Bab Empat Puluh: Gema Kehancuran Di Telinga Yang Pulih
Di dalam tenda medis yang sunyi, Kaelith duduk di tepi ranjangnya. Matanya menatap busur tua milik Sora yang bersandar di tiang tenda busur yang sama yang menemaninya selama masa gelapnya. Jari-jarinya berkedut, sebuah impuls otot yang didorong oleh dendam yang membara.
Bayangan wajah Jenderal Goulash yang menjijikkan itu, pria yang menyeretnya dari penjara dan merenggut kehormatannya itu masih terekam dengan jelas di balik kelopak matanya. Kaelith tidak hanya ingin bertahan hidup, melainkan ia ingin membalas dendam dan ingin anak panahnya menembus jantung pria itu.
Kaelith menggeser kakinya, bersiap untuk turun dari ranjang. Namun, sebelum telapak kakinya menyentuh tanah, suara tegas dokter menghentikannya.
\"Jangan berpikir untuk pergi ke mana-mana terlebih dahulu, Nona Kaelith,\" tegur dokter itu tanpa menoleh dari mejanya.
\"Tubuhmu baru saja kembali dari masa katatonik sebelumnya. Tubuh dan pikiranmu saat ini memerlukan istirahat, nona. Dan jika nona memaksakan diri untuk kembali berlatih dan menarik tali busur sekarang, nona hanya akan memperburuk kondisi nona dalam fase pemulihan saat ini.\"
Kaelith menggertakkan giginya, frustrasi. Ia tahu dokter itu benar, tetapi api di dadanya terlalu panas untuk dipadamkan dengan istirahat. Dengan terpaksa, ia menarik kembali kakinya ke atas ranjang, menyandarkan punggungnya dengan kasar.
\"Aku butuh busurku...\" gumam Kaelith pelan, matanya menyala dengan tekad yang menakutkan.
\"Ada satu hal yang harus kuselesaikan.\"
Tak lama kemudian, tirai tenda tersingkap. Vael dan Arelan melangkah masuk. Namun, tidak ada senyum sambutan atau kelegaan di wajah mereka. Ekspresi keduanya kosong, seperti prajurit yang baru saja melihat hantu atau kehilangan jiwa mereka di medan perang.
Kaelith langsung menyadari ada yang salah. Aura yang mereka bawa begitu suram hingga membuat udara di tenda medis terasa lebih dingin.
\"Vael? Arelan?\" panggil Kaelith, alisnya berkerut heran.
\"Kenapa wajah kalian seperti orang yang baru melayat? Bagaimana rapatnya? Apa kita akan menyerang?\"
Vael dan Arelan berdiri mematung di dekat pintu masuk. Mereka saling berpandangan sejenak, sebuah pertukaran tatapan penuh rasa bersalah yang tak terucap, sebelum akhirnya Vael memberanikan diri menatap Kaelith.
\"Rapatnya... sudah selesai,\" jawab Vael, suaranya terdengar hampa.
\"Dan?\" desak Kaelith.
Vael menarik napas panjang, seolah udara di tenda itu beracun. Dengan perlahan, ia mulai menjelaskan apa yang terjadi di tenda komando. Ia menceritakan tentang kebuntuan menghadapi Vorlag, tentang keputusasaan mereka, dan akhirnya, tentang usulan Namien untuk menghancurkan bendungan raksasa di dataran tinggi.
Arelan tidak menambahkan satu kata pun. Ia hanya berdiri di samping Vael dengan tangan bersedekap, matanya menatap lantai tanah dengan tatapan datar yang menyembunyikan badai moral di dalamnya. Ia menyimak penjelasan Vael seperti seseorang yang mendengarkan vonis hukuman matinya sendiri.
Mendengar penjelasan itu, mata Kaelith membelalak lebar. Wajahnya yang pucat karena sakit kini semakin memutih karena kengerian.
\"Tunggu...\" potong Kaelith, suaranya naik perlahan.
\"Bendungan? Banjir besar? Itu artinya... menenggelamkan seluruh sektor bawah? Itu pemukiman warga! Ribuan orang tinggal di sana!\"
Kaelith menatap Vael dan Arelan bergantian, mencari penyangkalan di wajah mereka.
\"Bagaimana dengan keputusan akhirnya? Apa yang terjadi di rapat itu?\" tanya Kaelith dengan suara bergetar.
\"Jangan katakan padaku... jangan bilang kalian semua menyetujui rencananya? Kau, Arelan? Dan Sora? Apa kalian semua diam saja mendengar rencana gila Namien itu?\"
Vael dan Arelan terdiam seribu bahasa. Mereka tidak bisa menjawab tidak, karena pada kenyataannya, mereka tidak menolak dengan keras. Mereka membiarkan Silas mengambil keputusan itu. Diamnya mereka adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Kaelith.
Kekecewaan yang mendalam merambat di wajah Kaelith. Ia menatap kedua temannya yang sebagaai ksatria Borreal ia kenal dengan memegang teguh kehormatan, melihat dengan tatapan yang menusuk.
\"Apakah kalian masih layak disebut manusia?\" bisik Kaelith tajam.
\"Kita berjuang untuk membebaskan mereka, bukan untuk menjadi bencana bagi mereka. Jika kita melakukan ini, apa bedanya kita dengan monster yang menyerang desa kita dulu?\"
Vael menunduk, tidak sanggup menatap mata Kaelith yang menghakimi. Arelan mengencangkan rahangnya, rasa bersalah menggerogoti harga dirinya sebagai prajurit. Mereka tidak punya pembelaan. Di hadapan moralitas Kaelith yang jernih, kepasifan mereka terasa seperti dosa besar.
Kaelith semakin tidak mengerti. Pikirannya berkecamuk. \"Apa yang dipikirkan Namien? Dan Sora... dia ada di sana, kan? Apa yang dia lakukan? Kenapa dia membiarkan ini terjadi?\"
Kaelith mengepalkan tangannya di atas selimut hingga buku-buku jarinya memutih. Ia butuh jawaban yang masuk akal. Ia butuh seseorang untuk memberitahunya bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk atau kesalahpahaman.
Tepat pada saat ketegangan itu memuncak, tirai tenda kembali tersingkap.
Sosok Sora muncul di ambang pintu. Wajahnya tampak lelah, namun matanya memancarkan ketenangan yang aneh seperti ketenangan seseorang yang telah menerima sebuah beban berat. Ia baru saja kembali dari tenda Lyra, membawa janji dan rencana evakuasi yang menjadi satu-satunya harapan di tengah kegelapan rencana ini.
Kaelith menoleh tajam ke arah Sora. Tatapannya yang menuntut penjelasan, menuntut kebenaran dari satu-satunya orang yang paling ia percayai saat ini.
\"Sora...\" panggil Kaelith, suaranya bergetar antara marah dan berharap.
\"Katakan padaku, semua yang di bahas di rapat itu tidak benar, bukan?\"
Ketegangan di dalam tenda medis semakin memuncak. Kaelith menuntut jawaban, matanya yang tajam beralih dari Vael ke Arelan, namun kedua ksatria itu hanya menunduk, tidak mampu menyuarakan pembenaran atas diamnya mereka.
Sora, yang baru saja tiba, melangkah pelan mendekati ranjang. Tanpa suara, ia duduk di sisi kasur Kaelith. Gerakannya tenang, namun ada beban berat yang menggelayut di bahunya. Ia merogoh saku, mengeluarkan kertas lusuh dan batang arang yang selalu ia bawa sebagai pengganti suaranya.
Kaelith menatapnya dan napasnya tertahan untuk menunggu sebuah penjelasan darinya itu.
Sora mulai menulis. Bunyi gesekan arang di atas kertas terdengar nyaring di keheningan tenda. Setelah selesai, ia menyerahkan kertas itu kepada Kaelith.
Tulisan itu singkat namun menghantam Kaelith seperti palu godam: Aku setuju dengan rencana Namien.
Kaelith membaca kalimat itu berulang kali, seolah berharap huruf-huruf itu akan berubah susunannya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Sora dengan tatapan tak percaya. Di wajah pemuda itu, Kaelith tidak melihat kegilaan atau kekejaman, melainkan ekspresi penerimaan yang menyedihkan dari wajah seseorang yang rela menanggung dosa dunia.
\"Kenapa?\" suara Kaelith bergetar, air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk matanya.
\"Kenapa kau... dari semua orang, kenapa kau menyetujuinya, Sora?\"
Sora tersenyum pahit. Ia mengambil kembali kertas itu, membaliknya, dan menuliskan penjelasan panjang dengan tangan yang stabil.
Ia menuliskan tentang malam di penjara Jargmund. Tentang bagaimana mereka menyusup untuk membebaskan Vael, Namien, dan Arelan. Tentang bagaimana rencana itu hancur berantakan ketika dia muncul.
Vorlag, tulis Sora. Kami hampir mati di sana. Douglas, perwira terkuat pasukan revolusi, mengorbankan nyawanya hanya untuk memberi kami waktu beberapa detik untuk lari. Aku melawannya, Kaelith. Aku menggunakan kekuatan penuh Rune-ku. Aku memberikan segalanya. Tapi aku bahkan tidak bisa menggores kulitnya. Dia bukan manusia. Dia adalah dinding yang tak bisa ditembus.
Sora menyerahkan kertas itu lagi. Kaelith membacanya, menyerap keputusasaan yang tertuang dalam tulisan itu. Sora, petarung terkuat yang ia kenal, mengakui kekalahannya secara total.
Namun, alih-alih merasa simpati, hati Kaelith hancur. Ia merasa dikhianati oleh keputusasaan itu.
\"Hanya karena satu orang...\" bisik Kaelith, air matanya kini tumpah dan mulai membasahi pipinya.
\"Hanya karena satu monster yang tidak bisa kau kalahkan... kau rela membunuh ribuan orang tak berdosa?\"
Sora menatap Kaelith dengan mata sendu.
PLAK!
Suara tamparan keras memecah keheningan tenda.
Wajah Sora terlempar ke samping. Pipi kirinya seketika memerah, panas oleh tamparan Kaelith yang dilakukan dengan sisa tenaganya. Vael tersentak kaget, matanya membelalak. Arelan, yang berdiri di sudut, hanya bisa mematung melihat pemandangan itu.
Kaelith menarik tangannya yang gemetar, menatap Sora dengan pandangan nanar yang dipenuhi rasa sakit.
\"Aku tidak percaya padamu,\" isak Kaelith.
\"Aku tidak bisa mempercayai apa yang kau lakukan. Kau pengecut, Sora. Kau memilih jalan pintas yang berdarah karena kau takut kalah lagi, bukan?\"
Sora tidak memegang pipinya yang sakit. Ia hanya menunduk, menerima tamparan dan kata-kata kasar itu tanpa perlawanan. Ia tahu Kaelith berhak marah. Ia tahu dari sudut pandang Kaelith, ini terlihat seperti kejahatan murni.
Di sudut tenda, Arelan tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup melihat drama emosional ini lebih lama, atau mungkin ia tidak sanggup melihat cermin dari rasa bersalahnya sendiri. Tanpa sepatah kata pun, Arelan berbalik dan melangkah cepat keluar dari tenda medis, memilih untuk melarikan diri ke tempat latihan daripada menghadapi penghakiman Kaelith.
Kini hanya tinggal Vael yang menyaksikan keruntuhan itu. Ia tahu betapa sulitnya posisi Sora. Ia ada di sana saat Douglas mati. Ia melihat sendiri bagaimana pedang Sora patah saat menghantam tubuh Vorlag. Ia tahu bahwa secara militer, Namien benar. Tapi melihat Kaelith menangis, Vael merasa argumen itu tidak ada artinya.
\"Keluar,\" ucap Kaelith lirih dengan menunjuk arah pintu tenda.
\"Keluar kau, Sora. Aku butuh sendiri. Aku tidak mau melihat wajahmu.\"
Namun, Sora tidak beranjak. Ia tahu ia belum selesai. Ia belum memberitahu Kaelith tentang bagian terpenting tentang syarat evakuasi yang ia sepakati dengan Lyra dan Namien sebelumnya itu. Ia mengambil arangnya lagi, hendak menuliskan hal itu di kertas.
Melihat Sora masih berusaha membela diri, amarah Kaelith meledak. Ia merasa muak.
\"SUDAH KUBILANG KELUAR!\"
Kaelith merampas paksa kertas dan alat tulis dari tangan Sora sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Dengan kasar, ia meremas kertas itu dan melempar batang arangnya ke lantai tanah.
\"Jangan tulis apa-apa lagi! Pergi!\" jerit Kaelith.
Sora menatap alat tulisnya yang berserakan, lalu menatap wajah Kaelith yang basah oleh air mata dan kemarahan. Ia sadar, tidak ada gunanya menjelaskan sekarang. Kaelith tidak akan mendengarkan.
Dengan senyum yang sangat menyedihkan seperti senyum yang menyiratkan hati yang patah namun tetap mencintai Kaelith itu, Sora perlahan bangkit dari duduknya. Ia membungkuk sedikit sebagai isyarat dia akan pergi dari situ, lalu berbalik dan berjalan keluar dari tenda medis dengan membawa rahasia evakuasi itu bersamanya.
Sepeninggal Sora, keheningan yang menyakitkan kembali menyelimuti ruangan. Vael, yang masih berdiri di sana, akhirnya buka suara.
\"Kaelith,\" kata Vael hati-hati, suaranya lembut.
\"Kau seharusnya membiarkan dia menyelesaikan tulisannya dulu. Sora tidak mungkin melakukan ini tanpa alas—\"
\"Diam, Vael,\" potong Kaelith tajam. Ia menatap Vael dengan tatapan yang sama dinginnya.
\"Jadi kau juga? Kau sekarang mendukung rencana genosida ini seperti Sora? Kau setuju kita membunuh wanita dan anak-anak demi kemenangan?\"
\"Bukan begitu, aku—\" Vael mencoba membela diri.
\"Keluar,\" potong Kaelith lagi, tidak memberinya kesempatan.
\"Beri aku ruang menyendiri sekarang. Aku tidak bisa melihat kalian saat ini, dan kalian semua... kalian membuatku mual.\"
Vael mengatupkan mulutnya. Ia melihat kerapuhan di mata Kaelith yang tertutup oleh perisai amarah. Ia tahu, mendebatnya sekarang hanya akan memperburuk luka.
Dengan helaan napas berat, Vael mengangguk pelan. \"Maafkan kami, Kaelith.\"
Vael pun berbalik dan meninggalkan tenda, menyusul jejak Sora dan Arelan, meninggalkan Kaelith sendirian di dalam sana.
Begitu Vael pergi, pertahanan Kaelith runtuh sepenuhnya. Ia menarik lututnya ke dada, memeluk dirinya sendiri di atas ranjang yang dingin. Tangisannya pecah dalam diam, isakan yang ia sembunyikan di balik bantal.
Hatinya hancur berkeping-keping. Bukan hanya karena rencana mengerikan itu, tetapi karena orang-orang yang paling ia cintai seperti teman-temannya, dan Sora, pria yang ia kira adalah pelindungnya kini terasa asing bagi dirinya.
Kaelith tidak pernah menyangka bahwa mereka sanggup merencanakan pembantaian terhadap orang yang tak bersalah dengan membanjiri seluruh kerajaan dengan darah dan air, sementara dirinya hanya bisa terbaring tak berdaya di kasur dengan menyaksikan moralitas mereka tenggelam sepenuhnya.
Di luar tenda medis, atmosfer perkemahan terasa seperti udara sebelum badai. Pasukan revolusi, yang sebelumnya dipersatukan oleh satu tujuan, kini terbelah menjadi kepingan-kepingan opini yang tajam. Suara-suara perdebatan terdengar di setiap sudut; ada yang berbisik setuju dengan rencana kejam Namien demi kemenangan cepat, ada pula yang mengutuknya sebagai tindakan iblis.
Di sudut bengkel penempaan yang biasanya bising oleh dentingan logam, kini hanya ada kesunyian yang mencekam. Feron, sang pandai besi dari The Profaned Capital, duduk terkulai di kursi kayu tuanya. Tangannya yang besar dan kasar, yang biasanya menari dengan palu di atas paron, kini hanya terkulai lemas di antara lututnya.
Ia mendengarkan sayup-sayup ocehan beberapa prajurit yang lewat, yang dengan enteng menyarankan untuk menenggelamkan saja semuanya. Mendengar perkataan seperti itu, kepala Feron rasanya ingin meledak dan emosinya mendidih.
Bagaimana bisa mereka berbicara tentang mengorbankan moralitas semudah membalikkan telapak tangan di tempat busuk seperti ini? Ia merasa jijik, bukan hanya pada Namien, tapi pada keputusasaan yang mengubah manusia menjadi monster.
Vael, yang baru saja meninggalkan Kaelith dalam keadaan hancur, berjalan tanpa tujuan yang pasti. Kakinya membawanya menjauh dari keramaian, mencari tempat di mana ia bisa menyendiri. Ia butuh sesuatu yang familier, sesuatu yang solid untuk dipegang. Tangannya meraba gagang pedang di pinggangnya pedang warisan Komandan Thelan.
Langkah Vael terhenti di depan bengkel Feron. Ia melihat sang pandai besi duduk dalam kegelapan, api tungku yang mulai meredup memantulkan bayangan suram di wajahnya.
Vael melangkah masuk.
Mendengar langkah kaki mendekat, Feron tidak menoleh. Bahunya naik turun dengan napas berat.
\"Pergilah,\" gumam Feron, suaranya parau dan pasrah.
\"Aku tidak sedang ingin menempa. Cari orang lain untuk memperbaiki rongsokanmu. Tanganku sedang tidak ingin memegang dosa.\"
Vael berhenti beberapa langkah di belakang Feron. Ia tidak tersinggung dengan penolakan itu.
\"Aku tidak memintamu membuat senjata baru,\" kata Vael tenang, suaranya membawa wibawa yang lelah.
\"Aku hanya ingin kau melihat pedang dan belati ini. Aku perlu tahu apakah mereka masih cukup tajam untuk latihan... atau untuk memotong keraguan.\"
Feron mendengus kasar.
\"Aku tidak peduli,\" katanya sambil memutar tubuhnya di kursi dengan kasar, berniat mengusir orang itu dengan tatapan tajam.
Namun, kata-kata Feron terhenti di tenggorokan saat matanya menangkap sosok yang berdiri di hadapannya. Ia melihat zirah yang dikenakan pria itu sebuah baja yang ditempa dengan gaya khas utara, dan di dadanya terpampang lambang yang sudah lama tidak Feron lihat: Serigala Kerajaan Borreal.
Feron terdiam sejenak, lalu senyum pahit dan sinis terukir di wajahnya yang tertutup jelaga.
\"Sudah lama aku tidak melihat hantu dari utara,\" kata Feron. \"Apakah serigala utara masih melolong di selatan yang panas ini?\"
Vael melepaskan sabuk pedangnya dan meletakkannya di atas meja kerja yang penuh debu.
\"Serigala ini sudah lama kehilangan kawanannya,\" jawab Vael. \"Tapi aku bertemu saudaramu, Thramund. Kau sangat mirip dengannya.\"
Mata Feron membelalak sedikit mendengar nama itu. Ia menatap Vael, lalu pandangannya jatuh ke senjata yang diletakkan Vael di meja. Pedang panjang dan belati dengan ukiran rumit pada gagangnya.
Feron mengenal senjata itu. Ia pernah melihatnya dulu, saat ia masih kecil di The Profaned Capital. Itu adalah senjata milik Komandan Thelan, sahabat ayahnya, Anvil.
Feron menyentuh bilah pedang itu dengan ujung jarinya, merasakan dinginnya baja yang familiar.
\"Pedang Thelan...\" bisik Feron, suaranya melembut. Ia menatap Vael dengan tatapan baru, penuh rasa ingin tahu.
\"Jadi Thramund memberikan ini padamu? Si bodoh itu... dia memberikannya begitu saja?\"
\"Dia memberikannya karena dia percaya senjata ini harus kembali ke pemilik aslinya, atau setidaknya seseorang yang berasal dari tempat yang sama,\" jawab Vael. \"Dia bilang, senjata memiliki jiwanya sendiri.\"
Feron tertawa pelan, tawa yang terdengar kering namun tulus. \"Dasar Thramund. Dia memang seperti itu. Barang berharga yang bukan miliknya pasti akan dia kembalikan pada yang pantas. Dia terlalu jujur untuk dunia ini.\"
Vael mengangguk pelan. \"Bisakah kau mengeceknya? Aku ingin menggunakannya untuk latihan nanti. Aku butuh menjernihkan pikiranku.\"
Feron mengambil pedang itu, menimbangnya di tangan. \"Kondisinya masih aman. Baja Thelan tidak mudah tumpul. Tapi...\" Feron meletakkan pedang itu kembali dan menatap wajah Vael lekat-lekat.
Ia melihat gurat kesedihan dan kebingungan yang mendalam di wajah ksatria itu.
\"Apa gunanya memoles pedang jika tangan yang memegangnya gemetar?\" tanya Feron tajam.
\"Ksatria utara tidak pernah memperlihatkan kelemahan, bahkan saat sekarat. Tapi kau... kau terlihat seperti orang yang sudah kalah sebelum perang dimulai. Apa yang terjadi padamu, Serigala?\"
Vael menghela napas panjang, bahunya merosot. Di hadapan pandai besi ini, ia merasa tidak perlu menyembunyikan kelelahannya.
\"Katakan kepadaku, Feron.\" Tanya Vael dengan suaranya lesu namun tak terbantahkan.
\"Apakah kita harus mengorbankan segalanya untuk masa depan yang lebih baik? Apakah kita harus menjadi monster hari ini supaya besok matahari bisa bersinar cerah? Apakah moralitas hanyalah beban bagi mereka yang ingin menang?\"
Feron terdiam. Pertanyaan itu menohoknya tepat di ulu hati. Ia teringat masa lalunya yang mulai dari kampung halamannya yang hancur, ayahnya yang hilang dan kini sudah mati dalam medan pertempuran, dan pelariannya ke Elarion yang penuh ketidakpastian.
\"Aku juga tidak tahu jawabannya, Vael,\" jawab Feron lirih, matanya menerawang.
\"Aku pernah menjadi korban dari \'masa depan yang lebih baik\' versi orang lain. Ayahku, kotaku... semuanya dikorbankan. Dan lihat aku sekarang, menempa senjata untuk perang yang mungkin akan mengulangi siklus yang sama.\"
Vael menatap pedang Thelan di meja. \"Dulu, aku memegang teguh arti sumpah dan kehormatan. Bagi ksatria Borreal, itu adalah segalanya. Tapi kerajaanku sendiri yang mengkhianatiku. Mereka membuang sumpah itu seperti sampah.\"
Vael berhenti sejenak, lalu melanjutkan, matanya kini memancarkan sedikit cahaya keyakinan.
\"Tapi aku menemukan jawabannya dari seseorang,\" kata Vael.
\"Seseorang yang tidak pernah berkata apa pun dengan suaranya, namun teriakannya lebih keras dari siapa pun melalui tindakannya. Dia memikul beban yang tak pernah bisa kubayangkan. Dia rela menjadi penjahat di mata orang lain, menanggung kebencian, hanya untuk menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.\"
Vael menatap Feron.
\"Aku mengikutinya bukan karena dia memintaku. Dia tidak pernah meminta untuk diikuti. Aku mengikutinya untuk melihat arti sebenarnya yang kucari. Aku ingin menjadi perisainya, karena dia berjalan di jalan yang paling sepi.\"
Feron mendengarkan dengan seksama. Ia tahu persis siapa yang dimaksud Vael. Hanya ada satu orang di kamp ini yang sesuai dengan deskripsi itu. Sora.
Feron menghela napas panjang, lalu perlahan bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil kain poles dan minyak dari rak, lalu kembali ke meja kerja.
\"Sora...\" gumam Feron.
Ia mulai menggosok bilah pedang Vael dengan gerakan teratur. Bunyi gesekan kain pada baja mengisi keheningan di antara mereka.
\"Jujur saja, Vael,\" kata Feron tanpa melihat ke arah ksatria itu, fokus pada pekerjaannya. \"Aku merasa iri. Sekaligus lega.\"
\"Kenapa?\"
\"Karena di dunia yang sudah rusak ini, di mana manusia saling memakan dan menjual prinsip mereka demi sepotong roti atau kekuasaan... masih ada satu orang yang tidak pernah berbohong. Sekalipun dia bisu, dia adalah manusia paling jujur yang pernah kutemui.\" Feron tersenyum tipis.
\"Melihatnya membuatku merasa... setidaknya masih ada harapan untuk menjadi manusia seutuhnya.\"
Vael menarik kursi kayu lain dan duduk di samping meja kerja Feron. Ia tidak menjawab, karena ia mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud Feron.
Di dalam bengkel yang redup itu, seorang ksatria yang kehilangan arah dan seorang pandai besi yang kehilangan rumah duduk bersama dalam diam, disatukan oleh rasa hormat mereka terhadap seorang pemuda bisu yang kini menanggung dosa seluruh revolusi bahkan rencana genosida yang diusulkan itu di pundaknya.
Other Stories
Test
Test ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Kamera Sekali Pakai
Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Rahasia Ikal
Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...