Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.8K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

7. Rayhan Itu...

Aku tidak menyangka jika Rayhan benar-benar menunjukkan keseriusannya dengan menyanggupi kemauanku. Kudengar dari Mas Al, sembari menyambi kuliahnya yang tinggal beberapa bulan lagi, Rayhan bekerja di beberapa tempat. Siang akan dihabiskan Rayhan sebagai kurir pesan-antar makanan cepat saji, dan malam akan dia habiskan untuk menjaga warung internet yang akhir-akhir ini semakin menjamur.
Untuk pertama kalinya aku memikirkan setiap tindakan bocah itu. Waktu-waktu yang kulalui kerap berisikan pertanyaan: Seserius itukah Rayhan padaku? Apa yang membuat dia bertekad mendapatkanku? Aku biasa saja. Wajahku pun biasa-biasa saja. Kulitku tidak putih seperti artis-artis ibu kota yang mengiklankan produk lulur mandi.
Lalu, apa yang mendasari Rayhan memilihku? Haruskah aku bertanya padanya? Baru kali ini seseorang memperjuangkanku begitu keras. Huft! Haruskah aku luluh untuknya? Menggalaukan.
Dan rasa galau itu berefek pada playlist yang kuputar. Sembilan puluh persen lagu-lagu yang kuputar, ya, lagu-lagu galau. Mas Al dan Mbak Kinar kompakan melabeliku sebagai Miss Galau. Elah, aku tidak segalau itu kali.
Lalu dunia seperti kompak menggodaku. Entah bagaimana rata-rata request-an lagu dari pendengar jika bukan Merindukanmu-nya D’masiv, pasti Aku Jatuh Cinta dari Roulette. Dua lagu yang entah bagaimana membuatku tersindir.
Aku jatuh cinta kepada dirinya
Sungguh-sungguh cinta oh apa adanya
Tak pernah kuragu namun tetap selalu menunggu
Sungguh aku jatuh cinta kepadanya ....
Fiuh! Penggalan lagu inilah yang terngiang di telinga. Benar-benar menyebalkan, bukan?
Drrtt .... Drrtt ....
Satu pesan masuk ke ponselku. Melihat nama pengirimnya menciptakan kelegaan tersendiri. Pesan dari Silla. Sahabat terawet yang aku miliki.
Dari: Silla Rahajeng
Aku di Bantul, nih. Niatnya mau ke rumahmu, tapi takut kamu lagi siaran. Kasih tahu aku kapan bisa ndatengin kamu.
Kebetulan sekali Silla bertandang ke sini. Aku bisa menceritakan semua masalah padanya. Ya, setidaknya Silla bisa sedikit memberiku pencerahan untuk menindaklanjuti keputusanku akan Rayhan.
Untuk: Silla Rahajeng
Malam nanti bisa nggak? Aku nggak ada siarang malam ini.
Kukirim pesan balasan pada Silla. Tidak berapa lama pesan balasan Silla kembali menghidupkan layar ponsel.
Dari: Silla Rahajeng
Oke. Nggak masalah.
Aku sendiri yakin Silla sudah mendengar siaran penembakan beberapa waktu lalu. Tentu saja ajakannya untuk bertemu bukan sekadar meet up biasa, tapi memiliki maksud terselubung.
Tepat tiga puluh menit setelah aku sampai di rumah, Silla menampakkan batang hidungnya. Tidak tampak berbeda dari terakhir kali kulihat. Tetap Silla bertubuh mungil berkulit hitam manis dengan rambut hitam sebahu. Tidak tampak jika sebenarnya dia sudah bersuami. Jangan heran pada zaman ini jika menemukan perempuan-perempuan 20-an tahun sudah menikah. Para orang tua bahkan akan sangat grasak-grusuk jika di usia tersebut anak mereka belum menikah.
Kuajak Silla ke kamar—tempat paling nyaman untuk berbagi obrolan.
“Jadi, bagaimana?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Bagaimana apanya?”
“Ya, itu. Lamaran pria yang tempo hari. Ugh, manis sekali dia. Orang seperti apa laki-laki ini?”
Aku menatap jengah Silla. Memang, aku belum sempat memberitahu Silla perihal sosok si pelamar itu. Aku khawatir jika Silla akan mengolok-olokku. Apalagi jika dia tahu kalau aku memberikan tantangan pada Rayhan. Alamat Silla berceramah sepanjang malam.
“Dia .... Ehm, masih seorang bocah,” jawabku ragu-ragu.
“Masih seorang bocah, maksudmu?”
“Ya, bocah. Masih 15 tahun.” Aku bersiap atas reaksi apa pun yang dilemparkan Silla.
Hening. Kulirik Silla yang kelihatan seperti berpikir.
“Gila, Ika!” pekiknya seraya melentingkan tubuh tiba-tiba.
Tuh, ‘kan? Sudah kuduga dia kan sedramatis ini.
“Masih 15 tahun? Benar-benar menakjubkan,” decaknya seraya menggeleng-geleng aneh.
Menakjubkan? Seperti itukah istilah yang pantas? Lucu sekali.
Aku mendengus, berharap Silla tidak membahas lebih lanjut. Agaknya aku perlu mengalihkan pembicaraan sebelum perempuan satu ini semakin menyudutkanku.
“Kamu yakin nggak punya sedikit pun perasaan sama si bocah tengil ini?”
Tuh, ‘kan? Sudah sifat Silla kalau ingin tahu sesuatu pasti diburu sampai dapat. Alamak, Jan! Silla tidak akan melepaskanku begitu saja.
Kujatuhkan tatapan pada Silla yang duduk bersila di tepi ranjang; menelengkan kepala dengan senyum menyudutkan. Entah kenapa ekspresinya yang seperti itu sangat menyebalkan. Ingin rasanya menimpuk perempuan itu dengan bantal. Eh, tapi tidak boleh, ‘kan? Silla tamu di rumah ini dan tamu harus dimuliakan. Merepotkan.
Aku memilih duduk di kursi rotan yang menghadap jendela. Bentuknya yang seperti kursi malas membuatku menenggelamkan punggung dengan nyaman.
Apa aku yakin tidak memiliki perasaan apa pun pada si bocah tengil itu? Bahkan sampai detik ini aku masih mempertanyakannya.
“Bagaimana Rayhan menurutmu?” Lagi-lagi Silla bertanya.
Dengan memandang keluar jendela, aku menjawab, “Dia bocah nakal yang romantis.”
Bayangan di mana Rayhan membawa banyak balon dan berdiri sepanjang pagi di pinggir jalan seberang rumah, melintas. Siapa yang menyangka ide seromantis itu dimiliki kepala bocah 15 tahun?
“Terus?”
“Bocah nakal yang super perhatian.” Aku melanjutkan. Bayangan Rayhan yang menggenggam tanganku sepanjang memasuki kantor pun melintas.
“Kupikir, tidak ada salahnya mencoba menerima Rayhan sebagai laki-laki dalam hidupmu. Bukan sebagai bocah.” Silla menandaskan.
Sebagai laki-laki? Bisakah?

Other Stories
Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Mozarella Bukan Cinderella

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...

Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Hati Yang Beku

Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Download Titik & Koma