Cinta Buta

Reads
1.6K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Iesye Martini

3. Tercampakkan Dan Bangkit

Setelah tercampak dari rumah mantan suaminya yang menuntut Marthy untuk bisa persis seperti mendiang istrinya padahal setiap manusia itu berbeda, tentu saja keinginan itu tidak terkabul, kemudian mantannya itu menceraikannya.
Marthy melanjutkan hidupnya seperti biasa. Mengajar Bahasa Inggris dan melakukan kegiatan sosial dengan kelompok Mualaf yang dipimpin oleh seorang mualaf dari suku Cina yang cemerlang. Mualaf Center Indonesia dipimpin oleh Wibowo dan dia betul betul menjadi sebuah teladan untuk para mualaf, seorang yang sederhana dan ramah serta cerdas yang masih mengikuti kuliah agama Islam di Medinah lewat dunia. Di bawah asuhannya, Mualaf group yang dijalankan maju pesat. Bahkan Raja Arab, King Salman mengundang para mualaf untuk berhaji dan berumroh.
Di situlah Marthy berkiprah sebagai pembina, membantu para mualaf yang membutuhkan ilmu-ilmu Islam yang masih awam untuk mereka.
Jelas kebutuhan Marthy adalah internet dan semua kegiatannya juga menggunakan internet. Dia juga memakai media sosial agar bisa menjangkau jauh dan bertemu dengan para mualaf yang membutuhkan bantuan pembinaan.
Sampai suatu saat Marthy bertemu Edwin Syahruddin (Edo) di dunia maya. Seorang laki-laki tampan yang baik hati menurut Marthy yang pantas disayangi. Edo yang membuat dia bisa melupakan kepedihan setelah dia dicampakkan mantan suaminya, seorang mantan direktur di sebuah perusahaan farmasi.
Kilas Balik
Mei 2016, Edo, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang tidak Marthy kenal sebelumnya selalu me-like apa saja yang Marthy tulis di tempat dia menulis status di sebuah media sosial. Kenapa Marthy tahu, tepatnya kapan laki-laki itu mulai me-like, Edo sendiri yang menyampaikannya pada saat mereka sudah menjadi sepasang kekasih, istilahnya mereka melakukan pedekate melalui medsos dan Whatsapp.
“Saya mulai me-like apa saja yang kamu tulis di status yang statusnya selalu bagus, tepat, pas untuk pencerahan kami yang masih kurang dalam masalah agama,” Edo menulis di Whatsapp-nya pada Marthy. Bukan satu yang nge-fans pada tulisan Marthy, tapi Edo yang paling spesial, Edo dengan berani memberikan nomor teleponnya pada Marthy.
“Maaf Bu, siapa tahu Ibu perlu nomor telepon saya,” katanya di suatu sore yang cerah di Jakarta. Edo tinggal di Batam beserta tiga anak-anaknya. Bagi dunia maya apalah artinya jarak, jika quota masih ada artinya mereka masih bisa bertemu.
Marthy yang sudah menjomblo agak lama karena bercerai dengan suaminya, menerima keinginan Edo untuk berteman dekat. Marthy yang selama ini hati-hati menerima tawaran berteman tertarik dengan Edo yang santun, baik hati, penyabar serta perhatian.
“Saya ini pendosa, Sayang, perlu masukan banyak dari orang yang seperti kamu, orang baik dan alim, apalagi kalau gurunya cantik seperti ini, siapa yang gak betah,” lanjut Edo lagi.
“Hmm tukang menggombal juga Edo ini,” Marthy tersenyum membaca tulisan Edo. Perempuan mana yang tidak suka dipuji apalagi oleh orang yang sudah mulai dia sukai.
Edo yang katanya seorang duda dengan anak tiga itu memang manis, walau lulusan SMK saja tetapi dia nampak cerdas. Dari tulisan yang Marthy baca di statusnya atau ketika mereka mengobrol di WA, Marthy lama-lama merasa terpikat. Edo juga perhatian dan menyenangkan. Marthy sudah mulai melupakan perbedaan mereka, “Biarlah cuma lulusan SMK, yang penting membahagiakan,” kata Marthy dalam hati, dia juga tidak mempersoalkan Edo yang tidak punya pekerjaan yang baik, pengantar koran yang gajinya dibawah UMR “Itu bisa disiasati,” kata hati Marthy.
Bulan kedua setelah Marthy mulai menetapkan pilihannya, dia mencari apa yang bisa dilakukan Edo di Jakarta. Lulusan SMK sekarang, kalau kerja di pabrik paling mendapat gaji dua setengah juta, pas-pasan. Lalu Marthy terpikir ojek online yang kabarnya lumayan penghasilannya. Dia datangi beberapa pengemudi Go-jek dan diwawancaranya. Mereka serempak menyebut angka sekitar lima jutaan satu bulan, artinya tidak buruklah buat Edo dan keluarganya. Marthy tidak berpikir dia harus dibiayai Edo kalau mereka menikah, Marthy yakin dia bisa mencarinya sendiri.
Lalu mulailah Marthy menawarkan idenya pada Edo, Edo semangat menerima, dia tertarik datang ke Jakarta. “Aku siap Sayang, tapi yakin kan ini gak akan merepotkanmu, membebanimu?” tanyanya pada Marthy.
“Aku sejak kecil dibiasakan membantu, Edo. Insyaa Allah aku tidak keberatan,” jawab Marthy. “Aku cuma berpikir soal anak-anakmu, mudah-mudahan anak-anakmu bisa kuliah dan menjadi sarjana,” lanjutnya.
Marthy menyiapkan semua apa-apa yang harus Edo siapkan untuk berhijrah ke Jakarta. Tempat tinggal, sebuah motor dan uang untuk sebulan paling sedikit untuk menyongsong hidup baru di Jakarta. Kalaupun dia harus menikah dengan pengemudi ojek, siapa takut. Allah melihat manusia dari takwanya, bukan dari pekerjaannya. Marthy siap menjalani hidup sederhana dengan Edo.
Setelah mereka bertemu ketika Paman Edo meninggal di Jakarta, dimajukan lagi usulnya untuk segera hijrah ke Jakarta. Mereka bertemu di sebuah tempat di sekitar Blok M, sebuah restoran yang makanannya enak-enak. Marthy mengajak Edo ke sana.
“Sayang bagaimana? Sekarang kamu menganggur di Batam, bagaimana kalau hijrah ke Jakarta? Siap? Dan satu lagi, aku tidak mau berbuat dosa rantang runtung denganmu tanpa ikatan pernikahan. Jika kamu mencintaiku seperti yang pernah kamu bilang, aku tidak keberatan menikah denganmu. Aku tidak mau kita berzinah!” ujar Marthy tegas.
Lama Marthy menunggu jawaban, lalu Edo menjawab, “Maaf Sayang, nampaknya tidak bisa kulakukan, terserah Sayang mau bilang apa, terserah Sayang mau melakukan apa, aku sekarang sedang fokus mencari nafkah untuk anak-anak,” jawabnya.
Hahahaha jawaban terkonyol yang pernah Marthy dapatkan. Diajak mencari nafkah katanya sedang mencari nafkah, di Batam padahal dia menganggur. Dia yang dulu bilang IYA dan siap hijrah ternyata mengingkari apa yang dia pernah ucapkan. Artinya selama ini dia sudah berubah, dia memang tidak siap hijrah ke Jakarta dan dia juga pasti tidak mencintai Marthy sedalam cinta Marthy padanya.
Pantas belakangan ini dia seringkali meninggalkan Marthy saat bicara di Whatsapp dengan segala alasan, malam hilang tanpa berita, pagi pagi palingan mengucapkan salam lalu hilang ditelan sosial media tempat mereka bertemu awalnya.
Pantas, pantas, pantas. Ada sembilu menyayat-nyayat hati Marthy. Berapa kali Marthy memutuskan hubungan dengan Edo karena gamang dan ragunya. Marthy pikir gamang saat mau hijrah itu wajar, Marthy yang lugu ini tidak berpikir Edo tidak mencintainya karena Edo masih tetap menghubunginya. Lalu Marthy ingat sesuatu.
Scammer
Scammer itu penjahat di dunia maya. Marthy sering membaca cerita tentang scammer di dunia maya, apa Edo seorang Scammer? Sama sekali Marthy tidak terpikir Edo itu scammer. Edo suka salat, Edo santun, Edo sayang Marthy. Mereka saling menyayangi. Masa Edo scammer.
Tunggu, ada yang menggelitik pikiran Marthy, entah ada hubungan apa dengan kata-kata scammer ini.
Dua minggu sebelum Edo ke Jakarta dia pernah bercerita .
“Sayang, tadi aku menabrak dua buah mobil dalam tabrakan beruntun. Aku sedang melamun tentang paman yang sakit, tiba-tiba brakkk… aku menabrak mobil yang ada di depanku,” katanya dalam tulisan di Whatsapp.
Edo sering diminta tolong keluarganya untuk mengemudi mobil, mengantar sana sini.
“Lalu, kamu gak apa apa Sayang?” Marthy khawatir.
“Alhamdulillah aku gak apa apa, Cuma deg-degan terus, untung mobilnya gak apa apa, mereka pake asuransi,” lanjut Edo.
“Cuma mobil yang kupake rusak parah, saudaraku harus merapikannya di bengkel, sekitar lima belas juta, aku harus bayar sembilan juta,” cerita Edo.
“Hmm… lima belas juta itu banyak, separah apa sih kerusakan mobil saudaranya Edo? Aku pernah mengalami mobil yang bersentuhan saat sama-sama di jalan raya, kalau pengemudinya tidak apa apa, bahkan tidak tergores sedikitpun badannya, tidak mungkin mobilnya rusak parah,” Marthy berpikir. Jika Marthy bisa menyelesaikan S2-nya di Inggris dan berkali kali menjabat manager di sebuah perusahaan besar, apakah Marthy wanita bodoh? Tentu tidak.
Ketika Edo sudah datang ke Jakarta dan mereka bertemu, Edo bolak-balik bilang kepalanya pusing memikirkan utang dia gara-gara menabrakkan mobil saudaranya. Tetapi Marthy juga berpikir, Edo diminta mengemudi mengantar yang punya mobil, artinya Edo tidak akan mengemudi jika tidak ada permintaan dari saudaranya. Lalu setega itukah saudaranya meminta uang pada Edo yang selama ini mereka ketahui tidak punya kerjaan bagus, hanya pengantar koran? Ini konyol, tidak masuk akal. Sembilan juta bagi Edo itu amat besar. Apakah demikian ceritanya? Marthy tidak mau menuduh Edo berbohong, tapi ceritanya sungguh tidak masuk akal Marthy.
Marthy lalu ingat para scammer yang juga modusnya seperti Edo, sedih sekali jika Edo memperlakukan Marthy seperti para scammer memperlakukan korbannya. Masa sih Edo sejahat itu?
Lalu Marthy ingat lagi saat mereka bertemu, Edo masih keukeuh bercerita sambil memperlihatkan SMS yang katanya dari anak si pemilik mobil, “Tuh Sayang aku sudah pinjam dua juta dari adikku tapi dia masih tetap nagih, tujuh juta lagi nih, bingung siapa lagi yang mau kupinjam uangnya,” keluh Edo saat mereka sedang bersantai di sebuah restoran.
“Wah aku belum punya uang sebanyak itu, banyak banget,” jawab Marthy. Terus terang gerak-gerik para scammer itu Marthy pernah membacanya di internet. Gaya Edo saat bercerita tidak meyakinkan Marthy. Bagaimana kalau uang dari Marthy malah dipakai foya-foya dengan perempuan lain? Marthy sayang Edo, sayang sekali tetapi nalarnya tetap berjalan aktif.
Marthy saat itu sama sekali tidak menjanjikan apa-apa pada Edo. Tabrakan yang tidak membuat Edo luka bahkan tidak tergores sedikitpun tidak mungkin membuat mobil rusak parah. Lalu ikatan Marthy dengan Edo yang baru dua bulan dan belum jelas, apakah jadi Marthy harus mau memberi Edo uang sebanyak sembilan juta rupiah? Marthy selalu meminta pertolongan Allah saat ada hal-hal yang seperti ini dan Allah memberi petunjuk-Nya. Marthy tidak yakin Edo bercerita dengan benar. Rasa sayang Marthy pada Edo tidak ada kaitannya dengan Marthy harus membantunya. Apalagi ceritanya tidak masuk akal seperti ini.
Edo walau tidak nampak kecewa dia rupanya kesal permintaannya tidak dipenuhi Marthy. Tetapi ini dunia maya, Marthy bodoh kalau tidak memakai otaknya yang cerdas, dia bergeming tidak memberi Edo uang buat “perbaikan mobil” yang dia minta.
Ketidakyakinan Marthy ini tidak diceritakan pada Edo saat Edo pulang, Marthy memberikan sekedar uang tambahan buat membantu Edo pulang, Marthy tahu pasti Edo membutuhkannya.

Other Stories
Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Ngidam

Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Download Titik & Koma