Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.8K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

Epilog

Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana Allah mengujimu setelah ujian sebelumnya. Begitu sayangnya Dia padamu, bukan dengan kebahagiaan Dia membalas segala ujian pada hari lalu. Tetapi, dengan sebuah ujian yang mungkin maha dahsyat dari sebelumnya.
Rayhan, selamat jalan. Mungkin memang tidak pernah ada hari kedua untuk kita di masa depan. Kamu cukup menjadi masa lalu bagiku. Menjadi bagian yang sempat penting. Ah, tidak. Kamu akan tetap penting karena kamu ada dalam diri Sofiyah. Terima kasih telah membuat Sofiyah hadir. Terima kasih telah membuatku menjadi wanita yang begitu beruntung mendapatkan banyak hal darimu.
Sofiyah masih sesenggukan dalam pelukanku begitu langkah kami meninggalkan pemakaman umum. Aroma kamboja, pandan, dan bebungaan lainnya mengantar kepergian pelayat pun kepergian Rayhan ke sisi-Nya.
Kesedihan akan berangsur pulih seiring waktu. Ya, baik aku dan Sofiyah hanya butuh waktu untuk mengobati kepergian Rayhan yang terlalu mendadak.
Sehari setelah pemakaman, aku dikejutkan dengan kedatangan Ustaz Arizal. Maksudku, terkejut untuk yang kedua kalinya. Kok, bisa dia masih di sini?
“Assalamu’alaikum, Ika.”
“Wa’alaikumsalam, Ustaz Arizal. Loh, masih di sini?” tanyaku.
“Ya, saya masih di sini. Wong, urusan saya belum selesai.”
Aku mengerutkan dahi, bingung. Kedatangannya yang pertama memang tidak membicarakan apa pun karena perhatianku keburu tersita oleh kondisi Rayhan. Mungkin, ini berkaitan dengan kedatangannya pertama kali waktu itu.
“Silakan duduk, Ustaz. Maaf, kita ngobrol di luar saja. Menghindari fitnah,” kataku sembari menyilakan Ustaz Arizal duduk di kursi rotan teras.
“Sofiyah masih sedih, ya?” tanyanya.
“Anak mana yang tidak sedih melepas kepergian papa yang selama ini ditunggunya? Ya, dia masih sedih. Tapi, aku sudah menasihati dia untuk tidak berlarut-larut.”
Ada helaan napas yang kudengar darinya. Dari gelagat yang ditunjukkan Ustaz Arizal, ada hal penting yang ingin disampaikan. Ya, tentu saja ada hal penting mengingat jauh-jauh dari Jakarta ke Yogya untuk menemuiku.
Eh, tunggu? Kok, dia tidak pakai tongkat? Ehm, tatapannya juga mengarah ke objek yang jelas. Jangan-jangan ....
“Seseorang sudah mendonorkan korneanya untuk saya,” katanya setelah bisu beberapa menit.
“Alhamdulillah. Semoga yang telah menyumbangkan mendapatkan balasan yang setimpal.” Aku mengucap syukur. Pantas saja Ustaz Arizal tidak lagi memakai tongkat. Matanya kembali bisa melihat. Baik sekali orang yang sudah mendonorkan kornea itu untuknya.
“Semoga Allah menempatkan dia di sisi-Nya yang terbaik, mungkin doa yang lebih tepat begitu,” ralatnya atas kalimatku. Eh?
“Maksudnya, dia sudah ....”
Ustaz Arizal mengangguk. “Sebelum meninggal, dia mengalami kecelakaan. Sebuah mini bus menabraknya. Disinyalir yang terjadi bukanlah ketidaksengajaan. Seseorang berada di balik kejadian naas ini. Seseorang yang menurutnya ada kaitan dengannya di masa lalu.”
Meski Ustaz Arizal belum mengatakan siapa pendonor ini, entah bagaimana aku seperti mengenalnya.
“Rafif. Pemuda itulah yang telah mendonorkan kornea matanya pada saya, Ika.”
Aku terlongo untuk beberapa saat. Rafif? Bocah yang melamarku dengan lagu Kupinang Kau dengan Bismillah? Kakak kandung Alesha yang sempat menjadi gay karena keterpaksaan? Inalillahi wa inna illaihi rojiun. Begitulah usia tidak pernah ada yang tahu.
Kecelakaan yang disengaja? Seseorang dari masa lalunya? Siapa?
“Aku turut berduka cita, Ustaz.”
Meski sempat membuatku kesal, Rafif merupakan sosok yang sempat menjadikan hariku tidak membosankan karena ‘teror’-nya. Kehilangan sedang menguji kami rupanya.
“Saya sudah mendengar semuanya dari Rafif, alasan kamu tidak menerima lamarannya,” katanya lagi. Menghentikan sejenak kalimatnya, mengarahkan tatapan pada jalanan desa yang mulai lengang karena malam semakin merangkak naik. “Saya pikir, saya salah mengingatnya. Saya pikir, nama itu hanya nama yang sama dengan orang yang berbeda. Ketidakbisaan melihat pada waktu saya bertemu dengannya, mengundang beragam tanya dalam benak saya begitu tahu nama lengkapnya.”
Aku mengerutkan dahi berlipat-lipat kali ini. Ustaz Arizal ini ngomong apa, sih? Mbok, ya mbelit-mbelit begitu.
“Dahliany Wiskasari, masihkah kamu mengenal Arizal Ridwan Maulana?”
Deg!
Apa yang dia tanyakan tadi? Siapa katanya? Arizal Ridwan Maulana?
“Kamu masih mencintai dia?”
Lah, lah, kok, malah nanya begitu?
“Itu ....”
“Arizal Ridwan Maulana, beberapa tahun lalu ingin kembali ke kampung halamannya, Yogyakarta. Naas, seseorang mengendarai mobilnya dengan tidak bertanggung jawab. Dia mengalami kecelakaan, yang membuat penglihatannya terenggut. Nyaris putus asa jika saja tidak bertemu seorang Guru Besar dari Pesantren Al Azhar. Itulah kenapa sekarang dia tinggal di sana,” jelasnya tanpa kuminta.
Aku bukan orang bodoh yang tidak mengerti ke arah mana penjelasan Ustaz Arizal. Sebisa mungkin kutahan desakan bulir hangat di sudut mata. Apa maksud semua ini?
“Saya ingin menebus hari kemarin, Ika.”
Sejak tadi kutahan tatapan untuk tidak beradu dengannya. Hanya saja, ucapannya kali ini membuatku tidak bisa menahan diri.
“Maksud, Ustaz?”
“Saya ingin menjadi pengganti Rayhan untuk kalian. Bukan, bukan pengganti. Saya ingin menjadi bagian yang baru dalam kehidupan kamu dan Sofiyah.”
Aku terbisukan oleh kalimatnya. Tidak tahu jawaban apa yang seharusnya aku katakan. Terlalu mendadak, tapi entah bagaimana aku merasakan kelegaan.
“Aku harus menanyakannya pada Sofiyah. Biar bagaimanapun dia ....”
“Ustaz Arizal boleh jadi papa Sofi, Ma.”
Aku menoleh ke asal suara yang tiba-tiba saja datang. Berdiri di ambang pintu, sedikit menyembunyikan diri dengan malu-malu, Sofiyah menatap kami.
“Sofi?”
“Kalau Ustaz Arizal yang jadi papa baru, Sofi nggak apa-apa, Ma. Sofi senang.” Ada senyum tertahan di wajahnya yang kuyu.
Hadeuh, kalau begini ceritanya aku diserang dari dua arah.
Kulirik Ustaz Arizal yang tampak tersenyum. Menang dia kali ini.
“Sepertinya, aku tidak perlu menjawab. Ustaz tahu apa jawabannya.”
“Alhamdulillah.” Ustaz Arizal meraup wajah dengan kedua tangan. Menghapus ketegangan yang beberapa saat lalu menghinggapinya.
Kuarahkan pandang ke langit malam yang cerah. Bahkan, Allah menyajikan keindahan malam-Nya pada situasi yang tepat. Selalu ada kebahagiaan setelah kesedihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tahu kapan waktu yang tepat menghadirkan orang yang tepat. Semoga ini pilihan hingga akhir hayat nanti.[]
Selesai

Other Stories
Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Download Titik & Koma