Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

3. Selalu Ada Efek Saming Di Balik Kerajinan

Salim, ya dia Salim. Mahasiswa rajin dan lemah lembut yang akhirnya harus rela dengan keputusan Tuhannya untuk kembali ke negeri ini. Suatu penyakit yang membuatnya tak mungkin mengelak. Berteman dengan malam, diselimuti dinginnya yang menggigit sampai ke tulang. Itulah yang ia rasakan tatkala mengulangi pelajaran tiap malamnya. Semua itu ia lakukan karena wujud dari semangat yang ada pada dirinya. Juga merupakan suatu tuntutan kepada mahasiswa.
Pikiran lulus tanpa masalah adalah impian semua mahasiswa. Begitu juga dengan Salim yang sangat getol dengan buku-buku di sekelilingnya. Kembali menghitung dan memperkirakan target yang harus dicapai dalam satu semester, Salim pun tak ingin kalah dengan waktu yang selama ini terus mengejarnya. Kalah atau dilewati waktu merupakah aib yang harus dijauhi menurutnya. Banyaknya mata kuliah telah terlilit di tengkuknya. Apalagi bahasa dari beberapa kitab yang sangat sulit dipahami membuat Salim semakin tekun untuk mengukur, bagaimana cara agar timbangan antara waktu dan mata kuliah tidak berat sebelah.
Satu per satu catatan dan rangkuman telah ditulisnya. Tak jarang Salim tidur berselimutkan buku yang terduduk di dadanya. Hingga tak aneh jika kebanyakan buku yang dimiliki Salim sangat cepat menjadi kusut. Sifat rajin yang ia miliki kerap sekali membuatnya lupa akan hak-hak tubuh yang harus dipenuhinya. Makan terlambat seakan telah menjadi jadwal untuknya, sakit kepala pun sudah menjadi langganannya. Nasihat untuk memenuhi semua kebutuhan itu seakan menjadi asap baginya. Terasa, namun harus dihindari karena baunya yang tak diinginkan.
Usul fiqih dikuasai, setelahnya buka pelajaran tafsir. Setelah tafsir selesai, lanjut ke kaidah bahasa Arab. Dan begitulah seterusnya kegiatan tiap malamnya. Bila telah lelah, dan matapun ingin terpejam, Salim tak langsung memejamkan mata, melainkan membasuh wajahnya dengan air. Setelah itu ia kembali lagi menghadap bukunya. Jika ada satu masalah di dalam buku yang tidak ia pahami, ia masih memiliki seseorang yang kuat, yaitu temannya, Tommy yang saat itu merupakan mahasiswa pintar dan berprestasi. Jika rajin adalah suatu sifat, maka Salim adalah hakikat dari sifat itu. Dan itulah yang pantas untuknya.
Tiap malam Salim tak ingin lama-lama membaca di atas kasurnya. Karena kasur adalah teman tidur bukan teman belajar menurutnya. bersandar di dinding lebih nyaman baginya daripada bersanadar di bantal yang ditegakkan. Hingga akhirnya Salim tak pernah lagi belajar di atas tempat tidurnya. Salim hanya mau mengulangi mata kuliahnya di atas asrama. Padahal bumi Hadhramaut pada saat itu telah bersatu dengan musim dinginnya. Sedikit demi sedikit Salim mulai merasa ada yang aneh di bagian belakang lehernya. Prasangka baik menutupi semua kemungkinan yang akan menimpanya, "Mungkin saja begini dan mungkin saja begitu, lebih baik berprasangka yang baik agar tidak terjadi apa-apa," tuturnya setiap kali dia merasakan keanehan itu di tubuhnya. Dalam suatu kesempatan dia berkata, “Ternyata gak ada apa-apa kok," di hadapan temannya. Dengan rasa senang temannya saat itu mengucapkan alhamdulillah.
Terletak di suatu lembah, itulah alasan musim dingin di Provinsi Hadhramaut berbeda dengan musim dingin di daerah lainnya. Dan itulah kenapa mahasiswa yang belajar di negeri seribu wali ini sering merasakan sakit jika datang musim dingin. Kala itu, semua mahasiswa mempersiapkan jaket, obat-obatan dan buah-buahan yang mengandung vitamin C dengan harapan agar bisa terhindar dari segala macam penyakit. Namun, walaupun begitu masih tetap banyak mahasiswa yang sakit saat musim dingin, tak terkecuali penduduk setempat juga banyak yang sakit saat musim dingin.
Orang yang tidak sakit saat itu merasa sangat beruntung. Atau merasa kekuatan fisiknya bisa menahan penyakit. Begitu juga dengan Salim, kalimat "Alhamdulillah" selalu terlantun dari lisannya tatkala melihat temannya sakit, sebagai rasa puji dan syukurnya kepada Tuhan yang tidak mencobanya dengan penyakit. Ia menganggap semua ini aman dan beres. Tak ada masalah di kesehatan.
Lama kelamaan, benjol di belakang leher Salim semakin terasa sakit. Terlebih saat benjol itu mendenyut, maka semua sendi dan badan Salim merasa lemas dan tidak bisa bergerak. Bangun dari tidur Salim tak merasakan sakit itu. Salim menyangka bahwa obatnya adalah tidur, karena setelah tidur rasa sakit itu hilang. Keesokan harinya sakit itu datang lagi. Benjol di belakang leher itu mengulah lagi kelihatannya. Bahkan, kali ini lebih sakit dari yang kemarin, hingga gara-gara sakit itu Salim tak bisa memejamkan matanya untuk tidur, walaupun semua anggota tubuhnya merasa lemas tatkala sakit itu memuncak. Pasrah dengan keadaan saat malam itu, akhirnya Salim hanya bisa tidur tepat jam tiga malam. Salim berhasrat ada baiknya jika ia memanggil teman yang bisa membekamnya. Mungkin itulah cara terbaik dan simple untuk bisa menghilangkan penyakitnya.
Alhamdulillah sudah agak enakan, Salim merasa itu awal dari kesembuhannya. Keesokan harinya Salim merasa semuanya ringan, dan ia bisa kuliah dengan semangat seperti biasanya. Sakit itu sudah tak dirasakannya, mulai dari pagi sampai sore. Namun di malam hari, sakit yang bersumber dari benjolan itu mengulah lagi. Bahkan kali ini lebih parah dari kemarin. Sakit kali ini sampai menjalar ke kepala, hingga membuat kepala Salim menjadi pusing. Bahkan terkadang membuat penglihatannya kabur. Semua semakin tidak beres. "Coba periksa ke dokter," kata Andi , temannya yang sejak makan malam tadi duduk di samping menemaninya. "Iya, besok temani aku ya," jawab Salim sambil menahan pedihnya sakit yang dirasa.
Esoknya, setelah salat asar, Andi membonceng Salim untuk pergi ke rumah sakit. "Doain ya biar gak ada apa-apa," kata Salim sambil tersenyum kepada temannya yang saat itu bertanya ia mau ke mana.
Sesampainya di rumah sakit, Salim tak lama-lama lagi dan langsung mengatakan bahwa ia ingin di rontgen. Permintaannya itu tak bisa diganggu gugat lagi karena rasa penasaran yang hadir di pikirannya. Walau sakitnya sedang tidak kumat, Salim merasa lemas, karena hasil rontgen menunjukkan bahwa Salim terkena sakit yang sangat parah. Keluhlah jalan hidup ini menurutnya. Andi yang saat itu menemaninya hanya bisa mengusap bahu belakangnya.
Sejauh ini, memang belum ada dokter di Kota Tarim yang berani menangani penyakit itu. Sejenak Salim bertanya kepada Andi, "Jadi harus gimana ini ya, Ndi?"
“Kayaknya lebih baik kamu pulang aja ke Indonesia, Lim. Nanti kalau berobat di sini saya khawatir penyakitmu semakin menjadi masalah yang besar. Karena kamu tahu sendiri kan dokter yang ada di Kota Tarim ini gimana," jawab Andi.
Salim menjawab dengan air mata yang mulai berlinang, "Iya juga ya, nanti saya akan tanya ke orang tua dulu," usai menelepon orang tuanya, Salim mengurus semua surat izin untuk kepulangannya menuju Indonesia.
Bukan nasib yang kurang baik, tapi ya seperti itulah adanya. Cinta kita terhadap sesuatu membutakan kita terhadap efek yang tersembunyi di belakangnya. Karena pecinta yang tidak arif akan mendapatkan kepahitan dari hasil cintanya.
Kita harus rela dengan semua hambatan yang datang ketika ingin mendapatkan sesuatu. Segala yang ingin kita dapatkan harus ditempuh dengan jalan dan langkah, bukan dengan berdiam diri. Jalan yang harus kita tempuh terkadang tak seindah yang ada di pikiran. Pikiran kita mengira bahwa jalannya mulus, tak berduri, tidak berkelok. Padahal yang ada malah justru sebaliknya. Jalan yang dituju berbatu kerikil, kasar, dan terkadang saking jauhnya kita merasa jalan itu tak berujung dan tak bertepi. Atau mungkin jalan itu mulus sama seperti yang kita bayangkan, tapi di tengah jalan kita harus rela dengan panas yang membakar punggung. Tenaga yang terkuras. Dan kaki yang seakan lekang ditelan jauhnya perjalanan.
Tak sedikit orang yang jenuh di perjalanan itu, karena jalan itu tak seperti jalan dari Cilegon ke Sukabumi. Jalan ke Sukabumi sudah jelas tujuannya, sudah jelas wujudnya, kita hanya tinggal membuat diri kita sampai di sana. Berbeda dengan jalan impian yang kita inginkan. Tujuannya belum jelas, belum ada. Karena bukan tujuan itu yang membuat kita ada, melainkan kitalah yang harus membuat tujuan itu ada wujudnya. Kita harus membuatnya dari tiada menjadi ada.
Jadi, biarkan semua hambatan dan masalah datang, karena hadirnya hanya sebagai bentuk pemantasan diri dari impian kita. Segala sesuatu yang kita genggam membutuhkan tanggung jawab, semua impian yang kita sandang menuntut kita untuk menjaganya. Penjagaan itu bukanlah hal yang ringan, melainkan hal yang sangat berat. Maka, sebelum kita dapati impian itu, terlebih dahulu kita harus diuji, agar nantinya kita pantas mendapatkannya. Dan ketika kita sudah pantas, maka segala yang telah kita raih itu mampu kita pertahankan.
Tak jarang orang sering terpeleset karena kurangnya pengalaman, terlebih pengalaman saat ia terjatuh atau tersandung. Semua ia anggap mudah dan rata. Begitu juga kehidupan pun ia anggap rata, karena sebelumnya, terjatuh belum mengajarkannya akan kehati-hatian dan ketahanan atas rasa sakit. Orang yang sering jatuh akan lebih kuat kehati-hatiannya. Dan bila ia terjatuh lagi, seketika ia akan bangkit.
Berbeda dengan orang yang belum pernah jatuh. Sekali terjatuh entah kapan lagi ia berpikir untuk bangkit. Saat terjatuh hanya keluh kesah yang selalu keluar dari lisannya, bagaimana tidak, selama ini yang didapatnya hanyalah dengan membuka kedua telapak tangan dan menghadapkannya ke atas, Karena di atas ada orang hebat yang akan memberi segala keinginannya.

Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Download Titik & Koma