Bab 6 Tawaran Edo Ditolak Sonny
Setelah dinyatakan bersalah oleh pihak kepolisian, Edo harus menjalani hukumannya. Karena dia hanya sebagai pemakai sehingga harus menjalani proses rehabilitasi selama 6 bulan.
Setelah proses rehabilitasi selama 6 bulan sudah dilewati, dia segera menjalani kehidupannya. Setelah itu mereka berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya.
"Sekarang gue udah bebas, apa yang harus gue lakukan?" tanya Edo.
Edo ingat dengan kawan bandnya yakni Denny, Ringgo, Sonny,dan Dito.
"Kabarnya mereka gimana ya? Mereka udah tahu belum ya kalo gue udah bebas? Lebih baik gue telepon mereka.
Ketika itu Edo menelepon kawan bandnya tersebut satu persatu. Tapi tidak ada jawaban dari panggilan dia tersebut. Dia mencoba mengirim pesan via WhatsApp. Ternyata nomer dia telah diblokir oleh mereka.
"Aneh, kenapa nomer gue diblokir oleh mereka? Apa salah gue sampe mereka memblokir nomor gue? Mending gue datengin aja mereka."
Edo kemudian berniat untuk mendatangi tempat tinggal kawan bandnya satu persatu. Dia mendatangi rumah Denny terlebih dahulu.
Ketika sampai depan rumah yang ditinggali Denny terlihat kosong, dia melihat bahwa depan rumah tersebut ada tulisan.
DIJUAL TANPA PERANTARA
HUB NO 081223XXXXX
Edo terkejut melihat pemandangan seperti itu. Dia tidak menyangka tempat tinggal Denny sudah dijual. Dia kemudian mengalihkan perhatian ke rumah yang ditinggali Sonny.
Dengan naik kendaraan bajaj, dia segera meluncur ke rumah Sonny. Ketika bajaj yang dia naiki masuk ke kompleks tempat tinggal Sonny berpapasan dengan sebuah taksi online yang baru saja keluar dari kompleks perumahan tersebut. Ketika berpapasan dengan kendaraan yang berbasis online tersebut,dia melihat ada Sonny di dalam kendaraan tersebut. Karena kurang yakin, dia ingin memastikan.
Begitu sampai di depan tempat tinggal Sonny, Edo turun dari bajaj, kemudian berpesan kepada sopir bajaj untuk menunggunya.
"Tunggu gue sebentar ya,Bang! Gue mau ketemu temen gue di rumah itu."
Sopir bajaj cuma mengangguk. Dia kemudian di pintu pagar tempat tinggal Sonny, dia memanggil namanya Sonny berulang-ulang. Tapi tidak ada respon dari yang bersangkutan.
"Son.... Sonny!!! Keluar elu! Ini gue, Edo yang datang ke rumah elu!" teriak Edo.
Edo berteriak berkali-kali, tapi tetap saja tidak respon.Tetangganya yang ada di samping segera memberitahukan kepada Edo.
"Nyari siapa,Bang?"
"Ini tempat tinggal Sonny kan?"
"Iya betul."
"Gue teriak berkali-kali sampai suara gue mau habis, orangnya kagak nongol."
"Percuma abang teriakin sampe kenceng, orangnya kagak bakal keluar."
"Kok bisa?"
"Sonny barusan pergi dan kagak tinggal di sini lagi."
"Yang barusan pergi naik mobil tadi beneran Sonny?"
"Iya."
"Kalo boleh tau,mau kemana dia?"
"Dia mau ke terminal."
"Ngapain dia ke sana?"
"Dia mau mudik ke kampung halamannya di Pekanbaru."
"Gue harus nyusul dia! Terima kasih bang infonya. Gue pamit dulu!" ujar Edo kembali menuju bajaj yang dari tadi menunggu.
"Bang, kita langsung ke terminal!" perintah Edo kepada sopir bajaj.
Saat itu bajaj yang dinaiki Edo menuju terminal bus Lebak Bulus Jakarta Selatan. Setelah membayar, dia langsung turun dan berkeliling mencari keberadaan Sonny. Tapi tidak ketemu.
"Kemana perginya Sonny? Gue udah keliling kagak ketemu."
Dalam kondisi sudah putus asa, tiba-tiba saja dia dikejutkan adanya mobil yang baru saja berhenti di seberang jalan. Saat penumpang mobil tersebut turun, ternyata itu adalah Sonny.
Tanpa tunggu waktu lama, Edo langsung menghampirinya.
"Akhirnya gue bisa nemuin elu,Son!" ujar Edo.
"Eh....elu,Do? Kapan elu keluar?"
"Tadi pagi."
"Syukur deh." jawab Sonny singkat.
""Elu bawa perbekalan banyak banget. Emang elu mau kemana,Son?"
"Ya pulang lah!"
"Pulang kemana,Son?"
"Pulang ke kampung halaman gue di Pekanbaru."
"Ngapain elu pulang ke sono?"
"Ngapain gue tetap di sini yang kagak jelas nasibnya."
"Elu di sini,kagak usah pulang,Son!"
"Ngapain gue tetap di sini? Mending gue pulang ngurusin kebun babe gue."
"Gue nyari elu untuk ngajak kerja bareng lagi seperti sebelumnya. Gue udah kontak Denny,Ringgo,Dito. Tapi kagak nyambung. Malah nomor gue diblokir."
"Sorry ya,Do. Untuk kali ini gue udah kagak minat lagi untuk kerja bareng ama elu setelah elu terlibat narkoba. Gue udah kagak mau lagi berurusan lagi."
"Kenapa bisa begitu,Son? Gue saat itu sedang khilaf."
"Enak banget elu ngomong khilaf. Elu yang berbuat,kita berempat yang kena getahnya. Kita berempat harus mengalami nasib dibenci, dicaci maki, dihujat. Padahal kita berempat kagak ngerti apa-apa. Puas sekarang elu melihat kita berempat seperti ini?"
"Ya....gue paham dan bisa mengerti yang elu semua alami "
"Kagak. Elu kagak bakal ngerti situasi dan kondisi yang dialami kita berempat.
Karena itu Denny langsung dijemput orang tuanya pulang ke Bali dan tinggal di sono. Sedangkan Ringgo dan Dito pilih mudik ke Bandung dan kagak balik lagi. Dan sekarang gue juga mau pulang ke Pekanbaru."
"Apakah elu udah lupa impian kita waktu itu untuk bisa rekaman dan punya lagu sendiri? Apakah elu lupa?"
"Yang punya impian itu elu, bukan kita berempat. Kita berempat mah.. realistis, kagak muluk-muluk."
"Son, sekarang elu dengerin gue! Ayo... kita kerja bareng mewujudkan impian kita yang belum kelar!"
"Sorry, gue udah kagak minat! Sekarang gue harus balik. Selamat tinggal,Do!" ujar Sonny langsung menuju ke bus AKAP yang sudah ada di terminal tersebut.
"Son.... Sonny!! Jangan tinggalkan gue,Son!"
Sonny tidak menggubris teriakan Edo dan langsung menuju ke bus AKAP yang akan membawanya pulang ke kampung halamannya di Pekanbaru.
Edo merasa kebingungan dalam kondisi seperti itu. Dia kemudian berniat untuk mencoba mendatangi cafe yang dulu dia pernah menjadi pengisi utama cafe tersebut.
"Gimana kalo gue mencoba untuk menghubungi pihak cafe tersebut? Mungkin masih ada tempat untuk gue." ujar Edo.
Malam itu dia mendatangi cafe tersebut.
Ketika sampai di pintu masuk cafe, mereka dicegah oleh pihak keamanan cafe tersebut. Pihak keamanan tersebut menanyakan maksud kedatangannya Edo dan kawan-kawan.
"Mohon maaf mas. Mas ini siapa dan ada urusan apa datang kemari?"
"Elu kagak tahu siapa gue?" ujar Edo.
"Beneran saya tidak tahu karena baru kali ini saya ketemu dengan mas." jawab pihak keamanan tersebut sopan.
"Sudah berapa lama elu kerja di sini?"
"Baru 2 minggu saya ada di sini."
"Pantesan kagak tahu siapa gue! Gue ini pengisi acara utama di cafe ini. Gue pengin ketemu dengan pak Ramon, pemilik cafe ini." ujar Edo.
"Mohon maaf untuk sementara waktu pak Ramon sedang sibuk belum bisa ditemui."
"Security kok belagu banget sih! Minggir! Jangan halangi gue untuk ketemu pemilik cafe ini." ujar Edo.
Langkah Edo dihalangi oleh security tersebut.Karena lengah sehingga Edo bisa menemui Ramon, pemilik cafe tersebut.
"Bagaimana bisa masuk ke ruangan saya?" tanya Ramon.
"Maaf boss, saya sudah berusaha mencegahnya,tapi dia tetap nekat ingin ketemu boss."
"Ya udah,kamu kembali ke pos kamu!" kata Ramon kepada pihak keamanan tersebut.
"Siap boss."
Selanjutnya Edo sudah ketemu dengan Ramon. Lalu mereka menanyakan kelanjutan kerjasama.
"Pak Ramon, saya datang kemari untuk menanyakan apakah saya masih bisa manggung di sini?"
"Begini ya mas Edo. Dalam klausul kontrak tertulis jika melakukan tindakan kriminal,maka kita dapat langsung bisa memutuskan kontrak secara sepihak. Ini tidak bisa diganggu gugat. Ini sudah kesepakatan kita dan mas Edo sudah menyetujui dan menandatangani"
"Nggak bisa seperti itu,Pak Ramon! Saya dan kawan-kawan turut andil dalam membesarkan cafe ini. Kenapa kok langsung memutuskan kontrak secara sepihak."
"Saya mengakui bahwa band anda turut andil membesarkan cafe ini. Tapi ingat! Bahwa cafe di sini menganut komitmen bahwa jika terlibat tindakan yang memalukan, maka otomatis kontrak batal." tegas Ramon.
"Berarti pak Ramon ingin menghancurkan karir saya dan kawan-kawan ya?" ketus Edo.
"Yang menghancurkan karir dan masa depan justru anda sendiri dengan terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Jika kerjasama ini berlanjut justru anda yang akan menghancurkan cafe ini. Untuk itu saya memutuskan untuk mengakhiri kerjasama ini."
"Berarti saya sudah nggak diterima lagi di sini,Pak Ramon!"
"Ya. Silahkan tinggalkan tempat ini dan renungkan! Saya masih banyak kerjaan di sini. Tolong, keluar dari ruangan saya!" perintah Ramon.
Akhirnya Edo dari ruangan kerja Ramon dan memutuskan untuk pulang.
"Sekarang gimana nih? Kenyataan cafe tersebut sudah menolak kehadiran gue. Lebih baik gue pulang dulu ke rumah bokap dan nyokap untuk menenangkan diri. Tapi ini udah malam. Mending besok pagi gue balik ke rumah" ujar Edo.
Edo akhirnya memutuskan untuk menunda pulang ke rumah orang tuanya karena sudah malam. Dia pulang ke rumah orang tuanya esok harinya.
Setelah proses rehabilitasi selama 6 bulan sudah dilewati, dia segera menjalani kehidupannya. Setelah itu mereka berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya.
"Sekarang gue udah bebas, apa yang harus gue lakukan?" tanya Edo.
Edo ingat dengan kawan bandnya yakni Denny, Ringgo, Sonny,dan Dito.
"Kabarnya mereka gimana ya? Mereka udah tahu belum ya kalo gue udah bebas? Lebih baik gue telepon mereka.
Ketika itu Edo menelepon kawan bandnya tersebut satu persatu. Tapi tidak ada jawaban dari panggilan dia tersebut. Dia mencoba mengirim pesan via WhatsApp. Ternyata nomer dia telah diblokir oleh mereka.
"Aneh, kenapa nomer gue diblokir oleh mereka? Apa salah gue sampe mereka memblokir nomor gue? Mending gue datengin aja mereka."
Edo kemudian berniat untuk mendatangi tempat tinggal kawan bandnya satu persatu. Dia mendatangi rumah Denny terlebih dahulu.
Ketika sampai depan rumah yang ditinggali Denny terlihat kosong, dia melihat bahwa depan rumah tersebut ada tulisan.
DIJUAL TANPA PERANTARA
HUB NO 081223XXXXX
Edo terkejut melihat pemandangan seperti itu. Dia tidak menyangka tempat tinggal Denny sudah dijual. Dia kemudian mengalihkan perhatian ke rumah yang ditinggali Sonny.
Dengan naik kendaraan bajaj, dia segera meluncur ke rumah Sonny. Ketika bajaj yang dia naiki masuk ke kompleks tempat tinggal Sonny berpapasan dengan sebuah taksi online yang baru saja keluar dari kompleks perumahan tersebut. Ketika berpapasan dengan kendaraan yang berbasis online tersebut,dia melihat ada Sonny di dalam kendaraan tersebut. Karena kurang yakin, dia ingin memastikan.
Begitu sampai di depan tempat tinggal Sonny, Edo turun dari bajaj, kemudian berpesan kepada sopir bajaj untuk menunggunya.
"Tunggu gue sebentar ya,Bang! Gue mau ketemu temen gue di rumah itu."
Sopir bajaj cuma mengangguk. Dia kemudian di pintu pagar tempat tinggal Sonny, dia memanggil namanya Sonny berulang-ulang. Tapi tidak ada respon dari yang bersangkutan.
"Son.... Sonny!!! Keluar elu! Ini gue, Edo yang datang ke rumah elu!" teriak Edo.
Edo berteriak berkali-kali, tapi tetap saja tidak respon.Tetangganya yang ada di samping segera memberitahukan kepada Edo.
"Nyari siapa,Bang?"
"Ini tempat tinggal Sonny kan?"
"Iya betul."
"Gue teriak berkali-kali sampai suara gue mau habis, orangnya kagak nongol."
"Percuma abang teriakin sampe kenceng, orangnya kagak bakal keluar."
"Kok bisa?"
"Sonny barusan pergi dan kagak tinggal di sini lagi."
"Yang barusan pergi naik mobil tadi beneran Sonny?"
"Iya."
"Kalo boleh tau,mau kemana dia?"
"Dia mau ke terminal."
"Ngapain dia ke sana?"
"Dia mau mudik ke kampung halamannya di Pekanbaru."
"Gue harus nyusul dia! Terima kasih bang infonya. Gue pamit dulu!" ujar Edo kembali menuju bajaj yang dari tadi menunggu.
"Bang, kita langsung ke terminal!" perintah Edo kepada sopir bajaj.
Saat itu bajaj yang dinaiki Edo menuju terminal bus Lebak Bulus Jakarta Selatan. Setelah membayar, dia langsung turun dan berkeliling mencari keberadaan Sonny. Tapi tidak ketemu.
"Kemana perginya Sonny? Gue udah keliling kagak ketemu."
Dalam kondisi sudah putus asa, tiba-tiba saja dia dikejutkan adanya mobil yang baru saja berhenti di seberang jalan. Saat penumpang mobil tersebut turun, ternyata itu adalah Sonny.
Tanpa tunggu waktu lama, Edo langsung menghampirinya.
"Akhirnya gue bisa nemuin elu,Son!" ujar Edo.
"Eh....elu,Do? Kapan elu keluar?"
"Tadi pagi."
"Syukur deh." jawab Sonny singkat.
""Elu bawa perbekalan banyak banget. Emang elu mau kemana,Son?"
"Ya pulang lah!"
"Pulang kemana,Son?"
"Pulang ke kampung halaman gue di Pekanbaru."
"Ngapain elu pulang ke sono?"
"Ngapain gue tetap di sini yang kagak jelas nasibnya."
"Elu di sini,kagak usah pulang,Son!"
"Ngapain gue tetap di sini? Mending gue pulang ngurusin kebun babe gue."
"Gue nyari elu untuk ngajak kerja bareng lagi seperti sebelumnya. Gue udah kontak Denny,Ringgo,Dito. Tapi kagak nyambung. Malah nomor gue diblokir."
"Sorry ya,Do. Untuk kali ini gue udah kagak minat lagi untuk kerja bareng ama elu setelah elu terlibat narkoba. Gue udah kagak mau lagi berurusan lagi."
"Kenapa bisa begitu,Son? Gue saat itu sedang khilaf."
"Enak banget elu ngomong khilaf. Elu yang berbuat,kita berempat yang kena getahnya. Kita berempat harus mengalami nasib dibenci, dicaci maki, dihujat. Padahal kita berempat kagak ngerti apa-apa. Puas sekarang elu melihat kita berempat seperti ini?"
"Ya....gue paham dan bisa mengerti yang elu semua alami "
"Kagak. Elu kagak bakal ngerti situasi dan kondisi yang dialami kita berempat.
Karena itu Denny langsung dijemput orang tuanya pulang ke Bali dan tinggal di sono. Sedangkan Ringgo dan Dito pilih mudik ke Bandung dan kagak balik lagi. Dan sekarang gue juga mau pulang ke Pekanbaru."
"Apakah elu udah lupa impian kita waktu itu untuk bisa rekaman dan punya lagu sendiri? Apakah elu lupa?"
"Yang punya impian itu elu, bukan kita berempat. Kita berempat mah.. realistis, kagak muluk-muluk."
"Son, sekarang elu dengerin gue! Ayo... kita kerja bareng mewujudkan impian kita yang belum kelar!"
"Sorry, gue udah kagak minat! Sekarang gue harus balik. Selamat tinggal,Do!" ujar Sonny langsung menuju ke bus AKAP yang sudah ada di terminal tersebut.
"Son.... Sonny!! Jangan tinggalkan gue,Son!"
Sonny tidak menggubris teriakan Edo dan langsung menuju ke bus AKAP yang akan membawanya pulang ke kampung halamannya di Pekanbaru.
Edo merasa kebingungan dalam kondisi seperti itu. Dia kemudian berniat untuk mencoba mendatangi cafe yang dulu dia pernah menjadi pengisi utama cafe tersebut.
"Gimana kalo gue mencoba untuk menghubungi pihak cafe tersebut? Mungkin masih ada tempat untuk gue." ujar Edo.
Malam itu dia mendatangi cafe tersebut.
Ketika sampai di pintu masuk cafe, mereka dicegah oleh pihak keamanan cafe tersebut. Pihak keamanan tersebut menanyakan maksud kedatangannya Edo dan kawan-kawan.
"Mohon maaf mas. Mas ini siapa dan ada urusan apa datang kemari?"
"Elu kagak tahu siapa gue?" ujar Edo.
"Beneran saya tidak tahu karena baru kali ini saya ketemu dengan mas." jawab pihak keamanan tersebut sopan.
"Sudah berapa lama elu kerja di sini?"
"Baru 2 minggu saya ada di sini."
"Pantesan kagak tahu siapa gue! Gue ini pengisi acara utama di cafe ini. Gue pengin ketemu dengan pak Ramon, pemilik cafe ini." ujar Edo.
"Mohon maaf untuk sementara waktu pak Ramon sedang sibuk belum bisa ditemui."
"Security kok belagu banget sih! Minggir! Jangan halangi gue untuk ketemu pemilik cafe ini." ujar Edo.
Langkah Edo dihalangi oleh security tersebut.Karena lengah sehingga Edo bisa menemui Ramon, pemilik cafe tersebut.
"Bagaimana bisa masuk ke ruangan saya?" tanya Ramon.
"Maaf boss, saya sudah berusaha mencegahnya,tapi dia tetap nekat ingin ketemu boss."
"Ya udah,kamu kembali ke pos kamu!" kata Ramon kepada pihak keamanan tersebut.
"Siap boss."
Selanjutnya Edo sudah ketemu dengan Ramon. Lalu mereka menanyakan kelanjutan kerjasama.
"Pak Ramon, saya datang kemari untuk menanyakan apakah saya masih bisa manggung di sini?"
"Begini ya mas Edo. Dalam klausul kontrak tertulis jika melakukan tindakan kriminal,maka kita dapat langsung bisa memutuskan kontrak secara sepihak. Ini tidak bisa diganggu gugat. Ini sudah kesepakatan kita dan mas Edo sudah menyetujui dan menandatangani"
"Nggak bisa seperti itu,Pak Ramon! Saya dan kawan-kawan turut andil dalam membesarkan cafe ini. Kenapa kok langsung memutuskan kontrak secara sepihak."
"Saya mengakui bahwa band anda turut andil membesarkan cafe ini. Tapi ingat! Bahwa cafe di sini menganut komitmen bahwa jika terlibat tindakan yang memalukan, maka otomatis kontrak batal." tegas Ramon.
"Berarti pak Ramon ingin menghancurkan karir saya dan kawan-kawan ya?" ketus Edo.
"Yang menghancurkan karir dan masa depan justru anda sendiri dengan terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Jika kerjasama ini berlanjut justru anda yang akan menghancurkan cafe ini. Untuk itu saya memutuskan untuk mengakhiri kerjasama ini."
"Berarti saya sudah nggak diterima lagi di sini,Pak Ramon!"
"Ya. Silahkan tinggalkan tempat ini dan renungkan! Saya masih banyak kerjaan di sini. Tolong, keluar dari ruangan saya!" perintah Ramon.
Akhirnya Edo dari ruangan kerja Ramon dan memutuskan untuk pulang.
"Sekarang gimana nih? Kenyataan cafe tersebut sudah menolak kehadiran gue. Lebih baik gue pulang dulu ke rumah bokap dan nyokap untuk menenangkan diri. Tapi ini udah malam. Mending besok pagi gue balik ke rumah" ujar Edo.
Edo akhirnya memutuskan untuk menunda pulang ke rumah orang tuanya karena sudah malam. Dia pulang ke rumah orang tuanya esok harinya.
Other Stories
The Ridle
Gema dan Mala selalu kompak bersama dan susah untuk dipisahkan. Gema selalu melindungi Mal ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...