Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

14. Melepaskan Diri

“Mas, lo yakin mau hidup kayak begitu terus? Jangan, Mas. Lo punya masa depan yang lebih baik dari ini.”
Ucapan Alesha kembali terngiang. Adek cewek gue yang satu itu, biarpun suka ciek selalu mikirin apa yang gue lakuin. Lagian, siapa yang mau terus-terusan jadi sapi perah birahinya si cewek jadian-jadian itu? Gue juga nggak mau kali. Tapi, mau bagaimana lagi. Demi Mama dan adek gue satu-satunya itu, gue harus terjerat labirin nafsu Maura alias Mario, gay tajir yang nolongin keuangan sekaligus perusahaan bokap yang nyaris semaput beberapa waktu lalu.
Gue jadi gay bukan murni perasaan yang gue mau. Cuma demi memuaskan nafsu si Maura itu, gue nggak boleh jatuh cinta ke siapa pun. Bagaimana gue kagak disebut gay permanen kalau ke mana-mana cuma sama si Maura itu? Ya, iyalah orang liatnya gue benar-benar gay. Padahal nggak, Woy! Gue masih suka sama cewek. Serius.
Derit pintu terbuka menyadarkan gue dari lamunan. Persis cewek, dah, akhir-akhir ini. Suka banget ngelamunin hal-hal yang rasanya mustahil. Mama masuk sembari memamerkan senyum yang selalu jadi kebahagiaan gue. Mama satu-satunya orang tua yang gue miliki saat ini setelah setahun lalu Papa pergi dulu menghadap Illahi.
Gue lega bisa lihat Mama bisa jalan normal kayak dulu. Semenjak kepergian Papa, Mama mengalami sakit-sakitan yang berujung stroke. Yang kemudian bikin perusahaan keluarga nyaris bangkrut. Ya, nyaris. Karena gue berhasil nemuin bantuan buat menyelamatkan perusahaan yang dibangun Papa belasan tahun itu. Bantuan yang sayangnya bikin gue terjebak dalam lingkaran nafsu laknat.
“Mama boleh masuk, Raf?” Mama masih berdiri di ambang pintu, menunggu gue menyilakan.
“Masuk aja kali, Ma. Kayak kamarnya siapa aja pake izin segala,” kata gue. Menggeser posisi duduk di ranjang karena tahu Mama akan duduk di samping gue.
“Kamu nggak keluar, Raf? Ini Sabtu malam, ‘kan? Jangan kalah sama Alesha, dong. Dia udah hangout, tuh,” kata Mama sambil duduk tepat di samping gue. Dugaan gue nggak meleset, ‘kan?
“Males, lah. Capek.” Gue peluk gitar yang niat mau dimainin, tapi nggak jadi karena Mama keburu masuk. Jelas aja gue capek. Sepanjang malam kemarin, Maura bikin gue babak belur. Sialan, tuh, cewek jadi-jadian. Kalau udah main, susah banget buat berhenti.
“Mama ingin mendiskusikan sesuatu sama kamu, Raf.” Nada Mama kali ini terdengar serius. Tumbenan Mama mau diskusi. Ada apa lagi ini?
“Kenapa, Ma?”
“Mama ingin melepaskan kamu dari jeratan Maura, Nak.”
“Maksudnya?” Gue nggak paham sama yang Mama omongin. Melepaskan gue dari jerat Maura? Mana bisa? Tuh, orang cengkeramannya kuat. Utang keluarga gue juga masih belum lunas. Masih banyak malah.
“Mama nggak mau kamu kayak begini terus, Raf. Kamu punya kebahagiaan di luar sana. Kebahagiaan yang normal.”
Kebahagiaan yang normal? Kebahagiaan macam apa yang disebut kebahagiaan normal buat gue? Kencan sama cewek sebenar-benarnya cewek? Gue belum minat.
“Utang kita masih banyak, Ma. Kalau mau kabur pun percuma. Maura bisa nemuin kita.” Gue mencoba realistis. Orang-orangnya Maura bejibun. Sekali lo berkhianat atau keluar dari perjanjian, bisa tinggal nama hidup lo.
“Mama berencana ke luar negeri. Nikah sama bule kaya yang bisa bantu pelunasan utang ke Maura. Tinggal di sana selama-lamanya,” jelas Mama yang bikin gue langsung melotot.
“Mama apa-apaan, sih? Nggak, nggak. Itu sama aja kayak Mama jual diri. Nggak bisa. Rafif nggak akan biarin Mama ngelakuin hal serendah itu.” Gue nolak keras. Itu sama kayak Mama mengorbankan hidupnya demi uang. Menjual diri, nggak beda jauh sama itu.
“Fif, dengarkan Mama.” Mama menatap gue serius. Matanya yang sejuk bikin gue nggak berkutik. Meski wajahnya mulai berkeriput, gue yakin pas muda dulu Mama adalah gadis paling cantik. Nggak heran kalau bokap bisa jatuh hati padanya. “Mama sudah memikirkan jalan ini berulang kali, dan hanya ini kemungkinan paling tepat untuk membebaskanmu dari Maura.”
“Tapi, Ma ....”
“Fif, percaya sama Mama. Apa yang Mama lakukan bukan sebuah kenistaan. Mama hanya akan menikahi seorang bule. Ya, tentunya bule kaya yang nggak beristri,” kata Mama lagi.
“Emang ada yang kayak begitu?”
“Bumi ini luas, Fif. Kita bisa menemukan siapa pun yang kita inginkan. Ya, mungkin nggak gampang. Tapi, Mama yakin orang seperti itu ada.”
Aduh, ini nyokap gue kenapa tiba-tiba ngebet merit lagi?
“Memangnya, Mama mau kabur ke mana? Alesha bagaimana? Toko kerajinan yang di Malioboro bagaimana?” Gue memberondong. Biar bagaimana juga kalau Mama serius mau kabur ke luar negeri, semua usaha di sini harus ditutup biar si cewek jadi-jadian itu nggak nyium keberadaan Mama.
“Alesha ikut Mama, dong. Pokoknya, kamu tenang aja. Mama akan beresin semua. Kamu udah banyak berkorban buat Mama dan Alesha. Saatnya kamu menikmati hidup kamu.” Mama beranjak, menghampiri lemari yang hanya setinggi dada di mana sebuah biola putih menggeletak.
Mama meraih biola itu. Membersihkan sekadarnya, menyetel, lantas memainkannya. Bukan lagu yang kebanyakan orang mainkan. Entahlah, gue juga nggak paham.
“Mama menyuruh Rafif pergi, tapi ke mana Rafif harus pergi?”
Mama tersenyum dengan gerakan tangan yang masih lincah memainkan dawai-dawai biola. Oh, ya, Mama memang pemain biola yang handal. Pertemuan kedua orang tua gue pun berawal dari permainan biola Mama di sebuah festival musik, yang kebetulan Papa lihat. Takdir memang nggak ada yang tahu.
Daun-daun akan berganti; hijau, menguning, kemerahan, lalu cokelat.
Gugur, terhempas, berliukan mengikuti embusan sang angin
Satu atau dua melayang ke telaga
Tiga atau empat terserak sepanjang jalan
Mengelana, hingga lebur entah oleh hujan atau desau angin
Sementara ranting yang kesepian, pada satu titik masa akan kembali berjuntai dedaunan
Kehidupan sebelumnya pun akan berulang
Gue mengernyit heran, sama sekali nggak ngerti apa yang Mama omongin. Bagus, sih. Puitis. Tapi, buat otak gue yang nggak doyan sastra, rasanya kayak disuruh nelen kulit durian. Keselak.
“Besok, kamu berangkat segera ke tempat teman Mama.” Mama mengembalikan biola setelah puas bermain dengan kalimat-kalimat puisinya.
“Ke mana?”
“Jakarta.”
“Eh?”
Mama cuma senyum saat melangkah keluar kamar. Sama sekali nggak menjelaskan lebih lanjut ke mana gue ‘diusir’. Membingungkan.[]

Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Download Titik & Koma