3. Kencan Pertama Dan Terakhir
Gedung Puspo Nugraha, Solo, Jawa Tengah menjadi saksi pernikahan Keyzia dan Rasya. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di gedung ini, aku sempat bengong beberapa menit saking terpukau akan kemeriahan pesta pernikahan mereka.
Beruntung Keyzia mendapatkan Rasya, dia pasti cowok super duper tajir. Yang aku tahu dari SD-SMA, hidup Keyzia itu biasa banget. Jika Keyzia tidak mendapatkan suami yang kaya raya, tidak mungkin pernikahannya bisa semeriah ini.
Setelah mengisi nama di buku daftar tamu, aku berjalan menuju sebelah kanan gedung, tempat prasmanan makanan. Waw, makanan di gedung ini komplit. Dari makanan khas Jawa Tengah sampai khas Kalimantan semua ada. Hemmm… aku jadi bingung milih makanan yang mana.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal, sudah lima belas menit melototin makanan yang ada di depan mataku kok tak ada menu ice cream ya? Padahal tujuan utamaku datang ke pesta pernikahan karena ingin makan ice cream gratis.
Di tengah kebingunganku dalam memilih makanan, tiba-tiba aku merasakan pundakku disentuh oleh seseorang. Sontak aku membalikkan badan. Ternyata di belakangku ada Cindy, Renata, dan Anindya. Mereka bertiga sahaabatku waktu SD dan SMP. Mereka datang ke pernikahan Keyzia tidak seorang diri, melainkan bersama suami dan anak.
Melihat mereka aku jadi iri. Kapan ya aku bawa anak ke pernikahan teman? Untungnya saat ini aku datang ke nikahan Keyzia bersama Bastian. Aku tidak terlalu kalah dengan mereka.
“Hey Risma, apa kabar? Kamu makin cantik aja,” ujar Cindy.
“Alhamdulillah, baik. Ah, bisa aja. Kamu juga makin cantik deh,” aku tersenyum manis membalas pujiannya Cindy.
Sebenanrnya apa yang kuucapkan bukan sekadar pujian belaka, namun kenyataannya memang seperti itu. Cindy dari SD-SMP tubuhnya gemuk, berkulit hitam. Kini dia langsing dan berkulit putih. Mungkin sekarang dia jadi istri orang kaya makanya bisa melakukan perawatan tubuh yang mahal.
Mata Rena melirik ke arah Bastian, sesaat kemudian dia tersenyum. Senyumannya itu bukan senyum manis tapi senyuman jahil. Mendadak firasat buruk bertengger di hatiku. Sepertinya bentar lagi si Renata akan mengeluarkan kalimat usil dan membuatku malu dari mulutnya.
Karakter Renata dari zaman SD adalah kalau ngomong asal jeplak.
“Wah, Ris… tumben lo sekarang ke nikahan temen bawa cowok, biasanya sendiri terus. Ciyeee… selamat ya udah nggak jomblo lagi,” ujar Renata.
Aku bernapas lega, pasalnya ucapan Renata tidak terlalu membuatku malu. “Alhamdulillah yah, pangeran impianku udah nggak ngumpet lagi. Hehehe.”
“Nah, cowok kan udah ada, buruan atuh diresmiin biar bisa nyusul Keyzia,” kali ini Anindya yang angkat bicara.
“Yups, gue setuju sama Anindya. Buruan diresmiin, gue tunggu undangannya!” Cindy menimpali.
Aku hanya tersenyum simpul sambil melirik Bastian. “Doain aja biar cinta kami sampai ke pelaminan. Kalian pasti dapet kok undangan dari gue.”
Mengamati tingkah Bastian yang sedari tadi banyak diam, aku jadi berpikir dia ada apa-apa. Bastian memang pendiam, tapi diamnya kali ini seperti menyembunyikan sesuatu dari aku. Entah apa itu. Aku harus cari tau.
“Hadirin sekalian, tiba saatnya kita memasuki sesi foto-foto bersama kedua mempelai. Kepada saudari Risma Nabila, Cindy, Felis Linanda, Renata dan Anindya dipersilakan maju ke pelaminan untuk berfoto dengan kedua mempelai,” terdengar ucapan MC pernikahan menggema di telingaku.
“Eh, nama kita dipanggil tuh. Kita ke pelaminan buat foto-foto bareng Keyzia yuk!” Cindy mulai heboh. Dia itu hobby banget foto-foto bareng pengantin.
Mereka pun berjalan beriringan menuju pelaminan, sedangkan aku menaruh gelas minuman dulu baru mengikuti langkah mereka.
Hanya memakan waktu lima menit saja aku sudah tiba di depan pelaminan kedua mempelai. Lagi-lagi aku bengong karena terpukau oleh dekorasi pelaminannya yang sangat indah berwarna ungu. Sebelas dua belas dengan dekorasi pelaminan pernikahan Gigi dan Raffi Ahmad. Bukan hanya itu saja, Keyzia juga pasti memakai penata rias yang sangat keren, terbukti aku sampai pangling melihat kecantikan Keyzia berlipat-lipat.
“Woy, Risma. Lo sampai kapan bengong di sono? Ayo buruan kita foto-foto!” suara cempreng Felis Linanda memecah semua lamunanku. Akhirnya aku mendekati mereka berdiri di sebelah kedua mempelai.
Aku dan Bastian memilih berdiri di sebelah Renata aja. Lalu aku memasang gaya andalan yaitu tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan membentuk angka 2 di dekat wajah dan manyunin bibir.
1… 2… 3
Kilatan blitz dari kamera photografer menandakan foto tadi sudah tersimpan.
“Satu kali lagi kita foto dengan gaya berbeda,” ujar Keyzia.
Kali ini gaya yang kukeluarkan adalah memeluk Bastian mesra. Ah, pelukan dia ternyata masih sehangat dulu. Harusnya sih aku bahagia karena bisa memeluk Bastian lagi setelah enam tahun berpisah, tapi entah mengapa hatiku justru merasa sedih. Hatiku seolah-olah mengatakan ini terakhir kali aku bisa memeluk Bastian.
Dengan cepat aku menggelengkan kepala berharap itu takkan terjadi. “No, ini bukan pelukan terakhir. Pasti akan ada pelukan-pelukan mesra lainnya esok hari,” batinku.
***
“Di luar ada Felis nyariin kamu.”
Mama tersenyum lembut, ditepuk-tepuknya bahuku. Lalu wanita itu pun beranjak pergi. Sepeninggal mama, Aku bengong sejenak. Tak lama kemudian aku mendesah. Apa boleh buat, mau tidak mau, suka tidak suka, dan dengan sangat terpaksa, aku harus menemui Felis.
“Hey, Lis… ngapain lo ke sini? Tadi kan lo udah ketemu gue di undangan Keyzia, lo udah kangen lagi ya sama gue?” tanyaku begitu tiba di ruang tamu.
“Gue ke sini karena ada yang pengen gue tanyain ke lo.”
“Nanya tentang apa?”
“Gini… di undangan Keyzia tadi gue liat Bastian itu diem aja. Dia lagi sakit?”
“Nah, itu dia masalahnya. Gue sendiri juga nggak tau. Tapi hati gue mengatakan ada sesuatu yang dia sembunyiin dari gue.”
“Oh gitu toh. Gue kirain dia sakit, makanya gue ke sini mau ngajakin lo ke rumahnya gitu.”
Dahiku berkerut. Aku jadi bingung sendiri, si Felis datang ke sini cuma menanyakan tentang Bastian? Dia juga terlihat sangat mengkhawatirkan Bastian. Aku memandang Felis dengan tatapan curiga. Wah, jangan-jangan Felis jatuh cinta sama Bastian. Gawat nih.
“Eh, gue pulang dulu ya. Mau ganti baju nih. Dahhh…”
Felis ngeloyor pergi gitu aja. Mungkin dia menghindari tatapan mata denganku. Tapi ya sudahlah. Nanti juga akan terjawab dengan sendirinya.
Drrrtttt … drttt
Aku tersentak kaget ketika handphone yang berada di tanganku tiba-tiba bergetar, menandakan ada pesan masuk. Kesadaranku mulai kembali ke alam nyata. Dengan enggan kubuka pesan itu.
From: Bastian
Ris, bisa kamu ke Pantai Parangtritis sekarang?
Keningku berkerut. Lama terdiam. Jariku menggantung, ragu mengetik balasan untuk Bastian. Aku menghela napas pelan. Mataku terlihat meredup. Bastian memikirkan nama itu membuatku nyaris gila. Tingkahnya menimbulkan sejuta misteri, tapi tetap saja hanya Bastian yang selalu menempati hatiku, tak ada yang lain.
Kembali ponselku bergetar. Kubuka pesan yang baru masuk itu.
From: Bastian
Ris, kamu bisa, kan? Kamu datang atau nggak, aku akan tetap menunggumu.
Hatiku menghangat membaca pesan itu. Tanpa kusadari air mata dengan sendirinya jatuh satu per satu dari pelupuk mata. Aku sendiri juga tak tahu kenapa menangis, kemudian aku mencoba tersenyum. Tanpa ragu jariku mulai mengetik balasan pesan dari Bastian.
To: Bastian
Aku akan datang. Maaf, balasnya lama.
Tanpa ragu segera kutekan tombol ‘send’ dan pesan itu pun terkirim. Aku menatap layar ponsel cukup lama. Hatiku berbunga-bunga. Hari ini jadwalnya seharian penuh bakal berada di samping Bastian. Kembali senyum manis itu terukir di bibirku.
***
Pantai Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Pantai Parangtritis ini mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya, yaitu selain ombak yang besar, juga adanya gunung-gunung pasir di sekitar pantai, yang biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak Pemkab Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis.
Bukan hanya itu saja, di Parangtritis ada juga ATV, kereta kuda dan kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat. Selain itu Parangtritis juga merupakan tempat untuk olahraga udara/aeromodeling.
Sudah satu jam aku berada di Pantai Parangtritis, namun belum juga aku menemukan keberadaan Bastian. Ke mana dia? Bukannya dia tadi memintaku datang ke pantai ini secepatnya? Pas sudah sampai dia malah tak ada di sini. Huft, menyebalkan.
“Kata orang senyum seorang gadis itu seperti hujan di musim panas. Sepertinya memang benar ya?”
Aku menoleh ke belakang. Seketika wajahku memerah ketika melihat sosok Bastian menatapku begitu lembut.
“Sejak kapan kamu di situ?” tanyaku dengan nada suara yang sedikit tercekat. Tak tahu kenapa aku tiba-tiba merasa gugup.
“Ada apa ini?” aku bertanya-tanya dalam hati.
Aku berdiri tepat di sampingnya. Aroma citrus yang khas seketika menyergap indra penciumanku. Detak jantungku juga semakin menggila. Mendadak aku menjadi salah tingkah.
“Ikut aku!” bisik Bastian pelan di telingaku.
Bastian mengedikkan kepalanya ke arah kanan. Lalu laki-laki itu pun mulai beranjak. Aku mengikutinya. Rasa penasaran di hatiku pun semakin kuat.
“Aoww....” aku meringis. Langkah Bastian yang tiba-tiba berhenti membuatku menubruk punggung Bastian. “Kok berhenti?”
Bastian menoleh ke belakang. Dia tersenyum. Sangat misterius. Dan sebelum aku sempat bertanya lagi, cowok itu justru menggeser tubuhnya dua langkah ke kanan. Aku hanya memerhatikan tingkah cowok itu dengan bingung. Bastian memutar tubuhnya, hingga akhirnya dia berhadapan denganku.
Degh!
Aku terpaku sejenak, seolah terhipnotis dengan tatapan mata dan senyum Bastian. Ah, dia memang selalu bisa membuatku terhipnotis.
“Surprise!!”
Mataku membelalak. Kaget? Tentu saja. Siapa yang tidak akan kaget bila mendapatkan kejutan manis seperti dari laki-laki yang sangat spesial bagiku.
Tepat di bawah pohon kelapa yang besar di depanku, tampak kelopak-kelopak mawar putih membentuk logo hati. Lalu di atasnya tampak sebuah meja beserta dua buah kursi. Di atas meja tertata dengan rapi dua piring nasi goreng super pedas favoritku, lengkap dengan dua gelas lemon tea dengan hiasan yang cantik. Sederhana tapi terlihat anggun. Mataku terlihat berkaca-kaca. Terharu, itulah yang kurasakan saat ini.
“Gimana? Kamu suka? Atau ada yang kurang?” Bastian menatapku dengan hangat.
Aku menggelengkan kepala pelan. Masih dengan mata yang berkaca-kaca, kutatap mata teduh Bastian. Senyum mulai merekah di bibir mungilku. “Ini udah lebih dari cukup. Makasih,” ucapku dengan nada suara yang sedikit bergetar karena begitu terharu.
Bastian tersenyum. Perlahan diraihnya tanganku. Digenggamnya dengan erat tangan itu. “Kamu tau? Kamu cantik kalau tersenyum, Ris. Jadi aku minta, jika aku sudah tak ada lagi di sisimu, jangan sekali pun senyum itu hilang dari bibirmu. Ya!”
Aku bingung dengan ucapan Bastian barusan. “Maksudmu? Apakah kamu mau pergi ninggalin aku lagi?” mataku berkaca-kaca, paling dalam hitungan detik air mataku tumpah.
“Ah, sudahlah. Nggak usah dibahas, anggap saja tadi aku salah ngomong. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu kok, selamanya kamu tetap di hatiku.”
Aku terdiam. Lalu aku pun mengangguk pelan. Kubalasnya genggaman hangat Bastian.
“Jadi... kita makan sekarang?” ucapan Bastian membuatku tertawa.
Aku mengangguk. Tak ada lagi kata yang mampu melukiskan kebahagiaanku hari ini. Penutup kebahagiaanku hari ini adalah makan romantis bersama orang yang paling kucintai di tepi pantai sambil melihat sunset.
***
Matahari Departement Store, tempat terakhir yang gue singgahi hari ini. Gue sendiri juga nggak tau kenapa bisa datang ke tempat ini. Mungkin karena gue bête, nggak ada yang dituju kali ya?
Biasanya gue kalau hari Minggu jalan-jalan sama Risma, tapi hari ini Risma sejak tadi pagi sudah pergi sama Bastian Yoel Permana. Risma kebangetan deh, udah nemuin yang baru, gue dilupain.
Gue mengamati sekitar, ternyata di sekitar gue ada Texas Chicken, toko mainan, toko kaset, toko aksesori cewek dan toko buku. Hemmm… toko mana ya yang asyik buat disinggahi biar sekiranya bête gue berkurang?
Toko buku. Ya, gue rasa tempat itu cocok buat gue singgahi. Udah lama gue nggak ke toko buku, gue mau sekalian update novel terbaru. Ya udah gue ke sana deh.
Baru saja gue berjalan, langkah gue terhenti ketika bola mata gue menangkap objek yang bisa bikin hati gue panas dan objek itu Bastian Yoel Permana. Ya, gue melihat dia bergandengan mesra dengan wanita, tapi bukan Risma orangnya.
“Kurang ajar si Bastian. Beraninya dia selingkuh dari Risma! Gue kasih pelajaran biar kapok.”
Gue berjalan dengan terburu sambil mengepalkan tangan. Cukup makan waktu lima menit, gue sekarang sudah ada di belakangnya. Dia belum menyadari keberadaan gue. Karena gue geram melihat pemandangan di depan, langsung saja gue tarik bajunya. Ketika dia membalikkan badan…
Buk!!!
Satu tonjakan tangan gue berhasil mendarat di pipinya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Cepat-cepat dia mengusap darah itu.
“Lo apa-apaan sih datang-datang langsung nonjok gue?” ujar Bastian dengan nada tinggi.
“Lo tuh yang apa-apaan? Lo kan pacarnya Risma, ngapain coba gandengan mesra sama cewek lain? Mau jadi playboy sok-sokan selingkuh? Hah?” gue balik bertanya dengan nada tak kalah tinggi pula. “Gue nggak nyangka lo playboy juga, Bas.”
“Tenang, Bro. Gue bisa jelasin semuanya. Apa yang lo liat nggak seperti yang lo bayangin. Mending kita ke sana aja yuk biar ngobrolnya enak!” tangan Bastian menunjuk Texas chicken. Gue mengangguk pertanda menyetujui ajakannya. Gue pun mengikuti langkah Bastian menuju Texas Chicken.
Tanpa terasa akhirnya sampai juga di Texas Chicken. Bastian memilih duduk di kursi nomor dua, letaknya di tengah-tengah. Gue ngikut aja, lalu duduk tepat di depan Bastian.
“Nah, sekarang kita udah ada di Texas Chicken. Langsung aja deh lo jelasin semuanya!” ujar gue memulai obrolan.
“Oke, sebelum gue jelasin semuanya, gue mau memperkenalkan cewek yang di sebelah gue dulu. Dia calon istri gue, namanya Natasya Indah.”
Emosi gue yang tadinya sudah agak turun sekarang naik lagi. Bastian sudah punya calon istri? Terus ngapain coba hadir lagi di hidup Risma? Apa dia nggak sadar perbuatannya itu bisa menyakiti hati Risma? Tangan gue mengepal, bersiap nonjok dia untuk kedua kalinya.
“Sabar, Bro. Gue tahu sebenarnya lo cinta mati sama Risma sejak SMP, makanya gue memutuskan menerima perjodohan dari orang tua gue. Tujuannya nggak lain dan nggak bukan adalah biar lo bisa bersatu sama Risma.”
Mata gue melotot, kaget karena Bastian tahu tentang isi hati gue yang mencintai Risma dari SMP. “Lo tau dari mana gue cinta sama Risma sejak SMP?”
“Nggak penting gue tau dari mana. Kalau lo cinta sama Risma kenapa nggak bilang dari dulu? Kalau lo bilang dari dulu, gue nggak akan pedekate bahkan jadian sama Risma.”
“Karena gue sadar Risma bukan bersama gue, tapi bersama lo. Lo cowok yang paling dicintai Risma. Terbukti selama lo di London, tak pernah Risma berpaling ke cowok lain.”
“Kalau itu tujuan lo, kenapa lo balik lagi ke Indonesia?”
“Sebenarnya gue balik ke Indonesia karena ingin menikahi Risma, tapi ternyata Bokap nggak merestui, gara-gara mitos. Terus Bokap jodohin gue sama Natasya,” Bastian terdiam, sepertinya dia mengambil napas. “Gue janji mulai besok gue nggak akan muncul lagi di depan Risma!”
Perlahan-lahan emosi gue turun dengan sendirinya. Kini emosi itu berganti dengan rasa senang. Karena kepergiannya akan memunculkan kesempatan buat gue buat dapetin cinta Risma.
Bastian berbisik ke ceweknya. Sesaat kemudian ceweknya mengeluarkan sesuatu dari tas. Sesuatu itu diberikan ke gue.
“Hah? Ini undangan lo sama Natasya?”
“Iya. Gue harap lo bisa datang ke pernikahan kami.”
“Insya Allah. Ntar gue ajakin Risma juga deh.”
Gue melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Ternyata jarum jamnya telah menunjukkan pukul setengah enam petang. Sepertinya gue harus pulang. Sebelum pergi gue mengucapkan beribu-ribu terima kasih ke Bastian. Biar gimana pun juga dia rela mengalah agar gue bisa dapetin cinta Risma.
“Risma, gue tau kepergian Bastian pasti akan menimbulkan luka di hati lo. Tapi gue akan selalu setia untuk menyembuhkan luka hati lo itu,” batin gue. Gue pun pergi meninggalkan Bastian dan ceweknya yang asyik makan di Texas Chicken.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...