Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Reads
4.3K
Votes
0
Parts
19
Vote
Report
mr. boros vs mrs. perhitungan
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Penulis Ariny Nh

6. Mr. Boros Bertemu Mrs. Perhitungan

Hari Minggu yang cerah, Adelia menjalankan mandat dari Rani. Ia pergi ke kantor PT. Lelucon. Kantor ini merupakan sebuah perusahaan yang menyediakan jasa badut penghibur di ulang tahun anak-anak. Kantor ini milik Pak Sigit, yang tak lain dan tak bukan adalah omnya Adelia sendiri.
Untung hari ini kantor tetap buka. Dan untungnya lagi Pak Sigit ada di kantor, jadi Adelia bisa langsung mengutarakan niat kedatangannya pada beliau.
”Hey, Adelia. Tumben sekali kamu datang ke kantor Om. Ada apa?” tanya Pak Sigit begitu bertemu dengan Adelia.
“Kedatangan saya kemari ingin menyewa salah satu badut yang ada di kantor ini. Bisa Om?” Adelia langsung tepat ke poin utama. Adelia memang orangnya tak suka basa-basi.
Pak Sigit menaikkan satu alisnya. “Menyewa salah satu badut di kantor ini? Untuk apa?” tanya Pak Sigit keheranan.
“Gini Om, adiknya temen saya itu depresi, nah satu-satunya cara agar ia sembuh ya bikin dia tertawa lagi. Makanya saya datang ke sini, siapa tahu salah satu badut di kantor ini bisa membuat adek temen saya itu tertawa lagi. Gimana Om? Bisa?”
“Bisa aja sih. Tapi masalahnya badut-badut di kantor ini pada banyak job. Ada yang job di ulang tahun, taman hiburan, dan lain-lain.”
“Yah, masa sih nggak ada sama sekali badut yang lagi nganggur?”
“Bentar Om ingat-ingat dulu. Siapa tahu masih ada badut yang nganggur. By the way, kamu mau menyewa badut yang umurnya masih muda atau yang sudah tua?”
“Kalau bisa sih badutnya yang masih muda, ganteng dan baik om. Hehehe.”
Adelia selain mencari badut untuk adiknya Rani, ia juga berniat mencarikan Rani kekasih. Ia tak tega melihat sahabatnya itu terlalu lama jomblo. Sekali dayung 3 pulau terlampaui. Siapa tau adiknya Rani sembuh, Rani juga bisa punya kekasih.
“Badut yang masih muda ya? Oh iya Om baru ingat, kemarin ada badut baru diterima kerja di sini. Dia masih muda, ganteng, dan sepertinya orang baik-baik.”
“Wah, boleh tuh Om.”
“Tunggu bentar!”
Pak Sigit menekan tombol telepon yang ada di meja kerjanya. “Sita, tolong kamu panggil badut yang kemarin diterima kerja, suruh dia datang ke ruangan saya.”
Pak Sigit kembali menutup telepon.
Tok… tok… tok
“Masuk, pintu nggak dikunci!”
Seorang pria berwajah ganteng, berhitung mancung, kulit kecokelatan, dan gaya rambutnya model harajuku, Japanese style masuk ke ruangan Pak Sigit. Betapa terkejutnya Adelia melihat pria itu.
Ya, Adelia mengenali pria itu. Pria itu adalah Raditya Saunders. Ia sahabatnya Afandy, mantan kekasih Adelia yang nomor dua. Sebelum putus dengan Afandy, Adelia juga sempat bersahabat dengan Radith.
“Ngapain Radith masuk ke ruangan si Om Sigit? Bukannya tadi Om Sigit manggil badut baru, kenapa malah Radith yang masuk? Apa jangan-jangan badut yang dimaksud Om Sigit itu Radith?” berbagai pertanyaan bersarang di hati dan otak Adelia.
Adelia menggelengkan kepalanya. “Nggak mungkin Radith kerja sebagai badut di kantor ini. Bokapnya kan tajir banget, masa jadi badut?” ucapnya dalam hati.
“Lo
Raditya Saunders kan?” tanya Adelia memastikan kebenaran dugaannya.
“Iya, lo Adelia pacarnya Afandy kan?” Radith nanya balik.
“Loh, kalian sudah saling kenal?” sekarang giliran Pak Sigit yang bertanya pada Adelia dan Radith.
“Iya, Om. Dia temen lama saya,” Adelia menjawab pertanyaan Pak Sigit bohong.
“Baguslah kalau bagitu. Berarti kalian bisa…”
“Om, boleh nggak saya minjem Radith sebentar? Ada yang mau saya bicarakan dengannya berdua, penting!” Adelia memotong ucapan Pak Sigit.
“Oh tentu. Silakan!”
Adelia dan Radith pun keluar dari ruangan Pak Sigit.
***
Adelia membawa Radith ke taman belakang PT. Lelucon, sebab di taman ini tempat paling asyik buat mengobrol. Mereka berdua pun akhirnya duduk di bawah pohon beringin yang masih rindang.
“Dith, lo ngapain datang ke kantor Om gue? Lo di kantor ini nggak kerja sebagai badut kan?”
“Kenyataannya gue emang kerja jadi badut di kantor ini.”
“Hah? Serius? Kok bisa? Bokap lo kan tajir banget. Harusnya lo jadi direktur utama di perusahaan bokap lo,” Adelia bertanya bertubi-tubi.
Raut wajah Radith berubah jadi sedih. “Gue udah diusir sama bokap tanpa bawa uang sepeser pun.”
“Jadi gini ceritanya…”
Radith mulai menceritakan kronologis penyebab diusir dari rumah secara detail pada Adelia. Adelia mengangguk paham dengan apa yang dikatakan Radith.
“Oh jadi gitu toh ceritanya,” ujar Adelia usai Radith bercerita.
“Lo sih pake boros segala.”
“Ya, gitu deh. Lo nggak pernah berubah ya tetap aja suka ceramah panjang lebar. Pantes aja dulu Afandy sering ngomel kalau denger lo ceramah.”
Adelia jadi murung begitu Radith berkata demikian. Ia jadi ingat masa lalunya bersama Afandy lagi. Kisah cintanya bersama Afandy berakhir tragis. Tragis karena Afandy selingkuh sebab ia tak suka diceramahin Adelia.
“Gue dah putus sama Afandy.”
“Ups, sorry gue bikin lo sedih. Eh, lo sendiri ngapain datang ke kantor ini?”
Sekarang giliran Adelia yang bercerita tentang Adeknya Rani dan tujuannya datang ke kantor ini. “Lo mau nggak jadi badut buat bikin adeknya temen gue itu ketawa lagi?”
“By the way, bayarannya gede nggak nih?”
“Kalau lo bisa bikin adeknya sembuh, dia pasti bakal bayar berapa pun yang lo minta.”
“Nah, kalau bayarannya gede gue mau kerja sama dia. Gue lagi kepepet duit soalnya. Buat bayar kos, air ledeng, listrik, makan, dan lain-lain. Lagian gue kangen shopping.”
“Nah, kalau lo dah setuju, kita sekarang ke ruangan Om Sigit. Lo bilang ke Om gue bahwa lo mau kerja jadi badut untuk nyembuhin adeknya temen gue itu.”
“Oke. Siapa takut?”
***
Adelia pulang ke rumah Rani dengan membawa seorang cowok ganteng. Hati Rani bertanya-tanya, siapa cowok yang dibawa Adelia? Apakah cowok itu pacarnya Adelia yang baru?
“Ran, kenalin cowok ini yang akan bikin Andhina ketawa lagi. Gimana, ganteng kan badutnya?”
Rani yang tadi nyeruput es sirup langsung tersedak mendengar ucapan Adelia barusan. Ia tak menyangka cowok yang dibawa Adelia ternyata badut yang bakal bikin Andhina tertawa.
“Lo yakin dia badut yang bakal bikin Andhina ketawa lagi?” tanya Rani.
Rani memandangi cowok itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Penampilan cowok itu keren, wajahnya sangat tampan, hidungnya mancung, bibirnya manis dan memiliki tahi lalat. Entah mengapa melihat wajah cowok itu pikiran Rani melayang ke tahun 2003, saat itu dirinya duduk di bangku sekolah dasar kelas 3.
***
“Anak-anak hari ini kita ulangan matematika ya! Masukkan semua buku ke laci!” ujar bu guru.
Seluruh murid di kelas, terutama Rani jadi panik mendengar perkataan bu guru. Siapa tak panik saat ada ulangan matematika mendadak? Rani paling benci sama pelajaran matematika, makanya ia tak pernah belajar matematika di rumah.
Bu guru menghampiri meja Rani dengan memberikan dua lembar kertas. Satu lembar soal dan satunya lagi lembar jawaban. Rani melotot ketika melihat angka-angka di soal matematika tersebut.
“Aduh, aku mesti isi jawaban apa nih? Aku sama sekali nggak ngerti dengan soal-soal ini,” batin Rani.
Mendadak ia ingat contekan rumus matematika yang ia bikin seminggu yang lalu. Ia mengendap-endap mencari rumus itu di tasnya biar tak ketahuan guru. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu juga. Sekarang hati Rani sedikit tenang, tak perlu pusing memikirkan jawabannya lagi, tinggal nyuri-nyuri kesempatan buat lihat contekan aja.
“Anak-anak, hari ini Ibu ada rapat guru sebentar. Kalian kerjakan ulangan matematika dengan baik. Awas kalau ada yang menyontek!” ujar bu guru setelah selesai membagikan soal ulangan ke seluruh murid di kelas.
Harapan Rani mencontek semakin terbuka lebar soalnya kelas ini tak ada yang mengawasi.
“Radith, coba kamu maju ke depan!”
Murid yang bernama Radith maju ke depan memenuhi permintaan bu guru. Rani sangat membenci Radith, soalnya Radith itu ketua kelas yang arogan. Radith selalu jutek pada Rani.
“Iya, Bu. Ada apa?”
“Selama Ibu nggak ada di kelas, tolong kamu awasi teman-teman ya. Kalau di antara mereka ada yang mencontek, langsung lapor ke Ibu ya!”
“Baik, Bu.”
Bu guru pun keluar meninggalkan kelas. Rani mendengus kesal, ia pikir ulangan ini tak ada yang mengawasi, tapi ternyata akan diawasi oleh Radith, ketua kelas.
“Diawasi Radith doang mah kecil. Aku pasti bisa mengelabuinya.”
Rani mulai mengerjakan soal matematika. Dilihatnya soal nomor 1, ada gambar segitiga dan soalnya menghitung luas segitiga. Rani mencuri-curi pandang untuk melihat rumus di kertas contekannya.
“Hey, kamu lagi ngapain? Nyontek ya?” tiba-tiba suara Radith mengagetkan Rani.
“Nggak kok.”
“Keluarkan tangan kamu dari laci meja.”
Dengan berat hati Rani mengeluarkan tangannya. Dan Radith pun mengambil kertas contekan yang ada di laci meja Rani. Kebencian Rani pada Radith semakin menjadi-jadi. Tapi gara-gara contekannya diambil Radith, Rani berjanji tak akan mencontek lagi. Ia pun belajar menyukai pelajaran matematika.
***
Adelia mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Rani. “Helo, Ran. Lo kok bengong sih?” seketika Rani tersadar dari lamunannya.
Cowok yang ada di depannya itu mengingatkan Rani pada Radith. Habis wajah mereka mirip sekali. “Apa jangan-jangan cowok yang di depan gue ini emang Radith, si ketua kelas yang menyebalkan itu?” batin Rani bertanya-tanya.
“Eh, lo Rani temen SD gue yang nyontek pas ulangan matematika itu bukan sih?” ujar cowok itu.
“Tuh, kan benar dugaan gue. Kenapa sih gue dipertemukan lagi ma dia?”
“Del, lo cari badut yang lain aja deh. Gue males make jasa dia!”
“Ih, kalau gue tau temennya Adel itu lo, gue juga ogah kerja di sini. Ngapain gue kerja di rumah orang yang suka nyontek?”
“Siapa bilang gue suka mencontek? Gue dulu itu pas kepepet aja, kan ulangan mendadak jadi gue ga sempat belajar.”
“Alah, itu mah alasan lo aja. Aslinya lo emang bodoh nggak pernah belajar.”
“Enak aja ngatain gue bodoh. Asal lo tahu ya, sejak lo pindah ke luar kota, gue ranking satu sampe lulus SMA.”
“Nggak percaya gue. Kalau pun lo ranking satu, itu pasti gara-gara nyontek tiap ulangan.”
“Stop! Kalian jangan berantem!” Adelia menengahi pertengkaran Rani dan Radith.
“Radith, lo lagi butuh duit kan? Lo jangan terburu-buru ngambil keputusan! Soal Rani biar gue yang tangani!” ujar Adelia berbisik ke Radith, tapi Rani bisa mendengarnya.
Tanpa aba-aba Adelia menarik tangan Rani dan membawanya ke depan kamar Andhina.
“Tuh, lo liat Andhina! Lo mau Andhina nggak sembuh-sembuh?”
“Gue mau dia sembuh. Tapi badutnya jangan si Radith.”
“Tadi gue keliling Jakarta, semua badut lagi pada penuh job, tinggal Radith yang lagi nganggur,” Adelia bernapas sejenak. “Ayolah Ran, lo ngalah demi Andhina. Gini aja… lo kasih Radith kesempatan kerja di sini, kalau selama seminggu dia nggak berhasil bikin Andhina ketawa, lo boleh pecat Radith. Gimana?”
Rani berpikir sejenak, sambil berpikir ia memandangi Andhina. Melihat kondisi Andhina, ia jadi tak tega. Ia ingin sekali Andhina cepat sembuh. Demi kesembuhan Andhina, ia pun mengalah. “Oke deh, Radith boleh kerja di sini. Tapi kalau selama seminggu dia nggak berhasil bikin Andhina ketawa, gue bakal pecat Radith.”
Adelia berharap dalam waktu seminggu Radith bisa bikin Andhina ketawa lagi. Kalau Radith gagal itu artinya ia harus mencari badut yang lain.

Other Stories
Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Download Titik & Koma