Bab 16 Teleportasi, OSIRIS, Dan Misi Kota Di Ujung Malam
Malam itu, aku duduk termenung di kursi markas sambil ngelapin topeng. Belum sempat istirahat setelah insiden penculikan Evi, tiba-tiba, Evi datang sambil bawa tas pinggang menyala neon dan ekspresi super percaya diri.
“Cahyo, pakai sepatu. Kita punya misi.”
"Misi tidur siang?”
“Misi nyari markas Bagas. Sekarang.”
Kami briefing dulu bareng Pak Handoyo, Fredy, Sefia, Maya, Wulan, dan... tentu saja Dolce yang sibuk milih warna lipstik sesuai hoodie.
“Kita harus temukan markas OSIRIS—Organisasi SIstem Rahasia Ilmiah Spesial.”
“Namanya maksa banget, kek” sela Sefia.
“Ya, tapi bahaya. Mereka sedang mengumpulkan anak-anak muda, remaja, bahkan mantan preman buat jadi kader... dengan teknologi mutasi, senjata, dan propaganda.”
Fredy angkat tangan. “Kita serbu, Pak?”
“Bukan. Kita selidiki dulu. Jangan gegabah.”
Evi langsung maju. "Aku siap teleport. Untung aku sudah hafal semua sudut kota. Fredy nganterin aku dua hari penuh. Coba tugas ini dipegang Cahyo... mungkin kita teleport-nya ke kolam lele.”
SEMUA KETAWA.
AKU MANYUN.
"Aku juga bisa kok teleport, Vi. Teleportasi hati dari satu penolakan ke penolakan lain."
Kami dibagi dalam tim kecil. Aku, Maya, dan Evi di tim A. Sefia, Wulan, dan Fredy di tim B (Fredy tetap standby sebagai sniper dari atap gedung lewat koordinat Evi).
Dolce dan Pak Handoyo di ruang kontrol, pantau kami lewat kamera topeng.
Kami teleport ke bekas pabrik mi instan.
Gedung bioskop tua.terowongan bawah tanah.
Mall yang udah bangkrut.
Sampai akhirnya... di area bekas gedung pelatihan bela diri yang terbakar 2 tahun lalu...
“Vi, tempat ini aneh. Arah panasnya beda.”
Maya menyalakan pendeteksi panas.
Dan benar...
Ada lorong rahasia. Ada lift bawah tanah. Dan... ada logo OSIRIS di dinding. Markas OSIRIS dan Geng Topeng
Kami masuk diam-diam. Di dalam terlihat Ruangan penuh peralatan eksperimen. Anak-anak muda yang dilatih fisik dan strategi. Geng topeng—kini sudah bergabung dalam OSIRIS sebagai pasukan lapangan.
Tiba-tiba alarm berbunyi.
“MASUKAN TAK DIKENAL."
Pertarungan pecah.
Aku langsung mengaktifkan listrik, Maya menghunus pedang plasmanya, Evi teleport kami bergantian untuk menghindari laser.
Sefia melontarkan drum minyak ke arah pasukan.
Fredy memberi cover dengan peluru bius dari atap.
Tapi sebelum kami bisa lebih jauh...
[STOP!]
Suara dari interkom topeng kami.
Pak Handoyo.
[Jangan lanjutkan serangan. Aku ingin negosiasi. Dengan Bagas.]
Pertemuan di Tengah Ketegangan
Suara berat muncul dari balik lorong kaca.
Bagas.
Mantan murid Pak Handoyo. Kini tampil dengan armor hitam biru, wajah sebagian tertutup masker transparan.
"Jadi akhirnya kau datang juga, Pak.”
“Kau tahu aku akan datang.” Surara pak Handoyo dari pengeras topeng kami
"Apa yang kau lakukan dulu... meninggalkan eksperimen kita... itu pengkhianatan.”
“Dan yang kau lakukan sekarang... menghalalkan segala cara untuk ide mulia yang bengkok.”
Kami semua berdiri waspada.
Senjata di tangan. Aura listrik di udara.
Tapi belum saatnya menyerang.
"Kita bicara dulu,” kata Pak Handoyo,“Sebelum ini berubah jadi perang mutan.”
Satu Langkah ke Dalam Kegelapan
Kami berhasil kabur dari markas OSIRIS dengan data yang kami ambil diam-diam dari server mereka (terima kasih, Evi, dan ketepelmu yang bisa nyuri flashdisk).
Tapi kami tahu...
OSIRIS bukan sekadar organisasi kecil.
Mereka akan kembali.
Lebih besar.
Lebih siap.
Lebih berbahaya.
Dan sejujurnya...
Aku makin takut.
INI MIMPI BURUK!
Bagas, Serum, dan Perjanjian Gila
Markas sore itu mendadak tegang.
Padahal biasanya kita cuma rame karena rebutan masakan Fredy atau karena Dolce gonta-ganti wig tiap lima menit. Tapi kali ini beda. Semua duduk serius. Penuh konsentrasi. Bahkan Sefia nggak bawel. Ini gawat.
Di layar besar terpampang wajah seseorang—bagian dagu tertutup masker dan sisanya tertutup hoodie.
Bagas.
Mantan murid Pak Handoyo.
Mantan asisten dan teman Dolce.
Dan kini... pentolan OSIRIS.
Penyusupan Dolce dan Fakta Mengejutkan
Dolce, dengan gaya paling dramatisnya, berdiri di tengah ruangan pakai hoodie yang bisa berubah wujud. Kali ini, dia tampil seperti anak magang OSIRIS dengan mata merah dan tato kode QR di pipi.
“Aku menyusup seminggu penuh, tidur cuma 15 menit sehari, makan cuma buah plum dan dendeng sapi!”
“Kamu diet?” tanyaku iseng.
“CAHYO, FOKUS!”
“Oke, oke... lanjut, lanjut.”
Dolce menunjukkan hasil penyelidikannya:
1. Bagas bukan ahli mutan.
Dia ahli teknologi absurd tapi canggih. (Contoh: sepatu dengan pendorong roket dan alat pencuci otak bentuk donat.)
2. Bagas adalah mantan asisten Dolce.
Mereka berpisah karena perbedaan visi seni.
“Aku pengen semua alat punya estetika haute couture,” jelas Dolce (sesuatu yang dibuat khusus dan eksklusif untuk individu)
“Dia pengen semua alat bisa meledak!”
Aku nyeletuk “Berarti kalian kayak Tom & Jerry tapi dua-duanya hobi cosplay?”
"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas dia mengkhianati semua nilai keindahan yang kita bangun!”
Sementara itu, Pak Handoyo diam-diam mengangguk. dia faham, Bagas dulunya juga muridnya.
Tiga Serum dan Satu Misteri
Pak Handoyo buka file dari flashdisk hasil misi sebelumnya.
“Bagas mencuri dua serum dari Profesor Ratna—ibunya Maya. Satu sudah disuntikkan ke Evi—yang menyebabkan dia bisa teleportasi.”
“Satu lagi... belum diketahui efeknya.”
'Sedangkan satu serum lain—serum cheetah—adalah milik saya. Dia rampas dari laboratorium saya dulu.”
Aku menelan ludah.
Tiga serum.
Dua sudah aktif.
Satu lagi misterius.
Tegang. Tapi makin seru.
Isi Flashdisk Misi Gila OSIRIS
Pak Handoyo lanjut.
“Flashdisk ini berisi manifesto OSIRIS: mereka ingin menggulingkan pemerintahan dari generasi tua ke generasi muda. Caranya?”
Mengumpulkan dana dengan merampok dan mencuri.
Menciptakan kekacauan sosial.
Mencuci otak remaja dengan konten media sosial dan alat pengendali pikiran.
Membangun milisi berbasis teknologi mutasi.
Sefia nyeletuk pelan, “Ini mah The Hunger Games kalau di-CGI-in sama TikTok.”
Tantangan 5 vs 5 dan Kami yang Terpilih
Pak Handoyo menatap kami.
Serius.
“Aku mengirimkan pesan damai pada Bagas. Dan dia... membalas dengan tantangan.”
“Pertarungan 5 lawan 5.”
“Kalau kita menang—OSIRIS harus dibubarkan.”
“Kalau kalah—semua serum milik saya jatuh ke tangan Bagas.”
Hening.
Maya menatapku.
Sefia menggenggam sarung tangannya.
Wulan berdiri perlahan.
Evi teleport ke sampingku dan tiba-tiba muncul sambil ngunyah keripik.
"Kita gak mungkin kalah.”
Aku mendesah.
“Ya... asalkan Dolce gak ngasih kita kostum dari payet dan spons cuci piring.”
Dolce & Janji Kejutan
Dolce menepuk tangan.
"TENANG. KALIAN TIDAK SENDIRIAN!”
'Aku akan membuatkan peralatan khusus untuk kalian semua. Setiap alat akan jadi masterpiece!”
“Dengan teknologi generasi terbaru: responsif, stylish, dan bisa menyala dalam tiga warna kalau difoto pakai filter dog face!”
Kami semua terdiam.
“...intinya apa, Dol?” tanyaku.
“INTINYA... kalian akan punya kejutan di hari pertandingan. Dan kalian akan menang!”
Aku berdiri di depan jendela, lihat langit malam.
Di belakang, Sefia dan Maya masih berdebat soal strategi.
Wulan cek alat medisnya.
Evi teleport ke dapur dan balik lagi bawa semangka.
Fredy bersihkan senjata.
Pak Handoyo termenung.
Dan aku tahu...
Pertarungan itu bukan cuma soal kekuatan. Tapi... soal harapan.
"Ini bukan cuma tentang mutan atau teknologi. Tapi tentang masa depan kami. Generasi kami. Dan kami tidak akan membiarkan dunia ini direbut oleh mereka yang berpikir bisa mengubahnya dengan paksaan.”
—Cahyo
Saat Dolce Masih Pakai Celana Biasa”
Ada yang aneh malam ini di markas.
Dolce lagi diem.
Beneran diem.
Nggak ganti wig.
Nggak pakai high heels yang bunyinya kayak sendok jatuh.
Nggak nyuruh aku pakai serum anti panu (padahal aku nggak panuan).
Dia duduk di pojokan, liatin foto tua di tangannya.
Aku duduk di sampingnya.
Pelan-pelan.
"Dolce..."
"Kalau kamu diem kayak gitu, aku jadi ngeri. Takut kamu reinkarnasi jadi guru matematika."
Dolce ngelirik.
"Cahyo... kamu tahu nggak, aku dulu juga pernah punya sahabat."
Aku diem.
Biasanya kalau Dolce mulai pakai nada sendu kayak gitu, pasti bakalan ada cerita film pendek Festival Film Prancis-nya.
Kisah Dua Murid: Dolce dan Bagas
"Kami murid terbaik Pak Handoyo. Aku dengan mesin-mesinku... dia dengan chip dan sistem keamanan."
"Kami bagaikan kombinasi unik. Aku otak gila. Dia otak dingin."
"Waktu semua anak SMA sibuk lomba voli dan main game, kami bikin drone yang bisa goreng telur sambil nyadap sinyal CCTV."
Aku nyengir.
"Itu keren sih, Dol..."
"Kami sahabat. Sampai suatu hari, visi kami berubah."
Pertengkaran Besar: Seni vs Kekuatan
"Aku percaya bahwa teknologi harus indah. Harus punya gaya! Harus bisa difoto dan masuk majalah mode!"
"Sementara Bagas... dia cuma mikirin fungsi. Efisiensi. Efek maksimal dengan biaya minim."
“Aku bikin sepatu jet berbahan kulit sintetis dari Italia. Dia? Sepatu dari sparepart blender rusak.”
Aku nyeletuk, "Mungkin dia lagi bokek, Dol."
"BUKAN MASALAH DANA, CAHYO! MASALAH JIWA!"
"Sampai akhirnya... kami bikin alat bareng-bareng: Helm Proyeksi Pikiran."
"Aku mendesain bentuknya kayak topi fedora. Dia ganti jadi helm proyek."
"Kami bertengkar. Di depan Pak Handoyo. Di lab. Di hari hujan deras."
Aku melongo.
"Terus?"
Perpisahan Dua Jenius
Dolce memandang jendela.
"Dia bilang aku terlalu lemah. Terlalu banyak gaya. Nggak realistis."
"Aku bilang dia robot. Nggak punya perasaan. Nggak ngerti manusia."
"Dia pergi malam itu. Nggak pernah kembali."
"Dan sekarang... dia kembali. Bukan sebagai teman. Tapi musuh."
Hening.
Dolce menunduk.
Aku bisa lihat... matanya berkaca-kaca.
Tapi dia masih tetap pakai bulu mata palsu.
"Maaf, Cahyo. Kadang, aku berharap bisa balik ke masa itu. Waktu kita masih cuma dua bocah... yang bercita-cita bangun dunia baru. Bukan menghancurkan satu sama lain."
Aku manggut.
Lalu aku bangun.
Ngegendong kursi lipat dan duduk di depannya.
Sambil bawa Taro Net dan susu kotak.
"Dolce."
"Iya?"
"Kita nggak bisa balik ke masa lalu. Tapi kamu punya masa depan."
"Sekarang kamu punya kami. Punya tim yang aneh-aneh tapi kompak."
"Kita akan lawan dia bareng-bareng. Dan kalau dia masih ngambek... kita keroyok sambil nyanyi OST Doraemon."
Dolce ketawa kecil.
"Kamu itu... bodoh... tapi tulus, Cahyo."
"Terima kasih."
Cahyo, Dolce, dan Harapan
Aku berdiri, mau balik ke ruang tengah.
Tapi sebelum pergi, aku sempat bilang:
"Dolce?"
"Ya?"
"Makasih ya... kostum baruku udah nggak nyiksa selangkangan."
Dolce ngakak.
Lalu jawab,
"Aku tahu, aku ngurangin jahitan. Tapi jangan kasih tahu Maya, nanti dia minta upgrade juga."
kami berdiri bareng di koridor markas.
Dua generasi. Dua jalan hidup. Tapi satu tujuan.
Kami akan melawan Bagas.
Bukan cuma sebagai superhero. Tapi sebagai keluarga.
“Cahyo, pakai sepatu. Kita punya misi.”
"Misi tidur siang?”
“Misi nyari markas Bagas. Sekarang.”
Kami briefing dulu bareng Pak Handoyo, Fredy, Sefia, Maya, Wulan, dan... tentu saja Dolce yang sibuk milih warna lipstik sesuai hoodie.
“Kita harus temukan markas OSIRIS—Organisasi SIstem Rahasia Ilmiah Spesial.”
“Namanya maksa banget, kek” sela Sefia.
“Ya, tapi bahaya. Mereka sedang mengumpulkan anak-anak muda, remaja, bahkan mantan preman buat jadi kader... dengan teknologi mutasi, senjata, dan propaganda.”
Fredy angkat tangan. “Kita serbu, Pak?”
“Bukan. Kita selidiki dulu. Jangan gegabah.”
Evi langsung maju. "Aku siap teleport. Untung aku sudah hafal semua sudut kota. Fredy nganterin aku dua hari penuh. Coba tugas ini dipegang Cahyo... mungkin kita teleport-nya ke kolam lele.”
SEMUA KETAWA.
AKU MANYUN.
"Aku juga bisa kok teleport, Vi. Teleportasi hati dari satu penolakan ke penolakan lain."
Kami dibagi dalam tim kecil. Aku, Maya, dan Evi di tim A. Sefia, Wulan, dan Fredy di tim B (Fredy tetap standby sebagai sniper dari atap gedung lewat koordinat Evi).
Dolce dan Pak Handoyo di ruang kontrol, pantau kami lewat kamera topeng.
Kami teleport ke bekas pabrik mi instan.
Gedung bioskop tua.terowongan bawah tanah.
Mall yang udah bangkrut.
Sampai akhirnya... di area bekas gedung pelatihan bela diri yang terbakar 2 tahun lalu...
“Vi, tempat ini aneh. Arah panasnya beda.”
Maya menyalakan pendeteksi panas.
Dan benar...
Ada lorong rahasia. Ada lift bawah tanah. Dan... ada logo OSIRIS di dinding. Markas OSIRIS dan Geng Topeng
Kami masuk diam-diam. Di dalam terlihat Ruangan penuh peralatan eksperimen. Anak-anak muda yang dilatih fisik dan strategi. Geng topeng—kini sudah bergabung dalam OSIRIS sebagai pasukan lapangan.
Tiba-tiba alarm berbunyi.
“MASUKAN TAK DIKENAL."
Pertarungan pecah.
Aku langsung mengaktifkan listrik, Maya menghunus pedang plasmanya, Evi teleport kami bergantian untuk menghindari laser.
Sefia melontarkan drum minyak ke arah pasukan.
Fredy memberi cover dengan peluru bius dari atap.
Tapi sebelum kami bisa lebih jauh...
[STOP!]
Suara dari interkom topeng kami.
Pak Handoyo.
[Jangan lanjutkan serangan. Aku ingin negosiasi. Dengan Bagas.]
Pertemuan di Tengah Ketegangan
Suara berat muncul dari balik lorong kaca.
Bagas.
Mantan murid Pak Handoyo. Kini tampil dengan armor hitam biru, wajah sebagian tertutup masker transparan.
"Jadi akhirnya kau datang juga, Pak.”
“Kau tahu aku akan datang.” Surara pak Handoyo dari pengeras topeng kami
"Apa yang kau lakukan dulu... meninggalkan eksperimen kita... itu pengkhianatan.”
“Dan yang kau lakukan sekarang... menghalalkan segala cara untuk ide mulia yang bengkok.”
Kami semua berdiri waspada.
Senjata di tangan. Aura listrik di udara.
Tapi belum saatnya menyerang.
"Kita bicara dulu,” kata Pak Handoyo,“Sebelum ini berubah jadi perang mutan.”
Satu Langkah ke Dalam Kegelapan
Kami berhasil kabur dari markas OSIRIS dengan data yang kami ambil diam-diam dari server mereka (terima kasih, Evi, dan ketepelmu yang bisa nyuri flashdisk).
Tapi kami tahu...
OSIRIS bukan sekadar organisasi kecil.
Mereka akan kembali.
Lebih besar.
Lebih siap.
Lebih berbahaya.
Dan sejujurnya...
Aku makin takut.
INI MIMPI BURUK!
Bagas, Serum, dan Perjanjian Gila
Markas sore itu mendadak tegang.
Padahal biasanya kita cuma rame karena rebutan masakan Fredy atau karena Dolce gonta-ganti wig tiap lima menit. Tapi kali ini beda. Semua duduk serius. Penuh konsentrasi. Bahkan Sefia nggak bawel. Ini gawat.
Di layar besar terpampang wajah seseorang—bagian dagu tertutup masker dan sisanya tertutup hoodie.
Bagas.
Mantan murid Pak Handoyo.
Mantan asisten dan teman Dolce.
Dan kini... pentolan OSIRIS.
Penyusupan Dolce dan Fakta Mengejutkan
Dolce, dengan gaya paling dramatisnya, berdiri di tengah ruangan pakai hoodie yang bisa berubah wujud. Kali ini, dia tampil seperti anak magang OSIRIS dengan mata merah dan tato kode QR di pipi.
“Aku menyusup seminggu penuh, tidur cuma 15 menit sehari, makan cuma buah plum dan dendeng sapi!”
“Kamu diet?” tanyaku iseng.
“CAHYO, FOKUS!”
“Oke, oke... lanjut, lanjut.”
Dolce menunjukkan hasil penyelidikannya:
1. Bagas bukan ahli mutan.
Dia ahli teknologi absurd tapi canggih. (Contoh: sepatu dengan pendorong roket dan alat pencuci otak bentuk donat.)
2. Bagas adalah mantan asisten Dolce.
Mereka berpisah karena perbedaan visi seni.
“Aku pengen semua alat punya estetika haute couture,” jelas Dolce (sesuatu yang dibuat khusus dan eksklusif untuk individu)
“Dia pengen semua alat bisa meledak!”
Aku nyeletuk “Berarti kalian kayak Tom & Jerry tapi dua-duanya hobi cosplay?”
"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas dia mengkhianati semua nilai keindahan yang kita bangun!”
Sementara itu, Pak Handoyo diam-diam mengangguk. dia faham, Bagas dulunya juga muridnya.
Tiga Serum dan Satu Misteri
Pak Handoyo buka file dari flashdisk hasil misi sebelumnya.
“Bagas mencuri dua serum dari Profesor Ratna—ibunya Maya. Satu sudah disuntikkan ke Evi—yang menyebabkan dia bisa teleportasi.”
“Satu lagi... belum diketahui efeknya.”
'Sedangkan satu serum lain—serum cheetah—adalah milik saya. Dia rampas dari laboratorium saya dulu.”
Aku menelan ludah.
Tiga serum.
Dua sudah aktif.
Satu lagi misterius.
Tegang. Tapi makin seru.
Isi Flashdisk Misi Gila OSIRIS
Pak Handoyo lanjut.
“Flashdisk ini berisi manifesto OSIRIS: mereka ingin menggulingkan pemerintahan dari generasi tua ke generasi muda. Caranya?”
Mengumpulkan dana dengan merampok dan mencuri.
Menciptakan kekacauan sosial.
Mencuci otak remaja dengan konten media sosial dan alat pengendali pikiran.
Membangun milisi berbasis teknologi mutasi.
Sefia nyeletuk pelan, “Ini mah The Hunger Games kalau di-CGI-in sama TikTok.”
Tantangan 5 vs 5 dan Kami yang Terpilih
Pak Handoyo menatap kami.
Serius.
“Aku mengirimkan pesan damai pada Bagas. Dan dia... membalas dengan tantangan.”
“Pertarungan 5 lawan 5.”
“Kalau kita menang—OSIRIS harus dibubarkan.”
“Kalau kalah—semua serum milik saya jatuh ke tangan Bagas.”
Hening.
Maya menatapku.
Sefia menggenggam sarung tangannya.
Wulan berdiri perlahan.
Evi teleport ke sampingku dan tiba-tiba muncul sambil ngunyah keripik.
"Kita gak mungkin kalah.”
Aku mendesah.
“Ya... asalkan Dolce gak ngasih kita kostum dari payet dan spons cuci piring.”
Dolce & Janji Kejutan
Dolce menepuk tangan.
"TENANG. KALIAN TIDAK SENDIRIAN!”
'Aku akan membuatkan peralatan khusus untuk kalian semua. Setiap alat akan jadi masterpiece!”
“Dengan teknologi generasi terbaru: responsif, stylish, dan bisa menyala dalam tiga warna kalau difoto pakai filter dog face!”
Kami semua terdiam.
“...intinya apa, Dol?” tanyaku.
“INTINYA... kalian akan punya kejutan di hari pertandingan. Dan kalian akan menang!”
Aku berdiri di depan jendela, lihat langit malam.
Di belakang, Sefia dan Maya masih berdebat soal strategi.
Wulan cek alat medisnya.
Evi teleport ke dapur dan balik lagi bawa semangka.
Fredy bersihkan senjata.
Pak Handoyo termenung.
Dan aku tahu...
Pertarungan itu bukan cuma soal kekuatan. Tapi... soal harapan.
"Ini bukan cuma tentang mutan atau teknologi. Tapi tentang masa depan kami. Generasi kami. Dan kami tidak akan membiarkan dunia ini direbut oleh mereka yang berpikir bisa mengubahnya dengan paksaan.”
—Cahyo
Saat Dolce Masih Pakai Celana Biasa”
Ada yang aneh malam ini di markas.
Dolce lagi diem.
Beneran diem.
Nggak ganti wig.
Nggak pakai high heels yang bunyinya kayak sendok jatuh.
Nggak nyuruh aku pakai serum anti panu (padahal aku nggak panuan).
Dia duduk di pojokan, liatin foto tua di tangannya.
Aku duduk di sampingnya.
Pelan-pelan.
"Dolce..."
"Kalau kamu diem kayak gitu, aku jadi ngeri. Takut kamu reinkarnasi jadi guru matematika."
Dolce ngelirik.
"Cahyo... kamu tahu nggak, aku dulu juga pernah punya sahabat."
Aku diem.
Biasanya kalau Dolce mulai pakai nada sendu kayak gitu, pasti bakalan ada cerita film pendek Festival Film Prancis-nya.
Kisah Dua Murid: Dolce dan Bagas
"Kami murid terbaik Pak Handoyo. Aku dengan mesin-mesinku... dia dengan chip dan sistem keamanan."
"Kami bagaikan kombinasi unik. Aku otak gila. Dia otak dingin."
"Waktu semua anak SMA sibuk lomba voli dan main game, kami bikin drone yang bisa goreng telur sambil nyadap sinyal CCTV."
Aku nyengir.
"Itu keren sih, Dol..."
"Kami sahabat. Sampai suatu hari, visi kami berubah."
Pertengkaran Besar: Seni vs Kekuatan
"Aku percaya bahwa teknologi harus indah. Harus punya gaya! Harus bisa difoto dan masuk majalah mode!"
"Sementara Bagas... dia cuma mikirin fungsi. Efisiensi. Efek maksimal dengan biaya minim."
“Aku bikin sepatu jet berbahan kulit sintetis dari Italia. Dia? Sepatu dari sparepart blender rusak.”
Aku nyeletuk, "Mungkin dia lagi bokek, Dol."
"BUKAN MASALAH DANA, CAHYO! MASALAH JIWA!"
"Sampai akhirnya... kami bikin alat bareng-bareng: Helm Proyeksi Pikiran."
"Aku mendesain bentuknya kayak topi fedora. Dia ganti jadi helm proyek."
"Kami bertengkar. Di depan Pak Handoyo. Di lab. Di hari hujan deras."
Aku melongo.
"Terus?"
Perpisahan Dua Jenius
Dolce memandang jendela.
"Dia bilang aku terlalu lemah. Terlalu banyak gaya. Nggak realistis."
"Aku bilang dia robot. Nggak punya perasaan. Nggak ngerti manusia."
"Dia pergi malam itu. Nggak pernah kembali."
"Dan sekarang... dia kembali. Bukan sebagai teman. Tapi musuh."
Hening.
Dolce menunduk.
Aku bisa lihat... matanya berkaca-kaca.
Tapi dia masih tetap pakai bulu mata palsu.
"Maaf, Cahyo. Kadang, aku berharap bisa balik ke masa itu. Waktu kita masih cuma dua bocah... yang bercita-cita bangun dunia baru. Bukan menghancurkan satu sama lain."
Aku manggut.
Lalu aku bangun.
Ngegendong kursi lipat dan duduk di depannya.
Sambil bawa Taro Net dan susu kotak.
"Dolce."
"Iya?"
"Kita nggak bisa balik ke masa lalu. Tapi kamu punya masa depan."
"Sekarang kamu punya kami. Punya tim yang aneh-aneh tapi kompak."
"Kita akan lawan dia bareng-bareng. Dan kalau dia masih ngambek... kita keroyok sambil nyanyi OST Doraemon."
Dolce ketawa kecil.
"Kamu itu... bodoh... tapi tulus, Cahyo."
"Terima kasih."
Cahyo, Dolce, dan Harapan
Aku berdiri, mau balik ke ruang tengah.
Tapi sebelum pergi, aku sempat bilang:
"Dolce?"
"Ya?"
"Makasih ya... kostum baruku udah nggak nyiksa selangkangan."
Dolce ngakak.
Lalu jawab,
"Aku tahu, aku ngurangin jahitan. Tapi jangan kasih tahu Maya, nanti dia minta upgrade juga."
kami berdiri bareng di koridor markas.
Dua generasi. Dua jalan hidup. Tapi satu tujuan.
Kami akan melawan Bagas.
Bukan cuma sebagai superhero. Tapi sebagai keluarga.
Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Suffer Alone In Emptiness
Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...