15. Pondok Pesantren Al-azhar
Mama nggak main-main sama rencananya. Bahkan, kayaknya dia sudah menyiapkan jauh-jauh hari rencana melarikan diri ini. Mama ngasih gue sebuah alamat yang harus didatangi di Jakarta nanti. Meski gue masih waspada kalau-kalau si Maura bisa saja melacak keberadaan gue nantinya. Ah, masa bodoh, lah! Yang penting Mama dan Alesha aman. Semoga penerbangannya aman sampai di Jerman nanti. Gue bakalan kangen ke mereka. Terutama si bawel Alesha.
Dari Yogyakarta gue milih naik kereta daripada pesawat terbang. Bukan karena ongkosnya yang lebih murah, tapi naik kereta entah kenapa lebih menyenangkan. Selain itu, gue juga bisa menikmati lamanya perjalanan. Hitung-hitung mempersiapkan diri sebelum bertemu teman Mama ini.
Kurang lebih 9 jam gue duduk di kereta. Nggak nonstop duduk juga, sih. Gila aja 9 jam habis cuma buat duduk. Pantat gue bisa tepos seketika.
Setibanya di Stasiun Senen, gue milih nyari taksi buat nganter ke alamat yang dikasih Mama, yang katanya alamat kenalannya itu. Gue milih taksi lantaran gue tinggl nyodorin alamat itu ke supirnya. Dan, ya, kecil kemungkinan gue dibegoin kalau naik ini. Tinggal telepon call centre-nya aja kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Gue celingukan waktu taksi berhenti di depan sebuah gedung gede dengan plang nama Pondok Pesantren Al Azhar. Saking gedenya, gue yakin banyak kepala yang tinggal di sini. Kalau ini pesantren, berarti banyak santri yang tinggal, ‘kan?
Tunggu. Mama ngirim gue ke pesantren? Nggak salah apa?
“Pak, beneran ini alamatnya?” tanya gue untuk memastikan. Kali saja bapak supir ini salah baca atau salah arah atau salah mengenali alamat, ‘kan? Manusia, kan tempatnya lupa dan salah.
“Bener, kok. Ini alamat sesuai yang ditulis di kertas itu.”
“Masa, sih, Pak?” Gue masih ragu.
“Mending Adik turun dan langsung nanya ke orang di gedung sana. Biar yakin.” Ada nada sindiran dari si bapak supir. Elah, sensi amat. Toh, gue juga bayar argonya, kok.
Setelah membayar sesuai argo, gue pun turun. Serius ini tempatnya?
Gue cek lagi kertas di tangan dan mencocokkan dengan alamat yang tertulis di plang besar itu. Sama. Berarti memang tempat ini yang ditujukan buat gue. Ah, biar lebih meyakinkan, mending gue nelepon Mama dulu.
“Ma, tempatnya beneran pesantren?” tanyaku begitu panggilan tersambung.
“Memang pesantren. Mama nggak bilang, ya?”
“Mana Mama bilang kalau tempat itu pesantren?” Gue ngedumel. Yang namanya orang tua tetep aja punya penyakit pikun.
“Oh, berarti Mama lupa.” Terdengar suara kekehan di seberang.
Ampun, deh, gue punya nyokap lupaan amat.
Sekali lagi gue tatap pesantren yang begitu megah dan bertingkat ini. Gue ragu, apa bisa orang-orang di sini nerima gue yang kayak begini? Apa gue balik lagi aja ke Yogya, masa bodoh kalau si Maura bunuh gue nanti. Tapi, bukannya bikin pengorbanan Mama jadi sia-sia?
Argh! Gue bingung kalau kayak begini ceritanya.
Butuh beberapa menit gue mikir sampai akhirnya gue mutusin untuk nggak nyia-nyiain pengorbanan Mama. Perlahan, gue dekati gerbang pesantren tersebut. Tapi, baru aja mau ngetuk, pintu pesantren lebih dulu terbuka. Seorang laki-laki berpeci dengan baju koko dan sarung serta tasbih di tangan, tersenyum menyambut kedatangan gue. Kayaknya dia tahu kalau gue bakalan ke sini. Jelaslah. Mama yang ngasih tahu.
Umurnya mungkin nggak beda jauh sama Mama. Tampak sangat berwibawa dengan jenggot yang sebagian tampak memutih. Adem banget liat mukanya.
“Rafif, ya?” tanyanya lebih dulu sambil tersenyum.
“Ya, Pak Ustaz. Saya Rafif.” Karena gue nggak tahu mesti manggil apa, gue panggil aja dia ustaz. Lagian, dandanannya juga kayak ustaz-ustaz yang sering nongol di televisi.
“Saya Abdullah. Panggil saja Pak Abdullah. Saya memang teman Mama kamu,” katanya seraya mengulurkan tangan ke arah gue. Kami pun berjabat tangan sebagai tanda perkenalan. “Mari, masuk.”
Pak Abdullah menyilakan gue masuk. Kami berjalan beriringan memasuki kawasan pesantren. Kayaknya, ini pesantren terbesar dan termegah yang pernah gue lihat. Pertama kalinya juga buat gue masuk ke tempat beginian.
Sembari membawa gue berkeliling, Pak Abdullah menjelaskan riwayat Pesantren Al Azhar ini.
Kata beliau, pesantren ini berdiri sejak tahun 1970. Pendiri pertamanya Syekh Muhammad Ali Azhar. Itu kenapa nama pesantren ini Al Azhar. Diambil dari nama belakang pendirinya. Tidak lupa, Pak Abdullah pun menunjukkan bangunan-bangunan yang termasuk ke lingkup Pondok Pesantren Al Azhar.
Ada tiga bangunan besar serta satu bangunan yang lebih kecil dari tiga lainnya. Pak Abdullah bilang kalau tiga bangunan itu merupakan asrama putra, asrama putri, dan sekolah. Sementara satu bangunan yang agak kecil dari tiga lainnya adalah asrama pengajar. Asrama putra dan putri letaknya saling berjauhan. Mungkin, kalau didenahkan, lingkungan pesantren ini akan berbentuk huruf U bersusun tiga. Yang paling belakang asrma putri, dilanjut bangunan sekolah, lalu asrma putra. Masjid pesantren terletak di sisi kiri sedangkan asrama pengajar di sisi kanan.
“Kamu akan tinggal di sini selama beberapa waktu, Rafif,” kata Pak Abdullah.Kami sampai di lingkungan asrama putra.
“Nggih, Pak.”
“Kamu juga akan belajar di madrasah sini.”
Gue ngangguk sebagai balasan. Ya, memangnya mau ngapain lagi ke pesantren kalau bukan buat belajar?
Pak Abdullah nganterin gue sampai depan sebuah kamar yang kebetulan terbuka. Beberapa pemuda seumuran gue berhamburan menyambut. Mereka antusias banget mau kenalan. Sampai beberapa saat, barulah Pak Abdullah pergi. Gue ditinggalin bareng tiga cowok yang nggak berbeda jauh usianya sama gue.
Other Stories
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Kk
jjj ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...