6. Unexpected Mate
Zita kembali teringat peristiwa sebulan lalu yang sampai mengapa dia harus menikah dengan Fikri.
Ibu yang biasanya lemah lembut dan mendukungnya, tiba-tiba berubah. Ibu menjadi pemegang peranan.
Zita sadar dia dulu terlalu sombong menolak untuk cepat menikah, bahkan dengan kepercayaan diri justru menunda dengan tujuan menikah di saat yang sempurna. Saat Sudah meraih Strata Dua, dia dan Fauzi dengan pekerjaan yang mapan, selain itu rumah, mobil dan seisinya juga teraih.
Semua pupus termakan kesombongan, tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Kenapa harus menunda-nunda niat baik yang akhirnya menimbulkan masalah berkelanjutan. Itulah pelajaran yang bisa dipetik.
Zita sudah tidak berhak lagi untuk berlaku sombong meraih kesempurnaan. Karenanya maka Allah menghukumnya. Ya, Allah menghukumnya karena kesombongannya yang tidak mengikuti nasihat kedua orang tuanya dan orang tua Fauzi.
Andai saja dia tidak berpikir untuk menjadi pasangan sempurna semuanya mungkin akan beda cerita. Sebelum Fauzi sempat jatuh cinta dengan Riska, seharusnya Fauzi telah sepenuhnya dimiliki dirinya. Riska tidak mempunyai kesempatan untuk mengusiknya atau Fauzi tidak akan tergoda untuk bersama Riska karena telah menjadi seorang suami baginya.
***
“Ibu tidak peduli, walau kamu sudah bisa menempuh S2 dengan beasiswa dan kamu berhasil jadi dosen dengan penghasilan yang berlipat. Tetap Zita! Ingat usiamu sudah dua puluh delapan tahun. Kamu tidak kasihan dengan diri kamu sendiri jika sampai umur tiga puluh tahun tidak juga hidup berumah tangga?”
Tidak terpikirkan oleh Zita kalau kepulangannya dari Australia hanya akan dipojokkan masalah jodoh.
“Ibu… Zita belum bisa memikirkan pria pengganti Fauzi, maafkan Zita, Ibu. Izinkan Zita mencoba menyembuhkan luka hati ini dan menemukan pria yang tepat…” kata Zita mencoba meminta pengertian ibunya.
“Fauzi lagi! Dia saja sudah tidak pernah memikirkan kamu Nduk! Buat apa kamu menyiksa hatimu dengan menutup perasaan hati kamu untuk pria lain? Kamu itu cantik dan pintar, banyak di sana pria-pria yang pasti menyukai kamu. Tapi kamunya saja yang tidak mau. Dalam hatimu masih saja Fauzi! Fauzi! Ibu ingin kamu menikah dan mempunyai anak-anak, Ibu ingin cucu! Bukan uang atau hadiah yang kamu berikan setiap saat!”
“Inggih Ibu, tapi maaf Ibu, Zita belum bisa…”
“Nduk! Ibu dan Bapak wis tuwo. Kami ingin bisa mempunyai cucu dari kamu. Zita kamu itu anak semata wayang kami. Sekarang Ibu yang harus egois karena selama ini kamu sudah terlalu diberi kebebasan memilih hidup, tapi hasilnya apa?”
“Hasilnya Zita bisa meraih S2 Ibu, bahkan dengan beasiswa yang sulit untuk lolos meraihnya dan Zita bisa mandiri tanpa harus menikah,” Zita mencoba mengungkapkan apa yang telah menjadi tekadnya. Kalau perlu tidak menikah di sisa hidupnya. Karena tidak ada lelaki yang baik, kecuali bapaknya. Bapaknya yang lebih sabar dan tidak memaksakan seperti ibunya.
Zita masih tidak bisa memedulikan permintaan ibunya, hingga suatu ketika sang Ibu terkena serangan jantung dan kritis untuk beberapa hari.
Zita merasa ketakutan dan berdosa saat ibunya kritis. Zita merasa berdosa, pasti salah satu penyebab sakitnya adalah beliau terlalu memikirkan dirinya yang keras kepala dan tidak mau mempetimbangkan sama sekali perjodohan yang dilakukan Ibu Ratih dengan Ibu Farida, mamanya Fikri yang ingin menyatukan putri dan putra mereka dalam pernikahan.
***
Pria itu sungguh sangat menyebalkan, apalagi dengan lancang memegang tangan Ibu Ratih. Bahkan sengaja melakukan salat dekat ibunya, dikeraskan bacaannya dan setelah itu membacakan surah Yasin dekat telinga ibu.
Perilaku Fikri membuat Zita tambah bête, padahal apa yang dilakukannya kalau Zita mau jujur itu perbuatan yang sangat mulia. Fikri memperlakukan Ibu Ratih, ibunya seperti ibundanya sendiri.
“Kenapa Zi, kamu kok kelihatannya nggak suka sekali dengan Nak Fikri?” tanya bapak yang diam-diam memperhatikan perilaku Zita yang resah dan tidak besahabat.
“Ayo, mau jemaah salatnya…” Fikri mengajak Zita untuk menjalankan salat magrib bersama.
“Ah nggak! kamu saja sendiri, aku…” belum selesai Zita ngomong. Ternyata bapak sudah ada di belakang mereka.
“Zita cepat wudu dan pakai mukena, kita salat berjemaah, biar Bapak yang jadi imamnya Nak Fikri,” ternyata Bapak Ramadan sudah ada di belakang mereka.
“Tapi…”
Zita tidak lagi membantah apalagi kalau bapak telah berbicara tegas dan apa salahnya memang melakukan salat berjemaah, selain lebih khusyu dan pahala yang diperoleh juga lebih banyak.
Hampir seminggu Ibu Ratih koma, keajaiban datang saat Fikri membacakan ayat-ayat Al-Qur’an di sampingnya, tiba-tiba jari-jari Ibu Ratih mulai merespons sentuhan genggaman Fikri dan selanjutnya perlahan Ibu Ratih mulai sadarkan diri. Alhamdulillah kekuatan doa yang terus menerus dilantunkan bergantian oleh Fikri, bapak dan Zita menjadi obat mujarab selain tangan dokter.
Dan titik awal kesembuhan telah dibuka dengan doa-doa tulus, selanjutnya perkembangan yang pesat mulai menampakkan hasil kesembuhan.
Masih saja yang menjadi topik di awal kesadaran Ibu Ratih meminta pada Zita, “Kesempatan hidup kedua Ibu hanya ingin kamu mau menerima lamaran Nak Fikri dan keluarganya Zi. Kamu itu satu-satunya penerus Ibu dan Bapak. Apalah arti kekayaan tanpa anak yang nantinya melanjutkan darah kita,” pinta Ibu Ratih.
Zita benar-benar terpojok, apalagi bapak juga mendukung keinginan istrinya. Kali ini Zita tidak ada lagi pembela.
Fikri pun hanya terpekur terdiam, entah apa yang ada dalam benak cowok yang menurut Zita seperti orang dungu. zaman sekarang mau-maunya dia pun dijodohin dengan dirinya. Itu yang ada dalam pikiran Zita.
Menatap tajam Fikri membangkitkan kenangan masa kecil yang suram. Masa yang penuh tangis karena kejahilan Fikri kecil. Semua masih tersimpan dalam otak Zita. Dan telah digaris bawahi sedari kecil kalau Fikri adalah anak nakal! Selamanya.
Dan sekarang dirinya harus menjadi istrinya dengan perjodohan yang memaksa dirinya mau tidak mau harus menerimanya.
Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...