Kidung Vanili

Reads
1.4K
Votes
0
Parts
9
Vote
Report
Penulis Nenny Makmun

8. Romansa Vanili Latte

“Menemukan teman hati yang tak jauh dari apa yang disuka itu ternyata membuat hati nyaman.”
Cafe Cita Rasa
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 sebentar lagi cafe Cita Rasa akan tutup, di luar gerimis masih tampak setelah hujan besar mengguyur Depok.
Kidung tengah meracik vanili latte untuk melepas penat sudah dari jam dua siang dirinya melayani banyak pengunjung cafe dengan permintaan berbagai ragam minuman. Tengah mencium-cium aroma minuman untuk dirinya sendiri, tiba-tiba seorang cowok yang sepertinya tak beda jauh dengan usianya tengah memandangi dirinya dengan tatapan mata yang tajam, tapi wajahnya tersenyum memandang geli dengan perilaku Kidung yang asik menciumi bau aroma kopi dan vanili yang menyatu menguar lepas.
“Sepertinya enak tuh vanili lattenya, aku pesan satu ya Mbak,” sapanya membuat Kidung kaget dan sontak wajahnya memerah.
“Tapi cafe sudah mau tutup, besok saja ya!” jawab Kidung tegas.
“Hai pembeli itu raja Nona Manis, atau mau aku laporkan kalau waitres tunggu yang bernama kamu ...K I D U N G, hemmm Kidung menolak pembeli yang merupakan calon pelanggan setia,” katanya sok berkuasa.
Kidung gemas sekaligus sebal, tapi bahaya juga kalau beneran dirinya dilaporkan gara-gara menolak melayani pembeli yang memaksa untuk buka cafe lebih lama.
“Hemmm oke baiklah, apa yang ingin kamu pesan Tuan?” Kidung balik menatap tajam sang pemuda yang ternyata mempunyai wajah yang hemmm tiba-tiba membuat hati Kidung berdebar. Bisa jadi tidak setampan Banyu Biru, tapi perpaduan alis tebal, hidung macung, mata elang yang tajam, dan senyum menawan juga sifat keras kepala tapi juga humoris membuat Kidung sejenak tertegun.
“Hemmm aku mau vanili latte yang ada di tangan kamu,” jawabnya serius memandang lurus Kidung, yang masih memegang mugnya yang berasap.
“Enak saja, ini khusus buat aku karena ini percobaan takaran baru dan aku baru mau merasakan,” tolak Kidung.
“Pembeli adalah Raja Nona Manis dan saat ini saya sedang tidak mau menunggu untuk dibuatkan, saya mau itu yang sudah siap,” dengan wajah yang tak mau ditolak.
Kidung sebenarnya kesal, badannya penat sekali hari ini dan sebal sekali baru mau istirahat sembari mau menutup cafe ada tamu mendadak yang tengil menurutnya.
Tapi apa boleh buat selama kerja sama orang dirinya adalah kacung kampret yang harus menghormati tamunya, karena SOP cafenya semua tamu adalah memang raja, selama masih bisa dipenuhi apa yang dimaui, ya harus dipuaskan ... sialnya termasuk harus ikhlas memberikan semug vanili latte di tangannya yang baru dicoba dengan takaran yang berbeda.
“Baiklah Tuan, silakan dinikmati vanili latte spesial yang baru saya racik, hemmm by the way ini racikan percobaan jadi saya gak jamin kalau ternyata tak pas di lidah Tuan,” kata Kidung tanpa banyak basa-basi memberikan struk yang harus dibayar.
“Tak masalah Nona Kidung, saya yakin dari harum aromanya yang sangat menggoda saya yakin rasanya nikmat,” sambil membayar dan menolak kembalian.
“Buat kamu saja kembaliannya, terima kasih ya ... saya duduk di pojok sana boleh?” tanya pemuda tampan tersebut.
“Hemmm silakan,” Kidung pura-pura tak peduli, padahal wajah pemuda itu membuat Kidung jadi berdebar, wajah ganteng, jangkung, dan rambut sedikit gondrong. Hal yang belum pernah Kidung rasakan, selama ini teman lelakinya hanyalah Banyu Biru yang sudah hampir enam semester ini tak bertemu.
Ya tak terasa hampir tiga tahun sudah tak bertemu, entah apa kabar Banyu Biru yang tahu dari kabar bapaknya dia baik-baik saja dan semakin tekun berkerja. Kidung merasa bersyukur dan tenang setiap dengar kalau Banyu Biru semakin dewasa, walau kata bapaknya,”Banyu Biru ya gitu namanya anak autis,” (sepertinya bapaknya mulai tahu istilah medis diagnosa Banyu, pikir Kidung), “Yo diam saja dan kaya robot, kalau sudah kelar dengan urusan bertanam vanili.”
Untungnya walau kaya robot Banyu Biru mengerjakan hal yang disukai seperti bapaknya, merawat vanili sampai detail. Ini yang Kidung rasa sebagai kemampuan terbaik Banyu Biru dalam kesehariannya. Banyu Biru begitu mencintai kegiatannya sebagai petani vanili. “Ah Banyu, aku jadi ingat kamu ....” laras lirih Kidung.
“Mbaaak kok melamun, Mba saya mau jujur vanili latte formula baru Mbak sangat pas di lidah saya. Beneran saya suka sekali, hemmm besok-besok saya akan mampir lagi dan saya mau sama persis dengan vanili latte yang ini oke,” Pemuda itu mengedipkan matanya, sekejap Kidung jadi terbengong, berbagai rasa ikut menguar seiring ingatannya mengingat percampuran yang tadi dia coba. Dan berharap tidak hilang ingatan percampuran terbaru karena belum juga dirinya yang mencoba, ternyata satu orang sudah mengakui pasnya komposisi vanili latte buatannya.
Pemuda itu segera berbalik dan akan meninggalkan cafe, Kidung mengekor dari belakang karena akan menutup pintu cafe yang sudah seharusnya tutup.
“Hai namaku Arjuna, aku penggemar vanili latte dan hemmm selain aroma vanili latte yang aku rasa ... aku juga suka parfum vanili kamu ....” dan Arjuna bicara tanpa menatap intens ke wajah Kidung lagi, senyum manis lalu masuk ke mobil.
***
Dan tak menunggu lusa, besoknya Arjuna datang ke cafe Cita Rasa di jam yang juga jelang tutup. Kali ini Kidung tak lagi mau berbagi vanili latte yang sudah siap dicecap.
Arjuna dengan santai berkata,”Aku memesan vanili latte sama persis kemarin malam Kidung,” kali ini Arjuna memanggil nama Kidung tanpa embel-embel Nona atau Mba.
“Baik Mas Arjuna, ini bill nya dan mohon tunggu sebentar, karena maaf saya butuh waktu untuk meraciknya,” jawab Kidung berusaha tenang, karena hatinya mendadak berdebar gak jelas.
“Okay, saya duduk di pojok sana dan oh ya panggil aku Juna saja, tak perlu lengkap Arjuna kepanjangan,” tersenyum manis, membuat Kidung tambah gak karu-karuan perasaannya.
Kidung meracik vanilli late dengan takaran yang yang sudah diingat sejak semalam dan baru saja dirinya mencoba merasakan dengan formula yang sama memang rasanya pas di lidah. Dilihatnya Juna yang tengah menunggu sambil membuka laptop. Sepertinya serius memantengi tulisan.
“Mas Juna ini vanilli lattenya, hemmm semoga pas takarannya gak salah formula saya buatnya,” kata Kidung dan segera berlalu karena akan membereskan counter yang sebantar lagi tutup. Masih setengah jam lagi sih tutup.
Kidung asik melap-lap gelas, piring sesekali mencuri pandang pada Arjuna yang sepertinya menikmati vanili lattenya dengan tetap sambil membaca laptopnya.
Wajah Kidung memerah, ketika ketahuan dirinya tengah menatap Arjuna dan tiba-tiba bersamaan Arjuna pun menatap dirinya.
Dan untuk pertama kalinya Kidung terpanah asmara, romansa vanilli late yang indah karena hari-hari selanjutnya dalam diam mereka selalu bertemu di jelang cafe tutup.
Arjuna hari berikutnya datang paling enggak sejam sebelum cafe tutup dan Kidung tak segan menemaninya untuk berdiskusi seputar berita, buku, tulisan, dan formula-formula minuman sambil menikmati vanili latte yang tak kunjung membosankan setiap malam dinikmati bersama.
Dan Kidung jatuh hati terhadap Juna setelah hampir sebulan mereka beberapa kali meluangkan waktu bersama di penghujung cafe tutup.
Sepertinya rasa jatuh hati itu bukan hanya sepihak, karena Arjuna juga sepertinya merasa senang dekat-dekat dengan Kidung walau selisih usia cukup banyak. Di balik wajah Arjuna yang muda usianya terpaut tujuh tahun dengan Kidung.
Pembawaan Arjuna sudah jauh lebih matang dibandingkan dengan teman-teman sebaya Kidung di kampus dan lebih memikat dengan kemapanan dan pekerjaannya sebagai seorang manager di perusahaan property.
Juna juga sesekali sudah menjemput Kidung dari kampus lalu mengajak jalan seputaran Jakarta, Bogor, Bandung untuk melepas rindu di kepenatan aktivitas yang padat.
Setiap tempat makan dikunjungi selalu mencoba vanili latte dan merasakan apakah senikmat vanili latte formula ala Kidung.
Sampai detik ini tak terasa dua tahun dan Kidung pun jelang wisuda belum ada yang bisa menandingi vanili latte terpas menurut Juna dan Kidung. Arjuna tetap memuji vanili latte racikan Kidung yang tersempurna.
Dan gadis vanili benar-benar mersakan cinta yang sempurna dari sosok Arjuna yang menurutnya sudah sangat dekat dan Kidung yakin akan menjadi lelaki vanili latte-nya selamanya. Lelaki yang akan dirinya suguhkan vanili latte paling sempurna seumur sisa hidupnya. Karena Kidung yakin itu!

Other Stories
Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Kucing Emas

Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Download Titik & Koma