Bab 8 Edo Nyaris Bunuh Diri
Setelah terusir dari rumah,Edo melakukan pengembaraan. Dia benar-benar merasakan kegetiran hidup karena telah ditinggal orang-orang sekitarnya. Dia tidak tahu yang harus dia lakukan. Dia benar-benar sangat depresi dan frustrasi melihat keadaan seperti itu.
Sebagai pelampiasan atas kegalauan hatinya,dia minum minuman beralkohol. Dia ingin melupakan segalanya tanpa memperhatikan keselamatan jiwanya. Karena tindakan dia tersebut nyaris saja tersambar kendaraan yang lewat.
"Apes banget gue hari ini! Orang yang gue percaya untuk curhat justru meninggalkan gue. Untuk apa gue hidup jika harus kehilangan semuanya?" Edo mengumpat.
Dia terus berjalan mengikuti jalan setapak sambil menggenggam minuman keras beralkohol di tangannya. Pikiran dia sedang kacau sehingga sudah hilang kendali.
Ketika dia sudah berjalan jauh dan tiba di sebuah jembatan. Dia melihat ke bawah bahwa jembatan tersebut sangat tinggi. Timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya yang sudah tidak berarti lagi.
"Itu ada jembatan. Kayaknya gue harus mengakhiri hidup gue. Gue sudah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia. Orang terdekat justru mencuekin gue. Untuk apa gue tetap hidup kalo cuma menanggung malu dan beban?"
Ketika itu dia melempar botol minuman keras yang dipegangnya. Begitu dilempar,jatuh ke arus sungai yang deras dan kencang. Lalu dia bergumam.
"Tampaknya tempat ini cocok untuk mengakhiri hidup gue. Selamat tinggal semuanya."
Edo kemudian mulai berdiri di jembatan tersebut sambil berpegangan pilar jembatan dan bersiap untuk loncat ke bawah. Ketika dia akan loncat, tiba-tiba muncul suara yang mengagetkan bagi dirinya.
"Begitu picik dan dangkal pikiranmu. Apakah jika kamu bunuh diri persoalan bisa selesai?" ujar orang tersebut.
Edo terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang muncul dan mencegah dia untuk bunuh diri. Dia menoleh ke belakang dan ternyata orang yang mencegah dia bunuh diri adalah seorang wanita. Wanita tersebut kemudian menanyakan alasan Edo bunuh diri.
"Kenapa kamu ingin bunuh diri? Apakah kamu tidak sayang dengan nyawa kamu sendiri?"
"Siapa elu?"
"Namaku Erika. Kamu sendiri namanya siapa?"
"Elu kagak perlu tahu nama gue karena elu bukan siapa-siapa gue."
"Ya memang."
"Lalu kenapa kok ikut-ikutan urusan gue. Mau hidup kek atau mati kek itu urusan gue!" ujar Edo.
"O....tentu!! Itu urusan kamu, bukan urusan aku!!"
"Lalu kenapa elu mencegah gue bunuh diri?"
"Karena aku ingin tahu alasan kamu untuk mengakhiri hidup kamu."
"Kagak perlu pake alasan! Dengan gue mati,maka urusan gue selesai di dunia ini.
"Kata siapa jika kamu mati urusan kamu bakal selesai?"
"Bukankah semua makhluk hidup bakal mati?"
"Iya betul. Semua makhluk hidup bakal mati. Tapi jika itu mati secara wajar. Sedangkan kamu ingin mati secara tidak wajar. Dan ini jelas melanggar takdir Yang Maha Kuasa. Setiap orang punya takdir sendiri. Tapi jika kamu ingin mati dengan cara bunuh diri, jelas itu dosa besar karena melanggar kehendak Yang Maha Kuasa."
"Lalu apa yang harus gue lakukan? Gue sudah kagak tahan menghadapi persoalan yang gue alami saat ini."
"Setiap orang pasti punya persoalan. Dan setiap persoalan pasti ada solusi. Sekarang gimana? Apakah kamu ingin menyerah dengan keadaan seperti ini? Semua tergantung kepada kamu. Ingin jadi pemenang atau pecundang?"
Edo cuma bisa terdiam membisu tanpa bisa berkata-kata lagi. Wanita tersebut melanjutkan omongannya lagi.
"Kenapa sekarang diam? Jadi enggak untuk loncat dari jembatan? Mumpung arusnya deras lho!!" ujar wanita tersebut.
"Gue bingung harus berbuat apa."
"Kamu itu lelaki! Harus punya pendirian yang teguh dan kepribadian yang kuat. Jangan menyerah dengan keadaan. Gimana? Apakah masih lanjut upaya kamu untuk bunuh diri?"
Edo merenung sejenak dan kemudian menyadari tindakan konyol dia. Dia akhirnya bisa luluh hatinya dan mengurung niat untuk bunuh diri.
"Sekarang gue sadar tindakan gue tadi konyol tanpa berpikir panjang. Sekarang gue ngikut maunya elu."
"Kalo gitu kamu ikut aja ke rumahku. Oh ya, siapa nama kamu?"
"Edo Sanjaya."
"Sekarang kamu mau nggak ikut ke rumahku?"
"Baiklah gue ikut elu."
Wanita yang bernama Erika tersebut membawa Edo ke rumahnya.
Sebagai pelampiasan atas kegalauan hatinya,dia minum minuman beralkohol. Dia ingin melupakan segalanya tanpa memperhatikan keselamatan jiwanya. Karena tindakan dia tersebut nyaris saja tersambar kendaraan yang lewat.
"Apes banget gue hari ini! Orang yang gue percaya untuk curhat justru meninggalkan gue. Untuk apa gue hidup jika harus kehilangan semuanya?" Edo mengumpat.
Dia terus berjalan mengikuti jalan setapak sambil menggenggam minuman keras beralkohol di tangannya. Pikiran dia sedang kacau sehingga sudah hilang kendali.
Ketika dia sudah berjalan jauh dan tiba di sebuah jembatan. Dia melihat ke bawah bahwa jembatan tersebut sangat tinggi. Timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya yang sudah tidak berarti lagi.
"Itu ada jembatan. Kayaknya gue harus mengakhiri hidup gue. Gue sudah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia. Orang terdekat justru mencuekin gue. Untuk apa gue tetap hidup kalo cuma menanggung malu dan beban?"
Ketika itu dia melempar botol minuman keras yang dipegangnya. Begitu dilempar,jatuh ke arus sungai yang deras dan kencang. Lalu dia bergumam.
"Tampaknya tempat ini cocok untuk mengakhiri hidup gue. Selamat tinggal semuanya."
Edo kemudian mulai berdiri di jembatan tersebut sambil berpegangan pilar jembatan dan bersiap untuk loncat ke bawah. Ketika dia akan loncat, tiba-tiba muncul suara yang mengagetkan bagi dirinya.
"Begitu picik dan dangkal pikiranmu. Apakah jika kamu bunuh diri persoalan bisa selesai?" ujar orang tersebut.
Edo terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang muncul dan mencegah dia untuk bunuh diri. Dia menoleh ke belakang dan ternyata orang yang mencegah dia bunuh diri adalah seorang wanita. Wanita tersebut kemudian menanyakan alasan Edo bunuh diri.
"Kenapa kamu ingin bunuh diri? Apakah kamu tidak sayang dengan nyawa kamu sendiri?"
"Siapa elu?"
"Namaku Erika. Kamu sendiri namanya siapa?"
"Elu kagak perlu tahu nama gue karena elu bukan siapa-siapa gue."
"Ya memang."
"Lalu kenapa kok ikut-ikutan urusan gue. Mau hidup kek atau mati kek itu urusan gue!" ujar Edo.
"O....tentu!! Itu urusan kamu, bukan urusan aku!!"
"Lalu kenapa elu mencegah gue bunuh diri?"
"Karena aku ingin tahu alasan kamu untuk mengakhiri hidup kamu."
"Kagak perlu pake alasan! Dengan gue mati,maka urusan gue selesai di dunia ini.
"Kata siapa jika kamu mati urusan kamu bakal selesai?"
"Bukankah semua makhluk hidup bakal mati?"
"Iya betul. Semua makhluk hidup bakal mati. Tapi jika itu mati secara wajar. Sedangkan kamu ingin mati secara tidak wajar. Dan ini jelas melanggar takdir Yang Maha Kuasa. Setiap orang punya takdir sendiri. Tapi jika kamu ingin mati dengan cara bunuh diri, jelas itu dosa besar karena melanggar kehendak Yang Maha Kuasa."
"Lalu apa yang harus gue lakukan? Gue sudah kagak tahan menghadapi persoalan yang gue alami saat ini."
"Setiap orang pasti punya persoalan. Dan setiap persoalan pasti ada solusi. Sekarang gimana? Apakah kamu ingin menyerah dengan keadaan seperti ini? Semua tergantung kepada kamu. Ingin jadi pemenang atau pecundang?"
Edo cuma bisa terdiam membisu tanpa bisa berkata-kata lagi. Wanita tersebut melanjutkan omongannya lagi.
"Kenapa sekarang diam? Jadi enggak untuk loncat dari jembatan? Mumpung arusnya deras lho!!" ujar wanita tersebut.
"Gue bingung harus berbuat apa."
"Kamu itu lelaki! Harus punya pendirian yang teguh dan kepribadian yang kuat. Jangan menyerah dengan keadaan. Gimana? Apakah masih lanjut upaya kamu untuk bunuh diri?"
Edo merenung sejenak dan kemudian menyadari tindakan konyol dia. Dia akhirnya bisa luluh hatinya dan mengurung niat untuk bunuh diri.
"Sekarang gue sadar tindakan gue tadi konyol tanpa berpikir panjang. Sekarang gue ngikut maunya elu."
"Kalo gitu kamu ikut aja ke rumahku. Oh ya, siapa nama kamu?"
"Edo Sanjaya."
"Sekarang kamu mau nggak ikut ke rumahku?"
"Baiklah gue ikut elu."
Wanita yang bernama Erika tersebut membawa Edo ke rumahnya.
Other Stories
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
2r
Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...
Bayang Bayang
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...