Kidung Vanili

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

7. Aroma Gadis Vanili

“Di mana pun aku berada aroma vanili yang menguar tanpa pernah meninggalkan identitas selalu membuat kerinduan tersendiri.”
Jakarta yang tak pernah tidur, itu yang dirasakan Kidung setelah berjibaku dengan tugas-tugas kuliah yang tak ada habisnya.
Kidung sejenak keluar dari kamar kostannya yang terletak di lantai 3. Kidung sengaja memilih kamar di lantai 3 yang tidak terlalu banyak bersentuhan dengan penghuni lain.
Awal datang ke kota yang merupakan jantung bangsa Indonesia dirinya merasa sangat ndeso, di kampungnya mana ada gedung-gedung menjulang tinggi, orang-orang yang semuanya sibuk dengan kegiatan mereka tak peduli satu sama lain, padatnya lalu lintas, hiruk pikuk dari pagi hingga pagi tak ada istirahatnya.
Kamar Kidung di lantai tiga terletak di pojok dekat tangga dan sebuah jendela besi yang sangat lebar berteralis, dari sini Kidung bisa melihat gemerlapnya kota Jakarta pada malam hari.
Hal yang kontras biasanya Kidung lihat sehari-hari jelang sembilan belas di kampung dengan suasana perkebunan vanili.
Aroma vanili yang Kidung pilih untuk pewangi kamarnya karena dirinya masih selalu merindukan kebun vanili milik keluarga Banyu.
“Dan Banyu sedang apa dia di sana?” bayangan Banyu sahabatnya tak bisa Kidung lupakan begitu saja. Awal-awal bersosialisasi dengan Metropolitan selalu teringat dengan kerinduan sahabat dari kecil.
Banyu yang polos dengan keterbatasannya, tak bisa banyak bicara tapi hatinya lembut dan sepertinya tak pernah ada terbesit sedikit pun untuk berbuat jahat pada orang. Banyu yang dibilang orang-orang idiot tapi sebenarnya tidak di mata Kidung.
Banyu itu bisa mengusai pemeliharaan pohon vanili belajar dengan bapaknya, Banyu yang mencintai tumbuhan vanili setiap hari bermain dengan Kidung tapi menyempatkan untuk membantu bapaknya merawat kebun vanili mereka yang beberapa hektar.
Dan memang cocok untuk Banyu yang tak mungkin akan bisa bersosialisasi banyak orang di luaran, Banyu sudah nyaman dengan dunianya di kebun vanili dan entah bagimana ke depannya.
Tapi Kidung yakin pasti Pak Karmui sudah akan menyiapkan juga semuanya untuk Banyu termasuk mungkin jodoh? Entahlah.
Apakah Banyu bisa merasakan cinta? Kidung tak tahu hanya saja dirinya menyayangi Banyu apa adanya, lelaki tertampan dan sangat baik tanpa pernah berbuat jahat bahkan niat jahat pun sepertinya tak ada di hatinya. Banyu yang menemani hari-hari sepi setelah kepergian ibunya.
***
Tak butuh lama untuk merasa kesepian dan kerinduan akan Banyu dan kebun vanili karena Kidung mulai banyak sekali kesibukan di kampusnya. Kidung aktif sebagai aktivis kampus dan juga penelitian akan tumbuh-tumbuhan sebagai calon Insinyur Pertanian nantinya.
Melewati masa-masa transisi gadis perkebunan vanili menjadi gadis metropolitan yang cerdas dan supel.
Gadis vanili memang julukan yang paling tepat diberikan oleh teman-teman kampusnya karena Kidung identik dengan segala hal yang berhubungan dengan vanili, dari aroma kamarnya, minyak wangi, pelembab, minuman, corak baju, poster, dan beragam pernak-pernik tak lepas dari ornamen vanili.
Menurut Kidung vanili itu memiliki filosofi yang sangat bagus dari buku yang pernah dibacanya, kalau vanili itu tidak pernah bisa melebur ke bahan lain dan kehilangan jati dirinya. Vanili selalu mempunyai identitas, di mana pun dia berada. Sebuah filosofi yang dibacanya dari buku berjudul Vanilla Heart karya Indah Hanaco.
Aroma lembut vanili itu sangat kuat menguar, merasuk, dan mempengaruhi cita rasa hidup manusia. Kejujuran rasa vanila mengajarkan kita akan ketulusan dan kesabaran dalam kemampuan meraih cinta.
Namun cinta itu punya rasa dan aroma yang berbeda pula, vanili mampu menyeimbangkan semua rasa dalam hati manusia. Vanili tidak pernah memiliki rasa dan aroma beragam. Vanili setia pada rasa dan aromanya sendiri, dia menghadiahkan kebahagiaan dengan sederhana. Vanili selalu mampu mengobati hati yang lara karena cinta.
Kurang lebih seperti itu filosofi dari vanili yang melekat pada diri Kidung. Kidung selalu ingat nasihat bapaknya untuk tak melupakan kampung mereka yang bisa jadi butuh orang pintar untuk membuat kehiduan mereka membaik.
Gadis vanili bermetamorfosis dengan cepat, terkadang sejenak Kidung bisa melupakan kerinduannya akan kebun vanili, bapaknya, senja, dan Banyu Biru.
Metropolitan memang cepat mengubahnya menjadi gadis yang sibuk dan berambisi tinggi. Persaingan ketat dan harga diri di sini yang Vanili perjuangkan untuk bisa survive dengan beasiswa yang didapat dan untuk menopang kehidupannya di Jakarta dengan uang yang dikirim bapaknya lewat transfer ATM Pak Karmui padanya. Dan sejujurnya tak cukup jika Vanili tidak bekerja sampingan sebagai waitres di sebuah cafe kopi.
Vanili suka mencoba meracik-racik perpaduan cokelat, kopi, vanili, hazelnut, karamel, susu, dan dimodifikasi dengan whipped cream.
Dan di cafe Cita Rasa inilah Kidung tak pernah lepas dari vanili, rindu pada kebun vanilinya tak separah semester awal saat harus menyesuiakan pergaulan dan kehidupan Jakarta. Rindu itu berbaur dengan keseharian berteman dengan vanili. Aroma vanili dengan suasana berbeda dengan keseharian bersama Banyu.
Di cafe Cita Rasa minuman dengan rasa vanili dijual cukup mahal, karena vanili termasuk rempah yang mahal di dunia. Kidung teringat para petani termasuk bapaknya yang bekerja di perkebunan vanili milik Pak Karmui, mereka tidak hanya memeliharanya dari stek menjadi pohon yang jadi dan berbunga, lalu melakukan penyerbukan manual satu persatu semua harus dikerjakan dengan hati. Harga vanili itu mahal semahal kelelahan para petani vanili setelah proses pemanenan pun perlu pemeliharaan yang tak kalah mendetail.
Pasca panen vanili yang meliputi pelayuan, fermentasi, pengeringan, dan tahan pemeraman. Pemeraman ini adalah mnyimpan buah vanili di wadah tertutup selama lima sampai enam bulan lamanya. Semakin lama, aroma buah vanili akan semakin meningkat.
Rasa vanili inilah yang membuat, Cafe Citra Rasa menciptakan bubuk minuman dengan nama vanilla latte dan vanilla white.
Kidung suka keduanya baginya mau bahan apa pun asalkan percampurannya dengan vanili, akan cocok dengan lidahnya dan perasaannya.
Jika vanila latte berasal dari vanila yang dicampur dengan kopi, sementara vanila white percampuran anatara vanila dan cokelat.
Tak hanya di kostan dan kampus, juga di Cafe Cita Rasa Kidung dijuluki gadis vanili. Kidung bukan lagi gadis kecil vanili yang berambut gimbal dari Kampung Bangeng Pati, Kidung sudah berubah menjadi gadis cantik eksotik yang ketika lewat menguarkan aroma minyak wangi vanili dan pesona kecantikan wanita cerdas.
Dan bukan semata Kidung memilih vanili sebagai minyak wanginya tanpa filosofi, harumnya wangi vanili buat penggunanya adalah hidup penuh energi dan sangat menyenangkan memiliki pribadi ekstrovet. Orang yang suka keceriaan, menari, menyayi, berpesta, dan mudah bersosilasasi bersikap ramah di dalamnya.
Ketika rindu itu tak lagi membuat hatinya sendu tapi selalu ada aroma vanili yang tiap saat membesitkan banyak kenangan dan tentu saja kerinduan.

Other Stories
Cinta Di Balik Rasa

memendam rasa bukanlah suatu hal yang baik, apalagi cinta!tapi itulah yang kurasakan saat ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Download Titik & Koma