... terlalu fokus pada penelitian kita. Dan lupa... kamu bukan hanya rekan riset, tapi—”
“Tapi wanita yang kau manfaatkan,” potong Bu Ratna.
Boom lagi. Dua kosong.
Maya meneguk ludah. Aku juga.
“Kamu tinggalkan aku dengan janji bahwa mutasi bisa menyelamatkan dunia. Tapi yang aku dapat cuma... hamil sendirian, ngelahirin sendiri, dan nitip anak ke ninja!”
“Aku... nggak tahu kamu hamil. Kamu pergi tanpa kabar.”
“Karena kamu selalu bilang"Eksperimen nomor satu, Ratna. Cinta bisa nanti." "
Pak Handoyo diam.
Lalu untuk pertama kalinya aku lihat dia... mengusap matanya. Cowok tua itu nangis.
Dan nggak ada CCTV buat nangkap momen itu.
“Aku salah. Dan Maya... tidak pantas jadi korban dari kesalahan kita.”
Bu Ratna mulai goyah. Aku bisa lihat tangannya gemetar. Tapi masih gengsi. " Tapi korbannya Maya"
Maya berdiri. "Aku bukan korban, Bu. Aku bukan produk gagal. Aku... Maya. Dan aku sekarang punya keluarga baru. Cahyo, Sefia, Fredy, Dolce, bahkan Pak Handoyo.
Aku nggak minta kalian balikan. Tapi... selesainlah urusan kalian. Aku capek lihat kalian saling ngumpetin luka.”
Hening.
Lalu, tiba-tiba Bu Ratna tertawa pelan.
“Kau keras kepala seperti ayahmu.”
“Ayahku siapa?”
Aku mulai mikir kalau bukan Naruto ya Sasuke…
“Nanti. Bukan sekarang.”
Yah. Main rahasia lagi…….
“Duh, Bu. Jangan di-cliffhanger kayak sinetron.” kata Maya sembari tersenyum.
Kami semua ketawa.
Ketegangan yang tadi bisa bikin mesin kopi meledak... berubah jadi kehangatan aneh. Dan aku, Cahyo, merasa... mungkin tugas superheroku bukan cuma ngelawan makhluk mutasi. Tapi juga bantu memperbaiki orang-orang yang rusak karena masa lalu.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Bu Ratna bilang, “Terima kasih,” ke Pak Handoyo.
Dan Pak Handoyo bilang, “Maaf.”
Dan itu cukup.
Titipan Bernama Maya
Ada hal yang lebih berat daripada mengangkat karung berisi ikan gurame mutasi. Yaitu merawat perasaan seseorang yang kamu sayang, tapi bukan siapa-siapa kamu.
Hari itu, setelah pertengkaran dan air mata reda, aku pikir semua udah selesai. Tapi ternyata belum. Bu Ratna datang lagi. Duduk di ruang tamu rumah Pak Handoyo. Raut wajahnya tenang, tapi matanya... kosong. Seperti orang yang akan pergi jauh.
“Aku akan pergi,” katanya tiba-tiba.
“Pergi?” tanya Pak Handoyo.
“Keliling dunia. Ada hal-hal yang harus aku selesaikan. Penelitian lama yang... belum selesai. Dan... sesuatu yang nggak bisa kuceritakan sekarang. Tapi penting.
Aku dan Maya sama-sama diam. aku tahu Maya ingin bilang "Jangan pergi." Tapi dia nggak ngomong.
Cuma memeluk boneka ninja kecil yang dia dapet dari Jepang waktu kecil. Boneka itu udah lecek, tapi dia masih simpan.
“Tolong rawat Maya.”
“Tentu,” kata Pak Handoyo. “Dia keluargaku.”
“Bukan cuma secara darah, tapi secara... rasa,” tambah Bu Ratna.
“Dia anak keras kepala. Mirip ayahnya.”
“Aku masih penasaran siapa ayahku, Bu,” potong Maya.
Bu Ratna menatap putrinya.
“Suatu hari akan kukatakan. Tapi bukan sekarang. Yang jelas, dia pejuang. Sama seperti kamu.”
Aku mulai mikir kalau ayahnya maya Shikamaru.
Maya cuma mengangguk. Pelan.
Aku tahu dia kecewa. Tapi dia juga paham... kadang orang dewasa menyimpan luka seperti menyimpan kunci diam-diam, dan jauh dari jangkauan anaknya.
Sebelum pergi, Bu Ratna mendekatiku.
“Cahyo, jaga dia.”
“Dengan segenap ketololan saya, siap, Bu,” jawabku.
“Jangan terlalu tolol. Karena Maya itu anak istimewa. Kalau kamu bikin dia nangis, saya bisa mutasiin kamu jadi kecoa.”
Waw. Mutasi kecoa di campur kodok gimana jadinya?
Kami ketawa. Tapi mataku basah.
Bu Ratna peluk Maya sebentar. Sangat sebentar.
Lalu pergi.dan sejak hari itu, Maya tinggal sepenuhnya di rumah Pak Handoyo. Dia tidur di kamar Sefia. Belajar di lab. Kadang ikut ngopi di warung ibuku.
Tapi ada hal yang berubah.
Dia lebih sering diam. Lebih sering mandangin langit malam. Dan aku tahu... rindu itu lebih mutan dari segala mutasi. Karena bisa menjalar ke hati siapa saja
Besoknya, dia bilang padaku. "Cahyo, makasih udah nggak nyuruh aku senyum.”
“Lho, kenapa?”
“Karena kadang kita cuma butuh temen buat diem bareng. Bukan disuruh bahagia.”
Dan malam itu, kami duduk bareng di atap rumah Pak Handoyo.
Berdua. Diam.
Sampai Sefia nyamperin dan nanya, “Kalian pacaran?”
Langsung kami berdua
NGGAKKK!!!!
Other Stories
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...