4. Yang Disembunyikan
“Tak ada yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Gusti Allah ....”
Pak Sugiharto memandang kepergian Pak Karmui sampai tak nampak lagi dari pintu rumahnya dan saat berbalik Kidung sedang menatapnya.
“Bapak terimakan tawaran jadi petani vanili lagikan?” tanya Kidung berharap bapaknya akan menerima tawaran Pak Karmui.
“Hemmm belum tau Dung, tapi Bapak memang kangen dengan masa-masa bekerja jadi petani vanili. Kamu kenapa Dung?” tanya Pak Sugiharto penasaran.
Pak Sugiharto nggak tau kalau setiap hari Kidung menjelang senja duduk di pinggir kali tepi kebun vanili karena dirinya selalu pulang tengah malam atau dini hari.
“Aku juga kangen bermain di kebun vanili itu Pak,” jawab Kidung lirih.
Pak Sugiharto sejanak megusap rambut Kidung dan berlalu ke dalam, lalu merebahkan badannya yang lelah seharian ini merapikan kebun sepetak mereka juga bersih-bersih rumah bersama Kidung.
Kidung memilih keluar rumah dan menikmati senja walau dirinya yakin tak ada lagi yang mengingatkan sandekala sudah akan tiba dan nggak baik anak perempuan masih berkeliaran di luar rumah, hal yang selalu diingatkan ibunya.
***
Tapi Senin ini membawa keceriaan sendiri karena saat Kidung akan berangkat sekolah, bapaknya pun siap-siap akan ke kebun vanili milik Tuan Karmui.
“Pulang sekolah Kidung akan menyusul bapak ke kebun vanili yaaa, Kidung ingin main di kebun yang sejuk dan Kidung janji akan bantu-bantu Bapak,” lalu Kidung berangkat dengan riang. Walau masih terbesit sedih tentu saja karena ibunya tak ikut merasakan kebahagiaan yang dirinya rasa.
Di sekolah pikiran Kidung adalah bermain ke kebun vanili yang dua tahun tak berani dia masukin dengan bebas seperti dulu. Tapi karena bapaknya sudah bekerja di sana lagi pasti boleh dirinya bermain lagi dan membantu bapaknya mengurusi pohon-pohon vanili tersebut.
Pulang dari sekolah Kidung menyiapkan makan siang yang Kidung masak sendiri hanya lalap daun kemangi yang dicuci bersih, goreng tempe, dan sambal cabe merah semua petik dari kebunnya.
“Bapak, Bapak ....” Kidung memanggil bapaknya yang tampak sedang menyirami pohon vanili.
Pak Sugiharto tersenyum melihat Kidung yang membawa rantang dan minuman, pertanda perutnya yang lapar akan terpuaskan walau dengan masakan sederhana Kidung.
“Wah nikmatnya daun kemangi, tempe goreng, dan daun kemangi ....” kata Pak Sugiharto yang sudah merasa kenyang menyantap makan siang buatan anak perempuannya.
“Makasih ya Nduk, masakan kamu mengingatkan Ibumu,” kemurungan menaungi wajahnya tiba-tiba.
“Sudahlah Pak, masih ada Kidung yang tetap sayang Bapak,” Kidung menatap bapaknya, rasa benci itu sudah Kidung kesampingkan walau rasa kehilangan ibunya juga menyisakan kepedihan tersendiri.
“Andai Bapak tak berubah waktu lalu, mungkin Ibu masih hidup ....” itu yang kadang membuat Kidung masih ada rasa benci pada ayahnya.
“Dung kamu kangen tempat ini ya, Bapak lihat kamu semangat dan senang berada di sini?” tanya bapaknya.
Kidung mengagguk tersenyum dan setelah beres alat-alat makan sederhana mereka dirinya mulai berkeliling. Bapaknya membiarkan Kidung melepas kerinduan tempat yang dua tahun lalu memang tempat sehari-hari dirinya bermain sebelum pemilik lama Pak Bagaskoro menjual semua asetnya pada Pak Karmui.
Kidung menyapa para petani dengan semangat, ada petani yang ingat dia anak Pak Sugi tapi ada yang lupa terus diingatkan yang lain,”Itu anaknya Pak Sugi, yang minggu kemarin ibunya meninggal, kasihan si Kidung masih kecil udah ditinggal ibunya.”
Tapi Kidung terliahat ceria sambil berkeliling dia bernyayi-nyayi riang, tiba-tiba matanya terpaku menatap rumah kayu bertingkat.
Telinganya mendengar suara teriakan-teriakan tak jelas, tapi terdengar jelas suara teriak-teriakan anak laki-laki yang sepertinya marah. Lalu terdengar pintu dibuka tutup keras, juga suara orang berlarian di tangga. Kidung penasaran dan mengendap-endap ke teras mengintip dari balik jendela yang terbuka lebar.
Dilihatnya anak laki-laki sebayanya sedan melempar-lempar piring, gelas beberapa sudah pecah berkeping-keping di lantai tapi ada piring gelas terbuat dari kaleng hanya menimbulkan suara terbanting yang menyakitkan telinga.
Tampak Pak Karmui dibantu bapak yang biasa Kidung lihat menyupiri mobil jeep di depan membantu memegangi anak yang entah apa sebabnya jadi marah sedemikian rupa. Tatapan anak itu pun aneh, tak ada tatapan berarti, tatapannya kosong hanya matanya melotot kesal.
Kekesalan apa yang menyebabkan anak itu marah-marah sebegitunya. Sementara seorang ibu menangis di meja makan sambil tatapannya melihat ke atas tingkat saat anak cowok itu dipaksa masuk ke kamar lalu sepertinya dikunci dari luar oleh pak sopir dan Pak Karmui.
“Siapa anak itu? Kenapa selama ini aku tak pernah melihatnya? Kenapa dengan anak itu kenapa berperilaku seperti itu?” Kidung mengendap-endap kabur untuk kembali perkebunan dengan berbagai pertanyaan berkecamuk di kepalanya.
“Bapak ada anak laki-laki seumuran aku di dalam rumah Pak Karmui itu siapa?” tanya Kidung penasaran.
“Bapak juga gak tahu Dung, hanya saja dari pagi Bapak juga dengar teriakan, lengkingan, ocehan tak jelas tapi keras. Kata teman-teman di sini itu putra Pak Karmui tapi cacat,” jelas Pak Sugi sambil tetap sibuk melakukan penyerbukan pada vanili yang sedang berbunga.
“Cacat apa, aku lihat badannya utuh ... tak ada cacat bahkan anak laki-laki itu sangat tampan,” jawab Kidung agak malu-malu sangat mengatakan anak lelaki yang seumuran dia sepertinya sangat tampan.
“Kamu tuh anak kecil tau aja orang tampan,” Pak Sugi balik menggoda Kidung.
“Iya Bapak, anak itu ganteng tapi aku takut melihat perilakunya tadi saat marah selain dia benturin kepalanya ke tembok , semua barang di dekatnya di lempar sampai hancur terus tenaga dia juga kuat sekali sampai-sampai untuk memasukan dia ke kamar Pak Karmui dibantu sopirnya. Sementara ada ibu-ibu kali memang ibunya yang menangis menyaksikan anak itu dikurung di kamar,” jelas Kidung menjelaskan apa yang barusan dilihat.
“Kamu tadi mengintip Dung?” Pak Sugi menatap tajam putrinya.
“Iya Pak, maaf aku soalnya penasaran jadi aku diam-diam lihat dari balik jendela teras,” Kidung berkata jujur.
“Hemmm ... Bapak juga baru tahu Dung, juga diceritakan teman-teman petani di sini kalau Pak Karmui punya anak lelaki satu-satunya tapi anak itu katanya idiot ya itu kerjaannya tukang ngamuk, enggak jelas! Dan katanya enggak bisa ngomong makanya disembunyikan takut menggangu orang-orang,” terang Pak Sugi ke Kidung yang sebenarnya membuat Kidung jadi penasaran dengan anak lelaki yang tadi dilihat untuk pertama kalinya hati Kidung deg-degan.
“Kenapa harus disembunyikan? Kasihankan ya Pak ....” dengan suara iba Kidung.
“Ternyata di balik kekayaan dan kesempurnaan ada yang disembunyikan Dung, seharusnya sebagai manusia memang kita harusnya sadar kalau kita ini tidak akan mendapat kesempurnaan, kesempurnaan itu yang punya hanya Gusti Allah. Seperti kita sekarang Dung, Bapak dapat pekerjaan sebagai petani vanili di sini lagi, tapi Bapak kehilangan ibu kamu,” lagi-lagi Kidung melihat kesedihan dan sesal terbesit di wajah bapaknya.
Saat senja Kidung tidak hanya menatap tenggelamnya sang surya tapi juga seperti seorang penyelidik matanya liar melihat sebuah kamar di tingkat atas berjendela lebar karena ada sosok anak laki-laki yang siang tadi di lihatnya juga tengah menatap matahari tenggelam.
“Ah sepertinya dia seperti aku menyukai melihat matahari tenggelam?” bisik lirih Kidung yang semakin penasaran melihat sosoknya dari balik pohon-pohon vanili yang merambat pada pohon rambutan.
Other Stories
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...