Kotak Pandora
Pukul 21:39 malam ini, ada yang diam-diam penasaran untuk dibuka ulang. Beberapa folder atas namamu memanggil jemariku untuk membukanya kembali.
Bak kotak Pandora, semua rekam jejakmu seakan menyeruak dengan ramai dalam sepinya malamku. Sisa-sisa peninggalanmu menyajikan bahagia pada awalnya. Menarik semua sebab gelak tawa, lewat foto-foto nostalgia yang lebih banyak bercerita tentang bahagia daripada luka.
Ada satu foto yang menarik perhatianku, dimana terlihat jelas gurat kebahagiaanmu saat duduk berdua di pelataran bersamaku. Tepat 3 tahun lalu saat tawa kita membuncah, di kota tempat berdirinya istana yang penuh sejarah.
Lalu jemariku pindah membuka foto yang ke dua, dimana tawanya yang terabadikan masih menjadi sebab utama senyumku dalam malam yang gulita.
Hingga aku tiba di bagian… yang perlahan-lahan menarik satu per satu luka. Raga tak menyangka, bahwa akhirnya akan ada luka yang menganga setelah tawa itu terlontar, penanda kebahagiaan kita akan pudar. Saat itu, bayangan kehilanganmu sukses membuka mimpi buruk bagiku.
Kulihat lagi foto berikutnya, tak ada tawa yang tersisa di sana. Hanya ada potret awan kelabu, yang berhari-hari tak pernah lepas dari pelupuk mataku. Kemudian tangis pecah, saat kau memutuskan untuk berpisah.
Gambarnya sudah hampir berakhir. Dari semua memori, kita sudah tahu bahwa kita mustahil akan jadi satu. Ya, bagaimana bisa kepingan menjadi utuh dalam sekali waktu? Namun aku salah, maaf mulai keluar dari mulutmu yang terbata. Akhirnya kau menemukan jalan untuk kembali pulang setelah lama hilang.
Kupikir akan mudah menerimamu yang pada masa itu menempati hampir seluruh imajiku. Namun, maaf ternyata tak sepaket dengan lupa. Hatiku menolak lupa untuk setiap luka yang kau goreskan hingga menyebabkan lara.
Luka itu membuatku banyak belajar, bahwa saat wanita menjadi pintar dia akan sadar, mana yang sungguh-sungguh berjuang untuknya dan mana yang hanya membodoh-bodohinya.
Sekarang kita sudah sampai pada akhir gambar. Dimana sudah tidak ada lagi luka yang mengakar. Rangkuman tawa pada masanya, tangis yang pecah saat purnama, luka yang lama sembuhnya sudah kulihat semua. Dan dari semuanya aku pun belajar, bahwa tidak ada yang abadi untuk bahagia ataupun luka. Semua berputar pada porosnya, yang sewaktu-waktu bisa berganti untuk memberikan hikmah pada setiap kejadiannya.
Other Stories
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...