Sonata Laut

Reads
2.1K
Votes
0
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ivoryfloome

BAB 5: MUSIK YANG TAK TERDENGAR

Dermaga sore itu sepi. Perahu-perahu nelayan sudah kembali, jaring tergeletak di atas geladak, dan burung-burung laut melintas rendah di langit jingga.

Maheisa duduk di tepi papan kayu, membiarkan kakinya menggantung di atas air asin yang tenang. Angin laut membawa aroma garam yang menempel di kulit. Maheisa duduk di bangku kayu tua, kedua tangannya menggenggam botol minum yang tak pernah ia buka. Pandangannya kosong menatap kearah laut. Di ujung lain, Selia baru saja selesai merapikan fins dan masker. Gerakannya teratur, seperti orang yang terbiasa melakukan hal yang sama ratusan kali.

Langkah ringan terdengar dari belakang. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Maheisa menoleh. Selia muncul, rambutnya masih basah, meneteskan air asin ke baju tipis yang ia kenakan. Ia tampak baru saja selesai dari laut. Dengan wajah teduh, gadis itu berjalan mendekat, lalu duduk tidak jauh darinya.

“Sepertinya kamu betah sekali di dermaga,” ucap Selia tanpa menoleh. Suaranya datar, tapi lembut.

Maheisa tersenyum samar. “Tempat ini lebih jujur daripada kota. Di sana, semua bising. Di sini, semuanya diam.”

Selia ikut memandang laut. Angin membawa sisa aroma rumput laut, menempel di rambutnya. “Diam? Laut tidak pernah benar-benar diam.”

“Kau benar.” Maheisa menatap air yang memantulkan langit jingga. “Mungkin aku hanya ingin percaya kalau ada tempat yang bisa benar-benar sunyi.”

Tak ada percakapan panjang setelah itu. Mereka hanya duduk, membiarkan ombak dan cahaya sore yang berbicara. Sampai Selia kembali angkat suara.
“Apa kamu musisi?” tanyanya begitu saja.

Maheisa menoleh, sedikit heran. “Bagaimana kamu tahu?”

Selia melirik jemari Maheisa yang panjang, lentik, tapi tampak penuh luka halus. “Tanganmu. Orang yang terbiasa bermain piano punya bentuk jari berbeda. Aku sering lihat pianis di panggung televisi. Sama persis.”

Untuk sesaat, Maheisa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak banyak orang yang bisa menebak hanya dari jemari.
“Aku memang pianis,” katanya lirih. “Atau setidaknya pernah.”

Selia tidak menimpali dengan rentetan pertanyaan. Hanya menunduk, memainkan tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya ke papan kayu. Diam, tapi bukan dingin. Diam yang seolah memberi ruang.



Malam turun perlahan. Rumah nenek yang berdiri di tepi pantai menyala oleh lampu minyak. Udara asin bercampur aroma teh hangat yang disiapkan nenek. Kursi goyang berderit pelan, menyanyikan nada masa lalu.

“Kamu betah di sini, Heisa?” tanya nenek sambil menatap cucunya dari balik kacamata tua.

“Betah, Nek,” jawab Maheisa. Ia meletakkan cangkir ke meja kayu. “Hanya saja, aku masih belajar membiasakan diri.”

Nenek tersenyum. “Laut memang keras kepala. Kalau kamu mau memahami, jangan buru-buru. Dengarkan dia.”

Mendengar itu, Maheisa menunduk. Kata ‘mendengarkan’ seolah menjadi ironi yang menusuk. Ia tidak menjelaskan bahwa masalahnya justru terletak di sana—ia tidak lagi bisa mendengar sepenuhnya.

“Siang tadi kamu duduk di dermaga lagi?” tanya nenek, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.

“Ya. Ada, seseorang,” jawab Maheisa hati-hati. “Namanya Selia Maris.”

“Oh, Selia.” Nenek mengangguk pelan, seakan nama itu tidak asing. “Dia ikon kota kecil ini. Penyelam ulung. Orang-orang bilang dia bisa menahan napas lebih lama dari siapa pun di sini. Tapi ibunya sering khawatir. Laut selalu memberi, tapi jangan lupa, laut juga bisa mengambil.”

Kalimat itu menggantung. Maheisa tidak berkomentar, tapi kata-kata neneknya menetap di kepala, seperti riak air yang enggan hilang.



Sementara itu, di rumah Selia, percakapan lain terjadi. Rumah kayu sederhana dengan foto ayahnya tergantung di ruang tamu: seorang nelayan berkulit legam, tersenyum lebar, memanggul jaring besar.

“Kamu pulang terlambat lagi,” tegur ibunya dari dapur, suara cemas lebih dari sekadar marah.

Selia meletakkan tas menyelam, menyalakan lampu kecil. “Lautnya sedang indah, Bu. Aku tidak sadar waktu.”

“Kamu bukan remaja lagi, Selia. Kamu sudah dikenal orang banyak. Kalau terjadi apa-apa, bukan cuma aku yang kehilangan. Semua orang akan membicarakannya.”

Selia menatap foto ayahnya sebentar, lalu berkata pelan, “Aku tahu, Bu.”

Ibunya menarik napas panjang. “Kamu keras kepala. Sama seperti ayahmu dulu.”

Kata-kata itu membuat ruang tamu terasa lebih sunyi daripada laut terdalam. Selia tidak menjawab lagi. Ia hanya duduk di kursi rotan, menatap foto itu lama. Laut selalu menjadi pelariannya, tapi laut juga pernah merenggut seseorang yang ia cintai.



Keesokan paginya, dermaga kembali mempertemukan mereka. Kali ini Selia datang tanpa pakaian selam. Ia hanya mengenakan kemeja putih sederhana, rambut dibiarkan tergerai, kering oleh angin laut.

Tanpa banyak bicara, ia duduk di sisi Maheisa. Bersama-sama, mereka memandang laut yang berkilau diterpa matahari pagi.

“Kenapa kamu berhenti main piano?” Selia bertanya akhirnya, suara tenang tapi tajam.

Pertanyaan itu membuat Maheisa menahan napas. Ia menunduk, jemarinya memainkan simpul di ujung celana. “Ada yang berubah. Aku kehilangan sesuatu yang membuatku bisa bermain.”

Selia tidak memotong. Ia hanya menunggu.

“Aku kehilangan sebagian pendengaranku,” lanjut Maheisa, suaranya berat. “Piano bukan hanya soal jari. Kau harus mendengar. Benar-benar mendengar setiap notasi. Dan aku, aku tidak bisa lagi.”

Selia menoleh, menatap wajahnya yang muram. “Tapi kamu masih bisa merasakan, bukan?”

“Rasa saja tidak cukup di panggung,” jawab Maheisa getir.

“Di laut, kami juga tidak mengandalkan telinga,” ujar Selia. Matanya menatap jauh. “Yang kami dengar hanya detak jantung sendiri. Tapi justru itu yang membuat kami percaya, tubuh tahu cara bertahan.”

Ada sesuatu dalam nada suaranya. Seolah ia bukan hanya berbicara tentang laut, tapi juga tentang dirinya sendiri.

“Kenapa kamu suka laut?” Maheisa bertanya, perlahan.

Selia tersenyum samar. “Karena laut menyimpan semua hal yang tak bisa aku ucapkan. Di kedalaman, aku tidak perlu berpura-pura kuat.”

Keheningan jatuh, tapi bukan keheningan canggung. Itu semacam ruang yang memberi mereka kesempatan untuk saling membuka, sedikit demi sedikit.

Sore menjelang ketika Selia akhirnya berdiri. Ia menepuk celana panjangnya, bersiap pergi. “Kamu ingin tahu bagaimana rasanya diam yang sebenarnya?”

Maheisa menatap bingung.

“Besok, ikut aku menyelam.”

Lalu Selia berjalan pergi, meninggalkan jejak langkah di papan dermaga yang basah.

Maheisa menatap punggungnya yang menjauh, ada sesuatu yang bergetar dalam dadanya. Entah karena takut, atau karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia ingin kembali mencoba.

Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Tersesat

Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Susan Ngesot

Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...

Download Titik & Koma