7. Ulang Lagi Waktu Itu, Ulang Lagi Takdir Yang Tidak Bisa Dirubah Itu
Tetap saja, aku tidak bisa menerimanya.
Setelah Yumi pergi, kakiku tetap saja melangkah ke arah apartemenku. Mencari kamar Shuu yang terkunci rapat.
Dan itulah yang terus kulakukan. Berkali-kali. Kembali ka masa lalu, gagal lalu pergi ke kamar Shuu dan memaksanya untuk mengembalikan waktu. Gagal lagi lalu ke kamar Shuu dan memintanya lagi. Terkadang aku sampai menebak-nebak apa yang akan terjadi yang menyebabkan kegagalanku ini.
Seperti aku akan melakukan ini selamanya.
Bajuku, rambutku hingga syalku semuanya basah. Aku sudah gagal lagi, sampai tak terhitung berapa kali aku gagal. Tak apa, setelah ini aku tinggal pergi lagi ke rumah Shuu dan memintanya.
Seakan-akan mengabulkan permintaannya itu tak penting. Seakan aku terbutakan oleh keinginan untuk mengulang waktu dan bisa kembali untuk melihat senyumannya lagi. Tanpa memikirkan perasaan Yumi atas apa yang telah kulakukan.
“Wah, hujan ya. Aku tak menyangkanya.” Yumi menatapku sambil tersenyum seolah-olah tidak ada hal penting yang terjadi. Pakaiannya juga basah kuyup terkena air hujan yang sangat deras. Bahkan lampionku juga hancur dibuatnya.
Bahkan yang lain begitu. Konna dan Aizawa juga menikmatinya, mereka masih berbaring menikmati setiap tetesan air yang membasahi tubuh mereka.
Aku tersenyum padanya. Terbiasa dengan perilakunya itu.
“Maaf. Aku gagal mengabulkan keinginanmu.” kataku.
Akane merangkulku, ototnya yang besar hampir mencekik tulang leherku. “Tak apa, ini bukan salahmu kok.”
“Ini hanya fenomena yang tidak terduga.” Kuro juga memaklumi. Mereka semua sama saja responsnya, seolah mengatakan semua baik-baik saja sedang mereka tidak tahu betapa seringnya aku melakukan ini hanya sekadar mengabulkan permintaan saja.
Hujan yang semakin deras saat beberapa menit terakhir kini disertai kilat dan angin kencang. Di sekitar sini tidak ada tempat berteduh. Kami hanya bisa menghangatkan tubuh kami dengan baju kami yang basah. Menunggu reda.
Yumi menjulurkan sesuatu padaku. Aku sudah bisa menebaknya.
“Ini untukmu. Benda yang kubawa mati ini mungkin bisa membantumu atau hanya kenang-kenangan saja. ku hanya ingin kau membawanya.”
Aku menerimanya. “Dengan senang hati.”
Aku menjatuhkan diri di atas rumput. Membuat sedikit percikan air di atas rumput yang sudah becek, di tempat yang tidak bisa digunakan untuk berteduh. Sebentar lagi, Yumi akan pergi dan aku berlari ke kamar Shuu.
Dingin sekali, sudah hampir tengah malam dan hujan semakin deras, kami hanya bisa berteduh di balik pakaian kami dan berharap tidak terkena penyakit apapun. Lampionku yang dibeli juga sudah menjadi bubur kertas dan seonggok tali dan lilin yang tidak menyala. Pemantik milikku juga kebasahan.
Dan Yuuki sepertinya sudah terkena flu.
“Bagaimana kalau kita pulang saja?” kata Akane.
“Tidak, kita tidak pulang sekarang. Ayo berkumpul, tinggal tiga puluh detik lagi.” Kuro memanggil setelah membaca buku catatan milik Yumi yang tidak pernah jarang sekali berada di tangan pemiliknya.
Kami segera mendekat dan berkumpul.
Eguchi yang kuingat langsung keluar dari wujud pedangnya sekarang berdiam saja dalam wujud pedangnya. Membuat Kanzaki tidak kerepotan lagi.
“Baiklah,” Aizawa membuka pembicaraan setelah kami berkumpul untuk kesekian kali. “Sekarang, ada kata-kata terakhir yang ingin disampaikan? Sebelum waktunya habis.”
Yumi hanya membalikkan badan dan menatap langit. “Tidak ada, aku hanya ingin bersyukur pada kalian semua. Hanya itu saja,” ucapnya tanpa berbalik ke arah kami yang menghela napas sambil melihat punggungnya.
Setelah itu dia berbalik. “Terima kasih, semuanya.” Lalu menghilang bersamaan dengan suara jatuhnya air yang semakin deras. Seakan mengiringi kepergiannya dan tidak ingin berhenti.
Seperti diriku yang akan terus mengulangi. Lagi dan lagi meski aku tahu aku akan gagal.
Sama dengan rentetan kejadian sebelumnya, para Shinigami menangis kecuali aku yang sudah melihat kejadian ini berkali-kali.
Aku melepaskan syal yang sudah memberatkan leherku lalu menyampirkannya di pundak. Kurasa sudah saatnya untuk pergi.
“Aku, duluan,” pamitku lalu meninggalkan mereka yang satu persatu meninggalkan hamparan rumput basah dan mulai menggenang itu. meninggalkan lampion yang bahkan belum pernah dinyalakan itu.
Aku melangkah, melewati kubangan air yang sudah sedalam mata kaki dan menciptakan percikan kecil lalu kembali melangkah turun melewati jalanan beraspal beserta dengan tetesan air hujan yang memberatkanku.
Namun gravitasi tidak membiarkanku melangkah gontai begitu saja. Perlahan, dia menyuruhku untuk berlari seperti sebelumnya seakan ada harapan yang menantiku dan aku harus segera mendapatkannya.
Beberapa saat kemudian aku sudah berlari. Tak peduli akan rintangan yang menghadapiku nanti sembari menggenggam erat bola pemberian Yumi padaku.
Aku berteriak keras menolak takdir yang sudah terjadi padaku, dan membiarkan air hujan memenuhi tenggorokanku.
“Aah!” seruku pada langit. Tak peduli sudah berapa kali aku melakukannya, aku akan terus melakukannya hingga mendapatkan apa yang kuinginkan. Kemuakan ku akan semua ini tidak akan membuatku jera, bahkan ini semakin membuatku semangat.
Sialan. Aku terlalu semangat.
Aku terpleset. Membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh tak lama kemudian. Menuruni jalanan yang keras itu dengan berguling. Sama seperti yang terjadi dengan Yumi saat aku pertama kali aku melakukan perjalanan waktu.
Aku membiarkan tubuhku diselimuti lecet dan luka lalu mengaduh karena gravitasi yang semakin kuat menarikku kebawah. Seperti takdir menolakku untuk melakukannya lagi.
Tidak. Aku akan terus bangkit.
Aku berhasil menemukan pijakan di pagar yang memberhentikanku seketika. Aku berdiri dan menemukan beberapa sobekan yang melukai kulit dan celanaku. Aku bernapas lega karena bola itu tidak lepas dari genggamanku.
Aku sudah sampai dibawah. Setelah membungkukkan badan dan menarik beberapa napas, aku merasa sudah siap. Siap untuk mengembalikan waktu.
Aku kembali berlari. Masih sekitar beberapa menit lagi menuju apartemenku. Mungkin jarak bukit dengan apartemenku itu cukup dekat, namun karena hujan deras yang memberatkan pakaianku dan menghalangi pandanganku, membuatku sesekali harus mencari cahaya sebagai petunjuk.
Dan cahaya yang kulihat saat ini sangat terang dan bergerak.
Aku beruntung karena bila aku terlambat beberapa detik saja, niscaya aku akan terbaring di rumah sakit atau ditimpa tanah.
Namun, aku segera melompat ke pinggir. Menjatuhkan diri.
Memang salahku karena jarak pandanganku hanya sekitar dua meter saja dan aku kehilangan arah hingga berada di tengah jalan, namun rasanya aneh ada yang mau berkendara di tengah malam dan terkena hujan deras.
Mobil yang hampir menabrakku itu berhenti. Aku bangkit dan menilik mobil tersebut. Mobil pick up berwarna hitam yang penuh dengan barang-barang dan tertutup terpal itu terbuka bagian jendelanya. Memperlihatkan seseorang.
“Apa yang kau lakukan di saat-saat seperti ini? Cepat masuk!” suara itu menyuruhku. Kurasa aku kenal siapa orangnya.
Aku mendekat ke arahnya. Itu suara sang penjual ramen. Aku mengangguk ke arahnya lalu masuk kursi sebelahnya yang kosong. Dia sendirian berkendara di sini.
“Permisi. Maaf mengganggu.” Aku menumpang mobil tersebut.
“Dasar anak muda. Selalu melakukan hal yang tidak-tidak. Kalau kau sakit, siapa yang akan mengurusmu? Orang tuamu saja di Akita. Beruntung aku menemukanmu.” Gurat wajah marahnya semakin terlihat, membuat matanya semakin sipit.
“Maaf, aku ada sedikit urusan.” Aku hanya bisa menjawab seperti itu lalu menyilangkan dada karena pendingin mobil menyala.
“Ya sudah, sekarang, kau mau pulang ‘kan? Aku akan mengantarmu.” Dia lalu memutar balik setirnya ke arah yang berlawanan. Menuju tempat tinggalku. Aku meminta maaf karena merepotkannya.”
“Bukankah festival sudah selesai? Tapi mengapa paman baru pulang sekarang?” Aku mulai membuka topik.
“Paman sengaja buka lebih lama, sampai jam sebelas. Beruntung paman membereskan barang-barang tepat sebelum hujan mulai setelah itu menunggu. Namun hujannya tidak kunjung reda, jadi paman nekat menerobosnya,” jelas paman. Aku mengangguk-angguk mendengarnya.
Setelah itu kami hanya diam. Menikmati dinginnya udara dan alunan instrumen tradisional Jepang yang diputar lewat kaset.
Kaos berwarna abu-abuku masih basah. Syal hitamku juga meneteskan air, jok yang aku duduki juga sudah basah, rasanya aku terlalu merepotkan paman itu.
Paman itu melemparkan sesuatu ke wajahku. “Lap wajahmu pakai itu.” ucapnya tanpa berpaling padaku, masih fokus menerobos hujan yang tidak kunjung reda, mengantarku kembali.
“Oh, terima kasih.” Aku menerima handuk biru lalu mengelapnya ke wajahku dan seluruh bagian yang bisa dikeringkan.
Lengang lagi. Aku hanya menatap kosong ke arah jalan dan memikirkan tentang apa yang akan kulakukan setelah kembali ke masa lalu, kurasa aku harus memutarnya ke waktu yang lebih jauh supaya banyak persiapan.
Mobil tiba-tiba berhenti. Paman pembuat ramen itu memalingkan wajahnya padaku. “Sudah sampai. Cepatlah ganti baju lalu istirahat.”
Aku mengangguk dan mengembalikan handuk tersebut lalu pamit. Kembali menerobos hujan.
Hujan deras beserta petir dan gelapnya malam membuat apartemen tempat tinggalku terkesan menakutkan. Aku melangkah kedalam dan beryukur mendapati lift masih menyala. Terlihat dari lampunya.
Aku masih menggigil kedinginan dalam lift. Menunggu lampu menyala di lantai tiga belas.
Pintu geser otomatis itu sudah terbuka, aku harus segera ke kamar Shuu dan mengetuknya.
“Shuu, buka pintunya!” seruku ke dalam, mencoba membangunkannya.
Beberapa saat setelah menggedornya keras-keras pintu tersebut akhirnya terbuka juga, memperlihatkan Shuu yang masih dalam balutan piyama, mengucek mata dan mengecek siapa tamunya di tengah malam seperti ini.
“Shin,” ucapnya setelah tahu itu aku. “Kurasa kau harus segera ganti baju.”
“Shuu, aku membutuhkan mesin waktumu,” ucapku. Namun reaksinya tidak seperti sebelumnya.
Dia mengedipkan mata lalu menatap aneh padaku. “Kau ngelindur, ya?”
Other Stories
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Aruna Yang Terus Bertanya
Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...