21. Cinta Tak Harus Memiliki
Gue tahu cara yang gue pakai mungkin kampungan. Tapi, cuma dengan cara itu gue bisa nunjukkin kalau niat ingin meminang Bu Ika itu serius. Gue tahu risikonya bakal kayak bagaimana. Beberapa hari ini Bu Ika selalu menghindari gue. Kayaknya dia marah, ya? Ternyata buat ngedapetin orang yang spesial itu susah. Buktinya, nggak peduli kalau gue ganteng—ini kata anak-anak lain, Bu Ika nggak ngelirik gue. Apa dia masih trauma, ya, sama rumah tangganya yang dulu?
Ya, kalau emang Bu Ika nggak mau nerima gue juga nggak apa-apa. Cinta nggak bisa dipaksa, ‘kan? Cinta juga nggak harus memiliki.
Ini seminggu setelah kejadian gue nyanyi di radio pesantren. Gue mau tahu apa jawaban Bu Ika atas lamaran gue, makanya gue ajak dia ketemuan. Gue siap apa pun jawaban dia.
Nggak sengaja gue malah ketemu sama Sofiyah. Tuh, anak ngapain di taman sendirian?
“Sofiyah?”
“Kak Rafif?”
Gue pikir, Sofiyah mirip banget sama Bu Ika. Cantik. Akhir-akhir ini juga terapi daun sirsak yang dijalani Sofiyah membuahkan hasil. Badannya udah nggak sekurus dulu.
“Ngapain di sini sendirian?”
“Main aja.”
“Kak Rafif temenin, ya?”
Kepalanya mengangguk-angguk, tapi wajahnya menyemburat sedih.
“Kak Rafif, boleh Sofiyah nanya?”
“Mau nanya apa, Cantik?”
“Pelacur itu apa, Kak?”
“Kamu tahu kata itu dari mana?” Gue kaget abis anak umur segini tahu kata pelacur.
“Waktu itu Sofiyah nggak sengaja denger Mama sama Budhe Silla ngobrol. Mama nangis di depan Budhe Silla, sambil bilang, ‘Aku nyesel seumur hidup mau-mauan dijadiin pelacur cuma karena duit’. Banyak, sih, yang Mama omongin. Tapi, Sofiyah lupa. Emang, pelacur itu apa?”
Gue elus kepala Sofiyah. Nggak etis rasanya kalau gue yang ngejelasin apa itu pelacur ke dia. Yang berhak adalah Bu Ika. Dia lebih tahu bagaimana menghadapi Sofiyah yang serba ingin tahu.
Jadi, Bu Ika pernah jadi pelacur? Apa itu yang ngebuat dia selama ini enggan buat deket sama cowok? Sama gue? Karena masa lalunya yang hitam?
“Kak Rafif, Kak Rafif,” katanya lagi sambil mengoyang-goyang lengan gue.
“Ya, kenapa?”
“Kalo cinta pertama itu apa?” Wajahnya yang polos sangat menggemaskan.
“Hm, cinta yang sampe kapan pun nggak bisa dilupakan.”
“Oh, berarti Mama masih suka sama si Arizal itu, ya?” Kepalanya sedikit miring dengan jari telunjuk di dagu, sementara tatapannya penuh tanya.
“Arizal? Ustaz Arizal maksudnya?”
“Nggak tau juga, sih,” jawabnya sambil mengangkat sedikit bahunya. “Mama nggak tau Ustaz Arizal itu cinta pertamanya atau bukan.”
Agaknya, gue mulai tahu penyebab Bu Ika nggak pernah ngerespons lebih perasaan gue. Mungkin, dia masih mengharapkan cinta pertamanya. Cinta terkadang memang nggak untuk saling memiliki, ‘kan?
Baru juga mau gue ajak Sofiyah main, Bu Ika nongol.
“Sofiyah? Rafif?”
“Mama?”
“Kok, di sini? Kenapa nggak istirahat di kamar?” Gue lihat wajah khawatir Bu Ika.
“Sofi bosen di kamar terus, Ma. Sofi mau main. Kak Rafif mau nemenin Sofi. Ya, ‘kan, Kak?” Dengan tatapan mengaharap, Sofiyah menatapku.
“Ya, dong. Lagian, Kak Rafif juga udah selesai belajarnya,” kata gue sambil mengelus kepala bocah perempuan ini.
Bu Ika menatap kami bergantian sebelum kemudian menghela napas.
“Rafif, saya mau bicara sebentar,” katanya kemudian.
“Sofiyah ke sana duluan aja. Kak Rafif mau ngomong dulu sama Mama kamu.”
Bocah perempuan itu mengangguk. Setengah berlari menuju ayunan yang ada di sisi terjauh dari taman. Ya, senggaknya nggak bakalan denger kita ngomong apa.
“Ini soal lamaran kamu tempo hari.”
“Saya udah tau jawaban Ibu. Bu Ika bakalan nolak, ‘kan?”
“Loh, kok?”
“Sofi tadi cerita kalo Ibu masih menyimpan rasa buat cinta pertama Ibu.”
Nggak ada kalimat bantahan dari Bu Ika yang artinya dia nggak nyangkal. Yang artinya ini bukan sekadar tuduhan.
“Rafif, saya ....”
“Saya nggak apa-apa, Bu. Kadang, cinta emang nggak bisa saling memiliki. Nggak bisa juga dipaksain. Karena hasilnya bakalan sakit. Saya senang bisa mencintai Bu Ika. Seorang perempuan yang bisa bangkit dari masa lalunya.”
Bu Ika tampak bingung sama yang gue omongin.
“Bu Ika perlu lebih hati-hati kalau curhat. Sofiyah sepertinya mendengar Ibu curhat tentang masa hitam Ibu beberapa waktu lalu. Kelak, Ibu harus punya alibi yang kuat kalo Sofiyah balik nanya tentang kenapa ibunya sampe jadi pelacur.”
Bu Ika hanya melongo. Mungkin syok sama yang gue omongin.
“Saya permisi, Bu. Kasihan Sofiyah udah nungguin.” Gue pamit duluan. Sampai beberapa langkah pun, gue masih lihat Bu Ika berdiri di tempat.
Andai saja Bu Ika mau membuka hati buat gue, nggak peduli dia mantan pelacur atau mucikari sekalipun, gue bakal terima dia. Toh, gue juga pernah nyemplung ke jurang gelap kayak begitu. Setiap orang bakalan dikasih kesempatan kedua sama Allah, asal dia mau menjemput hidayah itu.
Sayangnya, nggak bakalan ada tempat buat gue di hati Bu Ika. Sampai kapan pun nggak bakalan ada.[]
Other Stories
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Padang Kuyang
Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Namaku May
Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...