First Love Fall

Reads
407
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Lana Ra

First Meeting

Ternyata mengurus segala persiapan kuliah kali ini tidak semudah bayanganku, melengkapi berkas dan tanda tangan sana sini, daftar ulang, dan mencari tempat tinggal. Semua itu membuatku cukup kewalahan. Untung saja ayah bersedia mengantar bolak-balik Surabaya-Malang. Bisa saja aku menyetir mobil sendiri. Tapi menyetir di daerah asing sambil memikirkan banyak hal sekaligus mungkin akan membuatku menabrak orang di jalan.
Kubuka kaca helm ketika lampu lalu lintas berubah merah. Semilir angin yang menerpa wajahku mampu menepis semua pikiran tentang keruwetan yang terjadi dua minggu lalu. Setelah lampu berubah hijau, motor matic-ku kembali melaju di jalanan Kota Malang yang masih lengang. Sengaja kupilih tempat tinggal yang agak jauh dari kampus, agar tidak bosan.
Sudah seminggu ini jadwal kuliah berjalan, tapi masih belum ada tatap muka. Sebagai gantinya kami harus mencari sederetan daftar buku dan membuat tugas resume. Thanks god-nya lagi, semua referensinya menggunakan Bahasa Inggris. Kalau bahasa Inggrisnya gaul seperti dalam novel pasti menyenangkan. Sayangnya text book itu memakai bahasa Inggris baku dengan istilah-istilah letterlux di bidang ekonomi. Apalagi jurusan ini tidak linier dengan strata satuku dahulu.
Dalam waktu seminggu ini pula aku ‘klik’ dengan tiga orang teman sekelas. Mereka adalah Chandra, Neva dan Mario. Hampir setiap kali pergi mencari buku, kami selalu berempat. Beruntung pula ada Chandra yang menjadi penunjuk jalan bagi kami. Dia orang yang paling mengenal Malang karena lahir di kota ini. Sebelum mendapat beasiswa, Chandra bertugas di Kalimantan, Neva di Jakarta, dan Mario dari Palembang. Di antara kami berempat, akulah yang paling rajin datang awal.
Parkiran gedung Fakultas Ekonomi masih tampak lengang ketika aku sampai di sana. Pantas saja, masih pukul enam lewat tiga puluh lima menit. Masih ada waktu dua puluh lima menit sebelum kuliah Pasca dimulai. Setelah memarkir motor, aku langsung berjalan menuju taman di seberang jalan. Di sana ada bangku panjang yang terbuat dari besi, tempat mahasiswa biasa nongkrong sambil menunggu pergantian jam. Letaknya yang berada di seberang gedung Pasca, sangat strategis. Kami masih bisa melihat lalu lalang orang yang lewat serta keluar masuk gedung walaupun dihalangi beberapa tanaman hias.
Kursi ini tidak berpenghuni ketika punggungku bersandar dengan malas. Tas ransel yang berada di pangkuan kubuka, lalu mengambil gawai di dalamnya. Jariku lincah menggeser kode di layar hape dan langsung mengklik aplikasi Webtoon. Kebiasaan yang tidak bisa kuhilangkan dari dulu adalah membaca komik. Kali ini aku berniat menghabiskan My Beautiful Girl episode terbaru. Ketika masih seru-serunya membaca, seseorang duduk di sebelahku. Dia pasti Chandra. Sudah jadi kebiasaannya langsung duduk di sebelahku tanpa permisi.
“Liat ini deh, lucu banget.”
Kusodorkan layar hape kepadanya dengan masih fokus memandang layar hape. Tumben Chandra tidak merespons. Ketika menoleh, aku terkejut. Cowok yang duduk di sebelahku ini ternyata bukan Chandra. Wajahnya tirus dengan rahang tegas. Rambut ikalnya yang hitam disisir rapi. Aku terpaku pada warna manik matanya yang unik. Tidak hitam atau cokelat seperti orang kebanyakan, tapi berwarna biru gelap. Entah berapa lama kami bertatapan tanpa suara. Sampai cowok itu kembali memandang lurus ke depan, aku masih terpaku.
“Kamu mahasiswa baru, ya?”
Suara baritonnya menyadarkanku. Cambang tipis di pipi dan dagunya ikut bergerak.
“I-iya,” jawabku kikuk sambil menunduk memandangi layar hape.
“Pantas saja, masih kayak anak SMA. Bacaannya kartun.”
What?
Aku mendongak hendak membantah, tapi ia berkata lagi, “Sudah hampir jam tujuh. Sana buruan masuk kelasmu, nanti terlambat!”
Menghadapi orang sok senior macam dia memang tidak perlu membantah. Meskipun aku mahasiswa pascasarjana, kubiarkan saja dia menganggapku mahasiswa baru S-1.
“Kamu Kuliah Pasca? Kok nggak pernah kelihatan?” selidikku dengan curiga.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, ia malah kembali memandangku. Ujung bibirnya terangkat sebelah. Mataku kembali bertatapan dengan mata elangnya yang tajam. Kali ini aku yakin, iris mata cowok sombong ini memang berwarna biru kelam.
“Rena!”
Aku tidak memedulikan suara yang—entah darimana datangnya—memanggil namaku. Cowok itu melirik ke arah datangnya suara sejenak, lalu kembali menoleh padaku.
“Itu temanmu datang. Aku duluan, ya,” katanya sambil berdiri.
Cowok itu menjulang di hadapanku. Bajunya yang rapi mengingatkanku pada outfit CEO di drama Korea. Kemeja putih lengan panjang yang dilipat sampai siku dipadu dengan celana panthalon biru dongker. Dia tersenyum sekilas sebelum pergi dari hadapanku.
“Hoooeeeiii! Lu liat sapa, sih? Sampe bengong gitu.”
Ternyata Neva. Dia menepuk bahuku lalu duduk di tempat cowok misterius tadi. Masih kupandangi punggung cowok kece itu yang semakin menjauh dan menghilang di belokan depan.
“Nggak, bukan siapa-siapa. Aku nunggu kalian dari tadi,” jawabku asal.
“Ya udah, masuk yuk,\" ajaknya.
Aku menghela napas sambil mematikan hape. Kumasukkan hape kesayanganku ke dalam tas sebelum berdiri dan menjajari langkah Neva. Kami berjalan bersama menuju gedung Pasca Sarjana di seberang jalan.
Kuliah kali ini berada di lantai empat. Kami harus mengantri lift atau menaiki tangga untuk sampai ke sana. Di kelas ternyata sudah banyak yang datang. Aku menuju tempat dudukku yang berada di deretan bangku ke dua, tepat di sebelah kiri Neva. Bangku di sebelah kiriku yang biasanya ditempati Chandra masih kosong. Sedangkan Rio sudah duduk manis di sebelah kiri bangku Chandra. Pengaturan ini tidak sengaja. Kami duduk di bangku yang sama sejak hari pertama kuliah. Sampai sekarang pun formasi ini tidak pernah berubah.
“Chandra ke mana ya?” tanyaku pada Rio.
Dia hanya mengangkat bahu. Kutaruh tas di atas meja, tapi tidak segera duduk. Bangku Chandra masih kosong hingga terdengar bel berbunyi.
“Selamat pagi Saudara-Saudara.”
Suara bariton yang tidak asing menggema dari depan kelas. Aku berbalik. Seketika tubuhku membeku melihat sosok yang ada di sana.
“Perkenalkan, saya Angga. Dosen mata kuliah Ilmu Ekonomi Dasar dan Terapan. Karena saudara-saudara sekalian masuk di prodi kelas khusus beasiswa, maka jadwal kita akan lebih padat dengan tugas-tugas.”
Pandangannya menyapu seluruh kelas lalu bertemu denganku. Dia terlihat terkejut sesaat lalu bibirnya membentuk senyuman.
“Bisa kita mulai sekarang?”
Aku beringsut duduk sambil berharap diriku mengecil sebesar cacing. Pak Dosen pun kembali ke mejanya. Dia mengambil satu buku tebal dan membukanya.
“Open your textbook on page 5 ….”
Saat di kursi taman tadi, kupikir dia adalah mahasiswa pasca juga. Usianya tidak terlihat berbeda jauh dengan teman-temanku. Mungkin sedikit lebih tua dari Mario, sekitar tiga puluh lima tahunan. Posturnya yang tinggi dan iris mata berwarna biru menandakan keturunan bule, tapi kulitnya tidak putih. Logatnya seperti orang Indonesia kebanyakan, meskipun bahasa Inggrisnya fasih. Dosen ganteng di depan kelas itu adalah Tengku Angga Alfianyah, Ph.D. Kukira Pak Angga itu botak atau rambutnya putih awut-awutan seperti Einstein. Ternyata aku salah. Ini pertama kalinya aku bertatap muka dengan dosen yang kabarnya killer itu.
Akhirnya, kuliah maraton selama empat jam pelajaran yang seperti setahun ini berakhir juga. Banyak coretan dan catatan di buku tulis yang entah nanti masih bisa kupelajari lagi atau tidak. Selama pelajaran berlangsung, aku tak berani memandangnya dengan terang-terangan. Tatapan Pak Angga sangat mengganggu, membuatku tidak konsentrasi dan salah tingkah.
“Oke, sebelum saya akhiri pertemuan kali ini. Silakan Anda buat paper tentang bahasan minggu depan. Cari referensi yang relevan. Buat juga resume dari bab VII sampai akhir dari buku ini, karena kita tidak sempat membahasnya sampai tuntas. Jangan lupa berikan pula pembahasan menurut sudut pandang Anda secara keilmuan.”
Aku hanya menunduk, pura-pura sibuk menulisi buku ketika Pak Angga mengatakan itu.
“Sampai ketemu lagi minggu depan, dan selamat siang.”
“Siaaang, Paaaak,” sahut teman-teman.
Setelah terdengar suara pintu menutup, baru aku berani mendongak.
Yes, dia sudah pergi!

Other Stories
Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...

Download Titik & Koma