The Unkindled Of The Broken Soil

Reads
930
Votes
0
Parts
46
Vote
Report
the unkindled of the broken soil
The Unkindled Of The Broken Soil
Penulis SaltSea

Bab Tiga Puluh Enam: Reuni Sebelum Ketegangan Memuncak

Namien melangkah keluar dari tenda Silas, meninggalkan pemimpin revolusi itu dengan seringai puas akan rencana gila yang baru saja disetujui. Ia berjalan santai menyusuri jalan setapak perkemahan yang berdebu, matanya memindai area latihan terbuka di pinggiran kamp. Suara dentingan logam yang berirama menarik perhatiannya, membawanya menuju dua sosok yang sangat ia kenal.

Di tengah lapangan yang kosong itu, Vael dan Arelan sedang melakukan latih tanding. Debu mengepul di sekitar kaki mereka saat dua ksatria terakhir dari Borreal itu bergerak dalam tarian kematian yang terkontrol.

Vael menyerang lebih dulu. Wajahnya serius, matanya tajam membaca setiap gerakan lawannya. Ia mengayunkan pedang warisan Komandan Thelan dengan presisi yang mematikan, mengincar celah di pertahanan Arelan, namun dengan kehati-hatian yang cukup untuk tidak melukai titik vital saudaranya itu.

Arelan tidak kalah sigap. Dengan kapak kembar di tangannya, ia menangkis serangan Vael dengan gerakan menyilang yang cepat, logam beradu dengan logam menciptakan percikan api. Ia membiarkan serangan Vael lewat, lalu melihat jeda sepersekian detik dalam kuda-kuda Vael. Tanpa ragu, Arelan melancarkan serangan balik, kapak kirinya menyapu rendah untuk menjegal kaki, sementara kapak kanannya menebas dari atas.

Namun Vael sudah menduganya. Dengan gerakan memutar yang luwes, ia menghindar ke samping, membiarkan kapak Arelan membelah udara kosong. Di detik itu, keduanya melihat peluang. Vael melihat sisi tubuh Arelan yang terbuka; Arelan melihat bahu Vael yang terekspos.

Mereka menerjang bersamaan.

TRANG!

Suara benturan keras menggema saat pedang Thelan dan kapak kembar itu terkunci di udara, saling menekan dengan kekuatan penuh. Otot-otot mereka menegang, wajah mereka berkerut menahan beban, hingga akhirnya mereka melompat mundur secara bersamaan, mengatur napas yang memburu.

\"Kau terlalu banyak membuka sisi kirimu saat menyerangku dengan rendah, Arelan,\" kritik Vael di sela napasnya.

\"Dan kau terlalu kaku saat transisi, Vael. Kau bergerak seperti patung batu yang kaku, bukan seperti aliran air,\" balas Arelan sambil menyeka keringat di dahinya.

Saat mereka bersiap untuk ronde kedua, suara tepuk tangan yang lambat dan sarkastis terdengar dari pinggir lapangan.

\"Bravo, bravo,\" kata Namien sambil berjalan mendekat, seringai khasnya terpasang di wajahnya yang masih lebam.

\"Sungguh pertunjukan yang memukau. Dua orang tua saling memukul dengan besi tajam di bawah terik matahari. Sangat primitif, sangat jantan, dan sangat... membosankan untuk ditonton sebagai hiburan.\"

Vael menurunkan pedangnya, menatap Namien dengan senyum tipis yang lelah. \"Kau berbicara terlalu banyak untuk seseorang yang mungkin akan patah tulang jika mencoba mengangkat pedang ini, Ular compang-compaing. Mungkin kau yang sebenarnya perlu latihan fisik seperti ini daripada veteran tua ini agar tidak terbang terbawa oleh angin saat bertiup ke arah utara.\"

Namien tertawa kecil, mengabaikan ejekan Vael itu.

Arelan memutar kapaknya di tangan, lalu menatap Namien dengan serius.

\"Kau melihat kami sedari tadi, bukan? Kalau begitu, bagaimana penilaianmu? Apa yang kurang dari latihan dan teknik kami menurut mata seorang ahli strategi?\"

Namien berhenti tersenyum. Ia menatap kedua ksatria itu dengan tatapan analitis.

\"Jujur atau kalian ingin jawaban yang manis untuk didengar?\" tanya Namien.

\"Kalian berdua sama saja. Kuno dan terlalu... Borreal bagiku.\"

Arelan mengerutkan kening. \"Apa maksud dari ucapanmu itu?\"

\"Gaya bertarung kalian yang kubicarakan,\" jelas Namien sambil mengibaskan tangannya.

\"Terlalu terstruktur. Terlalu terhormat. Kalian bertarung seolah-olah ada penengah di antara kalian yang akan memberikan poin untuk teknik yang bersih. Namun di medan perang nanti, kalian akan melawan monster seperti Vorlag atau pasukan Goulash yang tak mengenal teknik sebersih seperti kalian lakukan saat latihan, kehormatan dalam pertarungan itu tidak berguna sama sekali dan kalian perlu menambahkan beberapa gerakan atau kalian lebih tepatnya memerlukan... sedikit bermain kotor saat bertarung.\"

Mendengar itu, wajah Arelan mengeras.

\"Bermain kotor?\" ulangnya dengan nada tajam.

\"Kami adalah ksatria, Namien. Ada etika bahkan dalam pertempuran sekalipun. Menusuk musuh dari belakang, menggunakan racun, atau trik murahan yang menjebak... itu melanggar sumpah kami sebagai ksatria Borreal dan itu adalah jalan pengecut untuk kami.\"

Namien tertawa, suara yang kering dan dingin. Ia melangkah maju hingga berhadapan langsung dengan Arelan.

\"Etika?\" cibir Namien.

\"Katakan kepadaku, Arelan. Apakah musuh kita mempunyai etika saat ini yang akan kita hadapi nantinya? Apakah Goulash akan memikirkan pasukannya itu menggunakan etika saat dia akan membantai rakyatnya sendiri? Apakah Vorlag salah satu perwiranya yang paling kuat itu akan memikirkan kehormatan saat dia menebas kepala Douglas dengan senjatanya itu di hadapan kita sebelumnya? Kau tak bercanda, tidak dengan apa yang telah kita lihat dengan mata kita sendiri itu?\"

Namien menatap tajam ke mata Arelan. \"Ingatlah satu hal ini yang perlu kau ketahui, Arelan. Dalam perang untuk bertahan hidup, satu-satunya etika yang berlaku adalah \'menang\'. Jika kau ingin mati dengan kehormatanmu sebagai ksatria yang memegang teguh prinsipmu itu atau Borreal yang kau masih agungkan, kau akan tetap mati tanpa membawa kehormatan dari prinsipmu itu dan tentu saja, mayatmu tidak bisa menyelamatkan siapa pun ketika jiwamu sudah terpisah dari jasadmu dan dirimu tak bisa mengayunkan senjatamu untuk meruntuhkan apa yang tak boleh dibiarkan untuk ke depannya. Demi matahari esok yang lebih cerah untuk dilihat dibandingkan menutupkan mata saat mata melihat bintang yang bertaburan di langit yang tertutupi oleh awan hitamnya\"

Arelan terdiam, rahangnya mengeras, tidak bisa membantah logika kejam Namien meski hatinya menolak.

Namien menghela napas dan merubah suasana dengan cepat. \"Lupakanlah soal itu terlebih dahulu. Aku punya kabar yang lebih penting daripada pelajaran moral kukatakan tadi.\" Kata Namien dengan nada suaranya sedikit melembut.

\"Putri Tidur kita, telah bangun dari mimpinya sekarang.\"

Berita itu menghantam Vael lebih keras daripada pukulan kapak mana pun. Ia segera menyarungkan pedang Thelan ke pinggangnya, bahunya merosot. Kelegaan yang luar biasa terpancar di wajahnya, namun dengan cepat digantikan oleh bayangan kepahitan yang mendalam.

\"Syukurlah...\" gumam Vael pelan. Namun kemudian ia menunduk, menatap tanah berdebu.

\"Tapi, aku... aku tidak bisa menemuinya.\"

\"Kenapa?\" tanya Arelan.

\"Karena aku yang menyebabkan dirinya menjadi seperti itu dan diriku ini terlalu lemah sebagai pelindung untuknya,\" bisik Vael yang suaranya penuh dengan penyesalan.

\"Aku membiarkan mereka para manusia bejat itu menyeretnya pergi dan lebih buruknya lagi, aku melihatnya dihina, disiksa... dan bahkan lebih dari yang tak pernah kubayangkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan bagaimana aku bisa menatap matanya sekarang setelah kegagalanku itu?\"

Arelan melangkah mendekat dan meletakkan tangannya yang berat di bahu saudaranya itu. Ia meremasnya dengan kuat, menyalurkan kekuatan.

\"Kau tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Vael,\" kata Arelan tegas namun hangat.

\"Tapi, setidaknya kau bisa mengubah apa yang akan terjadi ke depannya. Jangan bersembunyi dari rasa bersalahmu dan temuilah dia. Katakan permintaan maafmu secara langsung, hal itu jauh lebih baik daripada menghindarinya yang ingin melihat wajahmu itu juga.\"

Namien terkekeh pelan melihat adegan itu.

\"Dengarkan saudaramu itu, Vael. Lagipula, Kaelith bukan tipe wanita yang suka dikasihani seperti yang kita ketahui. Dia mungkin akan menendangmu jika kau terus mengucapkan kesalahan dan kegagalanmu itu nantinya.\" Kata Namien yang kemudian ia berbalik, memberi isyarat agar Vael dan Arelan mengikutinya itu.

\"Ayo, sudah waktunya kita untuk melihat tuan putri itu sebelum rapat strategi akan dimulai.\"

Arelan meletakkan kapak kembarnya di atas meja kayu di pinggir lapangan, lalu mengangguk pada Vael.

Dengan napas panjang untuk mengumpulkan keberaniannya, Vael akhirnya mengangguk. Ketiganya pun berjalan meninggalkan lapangan latihan, menuju tenda medis untuk menemui teman mereka yang baru saja kembali dari kegelapan.

Saat Vael, Namien, dan Arelan berjalan berdampingan menuju tenda medis, langkah kaki mereka menerbangkan debu tipis di jalan setapak perkemahan. Vael, yang pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah namun sedikit terangkat oleh harapan, menoleh ke arah Namien.

\"Omong-omong, apakah Sora sudah tahu tentang kondisi Kaelith saat ini?\" tanya Vael.

\"Maksudku, apakah ada yang memberitahunya?\"

Namien mengangkat bahu dengan gaya khasnya, seringai tipis bermain di bibirnya. \"Entahlah. Jujur saja, aku tidak melihat anak itu sejak matahari terbit tadi. Mungkin dia sedang merenung di suatu tempat, atau mungkin instingnya yang tajam itu sudah memberitahunya lebih dulu daripada dokter mana pun.\"

Arelan, yang berjalan di sisi lain, mengerutkan kening. \"Bukankah itu aneh? Jika dia tidak tahu, seharusnya dia ada di bengkel atau latihan. Tapi jika dia tidak ada di sana...\"

\"Siapa yang tahu?\" potong Namien santai.

\"Mungkin dia tahu, mungkin tidak sama sekali. Anak itu penuh kejutan, ingat?\"

Mereka tiba di depan tenda medis. Namien, tanpa ragu dan tanpa mengetuk atau memberi peringatan dengan kebiasaan buruk yang tak kunjung hilang, langsung menyingkap tirai tenda dan melangkah masuk.

Pemandangan yang menyambutnya membuat langkah Namien terhenti seketika.

Di dalam, Kaelith dan Sora sedang berpelukan. Kaelith, yang kini terlihat jauh lebih tenang tanpa sisa isak tangis yang mengguncang tubuhnya itu sebelumnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Sora.

Sementara Sora memeluknya dengan protektif namun lembut. Itu adalah momen keintiman yang rapuh dan jarang terjadi di antara dua prajurit yang biasanya kaku itu.

Kaelith, menyadari cahaya matahari yang masuk dari pintu tenda yang terbuka, menoleh. Matanya langsung bertemu dengan Namien, lalu beralih ke Vael dan Arelan yang menyusul masuk dan kini berdiri membeku di belakang penyihir itu.

Sora, menyadari kedatangan teman-temannya, seketika menegang. Ia melepaskan pelukannya dengan cepat, namun wajahnya sudah terlanjur merah padam. Ia memalingkan wajahnya ke arah dinding tenda, tidak berani menatap mata ketiga pria yang baru masuk itu, malu luar biasa karena tertangkap basah dalam momen emosional tersebut.

Namien, tentu saja, tidak membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja. Ia menyilangkan tangan di dada, menggelengkan kepalanya dengan dramatis, seolah-olah ia baru saja melihat sesuatu yang sangat memalukan.

\"Maafkan aku bila mengganggu waktu kalian berdua,\" kata Namien, suaranya penuh dengan nada menggoda yang kental.

\"Apakah aku baru saja mengganggu momen sakral dari pasangan abadi kita? Sungguh, aku tidak bermaksud merusak suasana romantis di tengah bau obat dan perban ini.\"

Biasanya, Kaelith akan melempar sesuatu di dekatnya itu seperti bantal, botol obat, atau bahkan pisau ke arah Namien jika digoda seperti itu. Namun kali ini, reaksi Kaelith terlihat berbeda.

Kaelith hanya tersenyum. Senyum yang lemah, namun tulus. Ia memandang Namien dengan tatapan yang anehnya sabar. Lalu matanya beralih ke Vael, melihat gurat kelegaan yang bercampur dengan penyesalan mendalam di wajah ksatria itu, dan kemudian ke Arelan yang berdiri dengan ekspresi datar namun matanya memancarkan kepedulian yang diam.

\"Dan kau, Namien,\" kata Kaelith lembut, suaranya masih sedikit parau, \"kau benar-benar tidak pernah berubah, ya? Masih sama seperti biasanya, mulutmu itu.\"

Mendengar Kaelith menyebut nama Namien dengan nada yang begitu tenang, Sora semakin membenamkan wajahnya ke tangannya sendiri, telinganya kini semerah tomat.

Namien justru terlihat bingung. Ia mengerjap, senyum mengejeknya sedikit goyah. Ia berjalan mendekati ranjang Kaelith seorang diri, mengamatinya dengan tatapan menyelidik yang berlebihan.

\"Tunggu sebentar,\" kata Namien, alisnya berkerut. \"Kaelith yang kukenal biasanya akan mengancam akan memotong lidahku jika aku bicara seperti tadi. Kau tidak marah? Tidak kesal?\"

Namien menoleh ke arah Vael dan Arelan sejenak sebelum kembali menatap Kaelith.

\"Jangan-jangan kau masih belum sembuh benar? Atau mungkin kau kerasukan arwah gentayangan? Dokter! Kita butuh pengusiran setan di dalam tubuh pasien di sini!\" seru Namien dengan bercanda.

Kaelith mendengus pelan. Senyumnya berubah menjadi seringai kecil yang dipaksakan, sisa-sisa sifat lamanya mulai muncul kembali. Saat Namien sudah berdiri cukup dekat di samping ranjangnya, Kaelith dengan cepat mengayunkan kepalan tangannya dan meninju lengan Namien dengan cukup keras.

BUK!

\"Aduh!\" Namien mengaduh, meski jelas itu tidak terlalu sakit. Ia menggosok lengannya, lalu tertawa pelan. Tawa yang hangat dan penuh kelegaan.

\"Nah, itu baru Kaelith yang kami kenal,\" kata Namien lembut. Ia menatap mata Kaelith, humor di wajahnya melunak menjadi ketulusan. \"Selamat datang kembali, Putri Tidur.\"

Kaelith terdiam mendengar ucapan itu. Tangannya perlahan turun kembali ke sisi tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai penyintas yang sinis, yang selalu melihat dunia sebagai tempat yang kejam dan dingin, ia tersenyum.

Benar-benar tersenyum.

\"Ya,\" bisik Kaelith, matanya berkaca-kaca namun bersinar.

\"Aku kembali.\"

Suasana di dalam tenda medis itu kini terasa lengkap. Kelompok yang sempat terpecah, hancur, dan hampir kehilangan harapan itu akhirnya berkumpul kembali dalam satu lingkaran keutuhan yang rapuh namun nyata.

Namun, Namien merasa ada satu hal yang masih kurang pas di matanya. Ia melirik ke arah Sora, yang sejak tadi masih memalingkan wajahnya ke arah dinding tenda, berusaha menyembunyikan sisa-sisa rona merah di wajahnya akibat tertangkap basah dalam momen intim tadi.

Seringai khas Namien kembali merekah, licik namun hangat. Ia melangkah pelan mendekati Sora, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit.

\"Hei, Pahlawan Bisu,\" goda Namien.

\"Kau masih memandang dinding itu sampai berlubang? Tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan sekarang. Kami semua sudah melihatnya. Pelukan itu dan tatapanmu itu sebelumnya?\"

Mendengar ucapan Namien, Sora sontak berbalik. Wajahnya masih memerah padam, dan dengan panik ia menggerakkan tangannya, membuat bahasa isyarat yang tergesa-gesa dan berantakan, berusaha menyangkal tuduhan Namien seolah-olah ia hanya sedang memeriksa detak jantung atau suhu tubuh Kaelith.

Melihat tingkah laku Sora yang biasanya tenang dan mematikan di medan perang kini berubah menjadi kikuk dan salah tingkah, tawa pecah di dalam tenda itu. Namien tertawa lepas, Vael terkekeh sambil menggelengkan kepala, dan bahkan Kaelith menutup mulutnya untuk menahan tawa kecilnya.

Hanya Arelan saja yang tetap berdiri dengan wajah datar, menatap Sora sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, seolah berkata, \"Anak muda...\"

Tawa itu perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang lebih serius saat Vael melangkah maju mendekati ranjang Kaelith. Wajah ksatria itu kembali dibayangi oleh rasa bersalah yang mendalam.

\"Kaelith...\" Vael memulai, suaranya berat.

\"Aku... aku ingin meminta maaf. Karena aku...\"

Vael berhenti. Kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Bayangan saat Kaelith diseret pergi oleh penjaga sementara ia hanya bisa terbaring tak berdaya di lantai penjara masih menghantuinya. Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

Kaelith menatap Vael. Tidak ada senyuman di wajahnya kali ini, hanya tatapan yang dalam dan penuh pemahaman.

\"Jangan,\" potong Kaelith tegas namun pelan.

\"Jangan meminta maaf. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka saat itu. Kau, Namien, bahkan Arelan... kalian semua terikat dan terluka. Kalian tidak bisa melakukan apa pun.\"

Vael menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Kaelith.

Kaelith kemudian mengalihkan pandangannya kepada Namien dan Arelan juga, menatap mereka satu per satu.

\"Justru aku yang harus berterima kasih,\" lanjut Kaelith, suaranya sedikit bergetar.

\"Terima kasih karena telah bertahan. Dan... maafkan aku. Karena aku, kalian harus mengalami siksaan yang tak pantas itu. Bekas luka yang kalian bawa sekarang... itu karena aku.\"

Namien hendak membantah, tapi sebelum ia sempat membuka mulut, tirai tenda tersingkap. Seorang prajurit dari pasukan revolusi masuk dengan langkah tegap namun sopan. Ia terhenti sejenak saat melihat kelima orang penting itu sedang berkumpul dalam suasana yang emosional.

\"Maaf mengganggu waktu Anda sekalian,\" kata prajurit itu dengan hormat.

\"Komandan Veyla meminta saya untuk menyampaikan pesan. Rapat strategi akan segera dimulai di tenda pusat.\"

Mereka berlima mengangguk, memahami bahwa waktu untuk sentimentalitas telah habis. Perang menunggu di luar sana.

Namun, sebelum mereka beranjak, prajurit itu menambahkan, matanya melirik ke arah Kaelith yang masih duduk di ranjang.

\"Dan... dokter menyarankan agar Nona Kaelith tetap di sini untuk beristirahat,\" lanjut prajurit itu hati-hati.

\"Kondisi fisik Anda baru saja pulih, Nona. Tidak disarankan bagi Anda untuk mengikuti rapat yang mungkin akan memakan waktu lama dan menguras tenaga ini.\"

Sora seketika menoleh ke arah Kaelith, matanya memancarkan kekhawatiran yang jelas. Ia seolah ingin protes, ingin Kaelith tetap berada dalam pengawasannya.

Kaelith melihat kekhawatiran itu di mata Sora. Ia menggeleng pelan, memberikan tatapan meyakinkan.

\"Aku tidak apa-apa,\" kata Kaelith pada Sora.

\"Pergilah. Aku hanya butuh istirahat sebentar lagi. Aku akan menyusul kalian nanti saat aku sudah benar-benar siap.\"

Namien, melihat keraguan Sora, segera menepuk bahu pemuda itu.

\"Bangunlah, Sora.\" kata Namien.

\"Kau dengar kata wanita itu, kan? Dia baik-baik saja dan dia lebih tangguh dari kita semua.\"

Namien kemudian menatap Sora dengan serius dan senyum terlihat di wajahnya. \"Dan kau harus ada di sana. Kehadiranmu di rapat kali ini sangat diperlukan. Tanpamu, rencana gilaku mungkin tidak akan terdengar meyakinkan bila dirimu tak mendengarkannya, bocah.\"

Sora menatap Kaelith sekali lagi. Kaelith mengangguk kepadanya, sebuah perintah halus untuk pergi dan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan.

Dengan berat hati namun tekad yang bulat, Sora akhirnya bangkit. Bersama Namien, Vael, dan Arelan, mereka berempat melangkah keluar dari tenda medis, meninggalkan Kaelith untuk memulihkan diri dalam keheningan.

Mereka berjalan menuju tenda pusat, langkah kaki mereka mantap di atas tanah yang berdebu. Di depan sana, peta telah digelar dan takdir Jargmund akan segera ditentukan. Persiapan untuk meruntuhkan sang tiran telah dimulai.

Langkah kaki mereka terdengar semakin mendekat dan membawa mereka masuk ke dalam tenda komando pusat yang kini terasa sesak oleh ketegangan yang memadat di udara. Di dalam, suasana jauh berbeda dari kehangatan rapuh yang baru saja mereka rasakan di tenda medis.

Di sekeliling meja strategi besar itu, wajah-wajah kunci revolusi telah berkumpul. Veyla berdiri di ujung meja sebagai pemimpin operasional, diapit oleh Lyra yang berwajah masam, Eleonora yang tampak waspada, dan Feron yang masih mengenakan apron kulit bengkelnya. Silas duduk di kursinya yang biasa, tongkatnya bersandar di lutut, dikelilingi oleh beberapa perwira kepercayaan yang dipilih karena loyalitas dan kemampuan mereka.

Namien melangkah masuk terlebih dahulu, memimpin rombongan kecil itu dengan langkah santai seolah ia sedang memasuki kedai minum, bukan ruang perang. Di samping kiri dan kanannya, Vael dan Arelan berjalan tegap, membawa aura kewibawaan ksatria Borreal yang tak luntur meski pakaian mereka lusuh. Di belakang mereka, berjalan dalam diam seperti bayangan, adalah Sora.

Begitu Namien melewati ambang pintu, mata Lyra langsung terkunci padanya. Tatapan gadis itu tajam, penuh dengan kekesalan dan peringatan. Lyra tahu persis apa yang ada di kepala penyihir itu yang mengusulkan rencana gilanya tentang menghancurkan bendungan dan kehancuran massalnya itu yang sangat dibencinya.

Namien menyadari tatapan itu. Ia membalas pandangan Lyra sejenak, namun alih-alih merasa bersalah, ia hanya mengangkat alisnya sedikit dan mempertahankan topeng ketenangannya. Ia bersikap seolah-olah beban ribuan nyawa yang akan ia usulkan untuk dikorbankan hanyalah detail kecil dalam permainan catur mereka.

\"Kalian akhirnya datang,\" suara Veyla memecah keheningan, menyambut kedatangan mereka tanpa basa-basi.

\"Ambil tempat kalian. Kita tidak punya banyak waktu sebelum Goulash mengirimkan anjing-anjing pemburunya.\"

Namien mengambil posisi di sisi meja yang kosong, bersandar santai pada tiang tenda. Vael dan Arelan berdiri di dekat peta, sementara Sora mengambil tempat sedikit di belakang Namien, berdiri diam namun siaga.

Veyla menarik napas panjang, lalu mulai membuka rapat itu. Tangannya menunjuk ke berbagai titik di peta topografi Jargmund yang terhampar di meja.

\"Berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh jaringan mata-mata kita dan pengamatan Lyra,\" Veyla memulai, suaranya lantang dan jelas, \"Pasukan kerajaan sedang memobilisasi diri di sekitar distrik tengah. Penjagaan di gerbang menuju istana atas telah dilipatgandakan. Mereka tahu kita ada di luar sini, dan mereka sedang memperkuat pertahanan di sekitar sang tiran.\"

Semua orang di ruangan itu mendengarkan dengan seksama.

Feron menatap peta itu dengan kening berkerut, wajahnya yang tertutup jelaga tampak sangat serius saat ia menghitung logistik dan kekuatan senjata yang mungkin dibutuhkan untuk menembus pertahanan setebal itu.

Lyra tetap bungkam. Bibirnya terkatup rapat, matanya sesekali melirik Namien dengan gelisah, menunggu saat di mana penyihir itu akan membuka mulutnya dan merusak tatanan moral ruangan itu.

Di kursinya, Silas mendengarkan laporan Veyla sambil memejamkan mata separuh. Bibirnya bergerak pelan, menyenandungkan syair lirih yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri yang kebiasaan lamanya untuk menjaga pikirannya tetap tajam di tengah kekacauan sekalipun. Meski terlihat santai, telinganya menangkap setiap detail laporan Veyla, menimbangnya dengan kebijaksanaan seorang veteran perang.

Vael dan Arelan membungkuk sedikit ke arah meja, mata mereka menelusuri kontur geografis peta seperti jalan-jalan sempit, posisi menara pengawas, dan jalur selokan. Otak taktis mereka bekerja cepat, mencari celah yang mungkin dilewatkan oleh orang awam.

Sementara itu, Sora berdiri mematung. Ia tidak melihat ke arah peta. Matanya menatap lurus ke depan, namun telinganya waspada. Tangannya perlahan turun ke pinggangnya, jemarinya menggenggam erat gagang pedang tak bernama yang tersarung di sana. Buku-buku jarinya memutih. Ia tahu laporan Veyla hanyalah pembukaan. Ia menunggu. Ia menunggu Namien menjatuhkan bomnya yang tak diketahuinya itu bahwa usulan gila Namien ini yang akan mengubah keseluruhan arah perang kali ini menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar pertempuran pedang.

\"Itu situasi kita saat ini,\" Veyla mengakhiri penjelasan awalnya, lalu menatap berkeliling kepada mereka semua.

\"Kita butuh cara untuk menembus pertahanan itu dan mencapai Goulash. Tapi sebelum itu... kita punya satu masalah besar yang berdiri di jalan kita. Vorlag.\"

Keheningan berat turun di ruangan itu saat nama itu disebutkan.

Dan di dalam keheningan itulah, Sora mengeratkan cengkeramannya pada pedangnya, sementara Namien perlahan menegakkan tubuhnya dari tiang tenda, bibirnya mulai membentuk senyum tipis yang berbahaya.


Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Plan B

Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...

...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...

Download Titik & Koma